LOGIN"Tirakatan seperti apa yang harus saya jalani, Dok?" tanya Kukuh, suaranya masih terdengar serak namun sepasang mata cokelatnya kini menatap dengan jauh lebih jernih.Dokter Harsha tidak langsung menjawab. Pria sepuh itu berjalan perlahan menuju sebuah kursi kayu jati di sudut ruangan, lalu duduk dan memberi isyarat agar Kukuh dan Ratih ikut beristirahat. Di dekat mereka, Dokter Adhi berdiri bersandar pada meja obsidian, menyimak dengan saksama."Duduklah kalian berdua," ucap Dokter Harsha tenang.Kukuh mengangguk pelan. Ia meraih kemejanya yang sempat dikoyak, mengenakannya seadanya untuk menutupi rajah baru yang masih berdenyut di dadanya, lalu duduk di sebelah Ratih. Gadis bermata abu-abu itu langsung menggenggam erat telapak tangan suaminya, seolah enggan melepaskannya barang sedetik pun."Tinta yang baru saja menyatu dengan dagingmu itu bukanlah benda mati, Nak Kukuh," jelas Dokter Harsha, memecah keheningan Lantai 41. "Campuran darah gagak putih, kobra hijau, kebo bule, genderuw
"Beritahu saya lokasinya, Dokter," desak Kukuh. Langkah kakinya yang panjang dan tegap bergerak lurus menuju pintu baja Lantai 41. Sepasang matanya yang masih menyala merah menatap tanpa keraguan. Hawa panas menguar dari sekujur tubuhnya, mengabaikan suhu steril ruangan yang dingin.Dokter Harsha tidak bergeser satu sentimeter pun. Pria sepuh itu berdiri tepat di depan pintu, melipat kedua tangannya di belakang punggung, menghalangi jalan keluar sang pewaris."Aku tidak akan memberitahumu, Nak Kukuh," jawab Dokter Harsha tenang. Nadanya tidak tinggi, namun bergema dengan otoritas mutlak yang membuat udara di sekeliling mereka terasa berat dan padat."Dokter!" Suara Kukuh meninggi, dadanya naik turun menahan gejolak energi yang meronta minta dilepaskan. "Anda sendiri yang baru saja bilang kalau tenaga saya sudah kembali utuh! Wadah fisik saya sudah diperluas! Kenapa Anda malah menahan saya di sini?! Biarkan saya menghabisi para pembunuh itu sekarang!""Jaga nada bicaramu, Kukuh!" sela
"Dokter... apa yang sebenarnya terjadi padaku? Kenapa seranganku bisa berbalik menghantam dadaku sendiri dengan kekuatan yang berlipat ganda?"Suara bariton Kukuh memecah keheningan di Lantai 41. Pemuda itu kini duduk tegak di atas altar galih randu alas. Napasnya perlahan mulai teratur, namun sepasang mata cokelatnya menatap tajam ke arah Dokter Harsha, menuntut sebuah jawaban logis atas kekalahan fatalnya malam itu. Tangannya secara refleks meraba dada dan punggungnya yang kini dipenuhi oleh ukiran rajah baru yang terasa menyatu utuh dengan dagingnya.Dokter Harsha yang baru saja selesai membersihkan sisa noda darah dari tangannya menghela napas panjang. Pria sepuh itu berbalik, menatap murid sekaligus pewaris sah keluarganya itu dengan raut wajah tenang namun sarat akan keseriusan."Kau terlalu gegabah, Nak Kukuh. Kau membiarkan amarah buta mengendalikan tenaga murnimu," jawab Dokter Harsha, suaranya menggema pelan di ruang operasi rahasia tersebut. "Ragil Bowo Sasmita bukanlah mus
"Tahan napasnya, Dhi! Sabuk di bahunya mulai melonggar, pastikan tidak terlepas! Ini titik yang paling krusial!" seru Dokter Harsha dengan napas tersengal-sengal. Tangannya yang memegang Jarum Tulang Kijang Kencana sedikit bergetar menahan tekanan gaib yang luar biasa pekat dari dalam raga Kukuh."Sudah saya kunci mati, Ayah! Lakukan sekarang sebelum tenaganya benar-benar habis!" balas Dokter Adhi. Wajahnya memerah karena menahan pinggul dan kaki Kukuh yang terus meronta beringas dalam posisi tengkurap.Di sisi altar, Ratih masih menggenggam erat telapak tangan suaminya. Air matanya sudah mengering, menyisakan jejak keputusasaan di pipinya yang pucat."Ayo, Kuh... satu tusukan lagi. Kamu pasti bisa," bisiknya parau tepat di dekat telinga Kukuh, memancing kesadaran pemuda itu agar tidak tertelan rasa sakit.Tanpa membuang waktu sedetik pun, Dokter Harsha mengangkat jarum emas pusaka yang telah menyerap tetesan terakhir tinta lima darah tersebut. Dengan satu tarikan napas panjang, pria
"Tahan napasmu, Nduk Ratih. Siksaan yang sebenarnya baru saja dimulai," suara Dokter Harsha berat, membelah ketegangan di Lantai 41 yang dipenuhi uap darah mendidih.Ratih menggigit bibir bawah yang sudah pucat pasi, mempererat genggaman pada telapak tangan Kukuh yang terasa memanas layaknya bara api. Kukuh terbujur kaku, mata terpejam rapat, sepenuhnya tenggelam dalam ketidaksadaran akibat hantaman energi yang meremukkan organ dalamnya. Kehadiran Ratih di sisi altar bukan untuk menahan fisik suaminya Ratih tahu kekuatannya tak akan sebanding melainkan murni sebagai penyemangat, tali penambat agar kesadaran Kukuh tidak melayang pergi."Lakukan saja, Dok. Aku janji... aku nggak akan melepaskan tangan Kukuh sedetik pun. Dia pasti kuat."Dokter Harsha mengangguk samar, pandangan beralih ke seberang meja altar. "Dhi, pastikan semua sabuk pengaman sudah terkunci rapat. Energi yang akan meledak dari dalam dadanya nanti bisa membuat tubuhnya melenting lepas dari meja operasi ini.""Sudah, Ay
"Dhi, ganti pisaunya! Singkirkan obsidian itu sekarang juga!" perintah Dokter Harsha tiba-tiba, membuat pisau bedah hitam di tangannya tertahan di udara, hanya beberapa milimeter dari kulit dada Kukuh yang memerah dan dihiasi urat-urat yang menonjol.Dokter Adhi yang berdiri bersiaga di seberang meja altar mengerutkan dahi kebingungan. "Kenapa, Ayah? Bukankah obsidian lebih tahan terhadap energi gaib dan tidak akan memicu reaksi penolakan?""Suhu di dalam nadinya melonjak terlalu cepat dan tidak stabil," potong Dokter Harsha dengan nada tegang, wajah sepuhnya dibanjiri keringat. "Obsidian akan pecah berkeping-keping jika berbenturan langsung dengan luapan energi purba yang sedang mendidih ini. Cepat, berikan pisau bedah perak murni itu. Hanya perak yang bisa menembus hawa panas ini tanpa memicu ledakan di dadanya."Tanpa banyak bertanya lagi, Dokter Adhi mengangguk cepat. Ia menukar instrumen tersebut di atas nampan perak dan menyodorkan sebilah pisau bedah perak yang berkilat tajam m
Jam digital di dasbor mobil mewah itu menunjukkan pukul sebelas tiga puluh malam. Di kursi penumpang, Kukuh duduk tenang, sama sekali tidak terpengaruh oleh hawa menyeramkan di luar sana.Mobil itu berguncang membelah jalan berbatu yang sempit. Hutan pinus di kanan kiri mereka berdiri rapat, mengha
Tujuh hari berlalu di kediaman Aji Saka, dan setiap detiknya terasa seperti menahan napas di dalam air keruh.Bagi penghuni rumah mewah ini, Kukuh hanyalah bayangan berseragam biru lusuh yang bertugas menyapu daun dan membersihkan sampah. Namun di balik kebisuan itu, Kukuh harus mati-matian berpura
Siang itu, dapur utama kediaman keluarga Aji Saka terasa seperti perut neraka. Uap tebal beradu dengan aroma bumbu yang ditumis dalam suhu tinggi, membuat hawa menjadi sangat lembap dan lengket di kulit.Di tengah kekacauan sibuk itu, Kukuh dipaksa bekerja bagaikan kuli kasar. Ia harus memanggul ka
Kres. Kres.Mata gunting rumput itu terus mengunyah dahan tanaman soka. Punggung Kukuh basah oleh keringat . Kontrak gila yang ia tandatangani kemarin kini menjadi kenyataan yang pahit. Di atas kertas triliunan rupiah itu ia adalah suami sang pewaris tahta, namun di atas rumput halaman ini, ia hany







