تسجيل الدخول“Aku lapar!! Kok nggak ada acara penyambutan!! Kan aku sudah bilang mau datanggg!!!” Dengarlah suara tamu tidak tahu diri itu. Mana ada tamu yang teriak-teriak minta makan seperti itu. “Siapa suruh datang kesini!” “Hei!!! Jangan durhaka ya, aku sudah bela-belain datang sambil membawa karung besar, sambutanmu malah tidak mengenakkan begini.” Ica mentap karung besar yang diangkat pak Sarmin dari dalam bagasi. Karung itu memang besar sekali dan terlihat penuh, tapi ica tak tahu apa isinya. Pengalamannya mengatakan jangan terlalu berharap pada temannya ini, karena Tata pernah memberinya kado kotak besar sekali, tapi begitu dibuka isinya satu bros kecil yang nyempil di pojokan yang ditahan dengan selotip. Benar-benar teman tak berperasaan. “Jangan lihat harganya dong, Ca. tapi lihat dari ketulusannya.” Prettt!!! Itu sih bisa-bisanya si Tata saja, niat banget ngerjain Ica.“Kamu mau mulung di sini?” tanya Ica sadis. Siapa juga orang yang mau bertamu jauh-jauh bawa karung jelek kay
Ica tidak menyangka berita kehamilannya ternyata sudah didengar ibu dan bapaknya, bahkan mertuanya yang masih harus rutin kontrol ke rumah sakit juga ikut datang. Saat datang tadi Ica kaget dengan rumah yang ramai, dan begitu dia masuk dengan dipapah Saka. Ibu langsung memeluknya dan mengusap perut Ica yang masih rata. “Kok pada tahu kalau ica hamil?” tanya ica pada semua orang yang ada di sana, lalu dia menoleh pada suaminya yang tersenyum lebar. “Mas yang kasih tahu?” Yah siapa lagi. Pasti saat dia ngomong sama Adam tadi Saka mengirim pesan pada keluarganya. Pantas saja pak Sarmin tadi juga tidak kaget saat melihat ica duduk di kursi roda padahal saat datang tadi yang sakit Saka. “Iya, berita baik seperti ini mana boleh kami lewatkan,” kata ibu dengan wajah sumringah bapak yang tak mau kalah juga langsung memeluk dan mencium pipinya seperti saat ica masih duduk di bangku SMP dulu. “Jaga baik-baik, Ca, mulai sekarang jangan lasak ingat di dalam perutmu ada cucu bapak.” “Padaha
“Kamu bisa ngobrol dengan temanmu dulu, mas ambil obat sebentar.” Ica lupa kalau suaminya ini orang paling logis dan nggak peka yang pernah dia temui di dunia ini. bahkan dengan mantan istri yang jelas-jelas berkhianat saja Saka masih tetap baik bahkan memberinya pekerjaan. Saka bukannya tidak tahu kalau Adam adalah mantan calon suami yang membatalkan pernikahan dengannya. Meski tidak saling sapa, tapi hari ini Saka pasti masih mengenali Adam, juga kata-kata penuh hinaan ibu pria itu untuknya. Tapi bukannya marah saat Adam tiba-tiba marah padanya karena melihat Ica menangis. Saka hanya menatapnya lembut mengusap air matanya dan mengusap rambutnya. Gestur yang sering dilakukan Saka untuk menenangkannya. Apa Saka tidak cemburu pada Adam? Seperti Ica yang marah ketika Saka bersama mantan istrinya atau Farah? Ica menatap suaminya yang berjalan tenang ke tempat pengambilan obat, jaraknya memang tidak sampai lima meter dari tempat praktek bidan tempat ica sekarang berada tapi entah me
Kali ini Ica percaya kalau masa depan itu tak bisa diprediksi bahkan satu detik setelahnya. Bagaimana tidak percaya jika kurang dari sepuluh menit yang lalu dia masih menggandeng suaminya yang bertubuh lemas masuk ke dalam ruang rawat dokter, saat mereka keluar gantian Ica yang digandeng suaminya karena shock. Ica sendiri heran kok bisa suaminya yang tadi lemas dan mengeluh pusing tiba-tiba sehat, bahkan dokter hanya meresepkan vitamin untuk Saka, lalu bilang, “Nanti juga bapak akan sembuh, penyakit itu datang dari hati kalau hati senang penyakitnya juga ilang,” sambil tertawa lebar. Tahu begitu ngapain juga mereka dari tadi antri untuk periksa. “Kamu duduk dulu, Ca. Nunggu di sini,” kata Saka setelah mereka ada sampai di kursi tunggu yang tadi mereka duduki. “Kok di sini, kata dokter ruang kebidanan ada di bagian depan?!” “Ya itu makanya jauh, kamu tunggu di sini.” “Hah!! Jauh dari mana coba. Tadi kita juga lewatian pas mau ke sini aku baca tulisannya.” “Sudah kamu t
“Orang gila,” gumam Ica pelan tapi gumaman penuh emosi itu nyatanya terdengar juga oleh suaminya. Mereka sedang antri untuk masuk ke ruang periksa dokter umum. Setelah mendaftar tadi dia buru-buru kembali ke tempat suaminya menunggu dan mereka diarahkan untuk menunggu lagi di depan praktik dokter umum yang antriannya mengular. “Apa Ca?” tanya Saka masih tetap mempertahankan wajah tenangnya meski Ica yakin tuh kepala pasti sudah pusing banget. Ica menoleh sadar kalau sang suami pasti mendengar gumamannya. “Oh tidak ada. Apa kepala mas masih pusing?” tanyanya meletakkan ponsel yang sejak tadi dia pegang. Kebiasaannya memang jika disuruh menunggu seperti ini Ica akan menghabiskan waktu dengan menscroll medsos atau menonton drakor, tapi karena Saka, dengan otoritasnya sebagai suami Ica. Melarang wanita itu dengan keras untuk bermain sosmed! Maka sebagai istri yang baik, Ica jarang bermain scroll sosmed apalagi kalau ada suaminya. Jadi sekarang yang bisa dia lakukan adalah nonton
Termometer, obat penurun panas, obat sakit kepala. Fix. Ica akan mengingatnya dengan baik supaya lain kali bisa dia taruh di kotak obat. Rumah mereka ada di pelosok, jauh dari puskesmas maupun rumah sakit, Ica tak mau mengambil resiko terjadi seperti ini lagi. “Sejak tadi mas Saka memang jadi lebih pendiam, mbak. Tapi sama sekali tidak mengeluh sakit,” kata Pak Sarmin sambil sesekali melirik Ica yang sedang memeluk Saka di kursi belakang. Tubuh pria itu memang dingin sekali dan mengatakan kepalanya pusing. Semula dia menolak saat Ica mengajaknya ke puskesmas, katanya takut suntik, tapi Ica bisa sangat kerasa kepala jika dia mau. “Sakitnya tadai tak terlalu terasa, baru terasa saat sampai di rumah.” “Itu karena di luar rumah mas malu kelihatan sakit,” omel Ica. “Iya.” “Iya apa?” “Aku salah,” gumam pria itu dan kembali menyandarkan kepalanya di bahu Ica. Ica hanya mampu menghela napas, kalau sudah ngomong maaf begini dia mau marah juga malah seperti orang gila, pad
Tadi malam ibu meluk Ica sambil nangis. Lamaaa banget. Ica mengira ibu kesurupan. Siapa tahu kan, aura negatif yang tadi dibawa Adam menarik para mahluk halus ke kamarnya hiiiii Mana Haji Jali, kyai dan sesepuh yang biasa ngobati orang kesurupan pasti sudah tidur jam segini dan orang-orang pas
Benar kata orang zaman dahulu, calon pengantin memang pamali bepergian yang tidak perlu takutnya ketemu setan. Ica baru saja membuktikannya. Harusnya dia menuruti omongan ibu buat ke salon mempercantik diri, bukannya nongkrong di café. Padahal Ica sudah mau menyingkir lho meski sambil ngomel dan
Ica sih bukan cewek yang matre-matre amat ya. Dia hanya coba realistis. “Gini lho, Ca. Soal biaya pesta, bapak tidak masalah. Ini memang sudah keinginan bapak dan ibu mengadakan pesta meriah untukmu.” Namanya Saka, begitu kata bapak setelah pria itu permisi pulang untuk mengabarkan pada keluarga
“Saya tidak perlu mengantar kalian bukan? Pintu keluarnya ada di sana.”Ica berusaha setegar mungkin mengucapkan kata-kata itu. Susah payah dia menahan air mata yang menggenang di pelupuk matanya.Cewek mana sih di dunia ini yang tidak sakit hati saat pernikahannya dibatalkan, apalagi hubungan mere







