공유

Bab 205

작가: Millanova
last update 게시일: 2026-06-23 23:34:18

"Baik, Pak. Nanti malam saya akan ke sana," putus Kukuh dengan nada tenang.

"Bagus. Biar nanti malam Supri yang mengantarmu ke sana," timpal Adiwangsa, tak ingin repot-repot memfasilitasi menantunya dengan lebih baik.

"Baik, Pak," jawab Kukuh singkat, mengakhiri percakapan kaku di ruang keluarga tersebut dan segera undur diri.

Waktu berlalu cepat hingga jarum jam menunjuk tepat pukul sebelas malam. Udara ibu kota mulai terasa dingin.

"Kuh, ayo! Wes jam sewelas iki!" (Kuh, ayo! Sudah jam sebelas
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 317

    "Kuh, kamu beneran yakin jalur yang ini? Jalannya makin menyempit, dan kakiku rasanya udah bener-bener kayak jeli," keluh Farhan dari barisan paling belakang, napasnya putus-putus, memecah kesunyian hutan yang kini mulai terasa lebih hidup."Yakin, Han. Sabar sedikit lagi," jawab Kukuh menenangkan, memutar tubuh sejenak untuk menyorotkan cahaya lilin ke akar pohon yang mencuat. "Hati-hati langkahmu, jangan sampai tersandung lagi. Kabutnya sudah mulai naik, sebentar lagi kita pasti menemukan jalur utama.""Syukurlah kalau begitu. Sumpah, rasanya udara udah nggak seberat tadi pas kita masih bawa kendi klenik itu," gerutu Farhan, meski kakinya terus memaksa melangkah mengikuti jejak dua orang di depannya.Di tengah formasi, Gisella berjalan dalam diam. Telinganya mendengar obrolan ringan Kukuh dan Farhan, tapi pikiran Gisella mengembara jauh ke dalam dirinya sendiri. Udara malam pegunungan masih dingin menggigit, tapi entah mengapa rasa teror yang sempat membekukan otaknya beberapa saat

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 316

    "Kuh, aku nggak bisa jalan lagi. Lututku kayak lepas, sumpah!" rintih Farhan, tubuhnya masih bergetar di atas tanah basah. Tangannya memeluk kendi tanah liat itu semakin erat, seakan benda itu adalah satu-satunya pelindungnya."Berdiri, Han. Kalau kamu diam di sini, udara dinginnya bakal bikin paru-parumu beku," desak Kukuh, menarik lengan sahabatnya itu dengan tenaga yang cukup kuat hingga Farhan terpaksa berdiri.Gisella yang berada di samping mereka mengusap sisa air mata di pipinya. Napasnya masih tersengal, tapi ia berusaha mengumpulkan serpihan harga dirinya. "Kukuh benar, Farhan. Kita tidak boleh diam. Tapi kita mau ke mana? Kompas ini masih rusak!" keluhnya sambil mengetuk-ngetuk layar kompas di tangannya.Di atas dahan pinus, Kukuh bisa merasakan hawa dari genderuwo bulu merah itu semakin pekat. Makhluk itu sedang menunggu momen yang tepat untuk melompat turun. Sumber utamanya adalah kendi yang dipegang Farhan."Sini, kendinya biar aku yang bawa," ucap Kukuh tiba-tiba. Tanpa

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 315

    "Kuh, nyalain lagi lilinnya! Cepat, Kuh! Jangan main-main, ini gelap banget!" Suara Farhan melengking parau, memecah kegelapan pekat yang mengurung mereka. Tangan Farhan yang memegang kendi gemetar hebat hingga terdengar bunyi gesekan tanah liat dengan ritsleting jaketnya."Aku sudah coba, Han. Tapi setiap kali pemantiknya menyala, apinya langsung mati lagi," jawab Kukuh, nadanya dibuat sedikit bingung padahal Kukuh sangat tenang. Kukuh menggesek roda korek gas beberapa kali. Cetek. Cetek. Percikan api muncul sekejap, seketika padam ditelan kabut tebal yang sedingin es."Ini pasti karena kadar oksigennya drop drastis. A-atau gas dari tanah di sekitar sini..." Suara Gisella dari depan bergetar, mencoba merajut sisa logikanya yang sudah compang-camping. "Kita pegangan tangan saja. Rantai pegangan dari ransel. Jangan sampai ada yang terpisah. Kita harus jalan terus cari tempat yang lebih terbuka.""Jalan ke mana, Gis?! Kompasmu aja tadi muter-muter nggak karuan! Kita ini udah keluar dari

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 314

    "Gis, sumpah deh, ini kendi makin lama kok rasanya makin panas ya? Tadi di basecamp cuma anget biasa, sekarang telapak tanganku sampai kemerahan lho."Keluhan Farhan memecah keheningan hutan pinus yang mulai mencekam. Farhan berjalan tertatih di tengah barisan, sesekali memindahkan kendi tanah liat itu dari tangan kanan ke kiri karena tak kuat menahan hawa panas yang menjalar.Di depannya, Gisella menghentikan langkah, membalikkan badan. Sorot cahaya lilin yang dibawa Kukuh di barisan belakang menyorot wajah Gisella jelas terlihat raut ketidakpercayaan dan sedikit kekesalan."Farhan, kamu ini mahasiswa kedokteran, tolong pakai logikamu," tegur Gisella tegas. "Kendi itu terbuat dari tanah liat. Tanah liat konduktor panas yang buruk. Tidak mungkin suhunya naik sendiri di udara gunung yang di bawah lima belas derajat Celcius begini. Itu murni sugesti karena kamu ketakutan dan gugup sejak awal.""Tapi beneran, Gis! Ini panas banget, kayak ada air mendidih di dalamnya!" bantah Farhan, meny

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 313

    "Han, kamu yang bawa kendi sesajennya, aku yang pegang kompas. Kukuh, kamu yang pegang lilin dan jaga barisan di belakang," instruksi Gisella sambil merapatkan ritsleting jaket gunungnya."Lah, kok aku yang disuruh bawa kendi klenik ini sih, Gis? Aku kan nggak biasa pegang barang-barang mistis begini!" protes Farhan, suaranya tertahan. Kacamata Farhan sedikit berembun kena uap napasnya sendiri yang memburu karena gugup."Karena kendi itu barang yang paling ringan, Farhan," balas Gisella, nadanya pragmatis. "Tanganmu dari tadi gemetar terus. Kalau kamu yang pegang lilin, apinya bisa mati tertiup angin dari tanganmu yang gemetaran itu. Lilin mati berarti kita melanggar aturan senior. Logis, kan?"Farhan mengerucutkan bibir, tak bisa membantah logika tajam Gisella. Farhan menoleh ke Kukuh dengan tatapan memelas. "Kuh, kamu aja deh yang bawa kendinya. Kamu kan anak desa, pasti udah biasa sama bau-bau kembang telon begini, kan?"Kukuh tersenyum kecil, memainkan perannya natural. "Nggak apa

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 312

    "Gila, rasanya tulangku mau rontok semua. Kaki ini rasanya udah nggak napak di tanah," keluh Farhan sambil memijat betisnya. Farhan duduk merosot di atas matras tipis dekat api unggun yang menyala terang. Asap kayu bakar yang mengepul tak cukup mengusir hawa dingin yang menusuk tulang."Minum dulu hangat-hangat, Han. Biar ototnya sedikit rileks," ucap Kukuh, menyodorkan gelas kaleng berisi teh manis hangat. Wajah Kukuh biasa saja, tanpa gurat kelelahan berlebih konsisten dengan peran pemuda desa yang sudah terbiasa fisik berat."Makasih, Kuh. Gila ya, tiga hari digojlok fisik begini, rasanya aku mau resign aja dari Mapala," rutuk Farhan sebelum menyeruput tehnya perlahan, menggigil sedikit.Di sebelah mereka, Gisella duduk meluruskan kaki yang terbalut celana kargo, sibuk membetulkan balutan perban di telapak tangan yang lecet akibat tersandung akar tempo hari. Wajahnya lelah dan sedikit memucat karena udara dingin, tapi sorot matanya tetap tajam, menolak menyerah."Jangan cengeng, Fa

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 26

    Di meja sebelahnya, tepat di atas mangkok seorang bapak yang sedang makan dengan sangat lahap, bertengger sebuah sosok yang membuat darah Kukuh berdesir. Sosok itu berbadan sangat kurus hingga tulang rusuknya menonjol, dengan rambut putih yang sangat jarang dan acak-acakan. Matanya merah menyala, m

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 15

    Kukuh masih duduk terpaku di kursi lobi rumah sakit yang dingin. Pandangannya kosong menatap lorong tempat Dokter Harsha menghilang. Pikirannya berputar cepat.Anggap saja seperti rumah sendiri. Kalimat itu terus menggaung di telinganya. Kukuh bukanlah orang bodoh. Ia sangat yakin ucapan dokter tua

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 13

    "Heh! Tata yang rapi!"Bentakan tajam itu memecah udara pagi yang masih basah oleh embun. Di dalam garasi raksasa kediaman Aji Saka yang berlantai marmer, Dian Ayu Aji Saka berdiri berkacak pinggang. Sepasang mata wanita aristokrat itu menatap tajam layaknya elang. Ia sudah mengenakan gaun desainer

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 11

    Malam perjamuan penuh kesombongan itu akhirnya usai. Di kamar sempitnya yang berbau apek di dekat garasi, Kukuh berbaring menatap langit-langit yang lembap. Pikirannya kembali pada momen penyerahan hadiah untuk Eyang Putri tadi.Ada satu hal ganjil yang menyita perhatian Kukuh. Dengan kepekaan dara

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status