Share

Bab 3

Author: Kak Han
last update publish date: 2026-08-12 12:59:33

Dilan terkejut. Kedua matanya membelalak menanggapi tindakan impulsif dan berani dari pembantunya tersebut. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena tergoda, melainkan karena tidak menyangka situasi akan berbalik seberani ini di tengah badai rumah tangganya. 

“Apa? Kamu akan memberikan pelayanan, kesetiaan dan kepatuhan seutuhnya layaknya seorang istri padaku?” Dilan mengulang kata kata Ela, untuk memastikan jika dirinya tidak sedang salah dengar.

Melihat ekspresi terkejut Dilan, Ela mendadak tersadar bahwa tindakannya mungkin terlalu agresif dan takut perbuatan ini terlewat batas. Apalagi sampai Ela tak sengaja melakukannya di depan Susi atau Dita. Bisa bisa ia dipecat. Dengan cepat, dia mencoba menarik kembali ucapannya yang terlalu jauh demi meredakan ketegangan. 

​"M-maksud saya... saya akan melayani dengan sepenuh hati selama Tuan Dilan membutuhkan pijatan di kaki ini. Saya akan memastikan kaki lekas sembuh total agar Tuan bisa beraktivitas kembali," ralat Ela dengan gugup, meski jemarinya masih enggan menjauh dari paha Dilan. 

​Meskipun hatinya sempat bergetar melihat ketulusan dan pesona Ela yang begitu besar, Dilan masih memegang teguh moral dan komitmennya sebagai seorang suami yang setia. 

Setidaknya sebelum ikatan pernikahan itu resmi diputuskan, Dilan tidak ingin mengotori dirinya dengan bermain api di belakang pernikahan yang sedang berada di ujung tanduk. 

​Dengan gerakan tegas, Dilan langsung menepis tangan Ela yang berada di pahanya. Ia menarik kakinya menjauh, lalu berdiri tegak dari sofa. Rasa linu di pergelangan kakinya kini sudah jauh berkurang berkat pijatan presisi dari Ela tadi. 

​"Cukup, Ela. Terima kasih atas pijatannya. Kembalilah ke dapur dan lanjutkan pekerjaanmu. Anggap saja apa yang terjadi di sini tidak pernah ada," kata Dilan dengan suara yang berat dan dingin, memancarkan wibawa tersembunyi yang membuat Ela seketika tertunduk patuh.

​Ela menggigit bibir bawahnya, ada kilat kekecewaan dan kesedihan di matanya, tapi dia sadar diri akan posisinya.

"Baik, Tuan. Maafkan kelancangan saya," ujarnya lirih sambil membungkuk hormat, lalu melangkah mundur kembali menuju area dapur dengan kepala tertunduk lesu.

​Dilan tidak membuang waktu lagi. Ia membalikkan badan, melangkah keluar rumah dengan tumpuan kaki yang sudah kembali stabil. Ia menyalakan mesin motor tuanya yang menderu kasar, lalu segera mengendarainya membelah jalanan kota, memacu kendaraannya menuju hotel bintang lima tempat Dita dan Andre berjanji untuk bertemu. Pikirannya kini terfokus penuh pada satu tujuan: menghadapi kebenaran pahit dan mengakhiri semua penghinaan ini. 

Matahari siang itu rasanya terik, membuat kaca-kaca gedung hotel bintang lima di pusat kota itu kelihatan makin berkilau mewah. 

Di seberang jalan, motor tua Dilan berhenti. Dia lalu menatap lurus ke arah lobi megah hotel tempat orang-orang kaya keluar masuk pakai baju branded dan setelan jas mahal.

​Dilan turun dari motor sambil membetulkan jaket lusuhnya yang kelihatan jomplang sekali dengan pemandangan di sekitar hotel. Kalau dia asal nyelonong masuk lewat pintu lobi utama, satpam-satpam berbadan tegap di sana pasti langsung mencegatnya.

​Tapi Dilan nggak bodoh. Dia jalan memutar dengan langkah santai tapi cepat, memanfaatkan celah di area parkir samping, lalu dengan gesit menyelinap masuk lewat pintu baja tangga darurat yang kebetulan agak terbuka karena ada petugas kebersihan yang sedang mondar-mandir.  

​Begitu masuk ke dalam lorong tangga yang sepi dan dingin, Dilan langsung naik.  

​Begitu sampai di lantai enam, Dilan membuka pintu darurat pelan-pelan sekali supaya tidak menimbulkan suara. Dia melangkah keluar, menyusuri lorong berkarpet tebal warna merah marun yang membuat langkah kakinya tidak kedengaran sama sekali. Lorong itu sangat sepi, hanya  ada suara dengung halus dari mesin AC.

​Dilan berjalan mendekati belokan dekat deretan lift khusus. Tapi langkahnya mendadak berhenti waktu telinganya menangkap suara ketawa centil yang akrab sekali di telinganya. 

​Di ujung lorong, tepat di depan kamar Executive Suite, Dilan melihat Dita dan Andre baru saja keluar dari lift. Detik itu juga, dada Dilan rasanya seperti dihantam gada besi. 

Andre, dengan setelan jas mahalnya yang necis, tanpa ragu langsung menarik pinggang Dita dan merapatkannya ke tubuhnya secara terang-terangan.  

​Yang membuat hati Dilan panas adalah reaksi istrinya. 

Dita sama sekali tidak menolak atau kelihatan risih. Dia malah tersenyum manja, menggelayut mesra di leher Andre. 

Sebelum mereka masuk kamar, Andre membalikkan tubuh Dita, memojokkannya ke dinding lorong, lalu dengan liar mulai mencium leher Dita. Tangan pria brengsek itu bergerak nakal, meraba dan memainkan dada Dita tanpa peduli kalau mereka lagi ada di tempat umum.  

​Bukannya berontak karena ingat masih punya suami, Dita justru kelihatan menikmati sekali momen menjijikkan itu. Matanya terpejam pasrah, bibirnya mendesah manja, dan kedua tangannya malah ikut naik menjambak rambut Andre dengan mesra supaya ciuman mereka makin dalam. 

Dita benar-benar kelihatan haus akan belaian pria kaya itu.  

​"Kamu nakal banget sih, Sayang. Gimana kalau ada yang lihat?" bisik Dita manja di sela-sela ciuman mereka, suaranya kedengaran jelas di lorong yang sepi.

"Persetan sama orang lain! Atau kamu takut dilihat suamimu yang pengangguran itu?" balas Andre sambil tertawa meremehkan, lalu kembali menggigit gemas leher Dita.

​Dita malah tertawa renyah mendengar suaminya dihina. "Ah, jangan bahas dia dong. Bikin rusak suasana aja. Yuk ah masuk, aku udah kangen banget sama kamu."

Degh!

Dada Dilan,seketika terasa tersayat, hatinya hancur berantakan. Niat tulusnya untuk menjadi suami yang setia, kesabarannya saat dimaki-maki Dita dan Susi, sampai keputusannya buat menepis godaan Ela di rumah demi menjaga kesucian pernikahan, seketika terasa seperti lelucon paling bodoh.

Wanita yang selama ini berusaha dia nafkahi dengan keringatnya ternyata tidak lebih dari perempuan matre yang menjijikkan. Rasa cinta yang tersisa di hati Dilan menguap begitu saja, digantikan oleh hawa dingin yang mematikan.

​Dengan gerakan cepat dan tenang, Dilan mengeluarkan ponsel Android murahnya dari saku jaket. Dia mengarahkan kamera dan mulai merekam adegan panas nan menjijikkan itu dalam bentuk video. 

Rekaman itu menangkap jelas semua aksi bejat mereka, dari wajah Dita yang kesetanan sampai tangan Andre yang gerilya di tubuh istrinya. Bukti ini sudah lebih dari cukup buat menendang Dita keluar dari hidupnya lewat jalur hukum nanti.  

​Setelah Puas bermesraan di lorong, Andre akhirnya menempelkan kartu kunci kamar. Pintu terbuka, dan sambil tetap berpelukan erat penuh nafsu, Andre menuntun Dita masuk ke dalam kamar mewah tersebut. Pintu pun tertutup rapat .

“Dita, aku ikuti permainanmu! Aku ingin tau apa jawabanmu nanti tentang rekaman video ini?”

​Panggung sandiwara ini sudah hampir selesai, dan dia bakal memastikan Dita dan keluarganya membayar setiap hinaan mereka dengan penyesalan seumur hidup.  

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Nyonya, Suamimu Bukan Pria Lemah!   Bab 109

    Tiara masih mematung beberapa saat, menatap wajah Nyonya dan Pak Hendra secara bergantian. Rasanya seperti mimpi. Seorang wanita dari keluarga terpandang yang sebelumnya begitu dingin dan tegas mengusirnya, kini berdiri di depan pintu kamar kosnya yang sempit, memegang tangannya dengan lembut sambil mengutarakan permohonan maaf secara tulus.​Air mata keharuan mengalir makin deras di pipi Tiara. Ia menyapu sudut matanya dengan punggung tangan, lalu mengangguk pelan seraya menyunggingkan senyum tulus yang amat manis.​"Nyonya... Tuan... tolong jangan berkata seperti itu," ucap Tiara dengan suara serak menahan haru. "Saya sudah memaafkan semuanya dari awal. Saya sama sekali tidak menyimpan rasa dendam atau sakit hati pada Tuan dan Nyonya."​Nyonya Hendra menatap Tiara dengan mata berkaca-kaca, tersentuh oleh kebaikan hati gadis di hadapannya. "Kamu benar-benar gadis yang baik, Tiara..."​"Saya sangat mengerti posisi Tua dan Nyonya," lanjut Tiara pelan, tutur katanya tertata rapi dan pen

  • Nyonya, Suamimu Bukan Pria Lemah!   Bab 108

    Tubuh Tiara masih kaku membeku di dalam dekapan erat Dilan. Detak jantung pria itu terasa berdegup kencang menghantam dadanya, menyalurkan kehangatan yang selama ini sangat ia rindukan. Di dalam hatinya yang paling dalam, Tiara merasa sangat bahagia. Luar biasa bahagia sampai rasanya ingin meneteskan air mata. Pria yang selalu ada dalam doa-doanya kini benar-benar berdiri di hadapannya, mendekapnya penuh kerinduan.​Namun, rasa bahagia itu seketika tertutup oleh rasa takut dan canggung yang luar biasa juga.​Tiara tersadar bahwa di luar pintu kamar kosnya yang sempit ini, berdiri Pak Hendra dan Nyonya Hendra. Bayangan kejadian di rumah sakit beberapa waktu lalu mendadak berputar kembali di ingatannya secara menyakitkan. Ia ingat betul bagaimana dinginnya tatapan Nyonya Hendra saat membentak dan mengusirnya keluar dari ruangan Dilan, menganggapnya wanita tak berpendidikan yang tidak tahu diri.​Perlahan, Tiara mendorong dada Dilan secara halus, mencoba menarik diri dari dekapan hangat

  • Nyonya, Suamimu Bukan Pria Lemah!   Bab 107

    Melihat keteguhan dan sifat nekat Dilan yang tidak bisa dibendung lagi, Pak Hendra dan Nyonya Hendra akhirnya mengalah. Mereka sadar, menahan Dilan yang sedang diselimuti rasa rindu dan penyesalan mendalam hanya akan memicu perdebatan panjang yang tak ada habisnya."Baiklah, kita temui Tiara malam ini. Tapi Mama khawatir dengan kesehatan kamu. kamu kan belum pulih," Cemas Nyonya Hendra."Nggak apa apa Ma. aku sudah baik baik saja. lihat ini!" Seru Dilan sambil berdiri lalu berjalan mondar mandir menunjukkan dirinya sudah baik baik saja. ​Malam itu juga, tubuh Dilan yang seharusnya masih lemah akibat sisa-sisa efek obat dan demam mendadak seperti mendapat suntikan energi baru. Rasa lelahnya menguap begitu saja digantikan oleh semangat bergelora. "Benar juga. kenapa Tuan Dilan mendadak menjadi pulih sempurna begini?" Sahut Ela merasa heran."Apa mungkin ini karena kekuatan Cinta ya Mbak Ela?" Timpal Olivia."Mungkin iya Non."Dilan tersenyum simpul mendengarnya. sementara Tuan dan Nyo

  • Nyonya, Suamimu Bukan Pria Lemah!   Bab 106

    Di luar dugaan Dilan, Olivia, maupun Ela, hening yang mencekam itu tidak berujung pada ledakan amarah. Pak Hendra menghembuskan napas panjang, mengurut pangkal hidungnya pelan seolah sedang menimbang beban berat di dalam kepalanya.​Pria paruh baya yang biasanya sangat keras dan dingin itu menatap Nyonya Hendra sebentar, lalu beralih memandangi putra tunggalnya.​"Baik," kata Pak Hendra akhirnya dengan suara rendah namun mantap. "Papa setuju."​Nyonya Hendra mengangguk pelan menguatkan ucapan suaminya. "Mama juga setuju, Dilan. Sebagai orang tua yang bijak, kalau memang kita sudah berprasangka buruk dan berbuat salah pada Tiara, memang sudah kewajiban kita untuk minta maaf secara langsung padanya."​Mendengar jawaban yang sama sekali tidak disangka-sangka itu, Dilan seketika terpaku. Senyum lebar yang tulus perlahan terukir di wajahnya yang masih tampak agak pucat. Rasa gembira yang luar biasa mendadak memenuhi dadanya, membakar habis sisa-sisa rasa sesak yang menghimpitnya sejak tadi

  • Nyonya, Suamimu Bukan Pria Lemah!   Bab 105

    Melihat Dilan yang mengepalkan tangannya kuat-kuat dengan rahang mengetat kaku, Olivia refleks menggeser duduknya mendekat. Ia memegang jemari kakaknya yang terasa dingin, mengusapnya perlahan untuk meredam amarah yang mulai menyala di dada Dilan.​"Kak, udah ya... tenang dulu," bisik Olivia lembut, matanya menatap Dilan dengan raut khawatir. "Papa sama Mama kan tidak bilang menolak sama sekali. Cuma butuh waktu biar semuanya bisa diselesaikan baik-baik tanpa bikin masalah baru."​Ela, yang baru saja kembali dari arah dapur sambil membawa nampan berisi teh hangat dan air putih, bergegas meletakkan cangkir-cangkir itu di atas meja. Melihat kondisi Dilan yang kembali tegang, Ela ikut berlutut pelan di samping sofa dekat posisi Dilan duduk.​"Iya, Pak Dilan... tolong jangan emosi dulu," tutur Ela dengan suara yang sangat halus dan menenangkan. "Kondisi tubuh Bapak kan baru saja membaik dari demam tadi. Kalau Bapak stres lagi, nanti badannya panas lagi. Tolong diatur napasnya dulu, Pak."

  • Nyonya, Suamimu Bukan Pria Lemah!   Bab 104

    Belum sempat Dilan membuka mulut untuk menjawab pertanyaan Ela, langkah kaki Pak Hendra terdengar mendekat dari arah ruang makan utama. Pria paruh baya itu melangkah cepat menghampiri area sofa tempat anak-anaknya berkumpul.​"Dilan, Oliv," panggil Pak Hendra dengan nada suara yang tertata rapi. "Para tamu di dalam sudah mau berpamitan pulang. Ayo berdiri sebentar, temani Papa dan Mama antar mereka sampai pintu depan."​Dilan menghembuskan napas pelan, menekan perasaan kalut di dalam dadanya. Ia membatalkan niatnya menjawab pertanyaan Ela dan perlahan bangkit berdiri. Olivia dengan sigap memegangi lengan kakaknya, ikut melangkah bersama Dilan dan Pak Hendra menuju area foyer utama.​Di pintu depan, Pak Hendra dan Nyonya Hendra sibuk bersalaman serta menyampaikan rasa terima kasih kepada para relasi bisnis mereka. Dilan dan Olivia hanya berdiri mendampingi sambil tersenyum tipis formal. Tak lama kemudian, rombongan tamu tersebut melaju pergi meninggalkan kediaman Dirgantara.​Setelah p

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status