MasukRusdi menempelkan punggungnya ke dinding batu yang dingin di balik rak kayu besar. Napasnya ditahan sekuat tenaga sampai dadanya terasa sesak. Dari celah botol-botol wine, dia bisa melihat Tuan Adrian berdiri hanya beberapa meter darinya dengan wajah yang berantakan karena pengaruh alkohol dan rasa takut."Mana botolnya? Kenapa lama sekali di sini?" bentak Adrian sambil berkacak pinggang.Nyonya Vivian tidak mundur sedikit pun. Dia justru sengaja berdiri tepat di depan suaminya, menghalangi pandangan Adrian ke arah rak tempat Rusdi bersembunyi. Dalam cahaya lampu gudang yang temaram, Rusdi bisa melihat bagaimana Vivian sengaja menarik napas panjang supaya dadanya yang berukuran jumbo itu terlihat semakin menonjol."Sabar, Mas. Aku sedang mencari wine yang paling mahal supaya kamu bisa lebih tenang," jawab Vivian dengan suara yang sangat lembut dan manja.Vivian mendekat dan mengelus dada Adrian. Gerakan itu membuat payudaranya yang besar dan putih mulus itu tertekan ke tubuh suaminya.
Suasana di taman langsung berubah jadi sunyi setelah Tuan Adrian lari masuk ke dalam rumah. Para tamu cuma bisa saling lirik dan berbisik pelan. Nyonya Vivian berdiri dengan sangat tenang sambil merapikan gaun merahnya yang ketat itu.Dia melirik ke arah Rusdi dan memberikan kode lewat gerakan matanya."Rusdi, ambilkan botol wine cadangan di gudang bawah tanah sekarang," perintah Nyonya Vivian dengan suara lantang."Baik, Nyonya," jawab Rusdi singkat.Rusdi berjalan mengekor di belakang Nyonya Vivian. Dari arah belakang, Rusdi tidak bisa berhenti menatap bagaimana gaun itu membungkus pinggul Nyonya Vivian yang sangat lebar dan padat. Setiap langkah yang diambil wanita itu membuat lekukan tubuhnya bergoyang dengan sangat menggoda. Rusdi berusaha membuang muka, tapi bayangan tubuh montok itu terus saja mengganggu pikirannya.Mereka sampai di depan pintu kayu tebal gudang wine. Nyonya Vivian masuk duluan dan langsung mengunci pintunya dari dalam."Kok dikunci, Nyonya?" tanya Rusdi dengan
Suasana di meja VVIP itu hening mencekam. Musik jazz dari panggung di kejauhan rasanya tidak terdengar lagi di telinga Rusdi. Dia berdiri kaku di samping pilar, matanya memandangi Tuan Adrian yang masih mematung dengan wajah pucat pasi.Tuan Adrian terlihat seperti orang yang baru saja melihat hantu. Tangannya yang memegang kotak beludru itu gemetar hebat sampai-sampai gelang emas putih di dalamnya ikut bergetar dan memantulkan cahaya lampu dengan liar.Adisty yang duduk di seberang kakaknya mulai tidak sabar. Dia tidak tahu kalau kakaknya sedang ketakutan setengah mati. Di pikiran sempit Adisty, kakaknya diam karena sedang menahan amarah yang meledak-ledak pada Vivian."Mas? Kok diam saja?" tanya Adisty dengan nada mendesak.Adisty berdiri dari kursinya dan mencondongkan tubuh ke arah Adrian untuk melihat isi kotak itu lebih jelas.Gerakan tiba-tiba itu membuat gaun hitam Adisty yang potongannya sangat rendah itu melorot sedikit. Rusdi yang posisinya agak menyamping bisa melihat deng
Kamar utama Tuan Adrian dan Nyonya Vivian rasanya seperti dunia lain bagi Rusdi karena begitu pintu kayu jati yang berat itu tertutup, suara musik pesta di luar langsung hilang dan suasana menjadi hening. Hanya ada suara pendingin ruangan yang mendengung halus.Vivian berdiri di depan meja rias memunggungi Rusdi karena dia sedang melepas anting berliannya. Rusdi berdiri kaku di dekat pintu namun matanya nakal karena dia tidak bisa berhenti menatap punggung Vivian yang terbuka lebar di balik gaun merahnya.Kulit punggung majikannya itu terlihat putih, mulus, dan sangat empuk jika disentuh sehingga membuat Rusdi harus menelan ludah susah payah untuk menahan pikirannya agar tidak melayang ke mana-mana."Kunci pintunya, Rusdi," perintah Vivian dengan nada datar."Baik, Nyonya," jawab Rusdi cepat lalu dia memutar kunci pintu yang terdengar nyaring di ruangan sunyi itu.Vivian menunjuk ke arah ranjang besar di tengah ruangan lewat pantulan cermin dan berkata bahwa tasnya ada di atas kasur.
Ketegangan di meja makan itu rasanya mencekik leher Rusdi. Dia berdiri kaku di samping kursi Tuan Adrian dengan botol minuman di tangan kanan. Keringat dingin mulai mengalir di punggungnya karena situasi di bawah meja semakin gila.Adisty benar-benar nekat.Di atas meja, wanita itu tersenyum manis ke arah Walikota seolah dia wanita paling sopan di dunia. Tapi di bawah taplak meja yang panjang itu, ujung sepatu hak tingginya sedang menekan paha Rusdi dengan kuat."Aduh," desis Rusdi pelan sekali.Ujung sepatu yang lancip itu menekan tepat di saku kiri celana Rusdi. Di sana ada kotak beludru berisi gelang palsu. Adisty sepertinya tahu kalau Rusdi menyimpan barang itu di sana dan dia sengaja menekannya sebagai kode keras."Kenapa diam saja? Tuang dong," tegur Adisty dengan nada manja.Rusdi menunduk sedikit untuk menuang minuman ke gelas Adisty. Mata Rusdi langsung disuguhi pemandangan yang membuat napasnya tertahan. Gaun malam Adisty yang berwarna hitam itu potongannya sangat rendah.Ka
Jantung Rusdi rasanya mau copot. Dia sudah mengepalkan tangan kanan, siap melayangkan pukulan ke rahang siapa pun yang berani menyergapnya.Tapi begitu dia berbalik, wajah brengos Pak Ujang yang merah padam memenuhi pandangannya. Kumis tebal pria tua itu bergetar saking marahnya."Pak Ujang..." desis Rusdi, menurunkan kepalan tangannya perlahan. Kakinya masih gemetar sisa kaget tadi."Pak Ujang, Pak Ujang! Mata kamu buta apa?" semprot Pak Ujang. Telunjuknya menusuk-nusuk dada Rusdi, tepat di samping saku kemeja. "Itu di depan sudah kayak perang dunia! Tamu VVIP di meja nomor satu minta refill wine dari lima menit lalu, pelayan lain malah sibuk angkut piring kotor!""Ma-maaf, Pak Ujang. Saya tadi...""Simpan maafmu buat Tuan Adrian kalau dia ngamuk!" potong Pak Ujang kasar.Tanpa babibu, Pak Ujang mencengkeram lengan atas Rusdi. Cengkeramannya kuat sekali, jari-jari tua yang biasa memeras kain pel itu menekan otot bisep Rusdi. Pak Ujang menyeretnya paksa menjauh dari kamar, kembali ke







