LOGIN"Nona Kania? Ini saya, Mira. Tuan Rivan meminta saya membawakan gaun Anda."
Suara itu bukan suara Rivan. Itu suara wanita paruh baya yang terdengar datar, tanpa emosi sama sekali. Kania menarik napas panjang, mencoba menstabilkan degup jantungnya. Dia meraih jubah mandi tebal dari gantungan emas dan memakainya secepat kilat, lalu membuka pintu sedikit saja. "Aku tidak butuh gaun. Aku butuh baju pribadiku! Di mana tas yang aku bawa semalam?" Kania menyalak, matanya menatap tajam ke arah wanita bernama Mira itu. Mira tetap diam, hanya mengulurkan sebuah kotak besar berwarna putih mutiara dengan logo perancang busana yang harganya mungkin bisa membeli satu rumah sederhana. "Tas Anda sudah tidak ada, Nona. Tuan memerintahkan untuk memusnahkan semua benda yang tidak beraroma rumah ini." "Memusnahkan? Dia gila! Isinya dompetku, ponselku, identitasku!" "Anda tidak akan butuh itu di sini, Nona. Silakan dipakai. Tuan sudah menunggu di lantai bawah. Kita punya waktu tiga puluh menit." "Aku tidak mau pergi ke mana-mana, Mira! Apalagi menikah dengan bocah gila itu!" Mira sedikit mendongak, matanya yang cekung menatap Kania dengan tatapan yang sulit diartikan—antara kasihan atau sekadar memperingatkan. "Tuan tidak suka ditolak. Tuan Rivan sudah mengatur semuanya. Termasuk kepulangan Ayah Anda sore ini. Bukankah Anda ingin melihat Ayah Anda selamat?" Kania terdiam. Cengkeramannya pada gagang pintu melemah. Kalimat itu adalah rantai yang jauh lebih kuat dari besi mana pun. "Di mana dia?" "Tuan Rivan?" "Papa. Di mana Papaku sekarang?" "Di tempat yang sangat aman selama Nona mematuhi jadwal hari ini. Tolong, masuk kembali dan bersiaplah." Mira melangkah masuk ke kamar mandi tanpa izin, meletakkan kotak itu di atas konter wastafel lalu membukanya. Saat kain putih berbahan sutra lembut itu tergerai keluar, lutut Kania serasa kehilangan tulang. Gaun itu bukan sembarang gaun pengantin yang ada di etalase toko. Dia mengenalnya. Sangat mengenalnya. "Ini …." Kania menyentuh payet di bagian pinggang yang membentuk motif bunga lily kecil. "Dari mana dia mendapatkan ini?" "Saya tidak tahu, Nona. Saya hanya menjalankan perintah." "Jangan bohong padaku! Ini sketsa yang kubuat saat aku masih kuliah. Aku menyimpannya di buku harian lamaku yang kukira sudah hilang di gudang rumah Papa bertahun-tahun lalu! Bagaimana bisa Rivan menjadikannya nyata?" Kania merasa udara di ruangan itu mendadak hilang. Seolah dinding-dinding marmer itu bergerak menghimpitnya. Gaun impian yang dulu dia rancang dalam lamunan remajanya kini berada di hadapannya sebagai kain kafan untuk kebebasannya. Rivan tidak hanya menguntit hidupnya melalui lensa kamera; pria itu telah membedah isi kepalanya sejak lama. "Anda harus memakai ini sekarang, Nona. Atau saya harus memanggil penjaga untuk membantu Anda berpakaian?" Suara Mira menjadi lebih tajam. "Kamu mengancamku?" "Saya hanya menyampaikan kenyataan. Di rumah ini, tidak memakai apa pun adalah sebuah undangan bagi Tuan. Anda tentu lebih suka memakai gaun ini daripada membiarkan Tuan masuk kembali ke sini dan memperlakukan Anda seperti semalam, bukan?" Wajah Kania memerah antara marah dan malu yang tak tertahankan. "Keluarlah. Aku bisa sendiri." Mira mengangguk sekali, lalu melangkah keluar tanpa suara. Kania mengunci pintu. Dia menyentuh kulit tubuhnya sendiri yang masih basah. Perasaan kotor itu semakin menguat. Dia menatap gaun itu, gaun indah yang kini terlihat seperti monster putih yang siap menelannya utuh-utuh. Setengah jam kemudian, Kania melangkah keluar kamar. Sepatu tumit tinggi perak yang juga disediakan terasa menyiksa di kakinya yang lelah. Saat dia melewati lorong menuju tangga, matanya menangkap sesuatu yang aneh di dinding. Foto-foto keluarga Aryawiguna sudah diturunkan. Digantikan oleh apa? Dia berhenti di depan salah satu bingkai besar. Itu fotonya. Foto dirinya sedang duduk di taman kota sebulan yang lalu, sedang tertawa kecil sambil membaca buku. Lalu di bingkai berikutnya, foto dirinya saat sedang mengikat tali sepatu di pinggir jalan. Seluruh lorong panjang ini telah diubah menjadi galeri pribadi yang memamerkan setiap inci hidupnya tanpa izin. "Indah, kan?" Suara berat itu datang dari arah balkon di ujung lorong. Rivan berdiri di sana, membelakangi cahaya matahari pagi. Dia sudah mengenakan setelan jas pernikahan putih bersih, kontras dengan jiwa gelapnya yang sepekat arang. "Turunkan semuanya, Rivan. Ini mengerikan! Ini sakit!" teriak Kania, suaranya menggema di sepanjang koridor. Rivan berbalik, matanya berkilat saat melihat Kania dalam balutan gaun putih itu. Dia berjalan mendekat, setiap langkah sepatunya yang mahal terdengar seperti dentuman drum perang di telinga Kania. Dia berhenti tepat di depan Kania, tangannya terangkat untuk menyentuh sehelai rambut Kania yang terurai. "Aku lebih suka menyebutnya dedikasi. Gaun itu pas di tubuhmu, Kania. Persis seperti bayanganku saat melihat sketsamu di gudang itu sepuluh tahun lalu." "Sepuluh tahun ... Kamu benar-benar sudah merencanakan ini selama itu?" "Rencana adalah sebuah kata yang terlalu dangkal. Aku menanammu, Kania. Aku memupuk rasa sakitmu, merusak orang-orang di sekitarmu agar kamu tumbuh sendirian, hingga akhirnya hanya ada aku satu-satunya sandaranmu. Dan lihat hari ini ... kamu akhirnya merekah." "Aku membencimu, Rivan. Demi Tuhan, aku berharap kamu tidak pernah lahir!" Kania meludahi kata-kata itu tepat di wajah Rivan. Rivan hanya diam, bibirnya menyunggingkan seringai tipis. Dia merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah pemantik api emas. Dengan santai, ia menyalakan apinya, menatap api itu sebentar sebelum menoleh ke arah foto Kania di dinding. "Kebencianmu adalah bahan bakar yang sangat panas, Kania. Aku suka. Tapi jangan sampai kebencian itu menghanguskan Ayahmu sendiri." "Apa yang kamu mau sekarang? Aku sudah memakai baju bodoh ini! Aku sudah tanda tangan!" "Kita akan melakukan pemberkatan. Singkat, pribadi, hanya ada kita berdua, pendeta bayaranku, dan saksi-saksi yang tidak akan pernah buka mulut. Setelah itu, kamu resmi milikku di bawah mata Tuhan ... atau siapa pun yang menurutmu sedang mengawasi hari ini." "Kenapa tidak tunggu Papa dilepaskan dulu? Aku mau Papa ada di sana!" "Agar dia punya kesempatan untuk menggagalkannya? Tidak, Sayang. Aku lebih suka Papamu melihat video pernikahan kita dari dalam sel, sebagai jaminan agar dia tidak mencoba kabur saat aku memulangkannya nanti." "Kamu binatang …," bisik Kania. Dia ingin sekali menampar wajah rupawan yang penuh tipu daya itu, namun tenaganya seakan terkuras habis. "Aku predator. Dan predator tidak membiarkan mangsanya lepas hanya karena sedikit rengekan." Rivan menarik tangan Kania, memaksa wanita itu menggandeng lengannya. Genggamannya sangat kuat hingga meninggalkan bekas putih di kulit Kania. Mereka turun ke lantai bawah melalui tangga melingkar yang megah. Di ruang tengah, aroma bunga melati yang menyengat memenuhi udara. Seorang pria tua dengan pakaian pendeta sudah menunggu dengan wajah pucat, seolah dia berada di sana karena ditodong senjata.Profesor Surya berjalan perlahan menuju pintu ruang reaktor. Tidak ada yang menghentikannya, tidak ada yang memanggil namanya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tampak tahu ke mana ia harus melangkah—bukan menuju penemuan, bukan mengejar obsesi, bukan mencari keabadian, melainkan menuju akhir dari segalanya.Di layar utama, angka proses terus bergerak naik:79%80%81%Namun Surya tidak terburu-buru. Langkahnya tenang, meski terasa sangat lelah—persis seperti seseorang yang telah memikul beban terlalu berat selama bertahun-tahun dan akhirnya siap melepaskannya. Sesampainya di depan pintu, ia berhenti dan menoleh perlahan, menatap satu per satu orang yang ada di ruangan: Raka, Armand, Bu Ratih, Rayhan, Kelia, Kania, hingga akhirnya pandangannya berhenti pada Rivan.“Aku menghabiskan seluruh hidupku berusaha mengalahkan kematian,” ucapnya pelan namun terdengar jelas oleh semua orang. “Aku pikir jika aku bisa memahami manusia, aku bisa memperbaiki segalanya.”Sebuah senyum pahit
Seluruh ruang inti seketika menjadi sunyi. Bukan karena bahaya yang mengancam, bukan karena mesin Elysium yang terus berjalan, dan bukan pula karena angka di layar yang terus bertambah—melainkan hanya karena satu pertanyaan sederhana.“Surya, apakah kau masih ingat siapa orang yang pertama kali menyelamatkanmu?”Untuk pertama kalinya malam itu, Profesor Surya tidak langsung menjawab. Ia tidak tersenyum mengejek, tidak memutar kata-kata, dan tidak mencoba mengalihkan pembicaraan. Ia hanya terdiam. Dan reaksi itu sudah cukup membuat semua orang sadar—pertanyaan itu tepat mengenai sasaran.Angka di layar terus bergerak naik:50%51%52%Namun tidak ada satu pun yang memperhatikannya. Semua pandangan tertuju pada pria tua yang selama ini terlihat tak tergoyahkan dan penuh keyakinan. Kini, untuk pertama kalinya, terlihat sisi rapuh yang tersembunyi di balik wajahnya.“Kau sudah lupa,” kata Bu Ratih dengan nada lembut, persis seperti seorang guru yang sedang menegur muridnya, bukan seperti
Angka di layar terus bergerak naik tanpa henti:34%35%36%Mesin Elysium berjalan terus, seolah tidak peduli pada ketakutan, kepanikan, atau siapa yang akan kehilangan segalanya—persis seperti obsesi yang selama ini tidak pernah berhenti berkembang.Beberapa detik berlalu dalam keheningan. Semua orang memikirkan hal yang sama: jika inti sistem harus dihancurkan, maka seseorang harus tetap tinggal di sana. Dan mereka semua tahu siapa yang paling mungkin mengambil keputusan itu.“Kak…” panggil Rivan dengan suara rendah.“Tidak.”Jawaban Raka datang begitu cepat dan tegas, seolah ia sudah tahu apa yang ingin dikatakan adiknya bahkan sebelum kalimat itu keluar.“Aku belum bicara apa-apa.”“Tetap saja tidak.”Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu kembali, nada bicara Raka terdengar marah. “Kau tidak akan menjadi orang yang tinggal di sini.”Keheningan kembali menyelimuti ruangan. Tidak ada yang membantah, karena mereka semua sadar—Raka sudah membaca pikiran Rivan dengan tepat.“Kau s
Tidak ada yang langsung memahami makna kalimat itu, namun reaksi Raka sudah cukup menjelaskan segalanya. Pria itu tampak seolah baru mendengar mimpi buruk yang selama ini berusaha keras ia cegah.“Aku tidak pernah mencari penerus. Aku hanya mencari pengganti.”“Rayhan!” panggil Raka dengan nada tegang. “Matikan sistemnya sekarang!”“Sedang kucoba.”Rayhan segera berlari ke panel utama, jemarinya bergerak cepat menelusuri layar dan memasukkan rangkaian kode. Namun hanya dalam hitungan detik, ekspresinya berubah menjadi gelisah.“Tidak bisa. Dia sudah mengunci semuanya dari inti sistem.”Darah seketika terasa dingin di sekujur tubuh mereka.“Apa yang sedang dipindahkan?” tanya Rivan.Suaranya terdengar tenang, bahkan tidak ada nada panik di dalamnya—justru itulah yang membuat suasana terasa semakin berat, karena jelas ia sedang memaksakan diri untuk tetap berpikir jernih.Profesor Surya menatapnya lama, lalu tersenyum tipis. “Akhirnya kau mengajukan pertanyaan yang tepat.”Raka melangk
Tidak ada yang menjawab, tidak ada yang bergerak. Kalimat Profesor Surya bukan sekadar pertanyaan, melainkan sebuah ancaman yang menyentuh inti rahasia terbesar.“Bagaimana kalau aku jelaskan mengapa hanya Rivan yang bisa bertahan hidup, sementara semua subjek lain meninggal atau hancur?”Dan untuk pertama kalinya, Kania melihat sesuatu yang baru—ketakutan yang terlihat jelas di wajah Raka, bukan karena bahaya yang mengancam dirinya sendiri, melainkan karena apa yang akan diungkapkan tentang Rivan.“Diam.”Suara Raka terdengar sangat dingin dan tegas.Surya hanya tersenyum tipis, namun kali ini senyum itu tidak sampai ke matanya. Ia tahu persis bahwa ia baru saja menyentuh luka yang selama ini ditutup rapat oleh semua orang.“Kau takut?” gumamnya sambil menatap Raka.“Aku tidak takut, aku hanya muak melihat permainanmu,” jawab Raka cepat.“Kalau begitu, mengapa selama ini kau tidak pernah menceritakannya padanya?”Kalimat itu membuat seluruh ruangan membeku. Surya benar—Raka tahu kebe
Tidak ada yang bergerak, tidak ada yang bersuara. Kalimat terakhir yang diucapkan Armand menggantung di udara, terasa begitu berat dan sulit untuk diterima. “Ceritakan padanya siapa yang sebenarnya menyelamatkannya pada malam kebakaran itu.” Semua pandangan langsung tertuju pada Raka—Kania, Rayhan, Kelia, bahkan Rivan sendiri. Dan untuk pertama kalinya sejak mereka tiba di ruang inti, Raka terlihat seperti seseorang yang ingin menghindari menjawab sebuah pertanyaan. “Kak…” Suara Rivan terdengar pelan, namun cukup untuk membuat suasana menjadi semakin sunyi. “Apa maksudnya?” Raka memejamkan matanya lama, seolah sedang kembali menelusuri kenangan malam yang telah menghantuinya selama sepuluh tahun: malam yang dipenuhi asap tebal, kobaran api, suara jeritan, dan sebuah pilihan berat yang seharusnya tidak dipikul oleh siapa pun. “Kak?” panggil Rivan lagi, kali ini nadanya terdengar lebih dalam dan menyimpan luka. Akhirnya Raka membuka matanya dan mengembuskan napas panjang. “Orang
Pagi di Kyoto kembali datang bersama rintik hujan. Seolah kota ini ikut menyimpan terlalu banyak rahasia yang tak kunjung selesai. Kania terbangun lebih awal, tetapi kali ini bukan karena mimpi buruk atau potongan ingatan yang menghantam kepalanya. Ia terbangun karena sesuatu yang jauh lebih sede
Rivan melepaskan satu tangan Kania, jarinya kini menelusuri garis bibir Kania yang bergetar. "Semalam ... kamu tidak berhenti menciumku. Kamu memintaku untuk tidak pernah meninggalkanmu. Kamu lupa?""Aku ... aku mabuk! Kamu menjebakku dengan minuman itu!""Kamu memang mabuk, tapi tubuhmu tidak berb
"Bagus. Kebencian adalah perasaan yang sangat kuat, Kania. Setidaknya dengan begitu, namaku akan terus ada di kepalamu setiap detik, melekat lebih kuat daripada rasa cinta mana pun yang pernah kamu punya.""Aku tidak akan menandatanganinya! Lebih baik aku mati!""Oh, aku tidak akan membiarkanmu mat
Rasa dingin itu merayap perlahan dari ujung kaki, menelusuri betis, hingga berhenti tepat di perut bawah yang terasa kosong. Kania tersentak, kelopak matanya yang terasa seberat timah dipaksa terbuka. Cahaya lampu gantung kristal yang temaram di atas sana membuat kepalanya langsung berdenyut nyeri







