Share

Bab 55

Author: Millanova
last update publish date: 2026-04-25 22:04:46

Guncangan di dalam kabin Long SUV hitam itu terasa semakin kasar. Jalanan aspal yang membelah pedalaman desa di Banten ini kondisinya sangat memprihatinkan; permukaannya terkelupas di sana-sini, menyisakan lubang-lubang menganga yang dipenuhi genangan air sisa hujan. Kegelapan di luar jendela tampak begitu pekat, seolah pepohonan rimbun di sisi kiri dan kanan jalan menyerap habis cahaya rembulan.

Di balik kemudi, Pak Supri yang sedari tadi berusaha menjaga laju kendaraan agar tidak terlalu meng
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 486

    Perahu kecil itu baru saja melewati celah karang terakhir ketika suara mesin terdengar dari balik kabut.Bukan mesin perahu nelayan. Bukan mesin kapal ikan. Mesin itu terdengar lebih berat. Lebih mahal. Lebih arogan. Dan di balik kabut belerang yang mulai menipis, muncul sebuah kapal.Bukan kapal biasa.Kapal itu berwarna hitam mengkilap. Lambungnya dilapisi baja dengan aksen emas di setiap sudutnya. Di haluan, terukir simbol yang sangat Kukuh kenal. Bukan simbol klan. Simbol perusahaan. Simbol konglomerasi.Kencana Group."Mas," bisik Manager Pratiwi. Suaranya tegang. Tangannya sudah bergerak ke saku jaketnya. Bukan mencari senjata. Mencari ponsel. "Itu kapal milik keluarga Kencana."Kukuh tidak menjawab. Matanya menatap kapal itu. Menatap deknya yang luas. Menatap lampu-lampu yang masih menyala meskipun hari masih pagi. Dan di dek itu, berdiri seseorang.Bima Kanaka Kencana.Pemuda itu mengenakan kemeja sutra putih yang tidak dikancingkan di tiga teratas. Celana panjangnya hitam, di

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 485

    Pratiwi berdiri beberapa langkah dari mereka. Dadanya naik turun. Rambutnya basah, menempel di wajahnya. Ia menatap Kukuh yang sedang duduk bersandar di dinding perahu, memeras air dari kaosnya."Mas sadar nggak sih apa yang baru saja Mas pertaruhkan?" suara Pratiwi bergetar, bukan karena dingin, tapi karena amarah dan ketakutan yang memuncak. "Kita kehilangan jalur air pasang! Kita terhenti di sini! Kalau Bhanu menyerang RS Lohitajaya malam ini, dan kita masih terjebak di laut ini karena Mas sibuk menyelamatkan satu orang asing... bagaimana Mas bisa mempertanggungjawabkannya pada Ratih? Pada pasien-pasien kita?!"Kukuh mengangkat wajahnya. Menatap Manager Pratiwi. Air laut menetes dari ujung rambutnya, jatuh ke lantai dek yang basah."Manager Pratiwi," ucap Kukuh. Suaranya serak, lelah, tapi tidak ada sedikit pun keraguan di dalamnya. "Kalau aku tidak bisa menyelamatkan satu orang di depanku, bagaimana aku bisa menyelamatkan dunia?"Pratiwi membeku.Kata-kata itu tidak diucapkan deng

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 484

    Ombak Selat Sunda menghantam lambung perahu fiber kecil itu dengan kasar.Langit di atas mereka kelabu pekat, menggantung rendah seperti atap chì yang siap runtuh. Angin membawa bau belerang yang begitu tajam hingga membuat tenggorokan terasa perih. Di kejauhan, silhouette Gunung Anak Krakatau berdiri seperti raksasa yang sedang tidur, sesekali memuntahkan asap hitam dari puncaknya."Hari kelima," ucap Manager Pratiwi, matanya tidak lepas dari layar tablet yang dilindungi plastik kedap air. "Dua puluh lima hari tersisa, Mas. Kalau kita tidak masuk ke celah kaldera sebelum air pasang sore ini, kita harus menunggu sampai besok pagi."Kukuh berdiri di haluan, mencengkeram tali tambat. Perban di balik jaketnya masih terasa ngilu, terutama saat angin laut yang lembap menyentuh luka bakar Rajah Geni yang belum tuntas sembuh."Tidak ada waktu untuk menunggu besok, Manager," sahut Kukuh. "Pak Bimo, percepat."Pak Bimo, nelayan lokal yang mereka sewa di Anyer, menggelengkan kepalanya sambil me

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 483

    Perahu kecil itu bergoyang di atas ombak Selat Sunda.Kukuh duduk di haluan. Tangan kirinya mencengkeram tepi perahu. Tangan kanannya menekan perban di lengannya yang mulai terasa perih lagi. Angin laut menghantam wajahnya. Asin. Keras. Membawa bau belerang yang samar dari arah selatan.Di belakangnya, Manager Pratiwi duduk dengan tablet di pangkuan. Layarnya menampilkan peta topografi Gunung Anak Krakatau. Dokter Adhi di sampingnya, memeriksa isi koper medis kecilnya untuk ketiga kalinya."Kita berhenti dulu," ucap Kukuh tiba-tiba.Manager Pratiwi mendongak. "Mas? Kita masih dua jam lagi sampai.....""Di sana." Kukuh menunjuk ke kiri. Ke sebuah daratan kecil yang muncul dari balik kabut pagi. Bukan pulau besar. Hanya sebongkah tanah berbatu dengan beberapa gubuk di atasnya. "Kita berhenti di sana."Dokter Adhi menatap Kukuh. "Kuh, kenapa? Kita tidak punya waktu untuk.....""Ada orang yang butuh pertolongan."Dokter Adhi menatap Kukuh. Lama. Lalu menatap ke arah daratan kecil itu. Men

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 483

    Pagi itu, langit Jakarta masih kelabu.Kukuh berdiri di pelataran belakang RS Lohitajaya. Tas ransel di punggungnya. Kemeja kerja sudah diganti dengan kaos hitam dan jaket tebal. Perban di lengannya sudah diganti tadi subuh oleh Manager Pratiwi. Luka bakarnya belum sembuh. Tapi sudah tidak berdarah. Dan itu sudah cukup."Mas Kukuh."Manager Pratiwi muncul dari pintu belakang. Rambutnya diikat sederhana. Kemeja putihnya sudah diganti dengan kaos abu-abu dan jaket lapangan. Di tangannya, sebuah tablet dan dua botol air mineral."Semua sudah siap, Mas. Kyai Agus sudah mengirim koordinat pelabuhan. Kapal sudah menunggu di Merak. Dari sana, kita naik perahu kecil ke Anak Krakatau."Kukuh mengangguk. "Berapa lama perjalanan?""Empat jam sampai Merak. Dua jam lagi naik perahu. Total enam jam." Pratiwi menyerahkan satu botol air. "Mas harus minum. Dehidrasi bisa memperburuk luka bakar."Kukuh menerima botol itu. Menyesapnya. Dingin. Tawar. Tapi menyegarkan.Di belakang Pratiwi, Dokter Adhi me

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 482

    "Aku harus menemukan Eyang Amerta."Kukuh mengucapkan kalimat itu sambil duduk di tepi tempat tidur Lantai 41. Kakinya belum menyentuh lantai. Perban masih membungkus lengan dan dadanya. Tapi matanya sudah jernih. Sudah fokus. Sudah memutuskan.Dokter Harsha yang berdiri di samping meja obat menoleh. "Kuh, kau baru sadar dua hari. Tubuhmu belum.....""Aku tahu, Dok." Kukuh memotong. Tidak kasar. Tapi final. "Tapi Bhanu tidak akan menunggu sampai tubuhku sembuh. Tiga puluh hari. Itu yang dia berikan. Dan setiap hari yang kugunakan untuk berbaring di sini adalah hari yang kuberikan padanya untuk mempersiapkan serangan berikutnya."Keheningan turun. Dokter Harsha tidak menjawab. Hanya menatap muridnya. Lama. Mencari sesuatu di balik mata Kukuh. Keraguan. Ketakutan. Tapi yang ia temukan hanya satu hal.Keputusan.Dari sudut ruangan, terdengar suara kursi yang berderit. Putri Puspa Sekar Kidung Dalu bangkit dari kursi kayu jatinya. Perlahan. Tulang-tulangnya berderak seperti ranting kering

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 6

    Tujuh hari berlalu di kediaman Aji Saka, dan setiap detiknya terasa seperti menahan napas di dalam air keruh.Bagi penghuni rumah mewah ini, Kukuh hanyalah bayangan berseragam biru lusuh yang bertugas menyapu daun dan membersihkan sampah. Namun di balik kebisuan itu, Kukuh harus mati-matian berpura

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 5

    Siang itu, dapur utama kediaman keluarga Aji Saka terasa seperti perut neraka. Uap tebal beradu dengan aroma bumbu yang ditumis dalam suhu tinggi, membuat hawa menjadi sangat lembap dan lengket di kulit.Di tengah kekacauan sibuk itu, Kukuh dipaksa bekerja bagaikan kuli kasar. Ia harus memanggul ka

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 4

    Kres. Kres.Mata gunting rumput itu terus mengunyah dahan tanaman soka. Punggung Kukuh basah oleh keringat . Kontrak gila yang ia tandatangani kemarin kini menjadi kenyataan yang pahit. Di atas kertas triliunan rupiah itu ia adalah suami sang pewaris tahta, namun di atas rumput halaman ini, ia hany

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 3

    "Bagaimana keputusanmu?"Suara Adiwangsa memecah keheningan ruang direktur yang dingin . Di matanya, pemuda berseragam biru muda di depannya ini tak lebih dari seekor semut yang kebetulan sedang ia butuhkan.Kukuh menunduk menatap pantulan wajahnya sendiri di meja kayu yang mengilap. Pikirannya ber

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status