ログイン...Bab 155Ryuga mengamati keramaian dari balkon lantai dua, memindai setiap celah dan wajah untuk menemukan sosok yang menjadi alasan utama kedatangannya malam itu.“Setelah masuk dunia bisnis, kini Komandan Ryuga makin impresif saja. Bagaimana kabar proyek di selatan perbatasan?” tanya seorang pria paruh baya, sembari membawakan segelas wine ke hadapan Ryuga.Ryuga menerima gelas tersebut tanpa berniat meminumya. “Terima kasih, semuanya masih aman terkendali.”Suara Yudha mendadak terdengar melalui earpiece yang tersembunyi di telinganya.“Ndan, ada masalah.”Ryuga menegang. “Hm?”“Kakak ipar ada di lantai bawah. Bersama Dealova.”Gelas di tangan Ryuga berhenti di depan bibirnya. Sepasang mata elangnya menyapu ruangan di lantai bawah tanpa ada bagian yang terlewat satu inch pun dari jangakaun pandangnya.Acara Xander grup terus berlanjut, untuk saat ini Ryuga belum menemukan keberadaan istrinya. Kebetulan Dara dan Dealova sedang asyik berpindah-pindah tempat untuk mencicipi aneka
...Bab 154Tak ingin mengganggu tidur istrinya, Ryuga bergerak sepelan mungkin turun dari ranjang dan keluar dari kamar tanpa menyalakan lampu. Yudha sudah menunggunya di halaman.Dari celah jendela kamar, Dara melihat suaminya berjalan menuju mobil yang terparkir di halaman. Namun, sebelum sempat ia masuk, seseorang turun dari kendaraan lain di belakangnya.Seorang perempuan berseragam rapi juga. Ia tersenyum singkat, memberi hormat pada Ryuga. Ryuga membalasnya dengan anggukan, lalu mereka bertiga masuk ke dalam mobil yang sama.Dara menatap kendaraan itu sampai menghilang di tikungan. Jemarinya sudah menggenggam ponsel ingin menghubungi Vera lagi, panggilan dari Dealova masuk lebih dulu.“Apa, De?” sahut Dara, malas.Biasanya ketika Dealova menelpon malam-malam begini dia hanya akan mengajaknya keluar untuk makan. Karena tahu, Yudha dan Ryuga sedang tugas bersama.“Dar, mau party nggak?”“Nggak! Party sendiri aja sana. Aku lagi nggak mood.”“Kenapa? Ribut lagi? Nggak cape kenapa
...Bab 153Tidur Dara terusik oleh silau cahaya matahari yang menembus lewat jendela kamarnya. Ia memaksakan diri membuka matanya yang berat. Tubuhnya sigap berbalik saat merasakan dingin di salah satu sisinya.Ryuga tidak ada di sana.Dara melirik jam dinding, jarum jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Pantas saja Ryuga sudah tidak ada, dia pasti sudah berangkat ke markas.Ahh! Dara telalu lelah sampai tak bisa bangun pagi.Tubuh Dara terasa remuk, perutnya keroncongan, ia pun bergegas mengenakan piyama lalu menyeret langkahnya menuruni tangga. Sampai di depan kulkas Dara menemukan kertas memo yang tertempel di pintu.‘Saya bikinin nasi goreng sama udang asam manis. Maaf, tadi pagi Letkol Desta minta saya berangkat lebih awal. Love you, Dara.’“Manis sekali,” gumam Dara, mengulas senyum lebar.Ia pun lantas membuka tudung saji di atas meja. Harum aroma lezat seketika menyeruak hidungnya. Dalam waktu kurang dari sepuluh menit semua masakan Ryuga tandas tak tersisa.Sembari m
...Bab 152Dua kali Ryuga mencoba menstimulasi Dara hingga mencapai orgasme, kini ia dengan sabar menanti istrinya siap kembali untuk melakukan aktivitas mereka.Embusan napas Dara mulai teratur, dadanya tak lagi naik turun memburu. Dengan lembutRyuga mengusap peluh di dahinya.“Mau dilanjutin?” tanya Ryuga.“Hum.”Menatap wajah polos istrinya yang mendongak pasrah, Ryuga menundukkan kepala, mengecupi leher serta dada Dara selagi mengungkung tubuh itu kembali.Ia memanfaatkan kelihaian lidahnya untuk membuat Dara kembali melayang. Bersamaan dengan itu Ryuga mendorong pelan miliknya, mendesak masuk.“Rileks, sayang,” bisik Ryuga. Mendaratkan bibirnya pada benda kenyal di dada Dara, melumat dan menghisapnya untuk meredam rasa sakit yang mulai menyerang di bagian bawah Dara.Tubuh yang sempat menegang, perlahan mulai terbawa permainan Ryuga.“Dikit lagi.” Dara spontan merintih, nyaris berteriak sambil menjambak rambut Ryuga. Dua matanya memejam kuat-kuat sampai Ryuga berhasil melesa
...Bab 151Dara memasuki kamar mandi lebih dulu. Ia menutup saluran bathub kemudian memutar tuas keran. Membiarkan bak berukuran besar itu terisi oleh air hangat.Setelahnya ia tumpahkan banyak sabun ke dalamnya.“Sini, Mas,” panggil Dara. Tangannya terus mengaduk-aduk air dan sabun menciptakan banyak gelembung busa.Ryuga melepas handuknya, menerima uluruan tangan Dara. “Kamu duluan,” kata Dara.Dara turut bergabung ke dalam bathub setelah melepaskan piyamanya. Air hangat dan gelembung busa tebal menggulung tubuh mereka, menyisakan leher dan kepala saja. Dara menyukainya.Aroma lembut dari sabun bahkan mampu untuk membuatnya tertidur di dalamnya mungkin.“Dara… kamu mau ngapain?”Bak mandi itu sebenarnya cukup untuk berdua. Mereka bisa duduk berlawanan arah sambil saling beradu kaki. Namun, alih-alih begitu Dara memilih paha suaminya untuk ia duduki.
. . . Bab 150 “Kenapa?” Dara mengernyit heran, sedikit memundurkan badannya saat Ryuga memicingkan mata ke arah telinganya. “Sstt.” Ryuga menempelkan jari telunjuknya pada bibir Dara. Meminta untuk diam. Ia meraba anting Dara, ujung jarinya menyentuh sesuatu di balik anting itu. Sebuah benda kecil yang nyaris tak terlihat. Benda itu lah yang Ryuga cari seharian ini. Ia sampai mengacak-acak seluruh isi toko, bahkan mengganti beberapa perabot ternyata justru benda itu ada pada Dara. Ryuga memasukkan alat penyadap itu ke dalam gelas berisi air. “Itu apa, Mas? Kok bisa ada di anting aku?” Dara sampai mengangkat gelas ke depan wajahnya, demi memperhatikan benda kecil itu. “Alat penyadap,” sahut Ryuga, singkat. Seluruh tubuh Dara s







