MasukRupanya itu adalah suara Susi yang berteriak dari dalam rumah. Dia bersiap untuk keluar untuk melihat keributan yang ada di luar. Dengan penuh kekesalan, Susi melangkah keluar dari rumah.
Begitu melihat Anton yang tersungkur di aspal dan Dilan yang berdiri tegap di garasi, Susi langsung berteriak histeris. Susi berlari mendekat, sambil menunjuk-nunjuk wajah Dilan dengan jarinya yang gemetar. "Astaga! Ada apa ini? Berani-beraninya kamu membuat keributan yang memalukan keluarga di depan rumahku, hah?! Sudah menumpang, tidak punya pekerjaan, sekarang malah bergaya sok jagoan menghajar orang! Dasar pembawa sial!" maki Susi, mempermalukan Dilan di hadapan Tiara dan Anton. Anton yang melihat Susi keluar dan menyadari bahwa dirinya bukan tandingan fisik Dilan, langsung memaksakan diri untuk berdiri dengan sisa tenaganya. Dengan wajah pucat dan ketakutan setengah mati, dia segera menghidupkan motornya dan kabur melesat meninggalkan area perumahan tanpa menoleh lagi. “Awas lu! Urusan kita belum selesai!” teriak Anton sambil pergi mengendarai motornya. Melihat Anton kabur dan Susi yang mulai meledak-ledak memaki Dilan, Tiara tahu mereka harus segera menghentikan situasi ini sebelum amukan Susi semakin melebar. Dengan gerakan cepat dan cerdas, Tiara melangkah maju dan sengaja mengusap sudut bibir Dilan menggunakan ibu jarinya. "Aduh, Mas! Bibir kamu terluka sampai berdarah begini gara-gara berantem tadi!" seru Tiara dengan nada panik yang dibuat-buat, mencoba mengalihkan perhatian sambil memegangi bibir Dilan. Dilan hendak menjawab, tapi keburu Tiara kembali bersuara. "Ibu! Kak Dilan terluka di wajahnya! Aku harus segera membawa dia masuk untuk mengobati lukanya sekarang juga. Kalau dibiarkan di sini, darahnya bisa menetes ke mana-mana dan mengotori karpet rumah!" ucap Tiara memberi alasan dengan wajah yang tampak sangat cemas. Mendengar kata darah, wajah Susi langsung berubah jijik. Dia melangkah mundur beberapa langkah sambil mengibaskan tangannya di udara. "Cepat bawa si pembawa sial itu masuk! Jangan sampai setetes pun darah kotornya merusak karpet mahal saya! Pergi sana, bikin mual saja melihat kalian!" usir Susi dengan nada ketus. Susi membalikkan badannya dengan langkah kesal, lalu berjalan cepat masuk ke dalam kamarnya sendiri, meninggalkan Tiara dan Dilan yang masih berdiri di teras. Di dalam kamar, Susi segera mengambil ponselnya. Dia mencari nomor Dita, lalu menelponnya. Tujuannya tentu untuk mengadukan keributan yang terjadi. "Dita, suami tidak bergunamu itu buat onar di rumah! Dia baru saja menganiaya Anton, pacarnya Tiara, sampai babak belur di depan rumah!” seru Susi mengadu pada putrinya. Di seberang telepon, Dita yang masih berada di kamar hotel bersama Andre pun terkejut. "Apa?! Dilan menghajar Anton? Apa dia sudah gila?" kejut Dita. "Iya! Suamimu itu memang gila! Kamu tahu sendiri kan kalau Anton itu salah satu anak pejabat terkenal yang punya pengaruh besar di kota ini? Ibu tidak mau keluarga kita ikut terseret masalah atau dituntut gara-gara ulah suamimu yang tidak tahu diri itu! Jangan sampai kita ikut kena masalah gara gara dia!!" cerocos Susi berapi-api sebelum akhirnya menutup telepon dengan kasar. Sementara itu, Tiara dan Dilan masih berdiri di teras. Sebelum mengajak Dilan masuk, Tiara sempat meminta maaf pada Dilan. “Kak, aku minta maaf karena tadi sudah lancang. Dan aku ucapin makasih banget karena sudah nolongin aku. Sekarang, ayo Ikut aku Kak. Aku akan obati luka kakak,” bisik Tiara dengan lirih sambil menggandeng lengan DIlan. “Nggak perlu Tiara. Kakak nggak apa apa, ini hanya luka kecil. Dan soal pertolongan tadi, kakak harap jangan sampai terdengar di telinga kakakmu, Dita. Dia pasti akan salah paham sama kita,” tolak Dilan dengan hati hati. Ciuman dadakan dari Tiara sempat membuat Dilan terkejut. Dan kini Tiara justru menawarkan diri untuk mengobati dirinya. Dilan tertawa getir. Sejak tadi pagi, dia mendapat dua perhatian dari dua wanita asing. Sementara untuk mengemis perhatian dari istri sendiri dia tidak bisa. “Kak Dilan terluka gara gara aku, jadi aku harus tanggung jawab,” sahut Tiara sambil terus menarik lengan kakak ipar tirinya itu. “Tapi ..” “Udah Kak. Jangan banyak mikir. Kalau Mama keluar dari kamar lagi, nanti akan ribet masalahnya!” seru Tiara sambil sedikit menarik paksa lengan Dilan. Dilan yang masih mencerna situasi rumit ini hanya bisa mengikuti tarikan tangan Tiara yang membawanya melangkah cepat melewati ruang tengah, menuju ke arah dapur. Tiara mengarahkan langkah mereka ke sebuah kamar mandi kecil yang terletak di dekat area dapur, tempat yang biasanya jarang dilewati oleh Susi maupun Dita. “Ayo masuk kak!” Begitu mereka berdua melangkah masuk ke dalam kamar mandi itu, Tiara dengan cepat menutup pintu kamar mandi tersebut dan memutar kunci pintunya rapat-rapat dari dalam. Suara kunci yang mengunci rapat pintu itu bergema di dalam ruangan yang sempit, menyisakan deru napas mereka berdua yang saling bersahutan di tengah keheningan yang mendadak terasa begitu intim dan menegangkan. Dilan bersandar pada dinding kamar mandi, menatap Tiara dengan pandangan bertanya-tanya, sementara Tiara berdiri di depannya dengan sisa-sisa air mata yang masih menggenang di kelopak matanya. “Tiara, kita mau ngapain di sini? Kenapa pintu kamar mandinya ditutup?”Tiara masih mematung beberapa saat, menatap wajah Nyonya dan Pak Hendra secara bergantian. Rasanya seperti mimpi. Seorang wanita dari keluarga terpandang yang sebelumnya begitu dingin dan tegas mengusirnya, kini berdiri di depan pintu kamar kosnya yang sempit, memegang tangannya dengan lembut sambil mengutarakan permohonan maaf secara tulus.Air mata keharuan mengalir makin deras di pipi Tiara. Ia menyapu sudut matanya dengan punggung tangan, lalu mengangguk pelan seraya menyunggingkan senyum tulus yang amat manis."Nyonya... Tuan... tolong jangan berkata seperti itu," ucap Tiara dengan suara serak menahan haru. "Saya sudah memaafkan semuanya dari awal. Saya sama sekali tidak menyimpan rasa dendam atau sakit hati pada Tuan dan Nyonya."Nyonya Hendra menatap Tiara dengan mata berkaca-kaca, tersentuh oleh kebaikan hati gadis di hadapannya. "Kamu benar-benar gadis yang baik, Tiara...""Saya sangat mengerti posisi Tua dan Nyonya," lanjut Tiara pelan, tutur katanya tertata rapi dan pen
Tubuh Tiara masih kaku membeku di dalam dekapan erat Dilan. Detak jantung pria itu terasa berdegup kencang menghantam dadanya, menyalurkan kehangatan yang selama ini sangat ia rindukan. Di dalam hatinya yang paling dalam, Tiara merasa sangat bahagia. Luar biasa bahagia sampai rasanya ingin meneteskan air mata. Pria yang selalu ada dalam doa-doanya kini benar-benar berdiri di hadapannya, mendekapnya penuh kerinduan.Namun, rasa bahagia itu seketika tertutup oleh rasa takut dan canggung yang luar biasa juga.Tiara tersadar bahwa di luar pintu kamar kosnya yang sempit ini, berdiri Pak Hendra dan Nyonya Hendra. Bayangan kejadian di rumah sakit beberapa waktu lalu mendadak berputar kembali di ingatannya secara menyakitkan. Ia ingat betul bagaimana dinginnya tatapan Nyonya Hendra saat membentak dan mengusirnya keluar dari ruangan Dilan, menganggapnya wanita tak berpendidikan yang tidak tahu diri.Perlahan, Tiara mendorong dada Dilan secara halus, mencoba menarik diri dari dekapan hangat
Melihat keteguhan dan sifat nekat Dilan yang tidak bisa dibendung lagi, Pak Hendra dan Nyonya Hendra akhirnya mengalah. Mereka sadar, menahan Dilan yang sedang diselimuti rasa rindu dan penyesalan mendalam hanya akan memicu perdebatan panjang yang tak ada habisnya."Baiklah, kita temui Tiara malam ini. Tapi Mama khawatir dengan kesehatan kamu. kamu kan belum pulih," Cemas Nyonya Hendra."Nggak apa apa Ma. aku sudah baik baik saja. lihat ini!" Seru Dilan sambil berdiri lalu berjalan mondar mandir menunjukkan dirinya sudah baik baik saja. Malam itu juga, tubuh Dilan yang seharusnya masih lemah akibat sisa-sisa efek obat dan demam mendadak seperti mendapat suntikan energi baru. Rasa lelahnya menguap begitu saja digantikan oleh semangat bergelora. "Benar juga. kenapa Tuan Dilan mendadak menjadi pulih sempurna begini?" Sahut Ela merasa heran."Apa mungkin ini karena kekuatan Cinta ya Mbak Ela?" Timpal Olivia."Mungkin iya Non."Dilan tersenyum simpul mendengarnya. sementara Tuan dan Nyo
Di luar dugaan Dilan, Olivia, maupun Ela, hening yang mencekam itu tidak berujung pada ledakan amarah. Pak Hendra menghembuskan napas panjang, mengurut pangkal hidungnya pelan seolah sedang menimbang beban berat di dalam kepalanya.Pria paruh baya yang biasanya sangat keras dan dingin itu menatap Nyonya Hendra sebentar, lalu beralih memandangi putra tunggalnya."Baik," kata Pak Hendra akhirnya dengan suara rendah namun mantap. "Papa setuju."Nyonya Hendra mengangguk pelan menguatkan ucapan suaminya. "Mama juga setuju, Dilan. Sebagai orang tua yang bijak, kalau memang kita sudah berprasangka buruk dan berbuat salah pada Tiara, memang sudah kewajiban kita untuk minta maaf secara langsung padanya."Mendengar jawaban yang sama sekali tidak disangka-sangka itu, Dilan seketika terpaku. Senyum lebar yang tulus perlahan terukir di wajahnya yang masih tampak agak pucat. Rasa gembira yang luar biasa mendadak memenuhi dadanya, membakar habis sisa-sisa rasa sesak yang menghimpitnya sejak tadi
Melihat Dilan yang mengepalkan tangannya kuat-kuat dengan rahang mengetat kaku, Olivia refleks menggeser duduknya mendekat. Ia memegang jemari kakaknya yang terasa dingin, mengusapnya perlahan untuk meredam amarah yang mulai menyala di dada Dilan."Kak, udah ya... tenang dulu," bisik Olivia lembut, matanya menatap Dilan dengan raut khawatir. "Papa sama Mama kan tidak bilang menolak sama sekali. Cuma butuh waktu biar semuanya bisa diselesaikan baik-baik tanpa bikin masalah baru."Ela, yang baru saja kembali dari arah dapur sambil membawa nampan berisi teh hangat dan air putih, bergegas meletakkan cangkir-cangkir itu di atas meja. Melihat kondisi Dilan yang kembali tegang, Ela ikut berlutut pelan di samping sofa dekat posisi Dilan duduk."Iya, Pak Dilan... tolong jangan emosi dulu," tutur Ela dengan suara yang sangat halus dan menenangkan. "Kondisi tubuh Bapak kan baru saja membaik dari demam tadi. Kalau Bapak stres lagi, nanti badannya panas lagi. Tolong diatur napasnya dulu, Pak."
Belum sempat Dilan membuka mulut untuk menjawab pertanyaan Ela, langkah kaki Pak Hendra terdengar mendekat dari arah ruang makan utama. Pria paruh baya itu melangkah cepat menghampiri area sofa tempat anak-anaknya berkumpul."Dilan, Oliv," panggil Pak Hendra dengan nada suara yang tertata rapi. "Para tamu di dalam sudah mau berpamitan pulang. Ayo berdiri sebentar, temani Papa dan Mama antar mereka sampai pintu depan."Dilan menghembuskan napas pelan, menekan perasaan kalut di dalam dadanya. Ia membatalkan niatnya menjawab pertanyaan Ela dan perlahan bangkit berdiri. Olivia dengan sigap memegangi lengan kakaknya, ikut melangkah bersama Dilan dan Pak Hendra menuju area foyer utama.Di pintu depan, Pak Hendra dan Nyonya Hendra sibuk bersalaman serta menyampaikan rasa terima kasih kepada para relasi bisnis mereka. Dilan dan Olivia hanya berdiri mendampingi sambil tersenyum tipis formal. Tak lama kemudian, rombongan tamu tersebut melaju pergi meninggalkan kediaman Dirgantara.Setelah p







