MasukPemberkatan itu berjalan seperti pemakaman yang tenang. Kania tidak mendengarkan satu kata pun dari janji pernikahan yang diucapkan si pendeta. Pikirannya kosong. Dia merasa seperti roh yang melayang di atas tubuhnya sendiri, melihat seorang wanita malang yang sedang dipaksa masuk ke dalam jerat neraka yang dihiasi bunga-bunga manis.
"Rivan Aryawiguna, bersediakah engkau menerima Kania Hardian sebagai …." "Aku menerima. Sejak lama. Sampai dia mati di tanganku," potong Rivan sebelum pendeta selesai bicara. Matanya tidak beralih sedikit pun dari wajah Kania. "Dan Anda, Kania Hardian ... bersediakah …." Kania bungkam. Dia melirik ke arah monitor di pojok ruangan yang menyiarkan secara langsung ayahnya yang kini sudah berdiri di depan pintu keluar sebuah fasilitas penahanan, menunggu satu panggilan dari Rivan untuk bisa melangkah bebas. "Kania ... bicaralah," bisik Rivan, suaranya kali ini lembut, tetapi ujung ibu jarinya menekan urat nadi di pergelangan tangan Kania dengan kuat. Peringatan. "Aku ... bersedia," ucap Kania akhirnya, meski kata itu terasa seperti memuntahkan pecahan kaca dari tenggorokannya. "Sah!" seru si pendeta cepat-cepat, keringat dingin bercucuran di pelipisnya. Dia tidak meminta mereka berciuman. Dia ingin segera lari dari atmosfer maut di ruangan itu. Rivan merogoh ponselnya, menekan sebuah tombol, lalu meletakkannya di telinga. "Lepaskan orang tua itu sekarang. Pastikan dia sampai di rumah lamanya dalam keadaan hidup. Dan sampaikan salam dari menantu barunya." Dia memutus panggilan itu dan melempar ponselnya ke sofa. Kania mengembuskan napas lega yang singkat, setidaknya ayahnya aman. Untuk saat ini. "Selesai? Bisa aku lepaskan baju sialan ini?" tanya Kania sinis. "Pernikahan baru dimulai setelah semua saksi pergi, Kania. Sekarang kita harus merayakannya." Rivan menarik Kania mendekat, pinggang wanita itu ia rengkuh paksa hingga tubuh mereka berhimpitan sempurna. Aroma musk kembali menyerang indra penciuman Kania. "Aku lelah, Rivan. Biarkan aku istirahat." "Kamu punya banyak waktu untuk istirahat setelah ini. Tapi sebelum itu, aku punya kejutan pernikahan untukmu. Sebuah hadiah kecil untuk istriku tersayang." Rivan menuntunnya keluar ke halaman belakang. Sebuah helikopter sudah terparkir di landasan pribadi, mesinnya mulai menderu keras, membuat rambut Kania terbang berantakan. "Kita mau ke mana? Kamu bilang Papa dilepaskan ke rumah!" Kania panik. Dia merasa akan dibawa semakin jauh ke antah-berantah. "Papamu memang pulang ke rumahnya. Tapi rumahmu bukan lagi di sana, Kania. Rumahmu ada di tempat yang tidak ada seorang pun bisa menemukanmu. Termasuk detektif bayaran atau mantan suamimu yang bodoh itu." "Kamu membawaku pergi dari negara ini?" "Aku membawamu pulang ke dunia aslimu." Rivan menggendong Kania dengan paksa masuk ke dalam kabin helikopter meski Kania memberontak habis-habisan. "Oia, satu hal lagi yang hampir aku lupa katakan." Rivan mencondongkan tubuhnya ke depan saat pintu helikopter ditutup, membiarkan kebisingan mesin menenggelamkan suaranya di mata dunia, tefapi terdengar sangat jernih di telinga Kania. "Semalam ... waktu kamu menangis sambil memanggil nama mantan suamimu di tengah desahanmu ... aku sangat marah, Kania. Jadi, jangan kaget kalau saat kamu membuka ponsel barumu nanti, ada satu video baru yang viral tentang kematian mendadak seorang pria bernama Bram akibat overdosis." Mata Kania membelalak ngeri, "Kamu ... kamu membunuh Bram?" Rivan tersenyum manis sambil mengikat sabuk pengamannya. "Aku tidak membunuh. Aku hanya mengabulkan keinginan tersembunyimu untuk menghapus setiap sampah dalam hidupmu. Sekarang, ayo kita pergi berbulan madu di surga kecilku." Helikopter itu pun terangkat ke udara, meninggalkan segala kenyataan pahit yang pernah Kania tahu, membawanya ke dalam kegelapan baru yang jauh lebih berbahaya. "Lihat ke bawah, Kania. Dunia sedang melihat ratu baru yang akan menghilang selamanya." *** AC di ruang rapat lantai lima belas itu berderu rendah, mengirimkan hawa dingin yang seharusnya menenangkan, tetapi bagi Kania, rasanya seperti es yang merayap di sumsum tulangnya. Dia menarik napas dalam-dalam, jemarinya meremas pulpen perak hingga buku-buku jarinya memutih. Di balik kerah tinggi turtleneck berwarna krem yang ia kenakan, Kania bisa merasakan denyut di lehernya—tepat di mana jejak keunguan itu masih bersembunyi. Jejak klaim Rivan. "Kamu oke, Kan? Pucat banget, lho. Kamu beneran cuma sakit flu biasa pas absen tiga hari kemarin?" Shinta, asistennya, berbisik tepat di samping telinganya. Kania tersentak kecil, memaksakan senyum tipis yang terasa kaku. "Iya, Shin. Kurang tidur aja. Banyak pikiran karena laporan audit yang numpuk." "Yah, wajar sih. Tapi denger-denger, hari ini bakal ada penyelamat. Pak Baskoro udah semringah banget dari pagi. Investor baru kita ini kabarnya jenius, masih muda, dan yang paling penting... punya uang tanpa seri." Shinta terkekeh, tidak menyadari bahwa setiap kata 'muda' dan 'investor' membuat perut Kania mual. Kania mencoba mengabaikan getaran di tangannya. Tiga hari yang lalu, helikopter itu membawanya ke sebuah pulau pribadi yang megah—sangkar emas yang dia pikir tak akan pernah bisa dia tinggalkan. Namun, kemarin sore, Rivan mendadak memulangkannya ke apartemen lamanya yang sudah ditebus kembali, seolah memberinya napas palsu sebelum dicekik kembali. "Nikmati harimu, Istriku. Aku ingin kamu kembali ke duniamu sebentar, sebelum aku menjadikannya duniaku seutuhnya." Bisikan Rivan sebelum melepasnya masih terngiang seperti mantra terkutuk. Pintu kaca ruang rapat terbuka dengan sentakan kuat. Pak Baskoro, sang Direktur Utama, masuk dengan langkah lebar dan wajah yang secerah matahari pagi. Di belakangnya, beberapa ajudan menyusul, tetapi atensi seluruh ruangan mendadak tersedot pada satu sosok yang berjalan paling akhir. Darah Kania seolah berhenti mengalir. Dunianya seketika hening, hanya menyisakan dentuman jantung yang memukul rongga dadanya dengan liar. Setelan jas abu-abu arang yang dijahit sempurna, rambut yang ditata sedikit berantakan, tetapi tetap elegan, tatapan mata yang setajam elang, dan wajah tampan yang terpahat sempurna. Rivan Aryawiguna berdiri di sana, di ujung meja rapat yang panjang, seolah dia baru saja melangkah keluar dari sampul majalah bisnis kelas dunia. "Selamat pagi, rekan-rekan semua!" seru Pak Baskoro penuh semangat. "Hari ini adalah tonggak sejarah baru bagi perusahaan kita. Perkenalkan, pemimpin utama dari A-Wiguna Capital, Bapak Rivan Aryawiguna. Beliau baru saja setuju untuk menanamkan modal sebesar dua ratus miliar rupiah untuk menambal krisis finansial kita semalam!" Tepuk tangan bergemuruh di ruangan itu. Kania satu-satunya yang mematung. Matanya terkunci pada Rivan, dan pria itu ... ia perlahan mengalihkan pandangannya pada Kania. Sebuah seringai tipis, sangat samar hingga hampir tak terlihat oleh orang lain, tersungging di bibir pria itu. "Terima kasih, Pak Baskoro." Suara Rivan bergema rendah, membuat Kania merinding. Suara itu, yang beberapa jam lalu mendesah di ceruk lehernya, kini terdengar begitu profesional dan asing. "Saya melihat potensi besar di sini. Terutama pada aset-aset ... yang paling berharga." Tatapan Rivan menetap di wajah Kania selama dua detik yang terasa seperti keabadian, sebelum dia beralih ke seluruh peserta rapat. "Gila ... ganteng banget! Dia jauh lebih muda dari yang difoto, kan?" Shinta berbisik lagi, hampir memekik tertahan. "Eh, dia kok ngelihatin kamu terus sih, Kan?" "Cuma perasaanmu aja, Shin." Kania berbisik parau. Dia menunduk, mencoba fokus pada tumpukan kertas di depannya. Ini gila. Ini bukan lagi sekadar penculikan, ini pengepungan sistematis.Profesor Surya berjalan perlahan menuju pintu ruang reaktor. Tidak ada yang menghentikannya, tidak ada yang memanggil namanya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tampak tahu ke mana ia harus melangkah—bukan menuju penemuan, bukan mengejar obsesi, bukan mencari keabadian, melainkan menuju akhir dari segalanya.Di layar utama, angka proses terus bergerak naik:79%80%81%Namun Surya tidak terburu-buru. Langkahnya tenang, meski terasa sangat lelah—persis seperti seseorang yang telah memikul beban terlalu berat selama bertahun-tahun dan akhirnya siap melepaskannya. Sesampainya di depan pintu, ia berhenti dan menoleh perlahan, menatap satu per satu orang yang ada di ruangan: Raka, Armand, Bu Ratih, Rayhan, Kelia, Kania, hingga akhirnya pandangannya berhenti pada Rivan.“Aku menghabiskan seluruh hidupku berusaha mengalahkan kematian,” ucapnya pelan namun terdengar jelas oleh semua orang. “Aku pikir jika aku bisa memahami manusia, aku bisa memperbaiki segalanya.”Sebuah senyum pahit
Seluruh ruang inti seketika menjadi sunyi. Bukan karena bahaya yang mengancam, bukan karena mesin Elysium yang terus berjalan, dan bukan pula karena angka di layar yang terus bertambah—melainkan hanya karena satu pertanyaan sederhana.“Surya, apakah kau masih ingat siapa orang yang pertama kali menyelamatkanmu?”Untuk pertama kalinya malam itu, Profesor Surya tidak langsung menjawab. Ia tidak tersenyum mengejek, tidak memutar kata-kata, dan tidak mencoba mengalihkan pembicaraan. Ia hanya terdiam. Dan reaksi itu sudah cukup membuat semua orang sadar—pertanyaan itu tepat mengenai sasaran.Angka di layar terus bergerak naik:50%51%52%Namun tidak ada satu pun yang memperhatikannya. Semua pandangan tertuju pada pria tua yang selama ini terlihat tak tergoyahkan dan penuh keyakinan. Kini, untuk pertama kalinya, terlihat sisi rapuh yang tersembunyi di balik wajahnya.“Kau sudah lupa,” kata Bu Ratih dengan nada lembut, persis seperti seorang guru yang sedang menegur muridnya, bukan seperti
Angka di layar terus bergerak naik tanpa henti:34%35%36%Mesin Elysium berjalan terus, seolah tidak peduli pada ketakutan, kepanikan, atau siapa yang akan kehilangan segalanya—persis seperti obsesi yang selama ini tidak pernah berhenti berkembang.Beberapa detik berlalu dalam keheningan. Semua orang memikirkan hal yang sama: jika inti sistem harus dihancurkan, maka seseorang harus tetap tinggal di sana. Dan mereka semua tahu siapa yang paling mungkin mengambil keputusan itu.“Kak…” panggil Rivan dengan suara rendah.“Tidak.”Jawaban Raka datang begitu cepat dan tegas, seolah ia sudah tahu apa yang ingin dikatakan adiknya bahkan sebelum kalimat itu keluar.“Aku belum bicara apa-apa.”“Tetap saja tidak.”Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu kembali, nada bicara Raka terdengar marah. “Kau tidak akan menjadi orang yang tinggal di sini.”Keheningan kembali menyelimuti ruangan. Tidak ada yang membantah, karena mereka semua sadar—Raka sudah membaca pikiran Rivan dengan tepat.“Kau s
Tidak ada yang langsung memahami makna kalimat itu, namun reaksi Raka sudah cukup menjelaskan segalanya. Pria itu tampak seolah baru mendengar mimpi buruk yang selama ini berusaha keras ia cegah.“Aku tidak pernah mencari penerus. Aku hanya mencari pengganti.”“Rayhan!” panggil Raka dengan nada tegang. “Matikan sistemnya sekarang!”“Sedang kucoba.”Rayhan segera berlari ke panel utama, jemarinya bergerak cepat menelusuri layar dan memasukkan rangkaian kode. Namun hanya dalam hitungan detik, ekspresinya berubah menjadi gelisah.“Tidak bisa. Dia sudah mengunci semuanya dari inti sistem.”Darah seketika terasa dingin di sekujur tubuh mereka.“Apa yang sedang dipindahkan?” tanya Rivan.Suaranya terdengar tenang, bahkan tidak ada nada panik di dalamnya—justru itulah yang membuat suasana terasa semakin berat, karena jelas ia sedang memaksakan diri untuk tetap berpikir jernih.Profesor Surya menatapnya lama, lalu tersenyum tipis. “Akhirnya kau mengajukan pertanyaan yang tepat.”Raka melangk
Tidak ada yang menjawab, tidak ada yang bergerak. Kalimat Profesor Surya bukan sekadar pertanyaan, melainkan sebuah ancaman yang menyentuh inti rahasia terbesar.“Bagaimana kalau aku jelaskan mengapa hanya Rivan yang bisa bertahan hidup, sementara semua subjek lain meninggal atau hancur?”Dan untuk pertama kalinya, Kania melihat sesuatu yang baru—ketakutan yang terlihat jelas di wajah Raka, bukan karena bahaya yang mengancam dirinya sendiri, melainkan karena apa yang akan diungkapkan tentang Rivan.“Diam.”Suara Raka terdengar sangat dingin dan tegas.Surya hanya tersenyum tipis, namun kali ini senyum itu tidak sampai ke matanya. Ia tahu persis bahwa ia baru saja menyentuh luka yang selama ini ditutup rapat oleh semua orang.“Kau takut?” gumamnya sambil menatap Raka.“Aku tidak takut, aku hanya muak melihat permainanmu,” jawab Raka cepat.“Kalau begitu, mengapa selama ini kau tidak pernah menceritakannya padanya?”Kalimat itu membuat seluruh ruangan membeku. Surya benar—Raka tahu kebe
Tidak ada yang bergerak, tidak ada yang bersuara. Kalimat terakhir yang diucapkan Armand menggantung di udara, terasa begitu berat dan sulit untuk diterima. “Ceritakan padanya siapa yang sebenarnya menyelamatkannya pada malam kebakaran itu.” Semua pandangan langsung tertuju pada Raka—Kania, Rayhan, Kelia, bahkan Rivan sendiri. Dan untuk pertama kalinya sejak mereka tiba di ruang inti, Raka terlihat seperti seseorang yang ingin menghindari menjawab sebuah pertanyaan. “Kak…” Suara Rivan terdengar pelan, namun cukup untuk membuat suasana menjadi semakin sunyi. “Apa maksudnya?” Raka memejamkan matanya lama, seolah sedang kembali menelusuri kenangan malam yang telah menghantuinya selama sepuluh tahun: malam yang dipenuhi asap tebal, kobaran api, suara jeritan, dan sebuah pilihan berat yang seharusnya tidak dipikul oleh siapa pun. “Kak?” panggil Rivan lagi, kali ini nadanya terdengar lebih dalam dan menyimpan luka. Akhirnya Raka membuka matanya dan mengembuskan napas panjang. “Orang
Rivan membungkam bibir Kania dengan ciuman yang kasar dan menuntut, menekan tubuh wanita itu ke atas meja yang dipenuhi dokumen penting perusahaan. Tiba-tiba, suara dering ponsel yang kencang memecah suasana. Bukan ponsel Kania, melainkan ponsel pribadi Rivan di saku jas
"Nah, karena tim finansial yang paling terdampak oleh krisis ini, saya ingin Ibu Kania sebagai kepala manajer finansial kita memberikan laporan singkatnya. Kania, silakan!" Pak Baskoro menunjuk dengan penuh bangga.Kania menelan ludah. Dia dipaksa berdiri di bawah sorotan lampu dan
"Bagus. Kebencian adalah perasaan yang sangat kuat, Kania. Setidaknya dengan begitu, namaku akan terus ada di kepalamu setiap detik, melekat lebih kuat daripada rasa cinta mana pun yang pernah kamu punya.""Aku tidak akan menandatanganinya! Lebih baik aku mati!""Oh, aku tidak akan membiarkanmu mat
Rasa dingin itu merayap perlahan dari ujung kaki, menelusuri betis, hingga berhenti tepat di perut bawah yang terasa kosong. Kania tersentak, kelopak matanya yang terasa seberat timah dipaksa terbuka. Cahaya lampu gantung kristal yang temaram di atas sana membuat kepalanya langsung berdenyut nyeri







