LOGIN"Lingerie lo seksi banget, Kayla..." pujinya seraya mengecup belahan dadaku, lalu bergerak turun perlahan membasahi area perut yang membuat tubuhku geli dan meliuk liar."Lo pintar banget memilih seragam dinas malam ini, Kay. Bikin gairah gue membumbung tinggi," bisiknya. Wajah tampannya mendongak tepat di bawah tubuhku.Aku tersipu malu seraya menggigit ujung jariku. "Lo... suka?"Axel mengangguk mantap seraya tersenyum lebar. "Suka banget! Rasanya... ingin gue makan habis lo sekarang."Ia kembali mengecup lembut area perutku, lalu meluncur turun melintasi paha. Jemarinya yang panjang mulai bermain liar di balik lingerie tipis yang menutupi area sensitifku."Mmhhh..." desahanku lolos samar. Tubuhku meliuk-liuk bagai cacing kepanasan setiap kali menerima sentuhan jemarinya yang hangat dan panas.Ia menggeser ke sampaing kain tipis yang menutupi lipatan sensitifku itu, lalu mulai menggesek pelan permukannya sudah mulai basah.Sentuhan jemari Axel di daerah intimku itu membuat seluruh s
"Wow... yang ini super seksi, Kay!" takjub Hani seraya menunjuk sebuah set lingerie berwarna merah menyala.Dengan warna merah merona yang menggoda, lingerie tersebut memancarkan kesan berani dan elegan melalui material renda bermotif floral transparan serta detail cut-out yang modern. Desain teddy bodysuit-nya dilengkapi aksen harness berhiaskan ornamen liontin hati di bagian dada, dipadukan dengan garter belt dan tali paha yang mempertegas siluet lekuk tubuh secara menawan.Kalau aku memakai lingerie ini, aku yakin Axel pasti bakal bertekuk lutut."Ya sudah, Mbak. Bungkus yang ini juga ya," pintaku tanpa basa-basi."Baik, Mbak."Aku melangkah menuju kasir untuk melunasi semua lingerie pilihan kami."Berapa semuanya, Mbak?" tanyaku pada sang kasir.Kasir tersebut memindai kode barang pada gaun-gaun tipis tadi. "Totalnya sembilan ratus lima puluh dolar, Mbak."Aku mengulurkan black card pemberian Axel dan sang kasir memproses pembayarannya dengan sigap.Puas berburu lingerie, aku mene
"Hei! Sejak kapan hama tanaman bisa keluyuran di toko berkelas begini?" sindir Hani sinis seraya melipat tangan di dada.Freya mendengus keras, lalu kembali menyibakkan pakaian dalam diskonan di dalam keranjang obralan."Lagipula... buat apa ya cewek murahan beli lingerie? Dikira Kak Miko masih bakal mau sama dia kali ya," omel Freya tanpa sudi menoleh, terus berakting fokus pada tumpukan pakaian dalam di depannya."Hei, cewek hama! Lo ngomong sama siapa, hah?!" desis Hani mulai kehilangan sisa kesabarannya.Aku yang merasa agak risih dan sungkan pada pelayan toko buru-buru menarik lengan Hani agar melangkah mundur. "Sudah... nggak usah dilayani orang seperti dia."Aku menyerahkan lingerie motif harimau itu kepada sang pelayan toko. "Yang ini saya ambil juga ya, Mbak."Sang pelayan mengangguk sopan. "Baik, Mbak. Saya masukkan ke kantong belanjaan ya.""Ayo kita pilih satu lagi," ajakku pada Hani seraya menyusuri rak lainnya."Lo mau beli satu lagi?!" tanyanya dengan mata melotot lebar
"Hah?!" Hani seketika menutup mulutnya yang membulat lebar karena kaget, lalu pandangannya buru-buru menyapu sekitar. "Lo... lo sekarang main perang terbuka sama Axel?!"Aku menahan senyum gembira seraya menganggukkan kepala pelan."Kayla!!" teriaknya histeris menahan jeritan seraya menggenggam erat jemariku. "Kalian... benar-benar sudah perang terbuka di apartemen?!"Aku menundukkan kepala karena malu, lalu kembali mengangguk seraya menahan senyum gatal yang memuncak."Ihh... gue jadi ingin kawin juga!" Wajah Hani berbinar cerah seraya menggoyangkan jemarinya gemas. "Lo dan Axel... pasti hot banget, kan? Secara... Axel itu kapten basket dan mantan ketua Mapala!""Maka dari itu dia meminta gue beli lingerie baru," sahutku malu-malu. "Sebagai balasan uang nafkah ini, dia minta gue naik sendiri ke ranjangnya.""Hah?!" Mata Hani membulat sempurna. Ia kemudian serta-merta merapatkan kedua paha dan menjepit selangkangannya dengan tangan. "Ya ampun, Kayla... punya gue mendadak ikut kedutan!
"Ada apa?" Hani beranjak dari kursinya, mencondongkan tubuhnya seraya mengintip layar ponselku."Bukan apa-apa," kelitku yang sebenarnya masih merasa syok berat akibat notifikasi kartu kredit yang mendadak muncul itu.Hani tidak perlu tahu masalahku dengan Miko. Kalau sampai dia tahu, dia bisa histeris dan mengamuk detik ini juga. Aku bergegas meletakkan ponsel di atas meja, bersikap seolah tidak ada hal buruk apa pun yang terjadi. Namun, Hani yang penuh curiga justru menyambar paksa ponselku dari meja."Gak mungkin nggak ada apa-apa! Wajah lo tiba-tiba pucat begitu!" cetusnya seraya mengarahkan layar ponsel ke arah wajahku untuk membuka kunci pemindai face ID.Aku kelagapan berusaha merebut ponsel itu kembali. "Hani... nggak ada apa-apa, kok! Sini balikin ponsel gue!"Namun, Hani bertindak lebih cepat. Ia menjauhkan tangannya hingga tak terjangkau olehku, lalu berhasil membaca deretan pesan notifikasi tersebut."Notifikasi transaksi kartu kredit?!" cecarnya dengan kening berkerut dal
Aku meraih ponsel di dalam tas, lalu menghubungi nomor Hani."Halo, Sayang! Lama banget lo menghilang," sahutnya langsung dari seberang telepon."Gue sangat sibuk akhir-akhir ini," balasku seraya mempercepat langkah.Ting!Suara denting pintu lift yang terbuka memotong percakapan kami. Aku segera melangkah keluar melintasi lobi utama menuju area luar gedung kantor."Lo di rumah, kan?" tanyaku seraya menyusuri trotoar menuju tepi jalan raya."Iya. Kenapa?""Cepat siap-siap! Gue bakal jemput lo naik taksi.""Lo nggak kerja? Mau ke mana emangnya?""Sudah... Nanti gue ceritain di jalan. Pokoknya lo siap-siap sekarang!""Oke deh..."Tut. Tut."Taksi!" teriakku seraya melambaikan tangan pada sebuah armada taksi yang kebetulan melintas pelan di depanku.Taksi itu langsung meminggirkan mobilnya. Tanpa membuang waktu, aku segera membukakan pintu dan masuk ke dalam."Ke Jalan Anugerah ya, Pak..." pintaku begitu mendudukkan diri di jok belakang."Baik, Mbak."Taksi tersebut langsung menginjak ga







