Home / Romansa / OBSESI sang Berondong HYPER / KR 6. Intimidasi Rivan

Share

KR 6. Intimidasi Rivan

Author: Ziya_Khan21
last update publish date: 2026-04-17 16:00:37

"Nah, karena tim finansial yang paling terdampak oleh krisis ini, saya ingin Ibu Kania sebagai kepala manajer finansial kita memberikan laporan singkatnya. Kania, silakan!" Pak Baskoro menunjuk dengan penuh bangga.

Kania menelan ludah. Dia dipaksa berdiri di bawah sorotan lampu dan tatapan predator suaminya sendiri. 

Tubuhnya terasa berat saat dia berjalan ke arah layar proyektor, melewati kursi Rivan yang hanya berjarak beberapa senti darinya. Aroma parfum musk dan kayu cendana yang dia hafal benar itu kembali menyerang indra penciumannya, memicu kilasan memori tentang malam-malam penuh paksaan di vila kemarin.

"Baik ... selamat pagi, Pak Rivan. Saya ... saya akan memaparkan kondisi terakhir keuangan kami." Suara Kania sedikit bergetar, tetapi dia mencoba menjaga suaranya tetap formal.

Selama sepuluh menit Kania bicara, Rivan tidak memperhatikan angka-angka di layar sama sekali. Matanya terus menjelajahi wajah Kania, tangannya memutar-mutar pena hitam dengan gerakan santai yang mengintimidasi. 

Sesekali, Rivan sengaja menyesap kopinya sambil terus mengunci pandangan pada mata Kania yang tampak menghindari tatapannya.

"Interupsi sedikit, Ibu Kania." Rivan bersuara tiba-tiba. Suasana rapat langsung sunyi senyap.

"Iya, Pak?"

"Angka pengeluaran untuk 'operasional khusus' ini ... terlihat sangat berantakan. Mirip seperti orang yang tidak punya kontrol atas hidupnya sendiri. Kamu yakin bisa membereskannya dalam seminggu? Atau saya harus turun tangan secara ... privat?"

Ruangan itu menjadi sangat canggung. Pak Baskoro berdehem, sedikit bingung dengan pemilihan kata sang investor muda. "Ah, Pak Rivan, Kania ini manajer terbaik kami. Saya yakin beliau—"

"Saya ingin dengar jawaban dari Ibu Kania langsung. Bukan dari orang lain," potong Rivan dengan nada dingin yang membuat atmosfer ruangan drop hingga beberapa derajat.

Kania merasakan tangannya yang memegang laser pointer mulai berkeringat dingin. Kalimat 'privat' itu bukan sekadar kiasan bisnis. Itu adalah ancaman. "Saya ... saya akan pastikan semuanya beres dalam seminggu, Pak Rivan. Saya akan bekerja keras."

"Bagus. Saya suka dedikasi. Tapi saya tidak suka pekerjaan yang dibawa pulang ke rumah sendirian. Mungkin besok kita bisa membahas ini lagi, sambil makan malam. Bagaimana menurutmu, Sayang?"

Seketika itu juga, bunyi napas tertahan terdengar dari seluruh peserta rapat. Shinta sampai hampir tersedak ludahnya sendiri. Panggilan 'Sayang' itu terasa seperti ledakan granat di tengah-tengah percakapan formal.

"Sayang?" Pak Baskoro bertanya, bingung luar biasa.

Rivan tertawa ringan, sebuah tawa yang terdengar sangat santai, tetapi mematikan. "Oh, maaf. Maksud saya, Ibu Kania sayang sekali kalau potensi cerdas ini hanya dihabiskan di belakang meja. Begitu, kan, Pak Baskoro?"

"Oh! Ahahaha, iya, iya! Pak Rivan ini bercandaannya tinggi juga, ya." Pak Baskoro tertawa canggung, berusaha mencairkan suasana meski ketegangan di antara Rivan dan Kania bisa dipotong dengan pisau silet.

Rapat berlanjut selama satu jam penuh penderitaan bagi Kania. Setiap kali dia bicara, Rivan memberikan kritik tajam atau komentar yang mengandung makna ganda yang hanya bisa dipahami oleh mereka berdua. 

Kania merasa identitasnya dipreteli satu per satu di depan rekan-rekan kerjanya. Pria itu benar-benar ingin mengisolasinya secara mental sebelum fisik.

Setelah rapat berakhir dan semua orang mulai keluar dengan kasak-kusuk tentang si 'investor ganteng yang agresif', Kania bergegas merapikan laptopnya. Dia ingin lari sejauh mungkin.

"Kania, tinggal sebentar. Saya ada yang ingin diklarifikasi secara mendalam mengenai dokumen aslinya." Suara Rivan yang otoriter membuat Kania terpaku di tempatnya.

Pak Baskoro menoleh. "Oh, silakan Pak Rivan. Silakan gunakan ruang ini. Kania, bantu Pak Rivan sebaik-baiknya, ya!" Sang bos melambai kecil lalu keluar bersama Shinta yang memberi tatapan good luck pada Kania.

Klik.

Pintu rapat ditutup dan dikunci dari dalam oleh Rivan. Keheningan di ruangan itu terasa menyesakkan. Kania tidak berbalik, dia tetap menghadap ke meja rapat, bahunya sedikit gemetar.

"Rivan, kumohon ... ini tempat kerjaku. Jangan lakukan ini di sini," bisik Kania lirih.

Langkah kaki Rivan yang pelan terdengar mendekat di atas karpet mahal itu. Tiba-tiba, sebuah tangan besar melingkar di pinggang Kania dari belakang, menarik punggung wanita itu agar menempel ke dadanya yang bidang. 

Kania terkesiap, mencoba memberontak, tetapi cengkeraman Rivan terlalu solid.

"Kamu pikir dengan bekerja lagi, kamu bisa sembunyi dariku?" Rivan membisikkan kata-katanya tepat di samping telinga Kania, sementara tangannya yang bebas menelusuri leher Kania yang terbalut kain sutra. 

"Aku yang membeli gedung ini pagi tadi lewat perusahaan cangkangku, Kania. Kamu mau lari ke lantai berapa? Semuanya milikku."

"Kamu tidak punya hak untuk menghancurkan karirku juga! Aku sudah memberikan apa pun yang kamu mau kemarin!" Kania berbalik dengan amarah yang meledak, menatap tajam pria itu dengan air mata yang menggenang.

"Hak?" Rivan tersenyum sinis, wajahnya mendekat hingga hidung mereka bersentuhan. "Kania, setelah apa yang kita lakukan semalam di pulau itu ... kata 'hak' sudah tidak ada artinya lagi di antara kita. Aku adalah hakmu satu-satunya."

Tangan Rivan naik, menjepit dagu Kania dengan ibu jarinya, memaksa Kania menatap matanya yang gelap dan penuh obsesi. "Dan tentang Bram ... polisi sudah menutup kasusnya sebagai kecelakaan overdosis murni. Dia sudah hilang selamanya dari duniamu. Tidak ada lagi yang menghalangi kita."

"Kamu pembunuh, Rivan!"

"Aku seorang pembersih. Aku membuang sampah yang menyakitimu." Rivan menggerakkan tangannya ke pinggang Kania, mengangkat tubuh wanita itu hingga terduduk di atas meja rapat yang dingin. Kania memekik kecil, mencoba menahan roknya yang sedikit tersingkap.

"Rivan, nanti ada yang masuk! CCTV ... di sana ada CCTV!"

"CCTV sudah dimatikan sejak lima menit yang lalu. Hanya kita berdua di dunia ini, Istriku." Rivan mencengkeram kedua paha Kania, menariknya lebih dekat hingga posisi mereka benar-benar intim. "Aku tidak tahan melihatmu memakai baju tertutup begini di depan pria-pria tua itu. Rasanya aku ingin merobeknya saat ini juga."

Wajah Kania memerah, napasnya mulai terengah antara ketakutan dan dorongan fisik yang sulit dia kendalikan sejak dikonsumsi oleh permainan liar Rivan selama tiga hari terakhir. "Tolong ... biarkan aku pulang dulu. Kita bicarakan ini nanti malam."

"Pulang? Kita belum selesai dengan rapat finansial kita, bukan?" Jari-jari Rivan mulai bermain di kancing paling bawah turtleneck Kania, melepaskannya perlahan sambil matanya terus menatap mata Kania dengan intensitas yang meluluhkan.

"Rivan …."

"Kania, aku ingin kamu tahu satu hal." Rivan berhenti sejenak, bibirnya nyaris menyentuh bibir Kania. "Setiap orang yang tadi berani menatapmu terlalu lama di rapat tadi ... aku sudah menyiapkan berkas pemecatan mereka besok pagi. Kecuali jika kamu menunjukkan sesuatu padaku sekarang ... sesuatu yang membuktikan bahwa kamu hanya mau ditatap olehku."

Kania tersentak ngeri. Dia memikirkan teman-temannya, nasib ribuan karyawan yang mungkin terancam karena kegilaan pria ini. 

"Jangan ... jangan libatkan mereka. Mereka tidak tahu apa-apa!"

"Kalau begitu, lupakan mereka. Pikirkan hanya aku. Hanya Rivan."

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (10)
goodnovel comment avatar
AlbyMalik
astagaaaaa apaa sih si rivan ini
goodnovel comment avatar
Bintang Ihsan
rivan makin tidak karuan , cuma memandangi kania saja mau dipecat
goodnovel comment avatar
bian cilla
kejam banget Rivan bikin Kania menderita dirumah dkantor bener2 seperti di penjara gak bisa nafas kania
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • OBSESI sang Berondong HYPER    KR 144. Rumah yang Ditemukan

    Profesor Surya berjalan perlahan menuju pintu ruang reaktor. Tidak ada yang menghentikannya, tidak ada yang memanggil namanya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tampak tahu ke mana ia harus melangkah—bukan menuju penemuan, bukan mengejar obsesi, bukan mencari keabadian, melainkan menuju akhir dari segalanya.Di layar utama, angka proses terus bergerak naik:79%80%81%Namun Surya tidak terburu-buru. Langkahnya tenang, meski terasa sangat lelah—persis seperti seseorang yang telah memikul beban terlalu berat selama bertahun-tahun dan akhirnya siap melepaskannya. Sesampainya di depan pintu, ia berhenti dan menoleh perlahan, menatap satu per satu orang yang ada di ruangan: Raka, Armand, Bu Ratih, Rayhan, Kelia, Kania, hingga akhirnya pandangannya berhenti pada Rivan.“Aku menghabiskan seluruh hidupku berusaha mengalahkan kematian,” ucapnya pelan namun terdengar jelas oleh semua orang. “Aku pikir jika aku bisa memahami manusia, aku bisa memperbaiki segalanya.”Sebuah senyum pahit

  • OBSESI sang Berondong HYPER    KR 143. Penyelamat

    Seluruh ruang inti seketika menjadi sunyi. Bukan karena bahaya yang mengancam, bukan karena mesin Elysium yang terus berjalan, dan bukan pula karena angka di layar yang terus bertambah—melainkan hanya karena satu pertanyaan sederhana.“Surya, apakah kau masih ingat siapa orang yang pertama kali menyelamatkanmu?”Untuk pertama kalinya malam itu, Profesor Surya tidak langsung menjawab. Ia tidak tersenyum mengejek, tidak memutar kata-kata, dan tidak mencoba mengalihkan pembicaraan. Ia hanya terdiam. Dan reaksi itu sudah cukup membuat semua orang sadar—pertanyaan itu tepat mengenai sasaran.Angka di layar terus bergerak naik:50%51%52%Namun tidak ada satu pun yang memperhatikannya. Semua pandangan tertuju pada pria tua yang selama ini terlihat tak tergoyahkan dan penuh keyakinan. Kini, untuk pertama kalinya, terlihat sisi rapuh yang tersembunyi di balik wajahnya.“Kau sudah lupa,” kata Bu Ratih dengan nada lembut, persis seperti seorang guru yang sedang menegur muridnya, bukan seperti

  • OBSESI sang Berondong HYPER    KR 142. Orang yang Pergi Dulu

    Angka di layar terus bergerak naik tanpa henti:34%35%36%Mesin Elysium berjalan terus, seolah tidak peduli pada ketakutan, kepanikan, atau siapa yang akan kehilangan segalanya—persis seperti obsesi yang selama ini tidak pernah berhenti berkembang.Beberapa detik berlalu dalam keheningan. Semua orang memikirkan hal yang sama: jika inti sistem harus dihancurkan, maka seseorang harus tetap tinggal di sana. Dan mereka semua tahu siapa yang paling mungkin mengambil keputusan itu.“Kak…” panggil Rivan dengan suara rendah.“Tidak.”Jawaban Raka datang begitu cepat dan tegas, seolah ia sudah tahu apa yang ingin dikatakan adiknya bahkan sebelum kalimat itu keluar.“Aku belum bicara apa-apa.”“Tetap saja tidak.”Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu kembali, nada bicara Raka terdengar marah. “Kau tidak akan menjadi orang yang tinggal di sini.”Keheningan kembali menyelimuti ruangan. Tidak ada yang membantah, karena mereka semua sadar—Raka sudah membaca pikiran Rivan dengan tepat.“Kau s

  • OBSESI sang Berondong HYPER    KR 141. Pengganti

    Tidak ada yang langsung memahami makna kalimat itu, namun reaksi Raka sudah cukup menjelaskan segalanya. Pria itu tampak seolah baru mendengar mimpi buruk yang selama ini berusaha keras ia cegah.“Aku tidak pernah mencari penerus. Aku hanya mencari pengganti.”“Rayhan!” panggil Raka dengan nada tegang. “Matikan sistemnya sekarang!”“Sedang kucoba.”Rayhan segera berlari ke panel utama, jemarinya bergerak cepat menelusuri layar dan memasukkan rangkaian kode. Namun hanya dalam hitungan detik, ekspresinya berubah menjadi gelisah.“Tidak bisa. Dia sudah mengunci semuanya dari inti sistem.”Darah seketika terasa dingin di sekujur tubuh mereka.“Apa yang sedang dipindahkan?” tanya Rivan.Suaranya terdengar tenang, bahkan tidak ada nada panik di dalamnya—justru itulah yang membuat suasana terasa semakin berat, karena jelas ia sedang memaksakan diri untuk tetap berpikir jernih.Profesor Surya menatapnya lama, lalu tersenyum tipis. “Akhirnya kau mengajukan pertanyaan yang tepat.”Raka melangk

  • OBSESI sang Berondong HYPER    KR 140. Mencari Pengganti

    Tidak ada yang menjawab, tidak ada yang bergerak. Kalimat Profesor Surya bukan sekadar pertanyaan, melainkan sebuah ancaman yang menyentuh inti rahasia terbesar.“Bagaimana kalau aku jelaskan mengapa hanya Rivan yang bisa bertahan hidup, sementara semua subjek lain meninggal atau hancur?”Dan untuk pertama kalinya, Kania melihat sesuatu yang baru—ketakutan yang terlihat jelas di wajah Raka, bukan karena bahaya yang mengancam dirinya sendiri, melainkan karena apa yang akan diungkapkan tentang Rivan.“Diam.”Suara Raka terdengar sangat dingin dan tegas.Surya hanya tersenyum tipis, namun kali ini senyum itu tidak sampai ke matanya. Ia tahu persis bahwa ia baru saja menyentuh luka yang selama ini ditutup rapat oleh semua orang.“Kau takut?” gumamnya sambil menatap Raka.“Aku tidak takut, aku hanya muak melihat permainanmu,” jawab Raka cepat.“Kalau begitu, mengapa selama ini kau tidak pernah menceritakannya padanya?”Kalimat itu membuat seluruh ruangan membeku. Surya benar—Raka tahu kebe

  • OBSESI sang Berondong HYPER    KR 139. Sang Penyelamat

    Tidak ada yang bergerak, tidak ada yang bersuara. Kalimat terakhir yang diucapkan Armand menggantung di udara, terasa begitu berat dan sulit untuk diterima. “Ceritakan padanya siapa yang sebenarnya menyelamatkannya pada malam kebakaran itu.” Semua pandangan langsung tertuju pada Raka—Kania, Rayhan, Kelia, bahkan Rivan sendiri. Dan untuk pertama kalinya sejak mereka tiba di ruang inti, Raka terlihat seperti seseorang yang ingin menghindari menjawab sebuah pertanyaan. “Kak…” Suara Rivan terdengar pelan, namun cukup untuk membuat suasana menjadi semakin sunyi. “Apa maksudnya?” Raka memejamkan matanya lama, seolah sedang kembali menelusuri kenangan malam yang telah menghantuinya selama sepuluh tahun: malam yang dipenuhi asap tebal, kobaran api, suara jeritan, dan sebuah pilihan berat yang seharusnya tidak dipikul oleh siapa pun. “Kak?” panggil Rivan lagi, kali ini nadanya terdengar lebih dalam dan menyimpan luka. Akhirnya Raka membuka matanya dan mengembuskan napas panjang. “Orang

  • OBSESI sang Berondong HYPER    KR 53. Menikmati Kekacauan

    Rivan menatapnya dalam diam selama beberapa detik sebelum tangannya turun ke pinggang Kania. Sentuhannya tidak kasar, namun penuh penekanan kepemilikan yang mutlak. “Kau lelah,” ucap Rivan. Itu bukan pertanyaan, melainkan sebuah pernyataan yang tepat sasaran.

  • OBSESI sang Berondong HYPER    KR 44. Terima Kenyataan

     Ruangan itu masih terasa hangat. Namun bukan hanya karena suhu udara, melainkan sisa-sisa ketegangan yang belum sepenuhnya mereda. Kania masih berbaring di atas tempat tidur. Napasnya belum sepenuhnya stabil, tatapannya kosong menatap langit-langit, namun pikirannya bekerja k

  • OBSESI sang Berondong HYPER    KR 40. Dia juga Menginginkanmu

    Keheningan kembali menyelimuti ruangan. Namun, bukan kedamaian yang terasa, melainkan tekanan yang mencekik. Udara terasa makin berat seolah-olah oksigen di dalamnya perlahan menghilang. Layar komunikasi sudah gelap kembali. Namun bayangan wajah penuh bekas luka it

  • OBSESI sang Berondong HYPER    KR 37. Jerat Rivan

    "Memang benar." Rivan mengangguk tenang. "Namun hal itu sudah lebih dari cukup untuk memastikan posisimu." Suara dengungan helikopter kini terdengar persis di atas atap bangunan. Sorotan cahaya putih menyapu tembok-tembok tua, menerobos masuk lewat jendela yang pecah. Mencari

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status