بيت / Romansa / Nyebelin, sih! Tapi Aku Ketagihan / BAB 26 DIAM-DIAM CEMBURU

مشاركة

BAB 26 DIAM-DIAM CEMBURU

مؤلف: Libra Syafarika
last update تاريخ النشر: 2026-07-10 12:00:34

Aku menegakkan tubuh, memutar-mutar ponsel di dalam genggaman tangan sembari berpikir keras tentang langkah berikutnya yang harus kuambil untuk menangani kelakuan Miko. Namun, suara dering ponsel yang tiba-tiba memecah keheningan koridor langsung membuyarkan lamunanku.

"Halo," jawabku cepat setelah melihat nama Hani berkedip di layar ponsel.

"Di mana lo, Key? Udah jalan pulang?" tanya suara di seberang sana.

"Belum. Gue masih di perpustakaan pusat, nih."

"J
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Nyebelin, sih! Tapi Aku Ketagihan   BAB 112 SANG PERI KECIL

    Aku menuruti perintahnya, menatap wajah tampannya yang begitu bergairah di atasku.Dengan satu dorongan kuat dan mantap, Axel melesakkan seluruh panjang kepemilikannya masuk ke dalam diriku hingga kandas di dasar rahim."Nggghhh! Aahhhh!" Jeritanku membumbung memenuhi kamar.Sensasi sesak, panas, dan penuhan yang luar biasa membuat seluruh saraf di tubuhku yang seketika menegang.Axel memejamkan mata rapat-rapat, mengerang berat saat dinding kewanitaanku menyedot dan menjepit benda tumpul miliknya yang teramat ketat. "Ah... fuck, sempit banget... pelan-pelan jepitnya, Sayang..."Ia menahannya sejenak agar tubuhku terbiasa, lalu mulai menarik mundur dan menghujamkan kembali posisinya dengan tempo yang lambat namun menghujam dalam. Setiap kali ujungnya menumbuk titik terpeka di dalam sana, sentakan kenikmatan merambat cepat hingga ke ujung kakiku.Aku merangkulkan kedua kakiku ke pinggang kerasnya, menuntut doro

  • Nyebelin, sih! Tapi Aku Ketagihan   BAB 111 MELEPAS RINDU

    Axel tak langsung menjawab, ia merebahkan tubuhku perlahan di sampingnya, lalu merengkuh kepalaku dan menenggelamkannya di dada tegapnya. "Jangan sampai hal itu terjadi, Kayla. Itu sebabnya... gue belum siap untuk mengumumkan pernikahan kita ke publik."Sudah kuduga, pasti jawaban ini yang akan keluar dari mulut Axel.Aku menatap kosong ke sudut ruangan sembari kian merapatkan kepalaku di otot dadanya. "Lalu gimana dengan Miko, Inez, dan Hani? Mereka bertiga udah tahu semuanya."Dada Axel terasa terangkat tinggi oleh helaan napas berat dan panjang. "Hani... gue yakin dia nggak bakal membocorkan rahasia kita, Kay. Tapi jujur, gue sangat khawatir sama Miko dan Inez."Aku spontan mengangkat kepala, menatap Axel lurus-lurus dengan alis berkerut dalam. "Bener, kan?! Terus kenapa kemarin lo nekat cium gue di depan Inez?!"Wajah Axel mendadak menegang. Matanya memicing, menatapku yang tiba-tiba tersulut emosi."Ya lagian kenap

  • Nyebelin, sih! Tapi Aku Ketagihan   BAB 110 ANCAMAN SANG PELAKOR

    Inez mengangkat satu tangannya tinggi-tinggi, bersiap melayangkan tamparan keras ke pipiku. Namun dengan gerakan refleks yang cepat, aku berhasil memukul tangkis tangannya di udara lalu mencengkeram pergelangan tangannya erat-erat.​"Lo mau coba-coba main kasar sama gue?" Aku menyeringai tipis dengan tatapan penuh intrik meremehkan.​Bersamaan dengan itu, kerumunan anggota Mapala yang melingkari api unggun mulai menyadari ketegangan di antara kami. Beberapa kepala menoleh, disusul bisik-bisik yang terdengar makin riuh.​"Ngapain mereka bertengkar di sana?"​"Itu bukannya Kak Inez? Kenapa ekspresinya emosi banget gitu?"​Inez melirik ke arah kerumunan dengan raut panik, lalu bergegas menarik tangannya secara kasar dari cengkeramanku. Mungkin... dia ingin menyelamatkan reputasinya.​"Jangan keburu bangga dulu sama status lo sekarang, Kayla!" hardiknya setengah berbisik dengan wajah merah padam menahan geram. "Lo mungkin b

  • Nyebelin, sih! Tapi Aku Ketagihan   BAB 109 PERDEBATAN SENGIT

    Inez tersenyum miring, hingga kedua bahunya terangkat sinis. "Lo itu cewek paling munafik yang pernah gue kenal, Kayla. Berpura-pura polos dan lugu... tapi diam-diam menikam dari belakang."Aku mengukir senyum tipis nan dingin sembari melipat kedua tangan di atas dada. "Gue paham kok gimana perasaan lo sekarang." Aku sengaja menjeda kalimatku sejenak, lalu sedikit mencondongkan tubuh ke arahnya. "Lo pasti sakit hati banget, kan? Karena pada kenyataannya... cewek yang jadi istri sah Axel dan yang lo cari-cari selama ini... itu gue."Mata Inez seketika membelalak lebar dengan raut amarah pekat yang menguasai wajah cantiknya. Aku dapat melihat dengan jelas kedua tangannya yang tengah mengepal erat hingga memutih di sisi tubuhnya."Lo belum menang, Kayla! Dan gue udah pernah bilang sama lo... Axel cuma boleh jadi milik gue!" tegasnya dengan gigi berkeretak.Aku tertawa singkat, menatapnya remeh dengan sebelah mata. "Inez... Inez. Lo kelihata

  • Nyebelin, sih! Tapi Aku Ketagihan   BAB 108 TATAPAN YANG BERBAHAYA

    "Apaan sih lo!" Aku refleks mendorong dada tegap Axel dengan gemas. Namun, bukannya melepas, pria itu justru menyeringai tipis sembari makin mempererat rengkuhan lengannya di tubuhku.Tak lama kemudian, langkah kaki Inez terdengar mendekati kami sembari membawa selembar handuk kering yang masih terlipat."Kalian berdua kalau nempel begini udah mirip kue lapis aja ya," sindirnya sinis, meski pada akhirnya disusul oleh senyum ramah yang tampak sangat dipaksakan."Nih, pakai handuk gue aja, Xel. Gue belum pakai kok," ucapnya sembari menyodorkan handuk itu tepat ke hadapan Axel.Dengan gestur dingin dan minim ekspresi, Axel menerima handuk itu dari tangan Inez. Namun bukannya dipakai sendiri, ia justru langsung menyelimutkan kain tebal itu ke sekujur tubuhku."Handuk ini jauh lebih besar dan tebal. Mending lo balik ke tenda sekarang, terus ganti baju basah lo," potong Axel tegas padaku.Aku tak langsung menjawab. Tubuhku membeku mena

  • Nyebelin, sih! Tapi Aku Ketagihan   BAB 107 TANTANGAN

    "Kayla!" panggil suara Hani memecah kebisingan dari tengah kerumunan anggota. Aku yang sempat mematung saling melempar tatapan tajam nan dingin dengan Inez—seketika terperanjat kaget. Tanpa membuang waktu untuk menyapa Inez, aku mendengus pelan lalu bergegas membelah kerumunan menghampiri Hani. "Kayla... lo pasti kedinginan banget deh!" ucap Hani dengan nada penuh kecemasan sembari sibuk merapikan helai rambutku yang basah kuyup. Aku meremas kedua tanganku di depan dada, menggigil kecil membiarkan rasa dingin menembus kulit. "Nggak apa-apa kok. Kameranya aman, kan?" "Aman... tenang aja." Hani sibuk meremas ujung bajuku, berusaha memeras air hujan yang terperangkap di kain pakaianku. "Aduh... gimana ya, handuk cadangan kita ada di dalam tenda lagi..." "Udah... tenang aja. Gue beneran nggak apa-apa kok." Namun secara mendadak, sebuah handuk tebal dan kering terselimut lembut di atas pundakku tanp

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status