Share

Bab 2

Author: Kak Han
last update publish date: 2026-08-12 12:58:47

Dilan mencengkeram kertas reservasi itu dengan penuh amarah. Kebohongan tentang perjalanan bisnis yang diucapkan istrinya runtuh seketika tanpa sisa. Kenyataan pahit dan menjijikkan kini terpampang nyata di depan matanya.

Di hari suaminya jatuh miskin dan kehilangan pekerjaan, sang istri justru pergi menyerahkan diri dan kehormatannya pada pria lain demi harta.

​”Dita, kamu benar benar menguji kesabaranku! Jangan kamu pikir kesabaranku tidak ada habisnya. Aku akan mengumpulkan bukti kebusukanmu!” geram Dilan seraya meremas kertas yang ada di tangannya.

Kebohongan Dita dan Andre sudah terpampang nyata. Dilan tidak akan tinggal diam membiarkan harga dirinya diinjak-injak. Dia harus mencari bukti yang kuat tentang perselingkuhan itu.

Dilan membalikkan badan, menyambar jaket lusuh dan kunci motor tuanya yang tergantung di balik pintu kamar. Dia harus membuktikan pengkhianatan ini dengan kedua matanya sendiri.

Namun, tepat saat Dilan melangkah keluar menuju halaman depan, pintu utama rumah terbuka lebar.

Susi, sang ibu mertua, keluar dengan pakaian kebaya modern yang mencolok, lengkap dengan tas jinjing penuh manik-manik yang berkilau. Wajah tuanya tampak semringah, sangat berbanding terbalik dengan suasana suram yang ditinggalkannya di dalam rumah.

​"Heh, pengangguran! Sana! Bantu ART bersihkan rumah dan siapkan makan siang! Aku ada acara arisan mewah dengan teman-teman elitku!" ketus Susi tanpa memandang Dilan, lalu melangkah terburu-buru menuju taksi yang sudah menunggunya di depan pagar.

Setelah sang mertua pergi, ​Dilan bergegas mengambil kunci motor. Dia tidak menghiraukan ucapan kasar mertuanya, karena dia berniat untuk mengejar istrinya. Dilan ingin memastikan apakah Dita dan Anton benar benar ada di hotel?

Namun, karena pikirannya yang terlalu kalut dan terburu-buru, langkah kaki Dilan kehilangan keseimbangan di atas lantai teras yang licin.

Bugh!

Tubuhnya yang kekar sempat terhuyung, dan saat mencoba menumpu, pergelangan kaki kanan Dilan terlipat dengan posisi yang salah. ​

​Dilan kepleset dan terjatuh di lantai teras. Pria itu seketika mengerang kesakitan. Memegangi pergelangan kakinya yang seketika membengkak dan sedikit keseleo.

“Argh….! Sial! Pakai kepleset lagi!” umpat Dilan sambil memegangi kakinya yang terasa sangat nyeri.

​Mendengar suara yang mencurigakan dan rintihan dari luar, sesosok wanita dengan pakaian pelayan rumah tangga bergegas berlari dari arah dapur. Dia adalah Ela, pembantu yang baru beberapa hari kerja di rumah Dilan.

Meski hanya bekerja sebagai pembantu, tapi kecantikan Ela tidak kalah dengan majikannya. Kulitnya putih terawat, dan bodynya juga sangat menggoda. Meski setiap hari memegang pel dan setrika, tapi tangan Ela tetap halus.

Ela bergegas berlari ke luar dengan tergesa gesa juga. Dan saat Melihat Dilan terduduk lemas di lantai teras sambil meringis, wajah Ela seketika diliputi rasa panik. Dia segera memberikan pertolongan pada Dilan.

​"Tuan tidak apa-apa? Mari saya bantu pindah ke ruang tamu, atau ke kamar Tuan," panik Ela dengan penuh kekhawatiran yang tulus.

​Dengan cekatan dan tanpa memohon izin terlebih dahulu, Ela langsung mendekat dan berlutut di depan Dilan. Jemari tangannya yang lentik, segera meraih pergelangan kaki Dilan yang dijadikan tumpuan.

Sementara ​Dilan, dia masih menahan linu dan hanya bisa pasrah saat Ela membantunya berdiri dan memapahnya masuk ke ruang tamu, mendudukkannya di atas sofa kain yang agak usang.

Begitu Dilan bersandar, Ela kembali berlutut di lantai, tepat di hadapan kaki pria itu. Tanpa ragu, Ela segera memijat kaki Dilan.

“Kamu mau ngapain Ela?” tanya Dilan sambil menahan rasa sakitnya.

“Saya akan memijat kaki Tuan,” jawab Ela. Tangannya langsung bergerak tanpa menunggu persetujuan dari Dilan.

Ela memang punya kemampuan pijat yang diturunkan dari neneknya. Hanya saja, kemampuan itu tidak terlalu dia tunjukkan. Hanya sesekali dia gunakan kemampuannya jika ada keluarga atau teman terdekat yang membutuhkan pertolongan pijatannya.

Tapi Dilan berusaha menolak tawaran Ela. Meski dia sedang merasa sakit, dia tidak mau terlihat cengeng di depan pembantu barunya itu.

Dan yang paling utama dia harus menjaga harga dirinya sebagai seorang suami yang setia. Dilan tidak mau dikatakan sedang memanfaatkan keadaan. Sementara Ela, dia tidak menyerah begitu saja dengan penolakan Dilan.

“Tuan Dilan tidak perlu berbohong atau merasa sungkan. Jelas jelas Tuan sedang kesakitan!” seru Ela tanpa menghiraukan larangan Dilan. Dan pada akhirnya Dilan hanya bisa pasrah menerima pijatan Ela yang sedikit memaksa.

​Pijatan Ela terasa sangat presisi. Sentuhan tangannya yang hangat perlahan-lahan meredakan rasa linu yang menghentak di kaki Dilan. Dilan yang awalnya ingin menolak, kini mulai menikmati nyamannya pijatan Ela.

​Sebenarnya, di balik perhatian yang diberikan oleh Ela, ada sesuatu yang tidak diketahui oleh Dilan. Rupanya Ela telah lama menaruh rasa kagum dan cinta yang mendalam pada Dilan, jauh sebelum Ela menjadi pembantu di rumah itu.

Dia selalu merasa sakit hati setiap kali melihat pria agung yang berstatus sebagai majikannya itu dihina dan diinjak-injak oleh Dita maupun Susi. Rasa cinta yang terpendam itu membuat tindakan Ela perlahan kehilangan kendali profesionalnya.

Meski Ela baru saja bekerja di rumah itu, tetapi Ela sudah mengetahui perlakuan Dita pada Dilan setiap hari. Karena diam diam, selama ini Ela memantau Dilan dari kejauhan hingga akhirnya dia bisa tinggal bersama meski sebagai pembantu.

"Ela, aku jadi nggak enak sama kamu. Kamu kan baru kerja di sini. Dan ini bukan termasuk pekerjaan kamu,"

"Tidak apa apa Pak Dilan. Pekerjaan saya adalah melayani majikan, dalam hal apapun," jawab Ela meyakinkan Dilan agar tidak perlu merasa sungkan.

​Gerakan tangan Ela yang semula hanya berfokus pada pergelangan kaki, perlahan-lahan mulai merambat naik ke area paha Dilan. Pijatannya melembut, berubah menjadi sentuhan yang terasa begitu intim dan personal. Seolah Ela meluapkan hasrat yang selama ini terpendam di hatinya.

​Dilan tersentak, merasakan perubahan ritme pijatan tersebut. Sebelum dia sempat bersuara, Ela sengaja membungkuk rendah ke arah Dilan.

Gerakan itu membuat kancing paling atas seragam pelayannya yang sedikit longgar terbuka cukup jelas, memperlihatkan dua gundukan di dada Ela menyembul, tepat di hadapan pandangan mata Dilan yang berada di posisi lebih tinggi di atas sofa.

Ela mendongak, menatap langsung ke dalam manik mata Dilan dengan tatapan yang penuh kepasrahan, ketulusan, sekaligus gairah yang lama tertahan. Ia berbisik dengan suara yang sangat rendah, hampir menyerupai desahan halus di keheningan ruangan.

​”Tuan Dilan... Saya tahu seberapa besar beban yang Tuan tanggung di rumah ini. Saya selalu memperhatikan Tuan. Jika Tuan bersedia... saya siap memberikan pelayanan, kesetiaan, dan kepatuhan seutuhnya yang tidak pernah Nyonya Dita berikan kepada Tuan sebagai seorang istri. Apapun yang Tuan inginkan, saya akan menurutinya," bisik Ela dengan penuh keberanian, tepat di depan wajah Dilan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Nyonya, Suamimu Bukan Pria Lemah!   Bab 109

    Tiara masih mematung beberapa saat, menatap wajah Nyonya dan Pak Hendra secara bergantian. Rasanya seperti mimpi. Seorang wanita dari keluarga terpandang yang sebelumnya begitu dingin dan tegas mengusirnya, kini berdiri di depan pintu kamar kosnya yang sempit, memegang tangannya dengan lembut sambil mengutarakan permohonan maaf secara tulus.​Air mata keharuan mengalir makin deras di pipi Tiara. Ia menyapu sudut matanya dengan punggung tangan, lalu mengangguk pelan seraya menyunggingkan senyum tulus yang amat manis.​"Nyonya... Tuan... tolong jangan berkata seperti itu," ucap Tiara dengan suara serak menahan haru. "Saya sudah memaafkan semuanya dari awal. Saya sama sekali tidak menyimpan rasa dendam atau sakit hati pada Tuan dan Nyonya."​Nyonya Hendra menatap Tiara dengan mata berkaca-kaca, tersentuh oleh kebaikan hati gadis di hadapannya. "Kamu benar-benar gadis yang baik, Tiara..."​"Saya sangat mengerti posisi Tua dan Nyonya," lanjut Tiara pelan, tutur katanya tertata rapi dan pen

  • Nyonya, Suamimu Bukan Pria Lemah!   Bab 108

    Tubuh Tiara masih kaku membeku di dalam dekapan erat Dilan. Detak jantung pria itu terasa berdegup kencang menghantam dadanya, menyalurkan kehangatan yang selama ini sangat ia rindukan. Di dalam hatinya yang paling dalam, Tiara merasa sangat bahagia. Luar biasa bahagia sampai rasanya ingin meneteskan air mata. Pria yang selalu ada dalam doa-doanya kini benar-benar berdiri di hadapannya, mendekapnya penuh kerinduan.​Namun, rasa bahagia itu seketika tertutup oleh rasa takut dan canggung yang luar biasa juga.​Tiara tersadar bahwa di luar pintu kamar kosnya yang sempit ini, berdiri Pak Hendra dan Nyonya Hendra. Bayangan kejadian di rumah sakit beberapa waktu lalu mendadak berputar kembali di ingatannya secara menyakitkan. Ia ingat betul bagaimana dinginnya tatapan Nyonya Hendra saat membentak dan mengusirnya keluar dari ruangan Dilan, menganggapnya wanita tak berpendidikan yang tidak tahu diri.​Perlahan, Tiara mendorong dada Dilan secara halus, mencoba menarik diri dari dekapan hangat

  • Nyonya, Suamimu Bukan Pria Lemah!   Bab 107

    Melihat keteguhan dan sifat nekat Dilan yang tidak bisa dibendung lagi, Pak Hendra dan Nyonya Hendra akhirnya mengalah. Mereka sadar, menahan Dilan yang sedang diselimuti rasa rindu dan penyesalan mendalam hanya akan memicu perdebatan panjang yang tak ada habisnya."Baiklah, kita temui Tiara malam ini. Tapi Mama khawatir dengan kesehatan kamu. kamu kan belum pulih," Cemas Nyonya Hendra."Nggak apa apa Ma. aku sudah baik baik saja. lihat ini!" Seru Dilan sambil berdiri lalu berjalan mondar mandir menunjukkan dirinya sudah baik baik saja. ​Malam itu juga, tubuh Dilan yang seharusnya masih lemah akibat sisa-sisa efek obat dan demam mendadak seperti mendapat suntikan energi baru. Rasa lelahnya menguap begitu saja digantikan oleh semangat bergelora. "Benar juga. kenapa Tuan Dilan mendadak menjadi pulih sempurna begini?" Sahut Ela merasa heran."Apa mungkin ini karena kekuatan Cinta ya Mbak Ela?" Timpal Olivia."Mungkin iya Non."Dilan tersenyum simpul mendengarnya. sementara Tuan dan Nyo

  • Nyonya, Suamimu Bukan Pria Lemah!   Bab 106

    Di luar dugaan Dilan, Olivia, maupun Ela, hening yang mencekam itu tidak berujung pada ledakan amarah. Pak Hendra menghembuskan napas panjang, mengurut pangkal hidungnya pelan seolah sedang menimbang beban berat di dalam kepalanya.​Pria paruh baya yang biasanya sangat keras dan dingin itu menatap Nyonya Hendra sebentar, lalu beralih memandangi putra tunggalnya.​"Baik," kata Pak Hendra akhirnya dengan suara rendah namun mantap. "Papa setuju."​Nyonya Hendra mengangguk pelan menguatkan ucapan suaminya. "Mama juga setuju, Dilan. Sebagai orang tua yang bijak, kalau memang kita sudah berprasangka buruk dan berbuat salah pada Tiara, memang sudah kewajiban kita untuk minta maaf secara langsung padanya."​Mendengar jawaban yang sama sekali tidak disangka-sangka itu, Dilan seketika terpaku. Senyum lebar yang tulus perlahan terukir di wajahnya yang masih tampak agak pucat. Rasa gembira yang luar biasa mendadak memenuhi dadanya, membakar habis sisa-sisa rasa sesak yang menghimpitnya sejak tadi

  • Nyonya, Suamimu Bukan Pria Lemah!   Bab 105

    Melihat Dilan yang mengepalkan tangannya kuat-kuat dengan rahang mengetat kaku, Olivia refleks menggeser duduknya mendekat. Ia memegang jemari kakaknya yang terasa dingin, mengusapnya perlahan untuk meredam amarah yang mulai menyala di dada Dilan.​"Kak, udah ya... tenang dulu," bisik Olivia lembut, matanya menatap Dilan dengan raut khawatir. "Papa sama Mama kan tidak bilang menolak sama sekali. Cuma butuh waktu biar semuanya bisa diselesaikan baik-baik tanpa bikin masalah baru."​Ela, yang baru saja kembali dari arah dapur sambil membawa nampan berisi teh hangat dan air putih, bergegas meletakkan cangkir-cangkir itu di atas meja. Melihat kondisi Dilan yang kembali tegang, Ela ikut berlutut pelan di samping sofa dekat posisi Dilan duduk.​"Iya, Pak Dilan... tolong jangan emosi dulu," tutur Ela dengan suara yang sangat halus dan menenangkan. "Kondisi tubuh Bapak kan baru saja membaik dari demam tadi. Kalau Bapak stres lagi, nanti badannya panas lagi. Tolong diatur napasnya dulu, Pak."

  • Nyonya, Suamimu Bukan Pria Lemah!   Bab 104

    Belum sempat Dilan membuka mulut untuk menjawab pertanyaan Ela, langkah kaki Pak Hendra terdengar mendekat dari arah ruang makan utama. Pria paruh baya itu melangkah cepat menghampiri area sofa tempat anak-anaknya berkumpul.​"Dilan, Oliv," panggil Pak Hendra dengan nada suara yang tertata rapi. "Para tamu di dalam sudah mau berpamitan pulang. Ayo berdiri sebentar, temani Papa dan Mama antar mereka sampai pintu depan."​Dilan menghembuskan napas pelan, menekan perasaan kalut di dalam dadanya. Ia membatalkan niatnya menjawab pertanyaan Ela dan perlahan bangkit berdiri. Olivia dengan sigap memegangi lengan kakaknya, ikut melangkah bersama Dilan dan Pak Hendra menuju area foyer utama.​Di pintu depan, Pak Hendra dan Nyonya Hendra sibuk bersalaman serta menyampaikan rasa terima kasih kepada para relasi bisnis mereka. Dilan dan Olivia hanya berdiri mendampingi sambil tersenyum tipis formal. Tak lama kemudian, rombongan tamu tersebut melaju pergi meninggalkan kediaman Dirgantara.​Setelah p

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status