LOGINBegitu pintu kamar mandi terkunci, Tiara berbalik dan langsung menekan tubuh tegap Dilan ke dinding marmer yang dingin.
Tiara memeluk leher Dilan dengan sangat erat, menyandarkan kepalanya di dada bidang pria itu sambil terisak pelan, menyalurkan segala rasa sakit hati sekaligus kekaguman yang selama ini dia pendam rapat-rapat pada kakak iparnya itu. “Tiara, apa yang kamu lakukan? Jika sampai Dita tau, pasti akan salah paham dan marah besar pada kita,” ucap Dilan sembari berusaha melepas pelan pelukan Tiara. "Aku gak peduli lagi, Kak... Aku tahu semua yang dilakukan Kak Dita di luar sana. Aku tau Kakak juga sama kecewanya seperti aku!” jawab Tiara dengan tatapan yang tajam ke mata Dilan. “Apa? Kamu tau semua itu? Maksudnya?” kejut Dilan. “Iya Kak. Aku tau kebusukan Kak Dita. Dan aku tau betapa sempurnanya dirimu sebagai suami Kak. Kamu tidak pantas diperlakukan seperti ini. Jika Kak Dita mengecewakanmu, biar aku yang akan melayanimu dengan baik sebagai pengganti Kak Dita.” Degh! Jantung Dilan terasa mau copot. Dia baru saja mendengar adik ipar tirinya sedang menawarkan diri untuk melayaninya. “Tiara, apa kamu sadar dengan apa yang kamu ucapkan?” “Sangat sadar Kak. Kenapa Kak? Apa aku tidak pantas menggantikan Kak Dita? Aku.. Aku jauh lebih setia dan bakal lebih patuh daripada kakak tiriku yang gak tahu diri itu. Tolong... lihat aku dan beri aku kesempatan Kak!” potong Tiara dengan cepat. Dilan semakin terkejut dengan sikap agresif Tiara. Dilan tidak menduga jika diam diam adik ipar tirinya itu memiliki keberanian yang tidak pernah dia bayangkan. Di satu sisi, Dilan tidak mau melampaui batasan sebagai Kakak ipar. Tapi di sisi lain, sebagai pria normal, Dilan kagum pada Tiara. Tiara mengatakan sesuatu yang harusnya dikatakan oleh Dita. Apalagi, Tiara punya paras dan body seksi yang tidak kalah dari Dita karena masih single. “Tiara, sejak kapan kamu berani berpikir seperti ini? Ingat, aku ini suami Kakak tirimu, dan kamu juga punya kekasih,” Kembali Dilan mengingatkan Tiara agar tidak kebablasan. “Itu semua sudah berlalu Kak. Aku, selama ini selalu setia dan tulus. Tapi aku justru dikhianati. Dan aku, juga melihat hal yang sama pada kamu Kak. Kamu setia dan tulus, tapi dikhianati oleh Kak Dita. Sejak itu aku berpikir, kita senasib dan tidak pantas terluka! Lebih baik kita cari kesenangan sendiri Kak,” jawab Tiara tanpa ada keraguan sedikit pun. Tanpa memberi kesempatan pada Dilan untuk bicara, tangan Tiara yang mungil dan gemetar mulai bergerak cepat. Dengan napas yang memburu, jemarinya membuka kancing kemeja Dilan satu per satu, mengabaikan fakta bahwa secara hukum mereka masih berstatus sebagai saudara ipar, walau hanya tiri. Baginya, batas moral itu sudah runtuh sejak ia melihat pengkhianatan Anton dan bagaimana DIta menghianati Dilan. “Tiara… kendalikan dirimu! Kamu hanya sedang sakit hati. Jangan sampai setelah sadar nanti, kamu menyesal dengan apa yang kamu lakukan dan menganggap aku memanfaatkan keadaan!” tegur Dilan sambil menahan pergelangan tangan Tiara yang terus membuka kancing kemejanya. “Akku sadar dengan apa yang aku lakukan Kak… Aku rasa Kakak juga tidak Terima kan dengan perlakuan Kak Dita?” Dilan mencoba menjaga batasan dengan Tiara, tapi saat mengingat perlakuan Dita padanya, seketika hati Dilan kembali terasa panas dan ingin membalasnya. Tangan kekarnya yang sempat naik untuk memegang pergelangan tangan Tiara, berniat menghentikan aksi nekat adik ipar tirinya tersebut. Seketika terhenti dan bergerak sebaliknya. Dilan berhenti menolak. Ia melepaskan tahanan tangannya pada jemari Tiara, menyuruh akal sehatnya berhenti bekerja, dan membiarkan insting alaminya yang mengambil alih sepenuhnya. Dengan satu gerakan cepat dan beringas, Dilan mencengkeram pinggang ramping Tiara dengan erat. Dia mengangkat tubuh gadis itu dengan sangat mudah, mendudukkannya di atas pinggiran wastafel porselen yang dingin. Dilan memajukan tubuh kekarnya, mengunci ruang gerak Tiara di antara kedua lengannya hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter. "Kamu tahu apa yang sedang kamu lakukan, Tiara? Kamu sudah menggoda pria yang sedang kehilangan akal sehatnya. Jangan salahkan aku jika aku akan meladenimu!” tegas Dilan dengan kedua tangan mengunci pergerakan tubuh Tiara. Tiara yang mendengar peringatan bernada dingin itu bukannya takut atau terancam, malah tersenyum manja. Sentuhan fisik Dilan yang penuh dominasi justru membuatnya merasa dilindungi dan sangat diinginkan. Dia justru sengaja mengikis sisa jarak di antara mereka, membiarkan dadanya menempel erat pada dada Dilan yang kini terekspos luas karena kemeja pria itu telah terbuka penuh. "Aku gak peduli, Kak..." bisik Tiara manja, deru napasnya yang hangat dan memburu menerpa permukaan kulit leher Dilan. “Baiklah jika itu maumu…” sahut Dilan sembari mulai menggerakkan tangannya, memberikan sentuhan pada Tiara. "Kalau Kak Dita dan Anton bisa selingkuh, kenapa kita nggak bisa? Bukankah kita sama-sama diselingkuhi, padahal kita udah berusaha setia?" lirih Tiara, yang kemudian memajukan bibirnya menuju bibir Dilan.Malam kian larut ketika udara dingin mulai menusuk hingga ke tulang. Jalanan kota tampak lengang, hanya sesekali dilewati oleh truk bermuatan berat. Dilan terus memacu motor tuanya membelah kegelapan malam, pikirannya berputar mencari tempat hinggap yang aman, jauh dari jangkauan keluarga Dita maupun jaringan keluarga Anton yang berpengaruh.Di boncengan belakang, Tiara makin mengeratkan pelukannya di pinggang Dilan. Meski Dilan sudah melepaskan jaket tuanya dan membalutkan pakaian hangat itu ke tubuh Tiara sejak awal perjalanan, gadis itu masih saja menggigil. Pakaian tipis yang dikenakannya dari rumah tak mampu menahan gempuran angin malam yang berembus kencang. Suara gigi Tiara yang bergelatuk kedinginan membuat rasa khawatir merayapi dada Dilan.Dilan memelankan laju motornya di tepi jalan raya yang remang-remang, lalu menoleh sedikit ke belakang. "Tiara, kamu makin kedinginan. Kita cari penginapan di dekat sini saja untuk beristirahat?" "Iya, Kak... Aku ikut Kak Dilan saja
“Dilan, berhenti! Mau kemana kamu? Cepat hapus dulu videonya!” teriak Dita, tapi Dilan tidak lagi memperdulikan teriakan istrinya.Dilan melangkah cepat menyeberangi pelataran rumah yang mulai terasa makin mengimpit dadanya. Setiap jejak langkahnya dipenuhi tekad yang sudah tak bisa ditawar-tawar lagi. Tidak ada lagi yang perlu dipertahankan dari pernikahan sandiwara dan keluarga benalu yang hanya mengincarnya saat butuh.“Dilan, sekali lagi aku bilang berhenti! Atau kamu akan menyesal!” ancam Dita, dan lagi lagi Dilan mengabaikannya. Dia segera menaiki motor tuanya yang terparkir di pojok garasi. Tatapan Dilan menatap lurus ke depan, ke arah jalanan komplek yang sepi. Di kepalanya, rencana besar untuk meruntuhkan kesombongan Dita, Andre, dan Susi sudah tersusun rapi. Permainan mereka baru saja dimulai, dan dia yang memegang kendalinya. Namun, tepat saat jari-jemari Dilan hendak memutar tuas gas untuk melaju keluar garasi, pintu utama rumah yang tadi dibantingnya terbuka kembali
Bukan Dita namanya jika tidak egois. Dia tidak mau harga dirinya diinjak oleh Dilan yang dianggap sebagai suami hina tidak berguna. Melihat rekaman panas itu terputar begitu jelas di depan matanya, rasa panik melahap habis akal sehat Dita. Dalam tindakan impulsif, Dita tersentak maju dan mencoba merampas ponsel dari tangan Dilan.“Nggak usah mengalihkan masalah. Jelas jelas kamu yang buat masalah, sekarang malah balik menyudutkanku? Sini ponselmu! Buruan hapus video itu!” teriak Dita seraya meraih ponsel Dilan dan hampir saja ponsel itu terjatuh. Tapi dengan cepat Dilan menepis tangan Dita hanya menggunakan satu tangan. Bahkan Dilan sedikit mendorong istrinya, hingga membuat Dita langsung hilang keseimbangan hingga jatuh terduduk di atas kursi sofa. Gagal merampas bukti krusial tersebut, rasa malu dan terdesak justru memicu kegilaan Dita. Bukannya memohon ampun, Dita malah memutarbalikkan fakta. Ia bangkit dan berteriak histeris di hadapan Dilan, meluapkan seluruh racun di d
Brakkk! Braakkk! Braakkkk!"Dilan! Keluar kamu ! Dilan!"Gedoran kasar yang mengguncang pintu kamar mandi itu seketika memutus udara panas yang memabukkan di dalam ruangan.Rupanya itu Dita, dia baru saja pulang dengan napas terengah-engah dan rambut sedikit berantakan. Wajahnya kesal dipenuhi amarah luar biasa pada Dilan karena pengaduan Ibunya yang menceritakan jika Dilan baru saja membuat keributan dengan Anton.“Aku akan nyalakan kran biar nggak terdengar suara kita. Lalu buruan rapikan bajumu,” lirih DilanMereka bergerak secepat kilat tanpa bersuara. Tiara dengan tangan gemetar memperbaiki letak bajunya yang sempat berantakan, sementara Dilan merapikan kemeja serta meresleting celananya kembali. Raut wajah Dilan berubah dalam hitungan detik, dari sosok pria dominan yang beringas kembali menjadi pria pendiam tanpa ekspresi.“Kak gimana ini?” “Tiara, kamu jawab panggilan Dita dan bilang kamu sedang sakit perut, biar Dita tidak mengira aku di dalam. Jika dia pergi, aku akan ke
Tiara memiringkan kepalanya, perlahan mendaratkan kecupan-kecupan kecil nan menggoda di sepanjang garis rahang Dilan hingga menempelkan bibirnya di leher tegap pria itu. Tiara mendesah halus di sela peraduan bibir mereka, merenggangkan jemarinya di atas bahu tegap Dilan.Berbeda dengan ciuman terburu-buru yang dilakukan Tiara sebelumnya, kali ini Dilan mengambil alih kendali permainan sepenuhnya."Kak Dilan, a-a-aku panggil Sayang, boleh?" Tiara coba menggoda Dilan, tapi Dilan hanya membalas dengan senyuman. Justru, yang dilakukan Dilan kemudian membuat bahu Tiara melengkung ke belakang.Seraya melingkarkan tangannya yang kekar ke punggung Tiara, Dilan lalu berujar, "Begini, enak? Atau tangan Kakak boleh masuk ke dalam bajumu, Sayang?""Ah, Kak, ma-ma-masukin aja!" Tiara yang tidak bisa menahan diri lagi, menarik tangan Dilan, memasukkan ke balik bajunya sehingga sentuhan dua kulit itu tidak terhindarkan lagi.Tiara merinding, dia lalu mengencangkan pelukannya di leher Dilan saat se
Begitu pintu kamar mandi terkunci, Tiara berbalik dan langsung menekan tubuh tegap Dilan ke dinding marmer yang dingin. Tiara memeluk leher Dilan dengan sangat erat, menyandarkan kepalanya di dada bidang pria itu sambil terisak pelan, menyalurkan segala rasa sakit hati sekaligus kekaguman yang selama ini dia pendam rapat-rapat pada kakak iparnya itu.“Tiara, apa yang kamu lakukan? Jika sampai Dita tau, pasti akan salah paham dan marah besar pada kita,” ucap Dilan sembari berusaha melepas pelan pelukan Tiara."Aku gak peduli lagi, Kak... Aku tahu semua yang dilakukan Kak Dita di luar sana. Aku tau Kakak juga sama kecewanya seperti aku!” jawab Tiara dengan tatapan yang tajam ke mata Dilan.“Apa? Kamu tau semua itu? Maksudnya?” kejut Dilan.“Iya Kak. Aku tau kebusukan Kak Dita. Dan aku tau betapa sempurnanya dirimu sebagai suami Kak. Kamu tidak pantas diperlakukan seperti ini. Jika Kak Dita mengecewakanmu, biar aku yang akan melayanimu dengan baik sebagai pengganti Kak Dita.”Degh! Ja







