ログインPerjalanan pulang ke rumah dengan motor tuanya terasa begitu panjang. Dia ingin segera masuk ke dalam kamarnya lalu segera mandi agar pikirannya bisa sedikit lebih jernih.
Namun, tepat saat Dilan baru saja turun dari motornya, sebuah taksi berhenti mendadak di depan pagar rumah. Pintu mobil terbuka, dan sesosok gadis keluar dalam keadaan menangis. Dia adalah Tiara, adik ipar tiri Dilan yang baru saja tinggal serumah dengan Dilan setelah sebelumnya lama tinggal di kos. Sama halnya seperti Ela, ternyata diam-diam selama ini Tiara juga memperhatikan Dilan meski mereka jarang berkomunikasi dan hanya bertemu beberapa bulan sekali saat Tiara pulang ke rumah menjenguk Susi dan Dita. Wajah Tiara sembab, air matanya mengalir berantakan di pipinya yang memerah. Melihat hal itu, Dilan segera menghentikan langkah. Dia menghampiri adik ipar tirinya itu untuk menanyakan apa yang terjadi. "Tiara? Kamu kenapa menangis?" Belum sempat Tiara menjawab, suara deru mesin sepeda motor gede terdengar kencang menyusul dari belakang. Pengendaranya adalah Anton, kekasih Tiara. Cowok itu langsung memarkir motornya asal-asalan di depan garasi, turun dengan muka gusar, dan langsung menyambar pergelangan tangan Tiara dengan kasar. "Tiara! Dengerin penjelasan aku dulu! Kamu jangan kekanak-kanakan begini!" bentak Anton sambil menarik paksa tubuh gadis itu. "Lepas, Anton! Gak ada yang perlu dijelasin lagi! Kita putus!" seru Tiara, berusaha melepaskan cengkeraman tangan Anton yang membuat kulitnya memerah. “Nggak! Aku nggak bakalan lepasin sampai kamu maafin aku! Aku nggak mau putus!” balas Anton tanpa melepas cengkeramannya. Melihat Anton bertindak kasar pada Tiara, Dilan pun segera memberikan perlindungan pada adik iparnya itu. Dengan kekuatan fisiknya yang luar biasa, Dilan melepas cengkeraman tangan Anton dari tangan Tiara. Saat merasa cengkeraman tangan Anton mengendor, dengan cepat Tiara melepaskan diri. Dia lalu beralih ke lengan DIlan untuk mengadu. "I-itu, Kak, tolong aku, Kak Dilan. Dia selingkuh, mau jelasin apalagi kalau udah ketahuan selingkuh depan mata, terus ada bukti videonya juga?" ungkap Tiara dengan nada manjanya, meminta perlindungan dari Dilan. Di saat yang sama, sebuah taksi lain berhenti. Susi baru saja turun dari acara arisan mewahnya. Alih-alih peduli pada anak perempuannya yang sedang diperlakukan kasar di garasi, Susi justru berjalan santai menuju ke teras rumah sambil melipat tangan di dada. Wajah tuanya kelihatan kesal, tapi bukan karena khawatir. Melainkan merasa risih dengan perdebatan mereka. "Heh! Berisik banget sih kalian ini!" omel Susi dengan suara melengking, memarahi Tiara dan Anton sekaligus. “Ibu, dia yang…” Tiara berusaha mengadu pada Ibunya, berharap Ibunya akan membelanya. Tapi yang ada Susi sama sekali tidak peduli. “Ah, aku nggak mau tau. Aku capek! Urus aja sendiri. Kamu ini bisanya cuma pacaran aja, nggak bantu cari duit atau apa!” “Tapi Ma, dia yaang…” “Halah, urus aja sendiri, kan itu pacarmu, bukan pacar Mama, nggak penting-penting amat juga!" Setelah puas mengomel, Susi langsung membalikkan badan dan masuk begitu saja ke dalam rumah, membanting pintu depan dengan keras. Alasan sebenarnya kenapa Susi tidak peduli, hanya karena Tiara adalah anak tirinya! Melihat Tiara yang meringis kesakitan karena tarikan paksa Anton, rasa kasihan langsung bergejolak di hati Dilan. Amarahnya yang belum padam akibat Dita kini menemukan penyaluran yang tepat. Dengan langkah cepat dan tegap, Dilan menghampiri kedua orang itu di garasi. Plak! Dilan menampar keras Anton, hingga membuat pria itu terhuyung mundur dua langkah sambil memegangi pipinya yang perih terkena tamparan keras Dilan. Tanpa banyak bicara, Dilan menepis tangan Anton dari pergelangan tangan Tiara dengan sangat keras. “Lepaskan Tiara!” bentak Dilan. "Bangsat! Siapa lu berani ikut campur urusan gua?!" balas Anton dengan mata melotot, emosinya langsung naik ke ubun-ubun. Pria itu menatap Dilan dari ujung rambut sampai ujung kaki, melihat jaket lusuh Dilan dengan pandangan meremehkan. “Tidak penting siapa aku. Yang penting jangan ganggu Tiara lagi!” tegur Dilan tidak kalah keras dari suara Anton. "Lu siapanya Tiara, hah?! Jangan sok jadi pahlawan lu!" Tiara yang berdiri di belakang Dilan masih terisak, namun matanya menatap punggung tegap kakak ipar tirinya yang sudah membelanya itu. Di saat Susi yang merupakan ibu tirinya sendiri tidak peduli, justru Dilan, pria yang selalu dihina di rumah ini, yang maju paling depan untuk melindunginya. Rasa kagum, sakit hati atas pengkhianatan Anton, dan ledakan emosi bercampur aduk di dalam kepala Tiara. Melihat Susi sudah benar-benar masuk dan di garasi hanya menyisakan mereka bertiga, Anton kembali maju selangkah, menantang Dilan. "Gua tanya sekali lagi, lu siapa di sini?! Gak usah belagu lu! Jangan ikut campur urusan gue sama cewe gue!" Sebelum Dilan sempat membuka suara untuk menjawab dengan nada dinginnya, sebuah pergerakan cepat terjadi. Tiara tiba-tiba melangkah maju dari balik punggung Dilan. Dengan kedua tangan yang gemetar namun pasti, gadis itu langsung mencengkeram kuat kerah jaket lusuh Dilan, menarik tubuh kekar pria itu ke bawah, dan tanpa ragu langsung mencium bibir Dilan tepat di depan mata Anton. Cupp! Dilan sontak tertegun dengan aksi dadakan Tiara. Kedua matanya sedikit membelalak merasakan sentuhan bibir Tiara yang lembut. “Gila! Apa apaan ini? Kenapa Tiara nyium aku?” kejut dilan dalam hati. Namun, saat melihat situasi yang genting, Dilan menduga adik ipar tirinya itu menjadikannya tameng di depan Anton. Sementara itu, Anton yang menyaksikan pemandangan tersebut langsung membeku di tempat dengan wajah yang seketika berubah pucat menahan syok dan amarah yang luar biasa. “Tiara! Apa apaan lu? Lu ngapain nyium dia? Dasar cewek j4l4ng!” geram Anton dan bersiap menampar pipi Tiara. Satu tangannya sudah terangkat tinggi dan siap meluncur ke wajah Tiara. Tapi dengan cepat Dilan menangkis tangan Anton. “Mau apa kamu? Mau menampar Tiara? Lawan dulu aku!” tegas Dilan dengan tatapan tajam ke arah Anton. Murka Anton menambah ketegangan pada perselisihan itu. Menyaksikan kekasihnya mencium pria lain di depan matanya sendiri membuat emosi Anton memuncak. Matanya merah padam menahan malu dan amarah. Tanpa berpikir panjang, Anton langsung melayangkan pukulan keras berkekuatan penuh, mengarah tepat ke arah rahang Dilan. Pada serangan pertama, Dilan belum sempat menghindar. Namun, Dilan tidak tinggal diam. Dengan gerakan cepat, Dilan membalas pukulan Anton dengan satu tangan. Dilan memelintir pergelangan tangan pria itu ke belakang dengan cengkeraman keras, lalu melayangkan satu tendangan telak ke arah perut Anton. Bugh! Hantaman itu begitu kuat hingga membuat tubuh Anton geser beberapa sentimeter sebelum akhirnya tersungkur dan berguling di atas aspal jalanan di luar gerbang rumah. Anton meringkuk seperti udang, memegangi perutnya yang terasa seperti dihantam palu raksasa, sementara napasnya tersengal-sengal menahan sakit yang luar biasa. “Cukup! Hentikan!” tiba tiba terdengar suara teriakan.Tiara masih mematung beberapa saat, menatap wajah Nyonya dan Pak Hendra secara bergantian. Rasanya seperti mimpi. Seorang wanita dari keluarga terpandang yang sebelumnya begitu dingin dan tegas mengusirnya, kini berdiri di depan pintu kamar kosnya yang sempit, memegang tangannya dengan lembut sambil mengutarakan permohonan maaf secara tulus.Air mata keharuan mengalir makin deras di pipi Tiara. Ia menyapu sudut matanya dengan punggung tangan, lalu mengangguk pelan seraya menyunggingkan senyum tulus yang amat manis."Nyonya... Tuan... tolong jangan berkata seperti itu," ucap Tiara dengan suara serak menahan haru. "Saya sudah memaafkan semuanya dari awal. Saya sama sekali tidak menyimpan rasa dendam atau sakit hati pada Tuan dan Nyonya."Nyonya Hendra menatap Tiara dengan mata berkaca-kaca, tersentuh oleh kebaikan hati gadis di hadapannya. "Kamu benar-benar gadis yang baik, Tiara...""Saya sangat mengerti posisi Tua dan Nyonya," lanjut Tiara pelan, tutur katanya tertata rapi dan pen
Tubuh Tiara masih kaku membeku di dalam dekapan erat Dilan. Detak jantung pria itu terasa berdegup kencang menghantam dadanya, menyalurkan kehangatan yang selama ini sangat ia rindukan. Di dalam hatinya yang paling dalam, Tiara merasa sangat bahagia. Luar biasa bahagia sampai rasanya ingin meneteskan air mata. Pria yang selalu ada dalam doa-doanya kini benar-benar berdiri di hadapannya, mendekapnya penuh kerinduan.Namun, rasa bahagia itu seketika tertutup oleh rasa takut dan canggung yang luar biasa juga.Tiara tersadar bahwa di luar pintu kamar kosnya yang sempit ini, berdiri Pak Hendra dan Nyonya Hendra. Bayangan kejadian di rumah sakit beberapa waktu lalu mendadak berputar kembali di ingatannya secara menyakitkan. Ia ingat betul bagaimana dinginnya tatapan Nyonya Hendra saat membentak dan mengusirnya keluar dari ruangan Dilan, menganggapnya wanita tak berpendidikan yang tidak tahu diri.Perlahan, Tiara mendorong dada Dilan secara halus, mencoba menarik diri dari dekapan hangat
Melihat keteguhan dan sifat nekat Dilan yang tidak bisa dibendung lagi, Pak Hendra dan Nyonya Hendra akhirnya mengalah. Mereka sadar, menahan Dilan yang sedang diselimuti rasa rindu dan penyesalan mendalam hanya akan memicu perdebatan panjang yang tak ada habisnya."Baiklah, kita temui Tiara malam ini. Tapi Mama khawatir dengan kesehatan kamu. kamu kan belum pulih," Cemas Nyonya Hendra."Nggak apa apa Ma. aku sudah baik baik saja. lihat ini!" Seru Dilan sambil berdiri lalu berjalan mondar mandir menunjukkan dirinya sudah baik baik saja. Malam itu juga, tubuh Dilan yang seharusnya masih lemah akibat sisa-sisa efek obat dan demam mendadak seperti mendapat suntikan energi baru. Rasa lelahnya menguap begitu saja digantikan oleh semangat bergelora. "Benar juga. kenapa Tuan Dilan mendadak menjadi pulih sempurna begini?" Sahut Ela merasa heran."Apa mungkin ini karena kekuatan Cinta ya Mbak Ela?" Timpal Olivia."Mungkin iya Non."Dilan tersenyum simpul mendengarnya. sementara Tuan dan Nyo
Di luar dugaan Dilan, Olivia, maupun Ela, hening yang mencekam itu tidak berujung pada ledakan amarah. Pak Hendra menghembuskan napas panjang, mengurut pangkal hidungnya pelan seolah sedang menimbang beban berat di dalam kepalanya.Pria paruh baya yang biasanya sangat keras dan dingin itu menatap Nyonya Hendra sebentar, lalu beralih memandangi putra tunggalnya."Baik," kata Pak Hendra akhirnya dengan suara rendah namun mantap. "Papa setuju."Nyonya Hendra mengangguk pelan menguatkan ucapan suaminya. "Mama juga setuju, Dilan. Sebagai orang tua yang bijak, kalau memang kita sudah berprasangka buruk dan berbuat salah pada Tiara, memang sudah kewajiban kita untuk minta maaf secara langsung padanya."Mendengar jawaban yang sama sekali tidak disangka-sangka itu, Dilan seketika terpaku. Senyum lebar yang tulus perlahan terukir di wajahnya yang masih tampak agak pucat. Rasa gembira yang luar biasa mendadak memenuhi dadanya, membakar habis sisa-sisa rasa sesak yang menghimpitnya sejak tadi
Melihat Dilan yang mengepalkan tangannya kuat-kuat dengan rahang mengetat kaku, Olivia refleks menggeser duduknya mendekat. Ia memegang jemari kakaknya yang terasa dingin, mengusapnya perlahan untuk meredam amarah yang mulai menyala di dada Dilan."Kak, udah ya... tenang dulu," bisik Olivia lembut, matanya menatap Dilan dengan raut khawatir. "Papa sama Mama kan tidak bilang menolak sama sekali. Cuma butuh waktu biar semuanya bisa diselesaikan baik-baik tanpa bikin masalah baru."Ela, yang baru saja kembali dari arah dapur sambil membawa nampan berisi teh hangat dan air putih, bergegas meletakkan cangkir-cangkir itu di atas meja. Melihat kondisi Dilan yang kembali tegang, Ela ikut berlutut pelan di samping sofa dekat posisi Dilan duduk."Iya, Pak Dilan... tolong jangan emosi dulu," tutur Ela dengan suara yang sangat halus dan menenangkan. "Kondisi tubuh Bapak kan baru saja membaik dari demam tadi. Kalau Bapak stres lagi, nanti badannya panas lagi. Tolong diatur napasnya dulu, Pak."
Belum sempat Dilan membuka mulut untuk menjawab pertanyaan Ela, langkah kaki Pak Hendra terdengar mendekat dari arah ruang makan utama. Pria paruh baya itu melangkah cepat menghampiri area sofa tempat anak-anaknya berkumpul."Dilan, Oliv," panggil Pak Hendra dengan nada suara yang tertata rapi. "Para tamu di dalam sudah mau berpamitan pulang. Ayo berdiri sebentar, temani Papa dan Mama antar mereka sampai pintu depan."Dilan menghembuskan napas pelan, menekan perasaan kalut di dalam dadanya. Ia membatalkan niatnya menjawab pertanyaan Ela dan perlahan bangkit berdiri. Olivia dengan sigap memegangi lengan kakaknya, ikut melangkah bersama Dilan dan Pak Hendra menuju area foyer utama.Di pintu depan, Pak Hendra dan Nyonya Hendra sibuk bersalaman serta menyampaikan rasa terima kasih kepada para relasi bisnis mereka. Dilan dan Olivia hanya berdiri mendampingi sambil tersenyum tipis formal. Tak lama kemudian, rombongan tamu tersebut melaju pergi meninggalkan kediaman Dirgantara.Setelah p







