LOGIN“Mas mau mandi mau aku siapkan air hangat?” Nah Ica sudah mulai melancarkan aksinya. Bukannya menerima begitu saja kebaikan hati Ica, Saka malah menatap aneh padanya. “Kamu kenapa?” tanyanya sambil mengulurkan tangan menyentuh dahi Ica. “Nggak demam.” “Ih… aku nawarin mas yang mandi air hangat, ini sudah mau malam.” Ini nih yang bikin Ica gondok. Diperhatikan bukannya terima saja dengan senang hati, suaminya malah menatapnya seolah Ica baru saja kerasukan. Padahal sejak dulu dia juga orangnya baik dan perhatian. Ica melirik jam dinding di ruang tengah, sudah menunjukkan pukul lima lewat. Bahkan bu Mirah sudah kembali ke rumah kecil yang dibangun Saka untuk mereka. Saka yang biasanya siang sudah sampai rumah, karena tadi ada sedikit masalah soal panen petainya terpaksa ke kebun lagi untuk memeriksa, tapi jam segini baru pulang. Memang sih lama-lama dia sudah terbiasa dengan keadaan rumah ini, dan tak takut lagi meski di rumah sendiri, kalau siang hari tapi. “Ini baru mau magr
“Udah bener setelah nikah kamu harusnya bikin anak banyak-banyak, Ca. jangan pikirin yang lain.” Inginnya sih Ica curhat pada orang terpercaya, yang sudah nikah dan tidak akan mengomelinya. Meski syarat pertama terpenuhi, Syarat kedua jelas enggak banget. Ica tahu itu, tapi bodohnya dia tetap saja menelpon dan menceitakan semua ganjalan di hatinya. Temannya memang seuprit dan hanya satu dua orang saja yang bisa dikatakan dekat, tapi yang selalu dia jadikan tong sampah ya Cuma Tata, meski kadang bukan solusi yang dia dapatkan justru malah tambah kesal. “Anak apaan sih aku masih muda, dan masih sibuk skripsi.” “Ya Tuhan yang maha besar. Kok ada wanita dodol kayak kamu ini!!!” Tuh dengerin siapa juga yang nggak godok, belum-belum dia sudah mendapat omelan. Padahal ya Tata saja macaran masih putus nyambung sok sokan nasehatin Ica supaya punya anak banyak. Mulai bikin saja belum. “Ckkk….Ya kan aku nggak mau terlalu tergantung sama suami, kalau nanti ada apa-apa aku masih punya m
“Memangnya mas nggak cemburu? Atau marah?” “Pada siapa?” tanya Saka tenang. Sejak tadi pertanyaan itu sudah ingin Ica katakan tapi dia tidak ingin membuat keributan di kamar rawat Adri. Malu. Jadi sekaranglah saatnya dia mencecar suaminya. oh tidak kalau perlu dia akan mengintrogasinya. Ica hanya tahu Sedikiiit tentang masa lalu suaminya, itupun hanya sepotong-potong dan kebanyakan bukan dari mulut Saka sendiri dan menurut Ica inilah waktu yang tepat saat mereka dalam perjalanan ke hotel tempat mereka menginap dengan Saka yang kembali memegang kemudi. Setelah dari rumah sakit, Saka memang mengajari Ica menyetir sebentar, tentu saja dengan memilih jalanan yang tidak terlalu ramai. Meski agak canggung awalnya tapi Saka ternyata guru yang baik dan telaten, Ica jadi cepat belajar. Meski hanya berani dengan kecepatan empat puluh kilometer per jam. Tapi bagi orang kayak Ica itu merupakan prestasi tersendiri. “Ya pada mbak Sita.” “Buat apa?” Ica rasanya ingin menggetok kepala pria d
Saka dan Ica harus menunggu satu jam untuk mendapatkan pesanan buah tangan mereka. Ada buah dan juga cemilan kesukaan anak bu Mirah yang tentu saja dibeli setahu Saka. Semoga saja nggak salah sih. “Mbak Farah apa sudah ada di sana ya, mas?” tanya Ica penasaran, dia kebagian menenteng tas berisi camilan sedangkan suaminya membawa parcel buah dan juga tas berisi nasi box yang dipesan Saka tadi. Ica sih sudah menawarkan diri untuk membawakan nasi box itu, karena parcel yang mereka beli cukup besar dan pastinya berat, tapi Saka dengan santainya bilang “Kamu bawa camilan saja, nanti nasinya habis kalau kamu yang bawa.” Ih menyebalkan!! Padahal tadi Ica Cuma icip dikiiiit banget lho. soalnya bau harum masakan membuatnya lapar lagi, lagian mereka beli enam box dan di sana hanya ada tiga orang jadi sisanya bisa untuknya. “Maaf.” “Maksudnya?” tanya Ica gagal paham kenapa suaminya tiba-tiba minta maaf dia tanya tentang Farah lho. “Dia ngatain kamu, kamu pasti sakit hati.” Ica mengang
“Kamu ingat nggak, Ka. Dulu kita sering ke kota saat bolos sekolah dan kita gantian nyetir motor.” “Iya,” jawab Saka singkat. “Warung yang dulu kita sering singgah masih ada nggak ya, Ka?” “Kamu kan sering lewat sana, masak tidak tahu.” Farah memang akhirnya menyetir mobil Ica, dengan Ica yang duduk di kursi belakang, sambil kakinya dia selonjorkan di atas pangkuan Saka. Ini Saka sendiri yang minta lho, Ica sudah berusaha menolak tapi suaminya itu ternyata keras kepala juga kalau sudah mau. Ica akhirnya menurut, tapi dia senang juga sih melihat reaksi Farah. Disuruh nyetiri, dipaksa melihat Saka yang begitu perhatian memijat pelan kaki Ica bahkan meniup lukanya tadi meski kaki Ica sudah tidak sakit lagi, tapi kapan lagi suaminya yang kayak kulkas berjalan ini bisa perhatian padanya. Kalau Farah marah lalu mengamuk, tentu Ica akan sangat senang, tapi wanita itu punya cara paling licik untuk melampiaskan rasa marahnya. Apalagi kalau membicarakan kenangan mereka berdua. Ica? Y
“Kamu kan tahu, Ka. Aku mabuk kalau duduk di belakang.” Ica menatap sang suami sambil menaikkan alisnya. Bisa-bisanya ya nih wewe gombel mengatakan hal itu sudah numpang merepotkan lagi. Ica sih sama sekali nggak ngajak ya, Saka juga tidak, suaminya itu hanya mengatakan dengan jujur kalau mereka akan ke kota kecamatan untuk menjenguk anak bu Mirah dan dengan tak tahu malunya Farah bilang ingin ikut sekian mereka bisa makan makanan buatannya di sana. Sebenarnya bukan masalah bagi Ica asal wanita itu tidak bersikap genit pada suaminya dan menganggapnya tak kasat mata. “Tanya saja, Ica. Dia yang punya mobil.”“Lho pak Tarso bilang kamu beli cas di dealernya.” “Aku beli untuk Ica,” jawab Saka kalem, sambil menatap sang istri yang sudah menatapnya geram tapi seperti biasa, pria itu kan tidak peka. “Ya berarti ini mobil kamu wong kamu yang bayar,” jawab Farah ngeyel. Ica masih berdiri memperhatikan dua orang itu. “Boleh,” jawab ica kalem.“Mas pergi saja sama mbak Farah aku nanti
Tadi malam ibu meluk Ica sambil nangis. Lamaaa banget. Ica mengira ibu kesurupan. Siapa tahu kan, aura negatif yang tadi dibawa Adam menarik para mahluk halus ke kamarnya hiiiii Mana Haji Jali, kyai dan sesepuh yang biasa ngobati orang kesurupan pasti sudah tidur jam segini dan orang-orang pas
Benar kata orang zaman dahulu, calon pengantin memang pamali bepergian yang tidak perlu takutnya ketemu setan. Ica baru saja membuktikannya. Harusnya dia menuruti omongan ibu buat ke salon mempercantik diri, bukannya nongkrong di café. Padahal Ica sudah mau menyingkir lho meski sambil ngomel dan
Gara-gara insiden isi nagasari tadi siang, Ica dihukum ibu tidak boleh keluar kamar. Padahal itu bukan salah Ica. Dia hanya menjawab apa yang mereka tanyakan, kalau pikiran mereka kemana-mana, Ica kan nggak bisa mencegah. Ica sih sudah berusaha membela diri di depan ibu bahkan sudah mengadu pada
Sepanjang jalan pulang, bapak hanya bungkam. Ica makin takut saja. Ica memang tidak mau dianggap anak durhaka, tapi dia bukan anak yang nurut-nurut banget apalagi kalau sudah penasaran tingkat dewa begini. Begitu selesai memarkirkan motornya bapak langsung buru-buru turun dan masuk ke dalam rumah







