MasukSetibanya kami di pelataran kantor agensi, nada dering nyaring dari ponsel di balik saku jas James mendadak melengking memecah keheningan. Pria jangkung itu spontan menghentikan pijakan kakinya. Begitu melirik ke arah layar, raut mukanya mendadak berubah keruh.Ia menoleh padaku dengan tatapan canggung. "Kayla... kamu masuk duluan, ya.""Siapa yang telepon?" tanyaku iseng, memindai gestur tubuhnya yang mencurigakan dari ujung kepala hingga ujung sepatu.James tampak salah tingkah, buru-buru menyembunyikan layar ponselnya dari jangkauan pandanganku. "Teman. Masuklah lebih dahulu."Tanpa menunggu balasan dariku, ia berbalik memutar tumit dan melangkah pergi terburu-buru seolah tengah menyembunyikan sebuah rahasia besar. Namun, aku tak lantas menurutinya. Aku mengendap-endap mengekor di balik bayang-bayang, mengamati model tampan itu melintasi tangga darurat menuju area parkir bawah tanah yang temaram.Aku merapatkan tubuh di balik pilar beton yang dingin, mengintip perlahan ke arah su
"Tidak! Ini tidak seperti yang kamu pikirkan!" tanganku terangkat melambai panik di udara, mencoba menghentikan tuduhan liar dari mulutnya.Xin Yi memicingkan mata tajam, melemparkan tatapan sinis dan jijik ke arahku dan James secara bergantian. "Tidak apanya? Mentang-mentang Axel sedang kembali ke Indrata, kamu malah asyik bermesraan dengan pria lain di depan vilamu sendiri?!"Sialan! jerit batinku panik luar biasa. Kalau Xin Yi sampai salah paham dan tersulut emosi, dia bisa nekat menelepon dan mengadu yang tidak-tidak pada Axel! Ketenangan suamiku di sana bisa hancur seketika!Di tengah kepanikanku yang memuncak, pintu van perlahan bergeser. James mencondongkan kepalanya keluar, mendesakku gusar. "Kayla, tidak usah dengarkan wanita itu. Cepat naik!"Aku menoleh tegas padanya. "James, biarkan aku bicara dengan wanita ini sebentar!"Tanpa menunggu persetujuan dari pria berambut cokelat itu, aku langsung menyambar pergelangan tangan Xin Yi, menariknya paksa berjalan beberapa meter men
Dari balik bahu tegap James, mataku mencuri pandang ke arah tikungan dinding koridor. Di sana, Inez tampak menyunggingkan senyum lebar sarat pendar kemenangan sebelum akhirnya memutar tumitnya dan melangkah pergi menjauh.Rupanya wanita iblis itu benar-benar hanya ingin mengonfirmasi sejauh mana perangkapnya berhasil menjeratku, batinku dingin.Bersamaan dengan melenyapnya sosok Inez, James yang tersentak kaget akibat pelukan mendadakku langsung memegang kedua bahuku, mendorong tubuhku menjauh dengan alis berkerut dalam."Kayla, apa yang kamu lakukan?!" sergahnya bingung.Aku menyunggingkan senyum tipis, menyapu halus bagian depan mantelku. "Maaf... aku hanya turut prihatin mendengar masa lalumu yang kelam."Tanpa menunggu tanggapannya, aku berbalik melangkah pergi, puas karena berhasil menuntaskan sandiwara di depan Inez. Namun, baru dua pijakan melangkah, pergelangan tanganku mendadak dicekal cepat dari belakang. James menahan langkahku dengan cengkeraman yang lumayan kokoh."Kamu.
Bersamaan dengan tubuh James yang terpental kembali ke sandaran joknya, bunyi klik dari gesper sabuk pengamanku yang terlepas menggema pelan di dalam kabin van.Aku terperanjat hebat, buru-buru memeriksa posisi sabuk di pinggangku yang kini sudah merenggang sempurna.Ya Tuhan... batinku mendadak diselimuti rasa malu yang luar biasa. Wajahku membakar hingga ke ujung telinga. Pria ini bukannya berniat lancang atau berbuat aneh-aneh padaku, melainkan hanya ingin membantuku melepas sabuk pengaman yang tersangkut! Pikiranku saja yang sudah telanjur berprasangka buruk padanya."Kenapa kamu mendorongku?" tanya James santai, menata kembali posisi kemejanya sembari menatapku heran."M-maaf..." bisikku dengan parau, berusaha menetralkan rona merah di pipi. "Aku pikir... kamu tadi..."James memotong cepat dengan kening terangkat. "Kau pikir aku akan berbuat yang tidak-tidak padamu, Nona?"Aku hanya membuang muka, meloloskan tawa garing yang terdengar kaku demi menutupi rasa canggung yang mencek
Mataku membelalak sempurna, menatap tak percaya ke arah tindakan lancang James yang terlewat berani.Sialan nih cowok! Berani bener dia bersikap berlebihan begini padaku! batinku menjerit geram, darahku mendadak mendidih seketika. Apakah kemesraan palsu ini adalah bagian dari misi jahatnya bersama Inez? Apakah dia sengaja merayuku habis-habisan untuk meruntuhkan mentalku? Atau... dia sengaja menciptakan bukti perselingkuhan baru agar bisa dikirimkan langsung untuk menghancurkan Axel?Tanpa pikir panjang, aku menyentak tanganku dengan kasar, menariknya lepas dari genggamannya. "Hei! Batasi batasanmu, Tuan!" tegasku penuh penekanan, dadaku naik turun menahan amarah. "Kita ini hanya akan bersandiwara di hadapan ibumu! Jangan berani-berani kamu memanfaatkan kesempatan ini untuk berbuat macam-macam padaku, ya!"James menyeringai penuh kemenangan. Alih-alih marah, ia justru menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dengan santai, melipat kedua tangannya di depan dada. "Jadi... itu berarti
Pagi buta masih diselimuti kegelapan saat nada dering nyaring ponselku melengking, memecah keheningan kamar. Dengan kelopak mata yang masih terasa seberat timah, tanganku bergerilya meraba-raba nakas, menyambar benda pipih itu lalu menggeser tombol hijau tanpa sempat melihat nama pemanggilnya."Halo... Lo masih tidur?"Suara bariton yang sangat khas itu mengalun hangat dari seberang sambungan. Mataku seketika terbuka lebar. Rasa kantuk yang menggelayut menguap begitu saja tanpa sisa."Axel?! Lo... apa kabar?" seruku bahagia dengan nada suara yang melambung tinggi."Baik, Kay," jawabnya lembut, mengukir senyum yang tampak di layar. "Gue kangen banget sama lo... sama Sira."Dengan mata berbinar dan dada yang membuncah oleh kerinduan, kuangkat ponselku lebih tinggi, mengarahkan kameranya ke samping—menampilkan paras mungil Sira yang masih terlelap tenang di balik selimut."Kami juga kangen banget sama lo, Xel..." bisikku haru.Dari balik layar, senyum Axel terkembang lebar, meski raut l







