Share

Bab 52

Penulis: Ajeng padmi
last update Tanggal publikasi: 2026-07-28 15:02:07

“Sudah pulang,” sapa Saka yang ternyata sudah pulang dari pasar.

Ica hanya mengangguk dan tersenyum singkat pada tamu yang sedang duduk di teras bersama Saka.

“Ini istrimu, Nak Saka?”

“Benar pak, namanya Ica.”

Dengan ramah Ica menyodorkan tangannya, tapi pria itu tak langsung menyambut uluran tangan Ica.

“Ternyata istrimu masih sangat muda.” Akhirnya tangan Ica disambut juga, tapi meski salaman pandangannya seolah enggan menatap Ica.

“Iya, Ica baru dua puluh satu tahun. Belum lulus kulia
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • OM PETANI, SUAMI PENGGANTIKU   Bab 53

    Hari ini bu Mirah punya usul makan pagi yang kesiangan bersama di gazebo belakang rumah, supaya tidak bosan katanya. Ica tahu sih bu Mirah mungkin terlalu peka saja dengan wajahnya yang sejak tadi pagi tertekuk kesal. Mana suami nggak notice lagi. “Mbak Ica suka perkedelnya?” tanya bu Mirah saat Ica mengambil dua buah perkedel sekalian. “Iya, bu, perkedel buatan ibu enak,” jawab Ica sambil tersenyum lebar. Keputusan bu Mirah memang tepat, semilir angin dan juga bunyi gemerisik dedaunan membuat suasana hati Ica yang tadinya suram jadi lebih baik. Mereka berlima duduk melingkar di atas gazebo besar yang biasanya digunakan untuk nobar Saka bersama para pegawainya. Memang tidak terlalu besar sih hanya cukup sekitar sepuluh orang tapi bagi Ica sudah terasa mewah banget. Iya mereka memang duduk melingkar berlima. Bu Mirah dan pak Sarmin duduk berhadapan dengan Ica dan Saka, sedangkan Adri duduk di ujung. Cowok yang sebentar lagi akan lulus SMA itu lebih memilih agak menjauh dari ya

  • OM PETANI, SUAMI PENGGANTIKU   Bab 52

    “Sudah pulang,” sapa Saka yang ternyata sudah pulang dari pasar. Ica hanya mengangguk dan tersenyum singkat pada tamu yang sedang duduk di teras bersama Saka. “Ini istrimu, Nak Saka?” “Benar pak, namanya Ica.” Dengan ramah Ica menyodorkan tangannya, tapi pria itu tak langsung menyambut uluran tangan Ica. “Ternyata istrimu masih sangat muda.” Akhirnya tangan Ica disambut juga, tapi meski salaman pandangannya seolah enggan menatap Ica. “Iya, Ica baru dua puluh satu tahun. Belum lulus kuliah.” “Hah!! Aku kira masih SMA.” Apa wajahnya semuda itu. “Kok kelihatannya masih labil.” Astaga ternyata pria ini sejenis dengan Saka yang suka membuat orang sebal ucapannya pantas saja mereka bisa berteman. Eh mereka teman kan? masa iya bertamu ke rumah musuh. “Saya permisi dulu buat minuman di belakang,” pamit Ica sopan, yang dijawab Saka dengan anggukan kepala tapi si tamu justru nyeletuk. “Nggak usah, paling juga yang buat bu Mirah, anak muda sepertimu mana bisa pekerjaan kayak gitu.” A

  • OM PETANI, SUAMI PENGGANTIKU   Bab 51

    “Oh ini toh yang katanya nyonya besar itu, tumben belanja di sini.” “Iya katanya nyonya besar yang apa-apa tinggal perintah, masa belanja sendiri di warung.” “Halah bukan, paling juga nggak percaya sama bu Mirah, takut uang belanjanya diembat.” Ica mengerutkan kening saat mendengar nama bu Mirah di sebut-sebut. Tadi saat ibu-ibu itu bergunjing dengan yang lain, Ica sama sekali tak peduli, dia hanya tersenyum ramah dan memilih jajanan yang dia inginkan, kebetulan sekali di sebelah warung sayuran ada penjual jajanan pasar. Bu Mirah tadi memang sudah bilang warung yang akan mereka datangi cukup lengkap kalau pagi. Mereka menggunjingkan dirinya? Nyonya besar? Astaga memang kapan dia bersikap seperti nyonya besar.Ica sih tidak heran lagi dengan sikap orang-orang seperti ini yang suka sekali menuduh sembarangan tanpa tahu fakta yang sebenarnya. “Mbak Ica-“ bu Mirah berbisik lirih dia merasa tak enak hati pada Ica khawatir kalau istri majikannya itu berpikir kalau dia yang mengataka

  • OM PETANI, SUAMI PENGGANTIKU   Bab 50

    Bolak-balik Ica melirik bu Mirah yang sedang membuat bumbu soto. Hari ini rencananya mereka akan membuat soto ayam, makanan favorit Saka yang lain, tentu saja itu kata bu Mirah, meski dia tidak tahu benar atau salah. Kalau Ica tanya apa makanan favorit Saka, pria itu selalu menjawab aku makan apa saja asal tidak haram dan kotor. Jawaban khas orang yang tidak mau ribet. Awas saja kalau nanti tiba-tiba bilang nggak suka makanan yang dia masak. “Mbak Ica butuh sesuatu?” Ica melongo sejenak tapi kemudian memaksakan sebuah senyum. “Enggak bu, memang kenapa?” “Oh saya kira mau ngomong sesuatu sama saya, mbak Ica sejak tadi lirik-lirik saya. Atau mbak Ica mau coba halusin bumbunya?” tanya bu Mirah sambil menyodorkan cobek dan ulekan di depannya. Ica meringis. Kenapa sih nggak ibunya nggak bu Mirah suka sekali pake ulekan untuk menghaluskan bumbu padahal sudah ada alat namanya blender atau copper yang bisa digunakan untuk menghaluskan bumbu, tanpa perlu capek-capek ngulek tinggal pen

  • OM PETANI, SUAMI PENGGANTIKU   Bab 48

    “Kok pintunya kamu kunci, Ca.” Itulah kata pertama yang dikatakan Saka begitu keluar dari kamar mandi. Sedangkan Ica hanya bisa menahan dongkol. “Lupa.” “Oh tadi aku panggil-panggil nggak bangun.” “Kan sudah tidur.” Kenapa sih Ica harus menjelaskan kayak gini, memangnya Saka nggak ngerti kalau dia ngambek karena ditinggal sendiri. “Oh aku kira marah.” Tuh tahu sebenarnya Cuma pura-pura bego saja. “Marah kenapa?” Ica menoleh saat beberapa saat Saka hanya diam tak menjawab omonganya. Pria itu mengerutkan keningnya, gestur sederhana yang Ica tahu saat suaminya itu sedang berpikir keras. Ishhh kalau sama dia saja sok-sokan nggak peka. “Karena terganggu aku nonton bola dengan pak Sarmin?” tanya pria itu dengan wajah ragu. “Suaranya nggak kedengeran dari sini,” jawab Ica datar. Ica sih memang berharap bisa pillow talk dengan suaminya setiap hari sebelum mereka tidur, tapi nggak gini juga kali modelnya. “Oh iya benar juga.” Ica maunya melengos dan gak peduli lagi pada suamin

  • OM PETANI, SUAMI PENGGANTIKU   Bab 47

    Ini sudah hampir tengah malam tapi Saka belum masuk kamar juga. Tadi setelah makan malam Ica memang masuk lebih dulu ke kamar untuk menyelesaikan skripsinya. Sedangkan Saka entah melakukan apa di luar sana, yang jelas suaminya itu masih ada di dalam rumah, setidaknya selama menjadi suaminya Saka selalu bilang kalau mau pergi kemanapun meski hanya, “Aku pergi.” Gitu saja. Tak ada cium tangan atau pelukan mesra, padahal Ica pingin lho sekali-sekali mengantar suaminya berangkat kerja. Dia cium tangan suaminya lalu dibalas cium kening lalu menyerahkan perlengkapan kerja su-Cium tangan dan cium keningnya memang romantis saat dibayangkan, tapi saat ingat Saka pergi kerja bukan bawa tas tapi bawa sabit rasanya kok agak horor. Masak iya dia harus bawa-bawa sabit buat ngejar suaminya.Ica menendang selimut dan menghambur ke arah pintu kamarnya. Kalau Saka berniat tidur larut malam lagi dia siap-siap dengan segala omelannya. Ngomongnya mau pernikahan mereka langgeng tapi dekat-dekat istr

  • OM PETANI, SUAMI PENGGANTIKU   Bab 4

    Gara-gara insiden isi nagasari tadi siang, Ica dihukum ibu tidak boleh keluar kamar. Padahal itu bukan salah Ica. Dia hanya menjawab apa yang mereka tanyakan, kalau pikiran mereka kemana-mana, Ica kan nggak bisa mencegah. Ica sih sudah berusaha membela diri di depan ibu bahkan sudah mengadu pada

  • OM PETANI, SUAMI PENGGANTIKU   Bab 3

    Sepanjang jalan pulang, bapak hanya bungkam. Ica makin takut saja. Ica memang tidak mau dianggap anak durhaka, tapi dia bukan anak yang nurut-nurut banget apalagi kalau sudah penasaran tingkat dewa begini. Begitu selesai memarkirkan motornya bapak langsung buru-buru turun dan masuk ke dalam rumah

  • OM PETANI, SUAMI PENGGANTIKU   Bab 2

    Ica sih bukan cewek yang matre-matre amat ya. Dia hanya coba realistis. “Gini lho, Ca. Soal biaya pesta, bapak tidak masalah. Ini memang sudah keinginan bapak dan ibu mengadakan pesta meriah untukmu.” Namanya Saka, begitu kata bapak setelah pria itu permisi pulang untuk mengabarkan pada keluarga

  • OM PETANI, SUAMI PENGGANTIKU   Bab 1

    “Saya tidak perlu mengantar kalian bukan? Pintu keluarnya ada di sana.”Ica berusaha setegar mungkin mengucapkan kata-kata itu. Susah payah dia menahan air mata yang menggenang di pelupuk matanya.Cewek mana sih di dunia ini yang tidak sakit hati saat pernikahannya dibatalkan, apalagi hubungan mere

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status