LOGINFelicia melipat tangannya. "Bos kami hanya percaya pada hubungan keluarga yang harmonis. Beliau ingin mengenal karakter rekan bisnisnya melalui pasangannya. Ini adalah protokol standar bagi investasi di atas 100 miliar.""Tapi ... dipanggil kapan saja?" tanya Adrian ragu."Uang 500 miliar itu bisa cair dalam dua jam, Tuan Adrian. Anda bisa membayar utang bank Anda yang menumpuk. Perusahaan Anda tidak akan bangkrut," Felicia mencondongkan tubuhnya. "Atau Anda lebih memilih kehilangan semuanya hanya karena cemburu yang tidak berdasar?"Adrian menelan ludah. Ia membayangkan para penagih hutang yang mendatangi kantornya setiap hari. Ia membayangkan rasa malu jika ia harus jatuh miskin.Ia mengambil pulpen di atas meja. Ia tidak bertanya lagi. Ia langsung membubuhkan tanda tangannya di atas materai."Cerdas," gumam Felicia sambil mengambil kembali map itu. "Bos akan menemui Anda sekarang."Pintu geser di ujung ruangan terbuka. Reynard keluar dengan langkah yang sangat berwibawa. Ia mengena
Pagi harinya, halaman belakang kediaman Adrian masih diselimuti embun. Reynard, yang kini dikenal sebagai Rusdi, berdiri di tengah taman.Ia mengenakan kaus oblong berwarna abu-abu yang sudah menipis di bagian bahu. Topi jeraminya yang compang-camping menutupi sebagian wajahnya.Ia memegang gunting rumput besar. Suara gesekan besi yang tajam memecah keheningan pagi.Sret. Sret.Reynard bekerja dengan ritme yang stabil. Matanya tidak tertuju pada rumput, melainkan pada pantulan kaca lantai dua kamar utama Adrian. Ia melihat bayangan Adrian yang sedang tergesa-gesa memakai dasi.Pintu kaca teras terbuka. Adrian keluar dengan napas pendek. Wajahnya terlihat berantakan. Kantung matanya hitam karena kurang tidur dan efek sakit perut semalaman."Rusdi! Berhenti dulu!" teriak Adrian.Reynard meletakkan guntingnya. Ia membungkuk dalam. Punggungnya ia tekuk hingga terlihat seperti pria yang tidak punya harga diri."Iya, Tuan? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Reynard. Suaranya ia buat sedikit p
"Kamu pikir saya bodoh, Adrian? Aryasatya Group itu raksasa. Mereka tidak akan mau bekerjasama dengan perusahaan kecil yang mau bangkrut seperti milikmu!""Saya punya koneksi, Pak! Percayalah!" suara Adrian terdengar putus asa.Tok... Tok...Reynard masuk dengan kepala menunduk. Ia meletakkan nampan di meja kaca. "Ini kopi hitamnya, Tuan-tuan."Ia menaruh cangkir yang sudah diberi "bumbu" tepat di depan Adrian. Adrian langsung mengambil cangkir itu tanpa melihat, lalu meminumnya dengan rakus untuk meredakan rasa pening di kepalanya."Keluar sana! Jangan menguping!" usir Adrian."Iya, Tuan. Maaf," jawab Reynard sambil berjalan mundur.Baru saja Reynard sampai di pintu, ponsel di atas meja bergetar. Sebuah nomor kantor pusat muncul di layar. Adrian melihatnya dan matanya langsung melotot."Lihat! Ini telepon dari Aryasatya Group!" kata Adrian pada Hendra dengan nada sombong. Ia segera mengangkatnya dan menyalakan speaker. "Halo, selamat pagi. Dengan Adrian di sini."Suara Felicia terden
"Kamu asalnya dari mana?" tanya Hendra lagi."Dari desa di Jawa Tengah, Tuan. Jauh di gunung. Saya merantau cari makan ke sini," kata Reynard. Dia memainkan ujung handuknya. "Tuan mau kopi juga? Tuan Adrian baru saja minta dibuatkan kopi pahit."Hendra membuang muka. Dia terlihat jijik melihat handuk kotor di leher Reynard."Tidak perlu. Saya tidak punya banyak waktu," kata Hendra.Hendra menatap Adrian kembali."Kita bicara di dalam saja, Adrian. Saya tidak suka bicara bisnis di taman begini," kata Hendra."Tentu, silakan masuk, Pak Hendra. Maaf rumah agak berantakan," kata Adrian menjilat.Adrian menoleh ke arah Reynard sebelum masuk."Rusdi! Cepat buat kopi dan antar ke ruang tamu sekarang! Jangan lama-lama!" bentak Adrian."Inggih, Tuan. Siap," jawab Reynard.Reynard melihat mereka masuk ke rumah. Pintu kaca tertutup. Saat itu juga, wajah bodoh Reynard hilang. Matanya menjadi tajam dan dingin.Dia berdiri tegak. Otot punggungnya yang tadi ditekuk kini merenggang. Dia berjalan ke k
Adrian berdiri di ujung teras. Napasnya memburu. Matanya merah dan bengkak. Bau alkohol sisa semalam menguap dari tubuhnya. Dia memakai jubah mandi merah. Tangannya memegangi kening yang berdenyut."Tuli kamu, Rusdi? Saya panggil dari tadi tidak dengar?!" teriak Adrian. Suaranya pecah di ujung kalimat.Reynard menarik napas pendek. Dia menekan egonya. Dia membungkukkan punggung. Posturnya dibuat terlihat pendek dan rapuh. Dia meremas topi jerami dengan tangan yang kotor oleh tanah."Ngapunten, Tuan. Saya lagi fokus potong rumput tadi. Bunyi guntingnya berisik sekali," kata Reynard. Suaranya serak dan medok.Reynard berjalan mendekat. Langkahnya dibuat sedikit pincang. Dia berhenti di bawah tangga teras. Dia tidak berani naik ke lantai atas."Mana kopi saya? Saya suruh siapkan kopi sebelum saya bangun!" Adrian menunjuk wajah Reynard. Jarinya gemetar.Reynard mengerjapkan mata. Dia memasang wajah bingung."Loh, tadi malam Tuan bilang jangan dibangunkan sampai siang. Saya takut nanti kal
"Ibu," panggil Reynard dengan suara lembut.Sumi menoleh perlahan. Wajahnya langsung berubah cerah bahagia. Dia meletakkan cangkir tehnya ke atas meja kaca. "Reynard. Kau pulang, Nak."Reynard berjalan mendekat dan langsung memeluk ibunya. Rasa lelahnya seharian memakai topeng terasa menguap begitu saja."Kenapa belum tidur? Ini sudah larut malam," Reynard duduk di sebelah ibunya."Ibu sedang menunggumu pulang. Firasat ibu mengatakan kau akan mampir malam ini." Tangan keriput ibu Sumi mengusap lengan putranya. "Kau kelihatan sangat lelah hari ini. Kerjaan di rumah itu dan kantor mu menumpuk ya?"Reynard tersenyum tipis. "Tidak juga, Bu. Cuma ada urusan kecil yang harus segera aku bereskan.""Urusan apa?""Bukan apa-apa. Cuma urusan bisnis biasa." Reynard mengalihkan pembicaraan dengan cepat."Kau sudah makan malam?" tanya ibunya lagi."Sudah, Bu. Tadi ada acara rapat makan malam dengan klien."Ibu Sumi menatap mata putranya dalam-dalam. "Rey. Ibu cuma punya kamu seorang di dunia ini s
Malam merangkak makin larut. Jam di dinding kamar Rusdi sudah menunjuk ke angka sebelas. Suasana paviliun sudah sangat sunyi, hanya suara jangkrik yang terdengar dari arah taman. Rusdi segera bangun, memakai jaket gelapnya, lalu keluar dengan langkah yang sangat pelan agar tidak menimbulkan suara.
Tangan Rusdi yang kasar perlahan mulai turun dan semakin tenggelam di balik daster sutra yang licin itu. Dia bisa merasakan lekuk pinggul Nyonya Vivian yang sangat lebar dan padat berisi. Kulit majikannya terasa begitu hangat dan luar biasa halus, membuat Rusdi harus berkali-kali menahan napas agar
Setelah mobil yang membawa Non Adisty itu menghilang di tikungan jalan, Rusdi segera menutup pintu gerbang besi yang berat itu. Dia menarik napas panjang sambil mencoba membuang sisa ketegangan yang masih mengganjal di dadanya. Namun, rasa tenang itu hanya bertahan sebentar saja karena saat dia ber
Vivian sudah tidak sanggup berpikir jernih lagi. Kenikmatan yang diberikan Rusdi terlalu menguasai dirinya. Ia menggeleng lemah, tapi pinggulnya justru mendorong mundur menyambut setiap tusukan.“Ahh… Rus… punya kamu… ahhh… lebih enak… lebih keras…!” erang Vivian, suara pecah penuh kenikmatan.Rusd






