แชร์

KR 7 Telepon Misterius

ผู้เขียน: Ziya_Khan21
last update วันที่เผยแพร่: 2026-04-18 08:00:28

Rivan membungkam bibir Kania dengan ciuman yang kasar dan menuntut, menekan tubuh wanita itu ke atas meja yang dipenuhi dokumen penting perusahaan.

Tiba-tiba, suara dering ponsel yang kencang memecah suasana. Bukan ponsel Kania, melainkan ponsel pribadi Rivan di saku jasnya.

Rivan mendengus kesal, melepaskan ciumannya yang membuat bibir Kania sedikit bengkak. Ia merogoh saku dan melihat nama peneleponnya.

Ekspresinya mendadak berubah serius—campuran antara keterkejutan dan kemarahan yang tertahan.

Dia menatap Kania sebentar, lalu menjauh dan menjawab panggilan itu tanpa memutus kontak mata dengan istrinya.

"Aku sudah bilang jangan pernah telepon nomor ini kalau tidak darurat," bentak Rivan pada telepon. Suaranya rendah, tetapi mematikan.

Kania melihat Rivan diam mendengarkan suara di seberang sana selama beberapa detik. Namun, apa pun yang dia dengar, itu membuat tangan Rivan yang lain mencengkeram tepi meja hingga kayunya seakan retak.

"Apa kamu bilang?" Rivan melirik Kania dengan tatapan yang sangat asing, tatapan yang belum pernah Kania lihat sebelumnya—sebuah ketakutan yang dibalut kebencian mendalam.

"Tidak mungkin ... DIA seharusnya sudah mati sepuluh tahun lalu di panti asuhan itu!"

Darah Kania membeku. Siapa?

Rivan mematikan ponselnya dengan kasar, wajahnya pucat. Tanpa sepatah kata pun, dia berbalik, meninggalkan Kania yang masih duduk di atas meja dengan pakaian berantakan.

Sebelum keluar pintu, Rivan menoleh sedikit, tetapi suaranya bergetar dengan cara yang sangat tidak biasa.

"Kania ... kemasi barang-barangmu. Kita berangkat ke bandara dalam sepuluh menit. Masa laluku yang sebenarnya baru saja bangun dari kubur."

"Sepuluh menit?" Suara Kania memekik kecil di antara deru napasnya yang belum teratur. Dia buru-buru membetulkan kancing turtleneck-nya yang melintir akibat ulah kasar Rivan di atas meja rapat tadi. "Rivan, jelaskan padaku! Siapa yang bangun dari kubur? Apa maksudmu?"

Rivan tidak menyahut. Pria itu menyambar kunci mobilnya di atas meja dengan gerakan yang begitu liar hingga tumpukan dokumen audit Kania berhamburan ke lantai seperti daun kering.

Dia lalu menarik lengan Kania, menyeret wanita itu keluar dari ruang rapat yang baru saja dia beli identitasnya itu.

"Diam dan ikut aku, Kania! Kita tidak punya waktu untuk tanya jawab sekarang!" bentak Rivan. Rahangnya mengeras, membentuk garis tajam yang terlihat begitu kaku di bawah lampu koridor kantor yang berkedip.

"Aku bukan barang bawaanmu, Rivan! Aku punya pekerjaan, aku punya—"

"Kamu punya aku! Hanya aku!" Rivan berhenti mendadak, membuat Kania nyaris menabrak punggungnya yang tegap. Dia berbalik, mencengkeram bahu Kania hingga wanita itu merintih. "Dunia luar sedang berubah menjadi lubang jarum, dan aku baru saja melihat sosok yang paling ingin aku musnahkan muncul kembali. Kamu pikir aku akan membiarkanmu keluyuran di sini sementara iblis itu sedang mencariku? Kamu target termudah, Kania!"

"Siapa iblis yang kamu maksud? Apakah dia dari panti asuhan yang kamu sebut tadi?" tanya Kania, mencoba menggali informasi di tengah kepanikannya. Dia bisa merasakan keringat dingin membasahi punggungnya.

Rivan hanya memberikan tatapan tajam yang membuat Kania terbungkam. Dia kembali menarik Kania menuju lift khusus pimpinan. Begitu pintu lift tertutup, Rivan langsung mengeluarkan ponsel cadangan dan mengetikkan sesuatu dengan kecepatan yang membuat Kania pusing.

"Jangan sekali-kali kamu melepaskan tanganku begitu kita sampai di bandara. Paham?" tanya Rivan, matanya terpaku pada angka lantai yang bergerak turun dengan cepat.

"Kamu membawaku lari, bukan melindungiku," gumam Kania lirih. Air mata frustrasi mulai menggenang di sudut matanya.

"Lari dan melindungi sering kali merupakan satu hal yang sama dalam duniaku, Istriku tersayang," jawab Rivan dengan nada sarkasme yang kental. Dia melirik Kania, tatapannya melembut sedetik sebelum kembali dingin. "Hapus air matamu. Aku tidak suka miliku terlihat lemah di depan publik."

Begitu lift berdenting terbuka di basemen, sebuah SUV hitam antipeluru sudah menunggu dengan mesin yang menderu pelan. Dua orang pria bertubuh tegap—anak buah kepercayaan Rivan—membukakan pintu dengan sigap. Kania dipaksa masuk, disusul oleh Rivan yang langsung duduk rapat di sampingnya, mengunci tangannya dengan jemari Rivan yang besar dan kuat.

"Jalan. Bandara Halim. Lima belas menit, atau kamu aku pecat sekarang juga," perintah Rivan pada sang sopir.

Mobil itu melesat membelah kemacetan Jakarta dengan ugal-ugalan. Kania terlempar ke kiri dan ke kanan, tetapi cengkeraman Rivan pada pinggangnya membuatnya tetap pada posisi. Keheningan di dalam mobil terasa mencekik, hanya suara deru mesin dan klakson kendaraan lain yang terdengar sayup dari balik kaca tebal.

"Rivan, kumohon ... katakan sesuatu. Jangan biarkan aku seperti orang bodoh begini," isak Kania, wajahnya disembunyikan di bahu jas Rivan.

Rivan menghela napas kasar. Dia mengusap rambut Kania dengan gerakan yang tidak biasa—ada sedikit getaran di ujung jarinya yang tidak bisa dia sembunyikan. "Lentera Harapan. Itu nama panti asuhannya. Sepuluh tahun lalu, terjadi kebakaran besar di sana. Semuanya habis. Aku adalah satu dari sedikit yang selamat karena aku ... aku pergi malam itu."

"Lalu siapa yang hidup kembali?"

"Abian," bisik Rivan. Nama itu terdengar seperti racun di lidahnya. "Kakak tingkatku di sana. Pria yang mengajariku bahwa di dunia ini, hanya ada pemangsa dan mangsa. Aku yakin dia sudah terpanggang menjadi abu malam itu, tapi orang-orangku baru saja mendeteksi sinyal telepon lamanya aktif di perbatasan Singapura."

"Kenapa kamu ketakutan begini, Rivan? Bukankah kamu yang sekarang penguasa?" tanya Kania heran. Dia melihat sisi lain Rivan yang belum pernah dia lihat: kerapuhan yang tertutup dendam.

"Karena dia tahu di mana titik terlemahku berada, Kania. Dan dia sedang menatapnya melalui berita pernikahan kita," jawab Rivan, jari-jarinya semakin erat mengunci pergelangan tangan Kania.

Mobil mengerem mendadak di depan gerbang terminal jet pribadi. Kania belum sempat mencerna ketakutan Rivan saat pintu mobil ditarik terbuka. Dia kembali ditarik melewati pemeriksaan keamanan yang hanya berupa formalitas bagi pria seperti Rivan Aryawiguna.

"Kania, berikan ponselmu," pinta Rivan saat mereka mulai melangkah di aspal menuju pesawat Gulfstream bercat hitam elegan yang sudah menunggu dengan tangga diturunkan.

"Kenapa? Aku perlu menghubungi Papa!"

"Ponselmu sudah terlacak oleh sistem mereka sejak panggilan terakhir tadi. Berikan padaku." Suara Rivan tidak menerima bantahan.

Kania merogoh tasnya, memberikan ponsel pintarnya pada Rivan. Tanpa keraguan sedikit pun, Rivan melempar ponsel itu ke genangan air hujan di pinggir landasan dan menggilasnya dengan kaki sepatunya yang mahal. Layarnya hancur, memutus satu-satunya hubungan Kania dengan dunia luar.

"Identitas barumu ada di dalam pesawat. Kamu bukan lagi Kania Hardian untuk beberapa hari ke depan," ucap Rivan dingin sambil mendorong Kania menaiki tangga pesawat.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
ความคิดเห็น (14)
goodnovel comment avatar
bian cilla
apa yg sebenarnya yang terjadi antara Abian dan Rivan kenapa Rivan setakut itu dengan abian
goodnovel comment avatar
Bintang Ihsan
abian ??? rivan ketakutan banget yaa , apa tidak melawannya saja
goodnovel comment avatar
Elly Julita
hah?? seorang rivan bisa panik dan takut jg rupanya
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • OBSESI sang Berondong HYPER    KR 144. Rumah yang Ditemukan

    Profesor Surya berjalan perlahan menuju pintu ruang reaktor. Tidak ada yang menghentikannya, tidak ada yang memanggil namanya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tampak tahu ke mana ia harus melangkah—bukan menuju penemuan, bukan mengejar obsesi, bukan mencari keabadian, melainkan menuju akhir dari segalanya.Di layar utama, angka proses terus bergerak naik:79%80%81%Namun Surya tidak terburu-buru. Langkahnya tenang, meski terasa sangat lelah—persis seperti seseorang yang telah memikul beban terlalu berat selama bertahun-tahun dan akhirnya siap melepaskannya. Sesampainya di depan pintu, ia berhenti dan menoleh perlahan, menatap satu per satu orang yang ada di ruangan: Raka, Armand, Bu Ratih, Rayhan, Kelia, Kania, hingga akhirnya pandangannya berhenti pada Rivan.“Aku menghabiskan seluruh hidupku berusaha mengalahkan kematian,” ucapnya pelan namun terdengar jelas oleh semua orang. “Aku pikir jika aku bisa memahami manusia, aku bisa memperbaiki segalanya.”Sebuah senyum pahit

  • OBSESI sang Berondong HYPER    KR 143. Penyelamat

    Seluruh ruang inti seketika menjadi sunyi. Bukan karena bahaya yang mengancam, bukan karena mesin Elysium yang terus berjalan, dan bukan pula karena angka di layar yang terus bertambah—melainkan hanya karena satu pertanyaan sederhana.“Surya, apakah kau masih ingat siapa orang yang pertama kali menyelamatkanmu?”Untuk pertama kalinya malam itu, Profesor Surya tidak langsung menjawab. Ia tidak tersenyum mengejek, tidak memutar kata-kata, dan tidak mencoba mengalihkan pembicaraan. Ia hanya terdiam. Dan reaksi itu sudah cukup membuat semua orang sadar—pertanyaan itu tepat mengenai sasaran.Angka di layar terus bergerak naik:50%51%52%Namun tidak ada satu pun yang memperhatikannya. Semua pandangan tertuju pada pria tua yang selama ini terlihat tak tergoyahkan dan penuh keyakinan. Kini, untuk pertama kalinya, terlihat sisi rapuh yang tersembunyi di balik wajahnya.“Kau sudah lupa,” kata Bu Ratih dengan nada lembut, persis seperti seorang guru yang sedang menegur muridnya, bukan seperti

  • OBSESI sang Berondong HYPER    KR 142. Orang yang Pergi Dulu

    Angka di layar terus bergerak naik tanpa henti:34%35%36%Mesin Elysium berjalan terus, seolah tidak peduli pada ketakutan, kepanikan, atau siapa yang akan kehilangan segalanya—persis seperti obsesi yang selama ini tidak pernah berhenti berkembang.Beberapa detik berlalu dalam keheningan. Semua orang memikirkan hal yang sama: jika inti sistem harus dihancurkan, maka seseorang harus tetap tinggal di sana. Dan mereka semua tahu siapa yang paling mungkin mengambil keputusan itu.“Kak…” panggil Rivan dengan suara rendah.“Tidak.”Jawaban Raka datang begitu cepat dan tegas, seolah ia sudah tahu apa yang ingin dikatakan adiknya bahkan sebelum kalimat itu keluar.“Aku belum bicara apa-apa.”“Tetap saja tidak.”Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu kembali, nada bicara Raka terdengar marah. “Kau tidak akan menjadi orang yang tinggal di sini.”Keheningan kembali menyelimuti ruangan. Tidak ada yang membantah, karena mereka semua sadar—Raka sudah membaca pikiran Rivan dengan tepat.“Kau s

  • OBSESI sang Berondong HYPER    KR 141. Pengganti

    Tidak ada yang langsung memahami makna kalimat itu, namun reaksi Raka sudah cukup menjelaskan segalanya. Pria itu tampak seolah baru mendengar mimpi buruk yang selama ini berusaha keras ia cegah.“Aku tidak pernah mencari penerus. Aku hanya mencari pengganti.”“Rayhan!” panggil Raka dengan nada tegang. “Matikan sistemnya sekarang!”“Sedang kucoba.”Rayhan segera berlari ke panel utama, jemarinya bergerak cepat menelusuri layar dan memasukkan rangkaian kode. Namun hanya dalam hitungan detik, ekspresinya berubah menjadi gelisah.“Tidak bisa. Dia sudah mengunci semuanya dari inti sistem.”Darah seketika terasa dingin di sekujur tubuh mereka.“Apa yang sedang dipindahkan?” tanya Rivan.Suaranya terdengar tenang, bahkan tidak ada nada panik di dalamnya—justru itulah yang membuat suasana terasa semakin berat, karena jelas ia sedang memaksakan diri untuk tetap berpikir jernih.Profesor Surya menatapnya lama, lalu tersenyum tipis. “Akhirnya kau mengajukan pertanyaan yang tepat.”Raka melangk

  • OBSESI sang Berondong HYPER    KR 140. Mencari Pengganti

    Tidak ada yang menjawab, tidak ada yang bergerak. Kalimat Profesor Surya bukan sekadar pertanyaan, melainkan sebuah ancaman yang menyentuh inti rahasia terbesar.“Bagaimana kalau aku jelaskan mengapa hanya Rivan yang bisa bertahan hidup, sementara semua subjek lain meninggal atau hancur?”Dan untuk pertama kalinya, Kania melihat sesuatu yang baru—ketakutan yang terlihat jelas di wajah Raka, bukan karena bahaya yang mengancam dirinya sendiri, melainkan karena apa yang akan diungkapkan tentang Rivan.“Diam.”Suara Raka terdengar sangat dingin dan tegas.Surya hanya tersenyum tipis, namun kali ini senyum itu tidak sampai ke matanya. Ia tahu persis bahwa ia baru saja menyentuh luka yang selama ini ditutup rapat oleh semua orang.“Kau takut?” gumamnya sambil menatap Raka.“Aku tidak takut, aku hanya muak melihat permainanmu,” jawab Raka cepat.“Kalau begitu, mengapa selama ini kau tidak pernah menceritakannya padanya?”Kalimat itu membuat seluruh ruangan membeku. Surya benar—Raka tahu kebe

  • OBSESI sang Berondong HYPER    KR 139. Sang Penyelamat

    Tidak ada yang bergerak, tidak ada yang bersuara. Kalimat terakhir yang diucapkan Armand menggantung di udara, terasa begitu berat dan sulit untuk diterima. “Ceritakan padanya siapa yang sebenarnya menyelamatkannya pada malam kebakaran itu.” Semua pandangan langsung tertuju pada Raka—Kania, Rayhan, Kelia, bahkan Rivan sendiri. Dan untuk pertama kalinya sejak mereka tiba di ruang inti, Raka terlihat seperti seseorang yang ingin menghindari menjawab sebuah pertanyaan. “Kak…” Suara Rivan terdengar pelan, namun cukup untuk membuat suasana menjadi semakin sunyi. “Apa maksudnya?” Raka memejamkan matanya lama, seolah sedang kembali menelusuri kenangan malam yang telah menghantuinya selama sepuluh tahun: malam yang dipenuhi asap tebal, kobaran api, suara jeritan, dan sebuah pilihan berat yang seharusnya tidak dipikul oleh siapa pun. “Kak?” panggil Rivan lagi, kali ini nadanya terdengar lebih dalam dan menyimpan luka. Akhirnya Raka membuka matanya dan mengembuskan napas panjang. “Orang

  • OBSESI sang Berondong HYPER    KR 98. Bertemu Ratih

    Pagi di Kyoto kembali datang bersama rintik hujan. Seolah kota ini ikut menyimpan terlalu banyak rahasia yang tak kunjung selesai. Kania terbangun lebih awal, tetapi kali ini bukan karena mimpi buruk atau potongan ingatan yang menghantam kepalanya. Ia terbangun karena sesuatu yang jauh lebih sede

  • OBSESI sang Berondong HYPER    KR 3. Kontrak Seumur Hidup

    Rivan melepaskan satu tangan Kania, jarinya kini menelusuri garis bibir Kania yang bergetar. "Semalam ... kamu tidak berhenti menciumku. Kamu memintaku untuk tidak pernah meninggalkanmu. Kamu lupa?""Aku ... aku mabuk! Kamu menjebakku dengan minuman itu!""Kamu memang mabuk, tapi tubuhmu tidak berb

  • OBSESI sang Berondong HYPER    KR 2. Ancaman Rivan

    "Bagus. Kebencian adalah perasaan yang sangat kuat, Kania. Setidaknya dengan begitu, namaku akan terus ada di kepalamu setiap detik, melekat lebih kuat daripada rasa cinta mana pun yang pernah kamu punya.""Aku tidak akan menandatanganinya! Lebih baik aku mati!""Oh, aku tidak akan membiarkanmu mat

  • OBSESI sang Berondong HYPER    KR 1. Pemuda Gila!

    Rasa dingin itu merayap perlahan dari ujung kaki, menelusuri betis, hingga berhenti tepat di perut bawah yang terasa kosong. Kania tersentak, kelopak matanya yang terasa seberat timah dipaksa terbuka. Cahaya lampu gantung kristal yang temaram di atas sana membuat kepalanya langsung berdenyut nyeri

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status