ログインGuys.... thanks ya hari ini Axel masuk beranda terpanas. Karena othor sedang bahagia, aku kasi bonus tambahan bab di hari Jumat-Minggu ya. kalau ke depannya masih bagus, nanti aku lanjut tambah lagi di hari senin-kamis. Thanks you... semoga banyak rejekinya ya kalian...
"Inez?!" Axel mendongak, menatap sahabat yang pernah menyukainya itu dengan mata membulat sempurna. "Lo... ngapain di sini?"Inez tak langsung menjawab. Ia menyeringai singkat seraya melirikku yang duduk di samping Axel dengan tatapan sinis."Gue lagi ada kerjaan di sini. Lo tinggal di mana?" tanyanya santai, seolah aku tidak ada di sana.Sialan ini cewek! Dia melihatku, tapi bersikap seolah aku hanyalah angin lalu?Aku menutup buku sketsa dengan gerakan kasar, menatapnya penuh penolakan. "Mau ngapain?"Inez melirikku singkat, lalu dengan cepat beralih menatap Axel dengan senyum yang sengaja dibuat menggoda. "Mumpung kita bertemu di sini, gue boleh dong... main ke tempat lo..."Aku tertawa singkat seraya membuang muka. Rasanya, aku ingin sekali meremas wajahnya hingga tak berbentuk."Eh! Lo nggak pernah berhenti ya gatel sama suami orang?!" desisku dengan wajah dingin membeku.Namun, bukannya tersulut amarah, Inez justru menyeringai dengan tatapan meremehkan. "Emang lo masih p
Aku membeku mendengar pertanyaan sang terapis. Pertanyaan konyol macam apa ini? batinku kesal.Apa yang sebenarnya dia rencanakan? Benarkah dia hanya ingin mengetahui perkembangan fisik Axel, atau sekadar memata-matai hubungan kami?"Kenapa kau sangat ingin tahu?" balasku ketus.Cathy tampak terkejut sesaat sebelum akhirnya mengumbar tawa renyah yang terdengar sangat dipaksakan. "Jangan salah paham, Kayla. Ini... hanyalah bagian dari tugasku sebagai terapis."Benarkah? batinku dengan mata memicing penuh curiga."Sebagai terapis yang bertugas untuk membuat otot pasien kembali normal, aku ingin tahu seaktif apa Axel bergerak tanpa bantuanku," lanjutnya dengan raut wajah yang mendadak sangat serius.Ia meletakkan cangkir tehnya ke meja, lalu menyilangkan kaki seraya menatapku santai. "Aku tidak akan bisa mendapat jawaban itu dari Axel, karena aku yakin dia pasti malu. Tapi kalau kamu beda. Kita kan sesama wanita," jelasnya diikuti kekehan kecil.Aku baru tahu kalau petugas medis b
Tanpa berniat membalas sapaan sang terapis, kepalaku justru sedikit miring—mengintip sosok pria yang duduk di samping Cathy sebelum lelaki itu sendiri menolehkan wajahnya padaku."Mbak Kayla?" sapa Beni.Aku menghela napas lega secara samar. Syukurlah, tadinya aku mengira pria yang duduk di samping Cathy itu adalah Axel."Beni? Di mana Axel?""Masih di tempat gym, Mbak," sahut Beni seraya menunjuk ke arah belakang. "Kami juga sedang menunggu Pak Axel untuk latihan."Aku melirik sebentar ke area belakang villa sebelum akhirnya kembali menatap Beni dan Cathy bergantian."Kenapa kamu nggak nemenin dia? Gimana kalau terjadi apa-apa padanya?"Beni hanya tersenyum tipis tanpa guratan rasa bersalah di wajahnya. "Pak Axel tidak pernah berkenan ditemani di tempat gym, Mbak. Di sana adalah wilayah dia untuk menyendiri."Axel butuh tempat khusus untuk menyendiri? Kenapa? Mungkinkah... dia masih tertekan dengan kondisi kakinya?Aku membuang napas panjang, lalu segera berbalik menuju area
Axel menekan tombol kursi rodanya, mendekati ranjang tanpa sedikit pun melepas tautan bibir kami. Ia kemudian mengangkat tubuhku dan merebahkannya di sisi ranjang.Sementara itu, aku hanya bisa tertegun saat ia dengan sigap turun dari kursi roda hanya dengan tumpuan satu kaki, lalu membanting tubuhnya jatuh di atas ranjang tepat di sampingku."Xel... Lo—"Tanpa membiarkanku menyelesaikan kalimat, ia mendorong kedua pundakku ke kasur dan kembali melumat bibirku dengan gairah yang membara."Lo mau?" tanyanya dengan napas memburu setelah melepas tautan bibirnya sesaat.Aku tahu saat ini kami sama-sama diliputi rindu. Namun melakukan hubungan intim di tengah terapi kakinya membuatku terasa tampak egois."Tapi kaki lo?" tanyaku setelah sebelumnya terdiam sejenak, diliputi keraguan. "Gue belum bisa di atas," sahutnya lirih dengan raut wajah penuh penyesalan. "Tapi... gue masih bisa puasin lo dengan gaya women on top."Aku tersenyum geli mendengar jawabannya, lalu merengkuh tubuh Ax
Setelah tiga bulan lamanya, akhirnya aku bisa bersentuhan lagi dengan Axel. Jauh di lubuk hatiku, momen inilah yang paling aku nantikan.Tanpa peduli lagi pada harga diri, kedua tanganku otomatis melingkar mesra di lehernya, lalu membalas setiap lumatan hangat yang Axel berikan.Hanyut dalam kerinduan yang membuncah, tanpa sadar kami saling mengulum dan menghisap dengan gairah panas yang membakar. Sentuhan kami kian intim, sampai akhirnya suara pintu terbuka tiba-tiba memutus atmosfer panas di antara kami.Kriek!"Pak... Nona Cathy—" suara Beni mendadak tercekat.Aku dan Axel spontan melepas tautan bibir kami."Maaf, Pak, mengganggu sebentar," ucap Beni seraya terburu-buru memunggungi kami dengan suara canggung. "Nona Cathy meminta Anda keluar untuk kembali latihan."Aku dan Axel sempat saling melempar pandang sejenak sebelum akhirnya aku memalingkan muka, berpura-pura kesal. "Tuh! Terapis idola lo udah nungguin!"Aku berusaha bangkit dari pangkuan Axel untuk pergi. Namun, ia l
"A-apa? Bagaimana bisa?" tanyanya dengan wajah yang tampak bodoh.Aku membuang napas panjang, meletakkan kedua tangan di pinggang sambil memalingkan muka demi menahan amarah yang memuncak."Ya gak bisalah! Makanya, biarin gue pergi!" bentakku, lalu kembali menyeret koper dan melangkah keluar dari pintu villa.Begitu kulitku tersentuh udara luar, rasa dingin yang menusuk seolah meremas tulang. Kakiku spontan berhenti melangkah; tubuhku kaku membeku di tempat.Sialan! Kenapa udaranya makin dingin gini, sih! rutukku dalam hati sembari mengusap kedua lengan yang mulai merinding."Lo kedinginan, kan?" Suara Axel kembali terdengar dari balik punggungku.Aku spontan menoleh, menatapnya tajam dengan raut ketus. "Nggak!" kelitku seraya menganggkat dagu—berusaha tampil sombong demi mempertahankan harga diri.Namun, semakin lama tubuhku justru semakin menggigil hebat. Tanpa bisa ditahan lagi, kedua tanganku refleks memeluk tubuh sendiri demi mengusir ngilu. "Ssshh... Hahh!""Cih! Tubuh







