LOGINSora berdiri di balik pintu yang sedikit terbuka, cukup untuk melihat dari jarak jauh, tanpa memiliki niat masuk ke dalam.Di dalam, dokter sudah selesai menangani semua luka Durand. Perban bersih menutup lukanya, kondisinya mulai stabil. Sora mengamati beberapa detik lebih lama dari perkiraannya.Meski ada kebencian yang belum reda, meski sebelumnya mereka terlibat perdebatan alot dan ia berani membangkang, melihat Durand terluka seperti itu membuat hatinya cemas. Perasaan itu muncul tanpa seizinnya.Sora tidak menyukainya. Ia berjalan mundur, menutup pintu perlahan sebelum Durand menyadari keberadaannya di sana. Tak ada alasan untuknya selalu berdiri di sana.Untuk apa?Toh dokter pribadinya sudah melakukan penanganan untuknya. Lagi pula, Durand tidak membutuhkannya. Terlebih lagi, pria itu tidak pernah menyukai keberadaannya di rumah ini. Dengan pikiran seperti itu, Sora segera kembali ke kamarnya, meninggalkan ruangan itu. Sebelum benar-benar masuk ke kamarnya, Sora memandang
Sora berdiri beberapa langkah dari ranjang miliknya, lalu merenggangkan punggungnya. Tangannya ditarik ke belakang, lehernya dimiringkan ke satu sisi. Bunyi tulangnya beradu renyah, membuatnya meringis.“Ah … sial!” umpatnya kesal. Sora menekan punggung bawahnya dengan telapak tangannya. Otot-ototnya terasa kaku dan nyeri, seperti baru saja mengangkat beban berat. Meskipun memang benar itu adanya.“Berat sekali dia,” gerutunya. “Rasanya seperti membawa lemari naik tangga.”Sora kembali meregangkan otot-ototnya. Membawa Durand menaiki anak tangga barusan benar-benar menguras energinya. Sora menarik napas panjang, meluruskan tubuhnya kembali. Rasa encok itu menjalari punggungnya.Sora melangkah pelan menuju ranjangnya, lalu menjatuhkan tubuhnya di atas kasur empuknya, melepas semua bebannya tadi.Di balik keheningan kamarnya, pikirannya terus melayang pada kejadian beberapa menit yang lalu. Luka sayatan. Darah. Apa yang baru saja pria itu lakukan?Siapa yang melakukannya?Mungkin k
Durand tidak membalas. Untuk pertama kalinya Durand terdiam pada Sora—membiarkan wanita itu menyingkap sedikit kemejanya. Sora menyingkapnya. Meski ia tahu, ketika Durand membaik, konsekuensi dari keberaniannya ini akan berimbas fatal.Kemeja Durand terangkat.Sora terdiam sesaat. Darah itu meresap ke pinggang. Di sisi perut itu terdapat luka sayat yang cukup dalam, tidak menganga, tapi jelas itu bukan luka ringan. “Ini ….” Suara Sora tertahan. “Ini cukup dalam! Bagaimana bisa kau biarkan luka ini terlalu lama?”Rahang Durand mengeras. “Bukan urusanmu!” Sora kembali menutup kemeja Durand, lalu kembali menatap sekeliling ruangan. “Di mana kotak P3K?”Durand memilih tidak menjawab. Ia sangat benci dengan situasi seperti ini. Setelah ini, Sora pasti akan memandangnya lemah. Melihat Durand menutup mulut rapat membuat Sora geram dan meninggikan suaranya, “Tuan Durand!” “Aku sudah memanggil Dokter pribadiku,” katanya, suaranya begitu tenang, terlihat seperti bukan orang yang terliha
Langkah Sora terasa ringan ketika menyusuri trotoar lebar di Kutuzovsky Prospekt. Setiap bangunan terlihat megah dengan lampu kekuningan memberikan kesan kokoh dan abadi. Sora menatap barisan lampu berpaduan dengan cahaya lampu dari jendela-jendela apartemen kelas atas di sepanjang jalan. Kilauan cahaya itu membuat kerumitan di pikirannya mengurai. Ada kedamaian ketika berjalan di antara kemegahan bangunan yang berpaduan arsitektur Soviet dan sejarah Rusia yang heroik. Cahaya-cahaya itu seolah berbisik dunia tetap berputar, seberat apa pun beban yang ia rasakan. Ketenangan itu sirna ketika suara igor memanggilnya. “Nona Sora.” Suaranya penuh kecemasan.Sora menoleh. Sang sopir yang biasa bersifat profesional kini tampak gelisah. Igor mendekat dan berkata sopan, “Malam sudah mulai larut, Nona,” ucapnya sambil melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. “Tuan Durand akan marah, mari kita kembali.”Sora menghela napas panjang. Kepalanya terasa penuh hanya mendengar
Acara berjalan seperti dugaan Durand sejak awal—terlalu membosankan. Harusnya, sejak awal ia tak perlu datang.Musik mengalun pelan di balik percakapan formal. Gelas-gelas kristal beradu, senyuman tipis menjadi topeng mereka, dan setiap jabat tangan menyimpan sebuah rahasia. Para tamu saling berbasa-basi, saling bertukar pandang menurut sudut pandang mereka. Akhirnya, Durand berdiri di tengah kerumunan. Wajahnya dingin, tanpa ekspresi. Di tempat seperti ini, bahaya muncul dari wajah tersenyum.Durand berjalan lurus menuju pintu keluar.Namun, suasana mendadak berubah ketika seseorang lain muncul dari kerumunan. Tubuh besar, aura gelap, dan senyuman seperti sayatan tajam.Leonid.Seorang rival lama Durand yang seharusnya jauh dari wilayah ini.Leonid mendekat, tanpa izin ia menepuk pundaknya, terlihat sedikit akrab. “Durand. Tidak kusangka kau muncul. Kupikir kau terlalu sibuk memadamkan api di wilayahmu.”Durand menatapnya datar, tidak tersenyum sedikitpun. Matanya melirik sejenak
Tak lama kemudian, seorang wanita anggun, tangan kanan salah satu kartel Eropa mendekat sambil mengangkat segelas anggur.Dia adalah Valeria.Penampilannya selalu berhasil menarik perhatian para pemimpin mafia yang hadir di acara itu. Meski memakai gaun sederhana, ia tetap terlihat anggun dan glamor.“Kau datang sendiri malam ini?” tanyanya pada Durand. Senyumnya menggoda, tetapi penuh perhitungan. “Kau tidak membawa tangan kananmu?”Di tengah-tengah percakapan itu, pelayan datang membawakan anggur di atas nampan.Durand menerima anggur yang disodorkan pelayan, tapi tidak meminumnya. “Mereka semua terlalu sibuk. Dan seharusnya aku tidak perlu datang ke acara ini.”Valeria tergelak pelan. “Aku tahu, acara seperti ini pasti sangat membosankan untukmu.”Ia melanjutkan, “Aku dengar banyak rumor tentangmu … terutama wanita yang kau sembunyikan. Siapa dia?”Valeria menyesap anggurnya perlahan, jemarinya melingkari gelas kaca dengan sikap terlatih dan tenang.Setiap gerakannya anggun, seakan







