LOGIN"Nah, karena tim finansial yang paling terdampak oleh krisis ini, saya ingin Ibu Kania sebagai kepala manajer finansial kita memberikan laporan singkatnya. Kania, silakan!" Pak Baskoro menunjuk dengan penuh bangga.
Kania menelan ludah. Dia dipaksa berdiri di bawah sorotan lampu dan tatapan predator suaminya sendiri. Tubuhnya terasa berat saat dia berjalan ke arah layar proyektor, melewati kursi Rivan yang hanya berjarak beberapa senti darinya. Aroma parfum musk dan kayu cendana yang dia hafal benar itu kembali menyerang indra penciumannya, memicu kilasan memori tentang malam-malam penuh paksaan di vila kemarin. "Baik ... selamat pagi, Pak Rivan. Saya ... saya akan memaparkan kondisi terakhir keuangan kami." Suara Kania sedikit bergetar, tetapi dia mencoba menjaga suaranya tetap formal. Selama sepuluh menit Kania bicara, Rivan tidak memperhatikan angka-angka di layar sama sekali. Matanya terus menjelajahi wajah Kania, tangannya memutar-mutar pena hitam dengan gerakan santai yang mengintimidasi. Sesekali, Rivan sengaja menyesap kopinya sambil terus mengunci pandangan pada mata Kania yang tampak menghindari tatapannya. "Interupsi sedikit, Ibu Kania." Rivan bersuara tiba-tiba. Suasana rapat langsung sunyi senyap. "Iya, Pak?" "Angka pengeluaran untuk 'operasional khusus' ini ... terlihat sangat berantakan. Mirip seperti orang yang tidak punya kontrol atas hidupnya sendiri. Kamu yakin bisa membereskannya dalam seminggu? Atau saya harus turun tangan secara ... privat?" Ruangan itu menjadi sangat canggung. Pak Baskoro berdehem, sedikit bingung dengan pemilihan kata sang investor muda. "Ah, Pak Rivan, Kania ini manajer terbaik kami. Saya yakin beliau—" "Saya ingin dengar jawaban dari Ibu Kania langsung. Bukan dari orang lain," potong Rivan dengan nada dingin yang membuat atmosfer ruangan drop hingga beberapa derajat. Kania merasakan tangannya yang memegang laser pointer mulai berkeringat dingin. Kalimat 'privat' itu bukan sekadar kiasan bisnis. Itu adalah ancaman. "Saya ... saya akan pastikan semuanya beres dalam seminggu, Pak Rivan. Saya akan bekerja keras." "Bagus. Saya suka dedikasi. Tapi saya tidak suka pekerjaan yang dibawa pulang ke rumah sendirian. Mungkin besok kita bisa membahas ini lagi, sambil makan malam. Bagaimana menurutmu, Sayang?" Seketika itu juga, bunyi napas tertahan terdengar dari seluruh peserta rapat. Shinta sampai hampir tersedak ludahnya sendiri. Panggilan 'Sayang' itu terasa seperti ledakan granat di tengah-tengah percakapan formal. "Sayang?" Pak Baskoro bertanya, bingung luar biasa. Rivan tertawa ringan, sebuah tawa yang terdengar sangat santai, tetapi mematikan. "Oh, maaf. Maksud saya, Ibu Kania sayang sekali kalau potensi cerdas ini hanya dihabiskan di belakang meja. Begitu, kan, Pak Baskoro?" "Oh! Ahahaha, iya, iya! Pak Rivan ini bercandaannya tinggi juga, ya." Pak Baskoro tertawa canggung, berusaha mencairkan suasana meski ketegangan di antara Rivan dan Kania bisa dipotong dengan pisau silet. Rapat berlanjut selama satu jam penuh penderitaan bagi Kania. Setiap kali dia bicara, Rivan memberikan kritik tajam atau komentar yang mengandung makna ganda yang hanya bisa dipahami oleh mereka berdua. Kania merasa identitasnya dipreteli satu per satu di depan rekan-rekan kerjanya. Pria itu benar-benar ingin mengisolasinya secara mental sebelum fisik. Setelah rapat berakhir dan semua orang mulai keluar dengan kasak-kusuk tentang si 'investor ganteng yang agresif', Kania bergegas merapikan laptopnya. Dia ingin lari sejauh mungkin. "Kania, tinggal sebentar. Saya ada yang ingin diklarifikasi secara mendalam mengenai dokumen aslinya." Suara Rivan yang otoriter membuat Kania terpaku di tempatnya. Pak Baskoro menoleh. "Oh, silakan Pak Rivan. Silakan gunakan ruang ini. Kania, bantu Pak Rivan sebaik-baiknya, ya!" Sang bos melambai kecil lalu keluar bersama Shinta yang memberi tatapan good luck pada Kania. Klik. Pintu rapat ditutup dan dikunci dari dalam oleh Rivan. Keheningan di ruangan itu terasa menyesakkan. Kania tidak berbalik, dia tetap menghadap ke meja rapat, bahunya sedikit gemetar. "Rivan, kumohon ... ini tempat kerjaku. Jangan lakukan ini di sini," bisik Kania lirih. Langkah kaki Rivan yang pelan terdengar mendekat di atas karpet mahal itu. Tiba-tiba, sebuah tangan besar melingkar di pinggang Kania dari belakang, menarik punggung wanita itu agar menempel ke dadanya yang bidang. Kania terkesiap, mencoba memberontak, tetapi cengkeraman Rivan terlalu solid. "Kamu pikir dengan bekerja lagi, kamu bisa sembunyi dariku?" Rivan membisikkan kata-katanya tepat di samping telinga Kania, sementara tangannya yang bebas menelusuri leher Kania yang terbalut kain sutra. "Aku yang membeli gedung ini pagi tadi lewat perusahaan cangkangku, Kania. Kamu mau lari ke lantai berapa? Semuanya milikku." "Kamu tidak punya hak untuk menghancurkan karirku juga! Aku sudah memberikan apa pun yang kamu mau kemarin!" Kania berbalik dengan amarah yang meledak, menatap tajam pria itu dengan air mata yang menggenang. "Hak?" Rivan tersenyum sinis, wajahnya mendekat hingga hidung mereka bersentuhan. "Kania, setelah apa yang kita lakukan semalam di pulau itu ... kata 'hak' sudah tidak ada artinya lagi di antara kita. Aku adalah hakmu satu-satunya." Tangan Rivan naik, menjepit dagu Kania dengan ibu jarinya, memaksa Kania menatap matanya yang gelap dan penuh obsesi. "Dan tentang Bram ... polisi sudah menutup kasusnya sebagai kecelakaan overdosis murni. Dia sudah hilang selamanya dari duniamu. Tidak ada lagi yang menghalangi kita." "Kamu pembunuh, Rivan!" "Aku seorang pembersih. Aku membuang sampah yang menyakitimu." Rivan menggerakkan tangannya ke pinggang Kania, mengangkat tubuh wanita itu hingga terduduk di atas meja rapat yang dingin. Kania memekik kecil, mencoba menahan roknya yang sedikit tersingkap. "Rivan, nanti ada yang masuk! CCTV ... di sana ada CCTV!" "CCTV sudah dimatikan sejak lima menit yang lalu. Hanya kita berdua di dunia ini, Istriku." Rivan mencengkeram kedua paha Kania, menariknya lebih dekat hingga posisi mereka benar-benar intim. "Aku tidak tahan melihatmu memakai baju tertutup begini di depan pria-pria tua itu. Rasanya aku ingin merobeknya saat ini juga." Wajah Kania memerah, napasnya mulai terengah antara ketakutan dan dorongan fisik yang sulit dia kendalikan sejak dikonsumsi oleh permainan liar Rivan selama tiga hari terakhir. "Tolong ... biarkan aku pulang dulu. Kita bicarakan ini nanti malam." "Pulang? Kita belum selesai dengan rapat finansial kita, bukan?" Jari-jari Rivan mulai bermain di kancing paling bawah turtleneck Kania, melepaskannya perlahan sambil matanya terus menatap mata Kania dengan intensitas yang meluluhkan. "Rivan …." "Kania, aku ingin kamu tahu satu hal." Rivan berhenti sejenak, bibirnya nyaris menyentuh bibir Kania. "Setiap orang yang tadi berani menatapmu terlalu lama di rapat tadi ... aku sudah menyiapkan berkas pemecatan mereka besok pagi. Kecuali jika kamu menunjukkan sesuatu padaku sekarang ... sesuatu yang membuktikan bahwa kamu hanya mau ditatap olehku." Kania tersentak ngeri. Dia memikirkan teman-temannya, nasib ribuan karyawan yang mungkin terancam karena kegilaan pria ini. "Jangan ... jangan libatkan mereka. Mereka tidak tahu apa-apa!" "Kalau begitu, lupakan mereka. Pikirkan hanya aku. Hanya Rivan.""Nah, karena tim finansial yang paling terdampak oleh krisis ini, saya ingin Ibu Kania sebagai kepala manajer finansial kita memberikan laporan singkatnya. Kania, silakan!" Pak Baskoro menunjuk dengan penuh bangga.Kania menelan ludah. Dia dipaksa berdiri di bawah sorotan lampu dan tatapan predator suaminya sendiri. Tubuhnya terasa berat saat dia berjalan ke arah layar proyektor, melewati kursi Rivan yang hanya berjarak beberapa senti darinya. Aroma parfum musk dan kayu cendana yang dia hafal benar itu kembali menyerang indra penciumannya, memicu kilasan memori tentang malam-malam penuh paksaan di vila kemarin."Baik ... selamat pagi, Pak Rivan. Saya ... saya akan memaparkan kondisi terakhir keuangan kami." Suara Kania sedikit bergetar, tetapi dia mencoba menjaga suaranya tetap formal.Selama sepuluh menit Kania bicara, Rivan tidak memperhatikan angka-angka di layar sama sekali. Matanya terus menjelajahi wajah Kania, tangannya
Pemberkatan itu berjalan seperti pemakaman yang tenang. Kania tidak mendengarkan satu kata pun dari janji pernikahan yang diucapkan si pendeta. Pikirannya kosong. Dia merasa seperti roh yang melayang di atas tubuhnya sendiri, melihat seorang wanita malang yang sedang dipaksa masuk ke dalam jerat neraka yang dihiasi bunga-bunga manis."Rivan Aryawiguna, bersediakah engkau menerima Kania Hardian sebagai ….""Aku menerima. Sejak lama. Sampai dia mati di tanganku," potong Rivan sebelum pendeta selesai bicara. Matanya tidak beralih sedikit pun dari wajah Kania."Dan Anda, Kania Hardian ... bersediakah …."Kania bungkam. Dia melirik ke arah monitor di pojok ruangan yang menyiarkan secara langsung ayahnya yang kini sudah berdiri di depan pintu keluar sebuah fasilitas penahanan, menunggu satu panggilan dari Rivan untuk bisa melangkah bebas."Kania ... bicaralah," bisik Rivan, suaranya kali ini lembut, tetapi ujung ibu jarinya menekan urat nadi di pergelangan tangan Kania dengan kuat. Peringa
"Nona Kania? Ini saya, Mira. Tuan Rivan meminta saya membawakan gaun Anda."Suara itu bukan suara Rivan. Itu suara wanita paruh baya yang terdengar datar, tanpa emosi sama sekali. Kania menarik napas panjang, mencoba menstabilkan degup jantungnya. Dia meraih jubah mandi tebal dari gantungan emas dan memakainya secepat kilat, lalu membuka pintu sedikit saja."Aku tidak butuh gaun. Aku butuh baju pribadiku! Di mana tas yang aku bawa semalam?" Kania menyalak, matanya menatap tajam ke arah wanita bernama Mira itu.Mira tetap diam, hanya mengulurkan sebuah kotak besar berwarna putih mutiara dengan logo perancang busana yang harganya mungkin bisa membeli satu rumah sederhana. "Tas Anda sudah tidak ada, Nona. Tuan memerintahkan untuk memusnahkan semua benda yang tidak beraroma rumah ini.""Memusnahkan? Dia gila! Isinya dompetku, ponselku, identitasku!""Anda tidak akan butuh itu di sini, Nona. Silakan dipakai. Tuan sudah menunggu di lantai bawah. Kita punya waktu tiga puluh menit.""Aku tida
Rivan melepaskan satu tangan Kania, jarinya kini menelusuri garis bibir Kania yang bergetar. "Semalam ... kamu tidak berhenti menciumku. Kamu memintaku untuk tidak pernah meninggalkanmu. Kamu lupa?""Aku ... aku mabuk! Kamu menjebakku dengan minuman itu!""Kamu memang mabuk, tapi tubuhmu tidak berbohong. Kamu sangat merespons sentuhanku, Kania. Jauh lebih liar daripada bayanganku," bisik Rivan tepat di bibir Kania, hingga napas hangatnya yang beraroma kopi dan mint terasa langsung di kulit Kania."Hentikan ... tolong hentikan ….""Aku akan berhenti menyakiti Papa jika kamu mulai bersikap manis. Ambil pena itu, Kania. Jadilah milikku secara hukum, maka dunia akan ada di genggamanmu. Tidak akan ada lagi penagih utang, tidak ada lagi pengkhianatan."Rivan menarik diri sedikit, memberikan ruang bagi Kania untuk bernapas. Dia merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan sebuah ponsel milik Kania yang sudah dia sita. Dia menyalakannya dan memperlihatkan sebuah pesan suara yang baru masuk."Denga
"Bagus. Kebencian adalah perasaan yang sangat kuat, Kania. Setidaknya dengan begitu, namaku akan terus ada di kepalamu setiap detik, melekat lebih kuat daripada rasa cinta mana pun yang pernah kamu punya.""Aku tidak akan menandatanganinya! Lebih baik aku mati!""Oh, aku tidak akan membiarkanmu mati secepat itu. Masih banyak malam yang harus kita lewatkan bersama di rumah ini." Rivan melangkah keluar, tetapi suaranya masih menggema tajam di dalam ruangan itu. "Cepat putuskan, Kania. Detik terus berjalan, dan aku tidak tahu seberapa sabar anak buahku di sana memperlakukan Papa-mu yang sudah tua itu."Pintu tertutup dengan dentuman keras, meninggalkan Kania sendirian dalam keheningan yang menyesakkan. Bau wangi parfum Rivan masih memenuhi udara, merasuk ke dalam pori-porinya, seolah-olah menandai bahwa mulai detik ini, identitasnya telah terhapus.Kania menatap nanar ke arah dokumen itu. Jemarinya meraih pinggiran selimut, mencoba mencari perlindungan yang mustahil didapat. Dia melihat
Rasa dingin itu merayap perlahan dari ujung kaki, menelusuri betis, hingga berhenti tepat di perut bawah yang terasa kosong. Kania tersentak, kelopak matanya yang terasa seberat timah dipaksa terbuka. Cahaya lampu gantung kristal yang temaram di atas sana membuat kepalanya langsung berdenyut nyeri, seolah-olah ada ribuan jarum yang sengaja ditancapkan di pelipisnya secara bersamaan. Dia mencoba menggerakkan lengannya, tetapi tekstur kain yang bersentuhan dengan kulitnya terasa asing. Terlalu halus, terlalu mahal, dan di balik selimut sutra berwarna abu-abu arang itu, Kania menyadari satu hal yang membuat darahnya mendadak membeku, dia benar-benar terbaring tanpa sehelai benang pun ."Oh, astaga ... tidak, tidak, tidak ….""Kamu sudah bangun?"Suara itu rendah, berat, dan datang dari sudut ruangan yang gelap. Kania merentangkan selimut setinggi mungkin, menutupi dadanya yang naik-turun dengan cepat. Di sana, di sebuah kursi kulit bergaya industrial, seorang pria duduk dengan santai s







