Share

Bab 204

Author: Millanova
last update publish date: 2026-06-23 23:14:42

Malam itu, setelah membersihkan diri dan beristirahat sejenak di kamarnya, Kukuh melangkah menuju ruang utama Mansion Cokro untuk memenuhi panggilan sang ayah mertua.

Suasana di ruang keluarga yang megah itu terasa dingin dan kaku. Di sana tampak Pak Adiwangsa sedang duduk bersandar di sofa kulit tunggal sambil membaca sebuah buku tebal. Di sofa seberangnya, duduk sang istri, Ibu Dian. Sementara itu, Eyang Putri nenek Ratih yang tak pernah menyukai Kukuh duduk diam di atas kursi rodanya dengan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 317

    "Kuh, kamu beneran yakin jalur yang ini? Jalannya makin menyempit, dan kakiku rasanya udah bener-bener kayak jeli," keluh Farhan dari barisan paling belakang, napasnya putus-putus, memecah kesunyian hutan yang kini mulai terasa lebih hidup."Yakin, Han. Sabar sedikit lagi," jawab Kukuh menenangkan, memutar tubuh sejenak untuk menyorotkan cahaya lilin ke akar pohon yang mencuat. "Hati-hati langkahmu, jangan sampai tersandung lagi. Kabutnya sudah mulai naik, sebentar lagi kita pasti menemukan jalur utama.""Syukurlah kalau begitu. Sumpah, rasanya udara udah nggak seberat tadi pas kita masih bawa kendi klenik itu," gerutu Farhan, meski kakinya terus memaksa melangkah mengikuti jejak dua orang di depannya.Di tengah formasi, Gisella berjalan dalam diam. Telinganya mendengar obrolan ringan Kukuh dan Farhan, tapi pikiran Gisella mengembara jauh ke dalam dirinya sendiri. Udara malam pegunungan masih dingin menggigit, tapi entah mengapa rasa teror yang sempat membekukan otaknya beberapa saat

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 316

    "Kuh, aku nggak bisa jalan lagi. Lututku kayak lepas, sumpah!" rintih Farhan, tubuhnya masih bergetar di atas tanah basah. Tangannya memeluk kendi tanah liat itu semakin erat, seakan benda itu adalah satu-satunya pelindungnya."Berdiri, Han. Kalau kamu diam di sini, udara dinginnya bakal bikin paru-parumu beku," desak Kukuh, menarik lengan sahabatnya itu dengan tenaga yang cukup kuat hingga Farhan terpaksa berdiri.Gisella yang berada di samping mereka mengusap sisa air mata di pipinya. Napasnya masih tersengal, tapi ia berusaha mengumpulkan serpihan harga dirinya. "Kukuh benar, Farhan. Kita tidak boleh diam. Tapi kita mau ke mana? Kompas ini masih rusak!" keluhnya sambil mengetuk-ngetuk layar kompas di tangannya.Di atas dahan pinus, Kukuh bisa merasakan hawa dari genderuwo bulu merah itu semakin pekat. Makhluk itu sedang menunggu momen yang tepat untuk melompat turun. Sumber utamanya adalah kendi yang dipegang Farhan."Sini, kendinya biar aku yang bawa," ucap Kukuh tiba-tiba. Tanpa

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 315

    "Kuh, nyalain lagi lilinnya! Cepat, Kuh! Jangan main-main, ini gelap banget!" Suara Farhan melengking parau, memecah kegelapan pekat yang mengurung mereka. Tangan Farhan yang memegang kendi gemetar hebat hingga terdengar bunyi gesekan tanah liat dengan ritsleting jaketnya."Aku sudah coba, Han. Tapi setiap kali pemantiknya menyala, apinya langsung mati lagi," jawab Kukuh, nadanya dibuat sedikit bingung padahal Kukuh sangat tenang. Kukuh menggesek roda korek gas beberapa kali. Cetek. Cetek. Percikan api muncul sekejap, seketika padam ditelan kabut tebal yang sedingin es."Ini pasti karena kadar oksigennya drop drastis. A-atau gas dari tanah di sekitar sini..." Suara Gisella dari depan bergetar, mencoba merajut sisa logikanya yang sudah compang-camping. "Kita pegangan tangan saja. Rantai pegangan dari ransel. Jangan sampai ada yang terpisah. Kita harus jalan terus cari tempat yang lebih terbuka.""Jalan ke mana, Gis?! Kompasmu aja tadi muter-muter nggak karuan! Kita ini udah keluar dari

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 314

    "Gis, sumpah deh, ini kendi makin lama kok rasanya makin panas ya? Tadi di basecamp cuma anget biasa, sekarang telapak tanganku sampai kemerahan lho."Keluhan Farhan memecah keheningan hutan pinus yang mulai mencekam. Farhan berjalan tertatih di tengah barisan, sesekali memindahkan kendi tanah liat itu dari tangan kanan ke kiri karena tak kuat menahan hawa panas yang menjalar.Di depannya, Gisella menghentikan langkah, membalikkan badan. Sorot cahaya lilin yang dibawa Kukuh di barisan belakang menyorot wajah Gisella jelas terlihat raut ketidakpercayaan dan sedikit kekesalan."Farhan, kamu ini mahasiswa kedokteran, tolong pakai logikamu," tegur Gisella tegas. "Kendi itu terbuat dari tanah liat. Tanah liat konduktor panas yang buruk. Tidak mungkin suhunya naik sendiri di udara gunung yang di bawah lima belas derajat Celcius begini. Itu murni sugesti karena kamu ketakutan dan gugup sejak awal.""Tapi beneran, Gis! Ini panas banget, kayak ada air mendidih di dalamnya!" bantah Farhan, meny

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 313

    "Han, kamu yang bawa kendi sesajennya, aku yang pegang kompas. Kukuh, kamu yang pegang lilin dan jaga barisan di belakang," instruksi Gisella sambil merapatkan ritsleting jaket gunungnya."Lah, kok aku yang disuruh bawa kendi klenik ini sih, Gis? Aku kan nggak biasa pegang barang-barang mistis begini!" protes Farhan, suaranya tertahan. Kacamata Farhan sedikit berembun kena uap napasnya sendiri yang memburu karena gugup."Karena kendi itu barang yang paling ringan, Farhan," balas Gisella, nadanya pragmatis. "Tanganmu dari tadi gemetar terus. Kalau kamu yang pegang lilin, apinya bisa mati tertiup angin dari tanganmu yang gemetaran itu. Lilin mati berarti kita melanggar aturan senior. Logis, kan?"Farhan mengerucutkan bibir, tak bisa membantah logika tajam Gisella. Farhan menoleh ke Kukuh dengan tatapan memelas. "Kuh, kamu aja deh yang bawa kendinya. Kamu kan anak desa, pasti udah biasa sama bau-bau kembang telon begini, kan?"Kukuh tersenyum kecil, memainkan perannya natural. "Nggak apa

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 312

    "Gila, rasanya tulangku mau rontok semua. Kaki ini rasanya udah nggak napak di tanah," keluh Farhan sambil memijat betisnya. Farhan duduk merosot di atas matras tipis dekat api unggun yang menyala terang. Asap kayu bakar yang mengepul tak cukup mengusir hawa dingin yang menusuk tulang."Minum dulu hangat-hangat, Han. Biar ototnya sedikit rileks," ucap Kukuh, menyodorkan gelas kaleng berisi teh manis hangat. Wajah Kukuh biasa saja, tanpa gurat kelelahan berlebih konsisten dengan peran pemuda desa yang sudah terbiasa fisik berat."Makasih, Kuh. Gila ya, tiga hari digojlok fisik begini, rasanya aku mau resign aja dari Mapala," rutuk Farhan sebelum menyeruput tehnya perlahan, menggigil sedikit.Di sebelah mereka, Gisella duduk meluruskan kaki yang terbalut celana kargo, sibuk membetulkan balutan perban di telapak tangan yang lecet akibat tersandung akar tempo hari. Wajahnya lelah dan sedikit memucat karena udara dingin, tapi sorot matanya tetap tajam, menolak menyerah."Jangan cengeng, Fa

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 26

    Di meja sebelahnya, tepat di atas mangkok seorang bapak yang sedang makan dengan sangat lahap, bertengger sebuah sosok yang membuat darah Kukuh berdesir. Sosok itu berbadan sangat kurus hingga tulang rusuknya menonjol, dengan rambut putih yang sangat jarang dan acak-acakan. Matanya merah menyala, m

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 15

    Kukuh masih duduk terpaku di kursi lobi rumah sakit yang dingin. Pandangannya kosong menatap lorong tempat Dokter Harsha menghilang. Pikirannya berputar cepat.Anggap saja seperti rumah sendiri. Kalimat itu terus menggaung di telinganya. Kukuh bukanlah orang bodoh. Ia sangat yakin ucapan dokter tua

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 13

    "Heh! Tata yang rapi!"Bentakan tajam itu memecah udara pagi yang masih basah oleh embun. Di dalam garasi raksasa kediaman Aji Saka yang berlantai marmer, Dian Ayu Aji Saka berdiri berkacak pinggang. Sepasang mata wanita aristokrat itu menatap tajam layaknya elang. Ia sudah mengenakan gaun desainer

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 11

    Malam perjamuan penuh kesombongan itu akhirnya usai. Di kamar sempitnya yang berbau apek di dekat garasi, Kukuh berbaring menatap langit-langit yang lembap. Pikirannya kembali pada momen penyerahan hadiah untuk Eyang Putri tadi.Ada satu hal ganjil yang menyita perhatian Kukuh. Dengan kepekaan dara

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status