Share

35. Pelayanan

Author: Arandiah
last update Last Updated: 2025-12-28 21:41:41

Tepat jam delapan. Pintu diketuk dua kali.

"Masuk," sahut Reynard singkat tanpa mengalihkan pandangan dari pintu.

Pintu terbuka perlahan. Vivian melangkah masuk, lalu mematung di ambang pintu.

Reynard menegakkan punggung, matanya langsung menyapu penampilan wanita itu. Adrian tidak main-main. Vivian mengenakan mini dress hitam yang sangat ketat, mencetak jelas lekuk pinggang dan pinggulnya. Potongan dadanya rendah, mengekspos belahan payudara yang putih dan mulus.

Wajah Vivian merah padam. Tangannya sibuk menarik-narik ujung rok yang nyaris memperlihatkan pangkal pahanya, berusaha menutupi kulit yang terekspos. Ia mendekap tas tangannya erat-erat di depan dada, gestur defensif yang justru membuat Reynard semakin bergairah.

Wanita itu tampak seperti domba yang dipaksa masuk ke kandang serigala dengan kostum pelacur.

"S-selamat pagi... Pak Reynard," sapa Vivian, suaranya kecil dan bergetar hebat. Ia tidak berani menatap mata Reynard.

Reynard tidak menjawab sapaan itu. Tangannya bergerak
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Nyonya Puas Abang Lemas   Chapter 47

    Rusdi tidak membalas pelukan itu. Tangannya menggantung kaku di udara, lalu turun. Tepukan pelan di punggung Vivian. Dua kali. "Nyonya. Baju nanti kotor. Oli." Vivian terisak, tapi melepas pelukan. Aroma parfum Chanel miliknya bertabrakan dengan bau oli gardan di kaos Rusdi. Dia mundur, menyeka mata, lalu meraih gelas anggur di meja. Kosong. "Duduk, Rus." Rusdi menggeleng. Dia mundur selangkah, membungkuk dalam. "Saya di lantai." Dia bersila di karpet, persis di dekat kaki Vivian yang telanjang. Matanya menunduk, tapi ekor matanya memindai ruangan. "Tuan Adrian..." Rusdi berbisik, memancing. "Tadi di garasi tangannya gemetar. Seperti orang dikejar setan." Vivian membanting gelas kosong ke meja. Klang. "Dia memang setan. Sertifikat rumah ibuku digadaikan." Rahang Vivian mengeras. "Kalau bank datang..." "Bukan cuma bank, Nyonya." Rusdi mendongak sedikit. Wajahnya polos, tapi matanya tajam. "Kalau Tuan bangkrut atau ditangkap malam ini, semua akan dijarah. Polisi, debt collector.

  • Nyonya Puas Abang Lemas   Chapter 46

    Suara sapu lidi yang menggaruk paving block terdengar ritmis, hampir seperti hitungan mundur. Rusdi tidak melihat ke arah pintu rumah, tapi telinganya menangkap setiap pergerakan. Fokus matanya hanya satu, noda lumpur kering yang memanjang di kap mesin sedan hitam itu. Sebuah cacat visual yang sengaja ia tinggalkan. Perangkap sederhana untuk ego laki-laki yang sedang retak.Pintu depan terbuka kasar.Pak Hendra keluar duluan. Langkahnya tegap, tas kerjanya dikepit erat di ketiak—bahasa tubuh orang yang ingin segera pergi dari situasi buruk. Adrian mengekor di belakangnya seperti anjing yang dipukul. Kemejanya kusut, keringat membasahi kerah. Bau asam kepanikan tercium jelas bahkan dari jarak dua meter."Pak Hendra, dengar dulu! Aset gudang itu masih bisa dicairkan!" seru Adrian parau."Itu barang sengketa, Pak Adrian. Bank tidak main judi." Pak Hendra menjawab tanpa menoleh, terus berjalan menuju mobilnya.Adrian tercekat. Napasnya memburu. Dia butuh sasaran tembak, dan matanya langsu

  • Nyonya Puas Abang Lemas   Chapter 45

    Pintu dapur tertutup perlahan di belakang punggungnya. Suara tumisan dan senandung kecil Hana langsung teredam, lalu hilang sepenuhnya saat Rusdi melangkah menjauh. Ia menyusuri lorong samping rumah yang lembap dan sepi. Langkah kakinya terdengar berirama di atas lantai semen yang kasar. Ia berhenti tepat di sudut mati antara dinding garasi dan tembok pembatas yang tinggi. Tidak ada CCTV di titik ini. Tidak ada jendela yang menghadap ke arahnya. Hanya ada tumpukan barang bekas dan bayangan sore yang mulai memanjang. Rusdi berdiri diam selama beberapa detik. Ia menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan lewat mulut. Dalam sekejap itu seluruh postur tubuhnya berubah. Bahu yang sejak tadi sengaja ia bungkukkan kini ia tarik ke belakang hingga tegak. Punggungnya lurus sempurna. Lehernya yang tadi ia pendekkan seolah takut pada majikan, kini terangkat kokoh. Kesan pria pekerja kasar yang lelah dan lugu menguap begitu saja. Otot-otot di balik kemeja flanel basah itu menegang dan

  • Nyonya Puas Abang Lemas   Chapter 44

    Rusdi bergerak cepat. Ia membuka lemari pakaian, menyambar dress selutut berwarna navy."Pakai ini, Nyonya. Warnanya tegas. Cocok buat lawan orang bank," katanya singkat.Vivian mengangguk. Kakinya turun dari ranjang, masih gemetar. Saat ia berdiri, lututnya goyah. Rusdi sigap menahan pinggangnya."Saya pegang," ucap Rusdi.Ia menarik resleting di punggung Vivian. Bunyi zzzt terdengar jelas. Jemari kasarnya merapikan rambut Vivian yang terselip."Bedak sedikit. Tutupi mata merah itu."Vivian menurut, berjalan ke meja rias. Rusdi berbalik, memungut handuk basah dan melemparnya ke keranjang. Ia menyemprotkan pengharum ruangan. Beres."Rusdi..." panggil Vivian. Ia menatap punggung pria itu lewat cermin. "Hati-hati."Rusdi menoleh. Senyum lebar tercetak di wajahnya."Tenang, Nyonya. Saya kan tukang kebun. Manjat beginian mah enteng. Nyonya fokus saja sama suami di bawah."Rusdi masuk kamar mandi. Kunci pintu dari dalam. Buka jendela ventilasi. Angin sore masuk.Ia melongok ke bawah. Sepi.

  • Nyonya Puas Abang Lemas   Chapter 43

    Rusdi tidak banyak bicara. Ia langsung mengangkat tubuh Vivian yang lemas. Vivian memekik pelan, refleks melingkarkan lengan ke leher Rusdi."Kita bilas dulu, Nyonya," bisiknya singkat.Di dalam shower box, Rusdi memutar keran. Air hangat menyembur deras, langsung mengguyur tubuh mereka. Kemeja Rusdi basah kuyup seketika, menempel ketat mencetak otot tubuhnya.Ia menuangkan sabun cair ke tangan, lalu mulai membasuh tubuh Vivian. Gerakannya efisien tapi telaten. Tangan kasarnya menyusuri bahu, punggung, lalu turun ke pinggang."Rileks, Nyonya," kata Rusdi saat merasakan bahu Vivian menegang. Jempolnya menekan titik pegal di sana. "Biar saya yang urus semuanya."Vivian menurut, menyandarkan kepala di dada bidang Rusdi. Ia membiarkan pria itu mengambil alih kendali.Tangan Rusdi turun, membersihkan sisa noda di paha dalam Vivian dengan sabun. Ia berjongkok sedikit, memastikan area sensitif itu bersih kembali. Tidak ada tatapan merendahkan, hanya sorot mata kagum."Cantik..." gumam Rusdi

  • Nyonya Puas Abang Lemas   42. Kenakalan Nyonya

    "Maaf... maaf, Nyonya," gumam Rusdi. Suaranya terdengar cemas, seolah takut kena semprot. "Tapi lumpurnya... lumpurnya masuk sampai ke dalam lipatan..."Rusdi melepaskan spons dari tangannya. Jari-jarinya yang kasar dan kapalan kini menyentuh paha dalam Vivian, mendorong kedua kaki jenjang itu agar terbuka lebar-lebar. Vivian menurut saja, tubuhnya lemas tak berdaya.Di bawah sorotan lampu kamar mandi yang remang, selangkangan Vivian terpampang jelas.Mata Rusdi menyapu pemandangan itu. Di antara sisa-sisa lumpur hitam yang bau busuk, milik Vivian terlihat merah muda, basah, dan sedikit bengkak. Rusdi menelan ludah. Sebagai "tukang kebun", dia sudah berkali-kali memasukinya. Dia sudah hafal betul bagaimana rasanya menjebol pertahanan wanita ini, bagaimana sempitnya lubang itu meremas miliknya saat mereka bercinta diam-diam di gudang atau di kebun belakang.Tapi melihat Vivian terkapar tak berdaya seperti ini, ada sensasi berbeda. Kali ini dia bukan sekadar pasangan selingkuh, tapi pen

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status