LOGINDokter Harsha tidak menoleh sedikit pun. Pria sepuh itu hanya mengangkat tangan kanannya yang keriput, menempelkan jari telunjuk ke bibirnya. Sebuah isyarat mutlak bagi asistennya untuk diam dan membiarkan semuanya terjadi. Kukuh langsung mengatupkan bibirnya rapat-rapat, membiarkan Mata Batin-nya yang mengambil alih penglihatan.(Apakah dia orang desa dari lereng bawah?) batin Kukuh, matanya menyipit saat melihat sesosok pria tiba-tiba berjalan gontai ke arah depan geber (layar panggung) dan duduk bersimpuh di atas tanah basah. (Mungkin dia mendengar alunan gamelan tadi, makanya dia mencari sumber suaranya ke mari. Tapi... tunggu dulu. Kenapa dia tidak menggunakan alas kaki sama sekali di tengah hutan bersuhu sedingin ini?)Belum tuntas keheranan Kukuh, dari balik sela-sela kabut tebal yang menyelimuti pekarangan, muncul lagi dua sosok laki-laki. Penampilan mereka jauh lebih ganjil. Yang satu berambut panjang dan diikat gelung kuno layaknya abdi dalem keraton masa lampau sedangkan ya
Nang... ning... nong... neng...Suara gamelan mulai ditabuh memecah keheningan lereng Gunung Kawi. Awalnya pelan, mengalun penuh mistis, lalu perlahan temponya menanjak naik dan semakin kencang. Bayangan gunungan (kayon) dari kulit sapi itu kini menari-nari di atas geber kain kafan, disorot oleh cahaya kuning keemasan dari api blencong yang bergoyang tertiup angin malam.Kukuh yang duduk di barisan penonton merasakan bulu kuduknya meremang."Kuh..." bisik Dokter Harsha tanpa menoleh, matanya tetap menatap lurus ke arah panggung layar putih itu. "Ini sudah dimulai. Kamu harus waspada, dan jangan bingung atau panik dengan apa pun yang kamu lihat nanti.""Baik, Dokter," jawab Kukuh dengan nada mantap, mengumpulkan konsentrasi penuh pada Mata Batin-nya.Di kursi sebelah Dokter Harsha, Pak Rio tampak menyunggingkan senyum lebar. Konglomerat itu terlihat sangat puas dan menikmati alunan gamelan saat Pak Ronggo menancapkan gunungan ke gedebog pisang, menandakan lakon Kidang Kencana resmi dib
"Selamat sore, Pak Dalang Ronggo," sapa Dokter Harsha seraya mengulurkan tangannya, menjabat erat tangan pria berusia empat puluhan tersebut."Selamat sore, Pak Dalang," ucap Kukuh menimpali dengan sopan saat gilirannya bersalaman.Selesai bertukar sapa dengan Sang Dewa Medis dan asistennya, Pak Ronggo tidak langsung menuju panggung. Pandangan pria berblangkon itu menyapu sekeliling pelataran, hingga matanya menangkap sosok renta yang duduk diam di kursi rotan di teras rumah joglo.Menyadari siapa sosok tersebut, Pak Ronggo segera melangkah menghampiri Mbah Rukmi. Sikapnya menunduk penuh hormat, menyadari otoritas spiritual tertinggi di wilayah tersebut."Mbah... sugeng sonten. Kula ajenge ndalang teng mriki, kula nyuwun pangestunipun supados diparingi kelancaran," (Mbah... selamat sore. Saya hendak mendalang di sini, saya memohon restu agar diberikan kelancaran,) ucap Pak Ronggo dengan nada merendah yang sangat tulus. Sebagai pelaku seni tradisi dan spiritual, ia tahu betul pantangan
Pagi itu, bertepatan dengan penanggalan Jawa tanggal lima belas hari di mana bulan akan mencapai puncak purnamanya pelataran rumah joglo tua Mbah Rukmi sudah disibukkan oleh aktivitas yang tak biasa.Di bawah pengawasan ketat Pak Rio dan arahan langsung dari Dokter Harsha, beberapa kuli suruhan sedang sibuk mendirikan sebuah panggung kayu sederhana berukuran sedang, tepat di tengah pelataran tanah yang telah dibersihkan."Dokter, untuk kain kafan barunya ini... diletakkan di mana?" tanya Kukuh, menenteng gulungan kain mori putih bersih yang masih berbau kapur barus."Kain kafan itu akan difungsikan sebagai geber, Kuh. Jadikan itu sebagai layar utama untuk pementasan wayangnya nanti malam," jelas Dokter Harsha seraya menunjuk ke arah bingkai panggung.Kukuh mengangguk paham. Dengan cekatan, pemuda itu memanjat dan mulai membentangkan kain kafan tersebut, mengikat ujung-ujungnya hingga menegang sempurna. Menggunakan kain kematian sebagai layar pertunjukan jelas merupakan sebuah provokas
"Iya, Pak Ronggo. Nanti rencananya panggung dan pementasan itu akan digelar tepat di pelataran rumah Mbah Rukmi," konfirmasi Dokter Harsha dengan nada tenang, seolah tempat itu hanyalah halaman rumah biasa.Mendengar penegasan tersebut, Pak Ronggo langsung salah tingkah. Pria paruh baya itu menggaruk-garuk blangkon di kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. Keringat dingin mulai merembes di pelipisnya. Sebagai dalang yang menjaga martabat, ia merasa sungkan dan pantang untuk menarik kembali kesanggupan yang sudah telanjur ia ucapkan. Namun, insting spiritualnya berteriak keras memperingatkan bahaya."Ehm... kadospundi nggih, Dok..." (Ehm... bagaimana ya, Dok...) ucap Pak Ronggo terbata-bata, merangkai kata dengan sangat hati-hati. "Menawi mapanipun wonten mriku, kadosipun mbetahaken uborampe tambahan." (Kalau tempatnya di sana, sepertinya membutuhkan sesajen tambahan.)Dokter Harsha yang sudah membaca arah ketakutan sang dalang, tersenyum memaklumi. "Sampean katakan saja, Pak Ronggo. A
Mendapat pertanyaan yang menuntut kejujuran dari sang dalang, Dokter Harsha sama sekali tidak kehilangan ketenangannya. Wajah sepuhnya tetap datar, menyembunyikan badai intrik mematikan yang sedang ia rancang."Ohhh... ini untuk acara syukuran saja, Pak Dalang. Syukuran untuk memperingati hari ulang tahun kelahiran putri Pak Rio," jelas Dokter Harsha, berbohong dengan ekspresi yang sangat natural dan meyakinkan. Tentu saja ia tidak mungkin membeberkan bahwa pementasan ini adalah perangkap gaib untuk menjerat siluman pesugihan purba."Ohhh... inggih, inggih..." Pak Ronggo mengangguk-angguk perlahan, meski sorot matanya masih menyimpan sedikit tanda tanya. "Padatanipun menawi tasyakuran tanggap warsa, ingkang dipun kersakaken menika lakon Gatotkaca Lahir, utawi Punakawan... Nanging mboten menapa-menapa, kula namung ndherek dhawuh panjenengan, Dokter Harsha." (Ohhh... iya, iya... Biasanya kalau syukuran ulang tahun, yang diminta itu lakon Gatotkaca Lahir, atau Punakawan... Tapi tidak apa







