เข้าสู่ระบบ
“Sayang, ada yang ingin aku sampaikan. Aku… kena PHK,” ucap Dilan dengan pelan, mencoba meredam getaran emosinya saat menyerahkan selembar surat kepada istrinya.
Dita, istrinya yang sedang sibuk mengikir kuku di sofa, merebut kertas itu dengan malas. Namun, begitu matanya membaca kata Pemutusan Hubungan Kerja, wajah cantiknya langsung berubah drastis. Sorot matanya yang semula acuh tak acuh seketika dipenuhi oleh kilatan kejijikan yang amat pekat. "PHK?! Jadi sekarang kamu pengangguran dong?! Dasar pria tidak berguna! Beban hidup! Kamu kerja saja gajimu kecil, nggak cukup untuk perawatan salon dan membeli barang barangku. Sekarang kamu justru di PHK?" pekik Dita. Suaranya melengking tinggi hingga mengguncang keheningan ruang tamu. Dita berdiri, melempar kertas itu tepat ke wajah Dilan. Dia lantas mencaci suaminya tanpa mempedulikan harga diri Dilan. Selembar kertas putih berlogo perusahaan di tangan Dilan terasa seringan kapas, tapi bobot informasi di dalamnya sanggup menghancurkan hidup seorang pria biasa. Selama ini, Dilan dikenal sebagai sosok suami lemah dan miskin, yang selalu direndahkan oleh istrinya. Namun di balik semua kenyataan pahit itu, Dilan sebenarnya adalah pewaris tunggal dari salah satu konglomerat terbesar di negeri ini. Demi merasakan ketulusan hidup serta cinta yang murni dari pasangannya, dia memilih mengunci semua itu rapat-rapat, lalu menikah dengan Dita yang dia anggap mencintainya setulus hati. Sore itu, saat dia melangkah pulang ke rumah dua lantai yang dia tinggali bersama istrinya, Dilan berharap, setidaknya ada secangkir teh hangat atau pelukan penenang dari sang istri yang menyambutnya di tengah badai PHK itu. Tapi yang ada hanya cacian dan hinaan. Dilan menarik napas dalam, mencoba tetap tenang. Menelan segala ucapan pahit dari mulut istrinya. "Aku akan segera mencari pekerjaan baru, Dit. Tolong, beri aku waktu sedikit saja..." ucap Dilan dengan penuh kerendahan. "Waktu? Hah! Laki-laki macam apa kamu ini?! Asal kamu tahu ya, Dilan. Aku ini wanita cantik, berkelas, dan punya karier. Sedangkan kamu? Cuma buruh rendahan yang sekarang bahkan tidak punya harga diri, dan sekarang malah jadi pengangguran! potong Dita dengan cepat, bibirnya melengkung sinis sambil membuang muka. Dita mencaci-maki dengan kata-kata yang begitu menusuk, sama sekali buta dan mengabaikan fakta bagaimana Dilan selalu menjadi suami yang berbakti. Bahkan di atas ranjang setiap malam, Dilan selalu mengerahkan seluruh tenaganya yang luar biasa untuk memanjakan dan memuaskan Dita hingga wanita itu tak berdaya dan memohon ampun. Namun bagi Dita yang matanya sudah dibutakan oleh kilau harta, kepuasan batin di ranjang tidak ada artinya jika dompet Dilan kosong melongpong. Baginya, keperkasaan Dilan tidak bisa ditukar dengan selembar uang kertas di restoran mewah. Dilan mengepalkan kedua tangannya. Rahangnya mengeras. Rasanya ingin segera dia tunjukkan siapa dirinya sebenarnya. Tapi, jika itu dia lakukan, maka rencananya untuk mencari pasangan yang tulus akan gagal. Dia masih ingin tau, setulus apa istrinya akan menerima dirinya. Mendengar keributan yang semakin memanas, pintu kamar depan terbuka. Susi, sang ibu mertua, keluar dengan langkah yang dihentak-hentakkan. Wajah tuanya yang penuh riasan tebal langsung berkerut sinis begitu melihat Dilan berdiri mematung di depan anaknya. "Ada apa ini? Ribut ribut siang-siang begini. Mengganggu orang tidur siang aja!” semprot Susi, lalu beralih menatap Dilan dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan pandangan merendahkan. “Itu Bu, si Dilan dipecat! Gimana nggak kesel? Kerja aja cuma jadi jongos, gajinya kecil. Mau cari kerja lain pun, pasti juga jadi jongos lagi!” cerocos Dita menjawab pertanyaan Ibunya. "Oh, jadi si parasit ini dipecat? Bagus! Lengkap sudah penderitaan keluarga kita memelihara laki-laki tidak berguna!" sahut Susi dengan enteng. Tapi seketika Dilan angkat bicara karena tidak tahan mendengar hinaan istri dan Ibu mertuanya. "Ibu, tolong jaga bicara Ibu. Aku selalu berusaha mencukupi kebutuhan rumah ini," ucap Dilan, mencoba membela diri. "Mencukupi kamu bilang? Asal kamu tau, uangmu itu cuma cukup untuk beli beras dan bayar listrik. Sementara untuk keperluan lain, kamu nol! Nggak mampu ngasih apa apa! Apalagi untuk bayar cicilan rumah!" seru Susi sambil berkacak pinggang. Dia maju beberapa langkah hingga jarak mereka sangat dekat. Kedua bola matanya terus membulat, menatap tajam ke arah Dilan. “Tapi kan yang penting setiap hari kita bisa makan Bu. Aku tidak sampai membuat kalian kelaparan.” Dilan masih berusaha membela diri, tapi ibu mertuanya justru meludah ke lantai, tepat di sebelah kaki Dilan. “Kamu pikir kamu pelihara sapi, yang cukup dikasih makan asal kenyang? Dengar ya, Dilan. Di dunia ini, harga diri seorang pria itu murni diukur dari ketebalan dompetnya! Kalau dompetmu tipis, kamu itu tidak lebih dari seekor anjing kurus yang mengemis makanan. Sadar diri kamu! Kamu itu laki laki yang tidak punya masa depan!" Dilan mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat di balik saku celananya. Dia memejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam, berusaha meredam amarahnya. Dilan memilih diam dan menerima semua cacian itu dengan kepala tertunduk. Suasana tegang yang membakar rumah itu perlahan mereda saat hari menjelang siang. Tanpa rasa bersalah atau berniat menghibur suaminya yang baru saja kehilangan arah, Dita masuk ke dalam kamar tidur mereka. Di dalam, ia mulai berdandan dengan sangat intens. Dilan yang berdiri di ambang pintu hanya bisa memperhatikan istrinya mengenakan gaun merah yang sangat ketat, memperlihatkan lekuk tubuhnya dengan potongan dada yang rendah. Riasan wajahnya pun jauh lebih menor dan sensual dari biasanya, gaya dandan yang biasanya hanya dia gunakan saat menghadiri pesta-pesta eksklusif. “Mau kemana Dit?” tanya Dilan. "Aku ada perjalanan bisnis ke luar kota selama beberapa hari. Jangan berani-berani menelepon atau mengirim pesan padaku kalau tidak penting. Aku sibuk urusan pekerjaan, bukan mau menganggur tidak jelas sepertimu," ketus Dita dingin tanpa sudi memandang wajah Dilan yang berdiri di dekat lemari. Tak lama kemudian, sebuah suara klakson mobil sport mewah bertenaga besar memecah keheningan di depan rumah mereka. Suaranya yang menderu keras seolah sengaja memamerkan kekayaan sang pemilik. Itu adalah mobil milik Andre, bos di perusahaan tempat Dita bekerja, seorang pria kaya raya yang terkenal arogan. Begitu mendengar suara klakson itu, wajah Dita yang semula masam langsung berubah cerah. Dia bergegas menyambar tas jinjing kecilnya dan berlari keluar rumah dengan langkah centil, menyambut pria kaya itu dengan senyuman manja dan gelayutan mesra yang tidak pernah lagi dia perlihatkan pada Dilan selama bertahun-tahun. Dari balik jendela ruang tamu, Dilan hanya bisa berdiri mematung. Matanya yang tajam menatap nanar saat istrinya dengan sukarela masuk ke dalam mobil mewah tersebut, membiarkan tangan Andre mengelus pundak mulus Dita sebelum mobil itu melesat pergi meninggalkan kepulan asap tipis. Dada Dilan terasa begitu sesak, seolah dihantam oleh gada besi yang tak kasat mata. Pengkhianatan itu terlalu kasat mata untuk diabaikan. Dengan langkah yang sunyi, ia melangkah masuk kembali ke dalam kamar tidur mereka yang kini menyisakan aroma parfum mahal milik Dita. Pandangan mata Dilan tiba-tiba terjatuh pada tas kerja Dita yang berukuran lebih besar, yang sengaja ditinggalkan di atas seprai kasur yang acak-acakan karena terburu-buru. Didorong oleh rasa curiga yang membuncah, Dilan mendekati kasur tersebut. Tangannya yang gemetar karena menahan emosi perlahan membuka resleting tas tersebut. Dia menggeledah bagian dalamnya, melewati tumpukan kosmetik dan berkas-berkas kantor yang tidak penting. Hingga akhirnya, jemarinya menyentuh selembar kertas kecil berkulit tebal yang terselip di kantung rahasia bagian dalam tas. Saat menariknya keluar dan membaca tulisan yang tertera di sana, jantung Dilan seolah berhenti berdetak seketika. Seluruh darah di tubuhnya mendadak terasa dingin. Itu adalah sebuah karcis reservasi kamar Executive Suite di sebuah hotel bintang lima paling mewah di pusat kota. Tertera dengan huruf cetak tebal yang sangat jelas di sana. Reservasi atas nama Dita dan Andre. Tanggal Check-in, pada hari itu, pukul 13.00 WIB.Tiara masih mematung beberapa saat, menatap wajah Nyonya dan Pak Hendra secara bergantian. Rasanya seperti mimpi. Seorang wanita dari keluarga terpandang yang sebelumnya begitu dingin dan tegas mengusirnya, kini berdiri di depan pintu kamar kosnya yang sempit, memegang tangannya dengan lembut sambil mengutarakan permohonan maaf secara tulus.Air mata keharuan mengalir makin deras di pipi Tiara. Ia menyapu sudut matanya dengan punggung tangan, lalu mengangguk pelan seraya menyunggingkan senyum tulus yang amat manis."Nyonya... Tuan... tolong jangan berkata seperti itu," ucap Tiara dengan suara serak menahan haru. "Saya sudah memaafkan semuanya dari awal. Saya sama sekali tidak menyimpan rasa dendam atau sakit hati pada Tuan dan Nyonya."Nyonya Hendra menatap Tiara dengan mata berkaca-kaca, tersentuh oleh kebaikan hati gadis di hadapannya. "Kamu benar-benar gadis yang baik, Tiara...""Saya sangat mengerti posisi Tua dan Nyonya," lanjut Tiara pelan, tutur katanya tertata rapi dan pen
Tubuh Tiara masih kaku membeku di dalam dekapan erat Dilan. Detak jantung pria itu terasa berdegup kencang menghantam dadanya, menyalurkan kehangatan yang selama ini sangat ia rindukan. Di dalam hatinya yang paling dalam, Tiara merasa sangat bahagia. Luar biasa bahagia sampai rasanya ingin meneteskan air mata. Pria yang selalu ada dalam doa-doanya kini benar-benar berdiri di hadapannya, mendekapnya penuh kerinduan.Namun, rasa bahagia itu seketika tertutup oleh rasa takut dan canggung yang luar biasa juga.Tiara tersadar bahwa di luar pintu kamar kosnya yang sempit ini, berdiri Pak Hendra dan Nyonya Hendra. Bayangan kejadian di rumah sakit beberapa waktu lalu mendadak berputar kembali di ingatannya secara menyakitkan. Ia ingat betul bagaimana dinginnya tatapan Nyonya Hendra saat membentak dan mengusirnya keluar dari ruangan Dilan, menganggapnya wanita tak berpendidikan yang tidak tahu diri.Perlahan, Tiara mendorong dada Dilan secara halus, mencoba menarik diri dari dekapan hangat
Melihat keteguhan dan sifat nekat Dilan yang tidak bisa dibendung lagi, Pak Hendra dan Nyonya Hendra akhirnya mengalah. Mereka sadar, menahan Dilan yang sedang diselimuti rasa rindu dan penyesalan mendalam hanya akan memicu perdebatan panjang yang tak ada habisnya."Baiklah, kita temui Tiara malam ini. Tapi Mama khawatir dengan kesehatan kamu. kamu kan belum pulih," Cemas Nyonya Hendra."Nggak apa apa Ma. aku sudah baik baik saja. lihat ini!" Seru Dilan sambil berdiri lalu berjalan mondar mandir menunjukkan dirinya sudah baik baik saja. Malam itu juga, tubuh Dilan yang seharusnya masih lemah akibat sisa-sisa efek obat dan demam mendadak seperti mendapat suntikan energi baru. Rasa lelahnya menguap begitu saja digantikan oleh semangat bergelora. "Benar juga. kenapa Tuan Dilan mendadak menjadi pulih sempurna begini?" Sahut Ela merasa heran."Apa mungkin ini karena kekuatan Cinta ya Mbak Ela?" Timpal Olivia."Mungkin iya Non."Dilan tersenyum simpul mendengarnya. sementara Tuan dan Nyo
Di luar dugaan Dilan, Olivia, maupun Ela, hening yang mencekam itu tidak berujung pada ledakan amarah. Pak Hendra menghembuskan napas panjang, mengurut pangkal hidungnya pelan seolah sedang menimbang beban berat di dalam kepalanya.Pria paruh baya yang biasanya sangat keras dan dingin itu menatap Nyonya Hendra sebentar, lalu beralih memandangi putra tunggalnya."Baik," kata Pak Hendra akhirnya dengan suara rendah namun mantap. "Papa setuju."Nyonya Hendra mengangguk pelan menguatkan ucapan suaminya. "Mama juga setuju, Dilan. Sebagai orang tua yang bijak, kalau memang kita sudah berprasangka buruk dan berbuat salah pada Tiara, memang sudah kewajiban kita untuk minta maaf secara langsung padanya."Mendengar jawaban yang sama sekali tidak disangka-sangka itu, Dilan seketika terpaku. Senyum lebar yang tulus perlahan terukir di wajahnya yang masih tampak agak pucat. Rasa gembira yang luar biasa mendadak memenuhi dadanya, membakar habis sisa-sisa rasa sesak yang menghimpitnya sejak tadi
Melihat Dilan yang mengepalkan tangannya kuat-kuat dengan rahang mengetat kaku, Olivia refleks menggeser duduknya mendekat. Ia memegang jemari kakaknya yang terasa dingin, mengusapnya perlahan untuk meredam amarah yang mulai menyala di dada Dilan."Kak, udah ya... tenang dulu," bisik Olivia lembut, matanya menatap Dilan dengan raut khawatir. "Papa sama Mama kan tidak bilang menolak sama sekali. Cuma butuh waktu biar semuanya bisa diselesaikan baik-baik tanpa bikin masalah baru."Ela, yang baru saja kembali dari arah dapur sambil membawa nampan berisi teh hangat dan air putih, bergegas meletakkan cangkir-cangkir itu di atas meja. Melihat kondisi Dilan yang kembali tegang, Ela ikut berlutut pelan di samping sofa dekat posisi Dilan duduk."Iya, Pak Dilan... tolong jangan emosi dulu," tutur Ela dengan suara yang sangat halus dan menenangkan. "Kondisi tubuh Bapak kan baru saja membaik dari demam tadi. Kalau Bapak stres lagi, nanti badannya panas lagi. Tolong diatur napasnya dulu, Pak."
Belum sempat Dilan membuka mulut untuk menjawab pertanyaan Ela, langkah kaki Pak Hendra terdengar mendekat dari arah ruang makan utama. Pria paruh baya itu melangkah cepat menghampiri area sofa tempat anak-anaknya berkumpul."Dilan, Oliv," panggil Pak Hendra dengan nada suara yang tertata rapi. "Para tamu di dalam sudah mau berpamitan pulang. Ayo berdiri sebentar, temani Papa dan Mama antar mereka sampai pintu depan."Dilan menghembuskan napas pelan, menekan perasaan kalut di dalam dadanya. Ia membatalkan niatnya menjawab pertanyaan Ela dan perlahan bangkit berdiri. Olivia dengan sigap memegangi lengan kakaknya, ikut melangkah bersama Dilan dan Pak Hendra menuju area foyer utama.Di pintu depan, Pak Hendra dan Nyonya Hendra sibuk bersalaman serta menyampaikan rasa terima kasih kepada para relasi bisnis mereka. Dilan dan Olivia hanya berdiri mendampingi sambil tersenyum tipis formal. Tak lama kemudian, rombongan tamu tersebut melaju pergi meninggalkan kediaman Dirgantara.Setelah p







