LOGINSuara sapu lidi yang menggaruk paving block terdengar ritmis, hampir seperti hitungan mundur. Rusdi tidak melihat ke arah pintu rumah, tapi telinganya menangkap setiap pergerakan. Fokus matanya hanya satu, noda lumpur kering yang memanjang di kap mesin sedan hitam itu. Sebuah cacat visual yang sengaja ia tinggalkan. Perangkap sederhana untuk ego laki-laki yang sedang retak.Pintu depan terbuka kasar.Pak Hendra keluar duluan. Langkahnya tegap, tas kerjanya dikepit erat di ketiak—bahasa tubuh orang yang ingin segera pergi dari situasi buruk. Adrian mengekor di belakangnya seperti anjing yang dipukul. Kemejanya kusut, keringat membasahi kerah. Bau asam kepanikan tercium jelas bahkan dari jarak dua meter."Pak Hendra, dengar dulu! Aset gudang itu masih bisa dicairkan!" seru Adrian parau."Itu barang sengketa, Pak Adrian. Bank tidak main judi." Pak Hendra menjawab tanpa menoleh, terus berjalan menuju mobilnya.Adrian tercekat. Napasnya memburu. Dia butuh sasaran tembak, dan matanya langsu
Pintu dapur tertutup perlahan di belakang punggungnya. Suara tumisan dan senandung kecil Hana langsung teredam, lalu hilang sepenuhnya saat Rusdi melangkah menjauh. Ia menyusuri lorong samping rumah yang lembap dan sepi. Langkah kakinya terdengar berirama di atas lantai semen yang kasar. Ia berhenti tepat di sudut mati antara dinding garasi dan tembok pembatas yang tinggi. Tidak ada CCTV di titik ini. Tidak ada jendela yang menghadap ke arahnya. Hanya ada tumpukan barang bekas dan bayangan sore yang mulai memanjang. Rusdi berdiri diam selama beberapa detik. Ia menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan lewat mulut. Dalam sekejap itu seluruh postur tubuhnya berubah. Bahu yang sejak tadi sengaja ia bungkukkan kini ia tarik ke belakang hingga tegak. Punggungnya lurus sempurna. Lehernya yang tadi ia pendekkan seolah takut pada majikan, kini terangkat kokoh. Kesan pria pekerja kasar yang lelah dan lugu menguap begitu saja. Otot-otot di balik kemeja flanel basah itu menegang dan
Rusdi bergerak cepat. Ia membuka lemari pakaian, menyambar dress selutut berwarna navy."Pakai ini, Nyonya. Warnanya tegas. Cocok buat lawan orang bank," katanya singkat.Vivian mengangguk. Kakinya turun dari ranjang, masih gemetar. Saat ia berdiri, lututnya goyah. Rusdi sigap menahan pinggangnya."Saya pegang," ucap Rusdi.Ia menarik resleting di punggung Vivian. Bunyi zzzt terdengar jelas. Jemari kasarnya merapikan rambut Vivian yang terselip."Bedak sedikit. Tutupi mata merah itu."Vivian menurut, berjalan ke meja rias. Rusdi berbalik, memungut handuk basah dan melemparnya ke keranjang. Ia menyemprotkan pengharum ruangan. Beres."Rusdi..." panggil Vivian. Ia menatap punggung pria itu lewat cermin. "Hati-hati."Rusdi menoleh. Senyum lebar tercetak di wajahnya."Tenang, Nyonya. Saya kan tukang kebun. Manjat beginian mah enteng. Nyonya fokus saja sama suami di bawah."Rusdi masuk kamar mandi. Kunci pintu dari dalam. Buka jendela ventilasi. Angin sore masuk.Ia melongok ke bawah. Sepi.
Rusdi tidak banyak bicara. Ia langsung mengangkat tubuh Vivian yang lemas. Vivian memekik pelan, refleks melingkarkan lengan ke leher Rusdi."Kita bilas dulu, Nyonya," bisiknya singkat.Di dalam shower box, Rusdi memutar keran. Air hangat menyembur deras, langsung mengguyur tubuh mereka. Kemeja Rusdi basah kuyup seketika, menempel ketat mencetak otot tubuhnya.Ia menuangkan sabun cair ke tangan, lalu mulai membasuh tubuh Vivian. Gerakannya efisien tapi telaten. Tangan kasarnya menyusuri bahu, punggung, lalu turun ke pinggang."Rileks, Nyonya," kata Rusdi saat merasakan bahu Vivian menegang. Jempolnya menekan titik pegal di sana. "Biar saya yang urus semuanya."Vivian menurut, menyandarkan kepala di dada bidang Rusdi. Ia membiarkan pria itu mengambil alih kendali.Tangan Rusdi turun, membersihkan sisa noda di paha dalam Vivian dengan sabun. Ia berjongkok sedikit, memastikan area sensitif itu bersih kembali. Tidak ada tatapan merendahkan, hanya sorot mata kagum."Cantik..." gumam Rusdi
"Maaf... maaf, Nyonya," gumam Rusdi. Suaranya terdengar cemas, seolah takut kena semprot. "Tapi lumpurnya... lumpurnya masuk sampai ke dalam lipatan..."Rusdi melepaskan spons dari tangannya. Jari-jarinya yang kasar dan kapalan kini menyentuh paha dalam Vivian, mendorong kedua kaki jenjang itu agar terbuka lebar-lebar. Vivian menurut saja, tubuhnya lemas tak berdaya.Di bawah sorotan lampu kamar mandi yang remang, selangkangan Vivian terpampang jelas.Mata Rusdi menyapu pemandangan itu. Di antara sisa-sisa lumpur hitam yang bau busuk, milik Vivian terlihat merah muda, basah, dan sedikit bengkak. Rusdi menelan ludah. Sebagai "tukang kebun", dia sudah berkali-kali memasukinya. Dia sudah hafal betul bagaimana rasanya menjebol pertahanan wanita ini, bagaimana sempitnya lubang itu meremas miliknya saat mereka bercinta diam-diam di gudang atau di kebun belakang.Tapi melihat Vivian terkapar tak berdaya seperti ini, ada sensasi berbeda. Kali ini dia bukan sekadar pasangan selingkuh, tapi pen
DUM! DUM! Pintu kaca bergetar hebat. Adrian menendang dari luar. "BUKA PINTUNYA! JANGAN PANCING EMOSIKU, VIVIAN!" Rusdi bergerak cepat. Matanya menyapu Vivian yang berdiri kaku dengan gaun tersingkap dan selangkangan basah sisa pergumulan mereka. Tidak sempat pakai celana. Adrian pasti melihatnya. Mata Rusdi menangkap ember cat bekas di sudut. Isinya pupuk cair fermentasi. Hitam. Busuk. Rusdi menyambar ember itu. "Maaf, Nyonya," bisik Rusdi. BYUUR! Cairan hitam pekat itu menyembur, menghantam tubuh Vivian dari dada sampai kaki. "Akh!" Vivian memekik, tersedak bau amonia yang menyengat. Gaun satin mahalnya seketika berubah jadi kain lap kumal berlumur lumpur hitam. Rusdi langsung menjatuhkan diri. Ia meraup sisa cairan di lantai, menampar wajahnya sendiri dengan lumpur busuk itu, lalu menggosokkannya ke kaos oblongnya. Ia harus terlihat sama kotornya. BRAK! Kunci jebol. Pintu tergeser kasar. Adrian menyerbu masuk. "VIVIAN! APA YANG—" Adrian mengerem mendadak. Matanya mel







