LOGIN"Putar tuas katup ekstratornya pelan-pelan, Kuh. Jangan sampai suhu di dalam tabung kaca itu melewati batas empat puluh derajat, atau senyawa aktif dari miselium jamur ini akan mati sebelum sempat kita murnikan."Suara Dokter Harsha terdengar tenang namun penuh ketelitian, memecah kesunyian di laboratorium rahasia Lantai 41."Baik, Dokter," jawab Kukuh. Tangan pemuda itu bergerak dengan sangat hati-hati, memutar tuas kuningan pada mesin ekstraksi di hadapannya. Matanya yang kini selalu memancarkan ketenangan menatap lekat pada cairan kental berwarna kebiruan yang mulai menetes perlahan ke dalam wadah penampung.Sembilan hari telah berlalu sejak insiden di Malam Inagurasi yang penuh ketegangan tersebut. Kehidupan kampus Kukuh mendadak berubah menjadi sangat damai. Kenzie, sang senior arogan, kini selalu memutar arah atau menunduk jika kebetulan berpapasan dengannya di kantin. Sementara itu, Bhanu Wahnindara entah mengapa memilih bungkam. Pemuda dari klan militer itu tidak lagi melontar
"Halo, Paman Yudha? Maaf saya menelepon malam-malam begini. Tapi ada sesuatu yang sama sekali tidak masuk akal sedang terjadi di kampus."Di ujung balkon lantai dua Gedung Rektorat yang sepi, Bhanu Wahnindara berdiri bersandar pada pagar pembatas. Angin malam yang berembus pelan tak mampu mendinginkan kepalanya yang mendidih. Tangan kirinya memegang ponsel erat-erat, sementara matanya menatap nanar ke arah kerlap-kerlip lampu kota di kejauhan."Ada apa, Bhanu? Nada bicaramu terdengar tegang. Bukankah malam ini cuma acara inagurasi mahasiswa baru biasa?" Suara bariton Mayor Yudha yang dalam dan selalu tenang terdengar dari seberang sambungan."Awalnya saya pikir juga begitu, Paman," jawab Bhanu, menggertakkan giginya. "Paman masih ingat pemuda desa bernama Kukuh yang pernah saya ceritakan? Anak udik yang mempermalukan saya di hutan Gunung Batu waktu pendidikan dasar Mapala itu.""Ya, tentu saja Paman ingat," sahut Mayor Yudha. Terdengar suara gemeresik kertas di latar belakang, menanda
Di belakangnya berdiri seorang pria paruh baya yang mengenakan setelan jas bespoke abu-abu gelap. Pria itu memancarkan aura kekayaan murni dan kekuasaan absolut yang membuat siapa pun langsung menunduk segan. Dia adalah Panji Kanaka Kencana, pewaris murni kekuatan Rajah Emas sekaligus bankir swasta paling kaya di negeri ini. Di sebelahnya berdiri Dekan Fakultas Kedokteran yang tampak sangat menghormatinya, serta seorang pemuda tampan bernama Bima Kanaka Kencana, putra tunggal sang bankir yang juga menjadi mahasiswa baru."P-Pak Panji..." Kenzie buru-buru menarik tangannya dan menunduk dalam-dalam dengan tubuh gemetar. "T-tidak ada masalah, Pak. Sama sekali tidak ada. Saya hanya sedang meminta mahasiswa udik ini untuk pindah, karena dia lancang duduk di area tamu undangan....."Panji Kanaka Kencana sama sekali tidak mempedulikan penjelasan Kenzie. Pandangan bankir raksasa itu terkunci pada sosok Kukuh yang masih duduk tenang di kursinya.Detik berikutnya, sebuah pemandangan yang membua
"Kuh, kamu ini habis sakit tipes atau gimana sih? Tiga hari bolos kuliah tanpa kabar, pas masuk kok badanmu malah jadi kurusan begini?"Suara cempreng Farhan langsung menyambut Kukuh tepat di depan pintu masuk ballroom utama Gedung Rektorat. Malam itu, Universitas Mahkota sedang menggelar Malam Inagurasi untuk menyambut mahasiswa baru Fakultas Kedokteran. Farhan tampak sibuk merapikan kerah jas sewaannya yang sedikit kebesaran, menatap sahabatnya itu dengan kening berkerut.Kukuh tersenyum tipis. Wajahnya memang sedikit lebih tirus akibat tiga hari tidak menyentuh makanan bernyawa di ruang isolasi batu. "Cuma kurang istirahat dan telat makan aja, Han. Nggak usah berlebihan.""Bukan berlebihan, Kuh. Tapi auramu itu lho..." Farhan menggaruk kepalanya bingung, menelisik Kukuh dari atas ke bawah. "Kamu kelihatan beda banget malam ini. Lebih tenang, tapi... gimana ya bilangnya. Auramu berat sekali, nggak kayak mahasiswa baru pada umumnya."Dari arah belakang, Gisella melangkah menghampiri
"Bagaimana keadaannya di dalam, Dok? Suara teriakannya sudah berhenti sejak dua jam yang lalu."Ratih mendongak, menatap Dokter Harsha yang baru saja melangkah mendekat menyusuri lorong bawah tanah yang dingin. Tangan gadis itu masih memeluk lututnya erat-erat, bersandar pada pintu baja berkarat yang mengurung suaminya. Matanya sembab dan kemerahan, menyiratkan siksaan kurang tidur yang harus ia tahan demi menjaga pintu tersebut.Dokter Harsha menghela napas pelan, menyodorkan segelas teh hangat yang baru saja ia bawa dari lantai atas. "Minumlah dulu, Nduk Ratih. Bibirmu sudah pucat pasi begitu. Jangan sampai kau jatuh sakit saat suamimu sedang berjuang mencari kewarasannya di dalam sana.""Aku tidak haus, Dok," tolak Ratih pelan, suaranya bergetar. "Aku cuma takut. Tadi Kukuh menggeram dan membentak-bentak seperti
"Le... panas, Le... Bapak sudah nggak kuat..."Suara parau dan menyayat hati itu memecah keheningan absolut yang telah menyekap Kukuh selama tujuh puluh dua jam terakhir.Kukuh tersentak keras. Matanya yang sudah terbiasa dengan kegelapan gulita langsung terbuka lebar. Napasnya yang semula teratur mengikuti irama semedi, mendadak memburu tak terkendali."Bapak?" bisik Kukuh, suaranya serak karena tenggorokannya mengering. Ia meraba-raba ruang kosong di depannya. "Bapak di mana?""Tolong Bapak, Le... Daging Bapak rasanya seperti dipanggang hidup-hidup dari dalam... Tolong keluarkan apinya, Kuh..."Rintihan itu terdengar begitu dekat, seolah Pak Kasiman sedang merangkak di atas lantai batu yang dingin, tepat di samping kaki Kuk
Malam perjamuan penuh kesombongan itu akhirnya usai. Di kamar sempitnya yang berbau apek di dekat garasi, Kukuh berbaring menatap langit-langit yang lembap. Pikirannya kembali pada momen penyerahan hadiah untuk Eyang Putri tadi.Ada satu hal ganjil yang menyita perhatian Kukuh. Dengan kepekaan dara
Malam itu, ruang perjamuan keluarga Aji Saka bermandikan cahaya lampu kristal. Udara pekat oleh feromon magis dari parfum-parfum mahal milik klan Rajah Wangi . Malam ini adalah pesta besar. Mereka bersorak-sorai merayakan kematian Prabu Anom yang mereka yakini berhasil dipatahkan oleh kesaktian Eya
Jam digital di dasbor mobil mewah itu menunjukkan pukul sebelas tiga puluh malam. Di kursi penumpang, Kukuh duduk tenang, sama sekali tidak terpengaruh oleh hawa menyeramkan di luar sana.Mobil itu berguncang membelah jalan berbatu yang sempit. Hutan pinus di kanan kiri mereka berdiri rapat, mengha
Tujuh hari berlalu di kediaman Aji Saka, dan setiap detiknya terasa seperti menahan napas di dalam air keruh.Bagi penghuni rumah mewah ini, Kukuh hanyalah bayangan berseragam biru lusuh yang bertugas menyapu daun dan membersihkan sampah. Namun di balik kebisuan itu, Kukuh harus mati-matian berpura







