Home / Romansa / Obsesi Dingin Sang Komandan / Bab 6 Perang Dingin, Pagi Hari

Share

Bab 6 Perang Dingin, Pagi Hari

last update publish date: 2026-07-08 15:50:16

.

.

.

Bab 6

Tidak mau repot-repot merengek pada Ryuga untuk minggir, Dara hampir membalikkan badannya. Mengalah, menunggu lelaki itu beranjak dari tempatnya berdiri.

“Bunda sama Ayah lagi apa?” celetuk Zio.

Mbak Fitri sedang menggandeng Zio, datang dari arah kamar mandi.

“Bunda?” kening Ryuga mengerut dalam. Mengalihkan pandang pada Zio penuh tanda tanya.

Anak itu lantas menjawab dengan santai. “Iya, Bunda. Zio sekarang boleh kan, panggil Bunda.”

Rahang Ryuga mengeras. Sorot matanya beralih kepada Dara, seolah tengah memperingatinya.

“Eum, Zio mau sarapan apa?” sela Dara cepat-cepat. Ia tidak mau membiarkan kejadian yang sama terjadi lagi, seperti saat Ryuga murka tentang panggilan untuknya hari itu.

“Susu sama sereal. Tapi Zio mau bawa bekal,” sahut Zio, riang.

Dara sengaja menggeser tubuhnya untuk menghalangi pandangan Ryuga dari Zio. “Oke, Bunda buatin bekal yang enak buat Zio.”

Ryuga mengembuskan napas pelan. Bibirnya mengatup kembali, tidak jadi menegur. Namun, jelas ia masih belum setuju dengan pangilan baru itu.

“Sekarang Zio ganti baju dulu, Bunda siapin bekalnya,” suruh Dara dengan senyum manis yang tersungging begitu lebar.

Mbak Fitri ikut tersenyum melihat interaksi Zio yang makin banyak bicara dan tertawa sejak kehadiran Dara di rumah itu.

Setelah kepergian Zio dan Mbak Fitri, Dara membuang jauh senyum manisnya berganti dengan raut kesal lagi.

Meninggalkan Ryuga, Dara menilik isi kulkas dan mendengus setelahnya. “Ini kulkas atau lapangan bola? Kosong melompong gini,” cibirnya.

Kulkas di depan Dara hanya berisi beberapa pack susu kotak, sereal, air mineral dan telur.

“Mbak, di kulkas nggak ada bahan makanan. Aku bisa beli di mana, yaa?” tanya Dara, menghampiri Mbak Fitri di kamar Zio.

“Iyaa, Bu. Saya memang jarang sekali masak di sini. Bapak biasanya selalu beli makan di kantin atau beli online lewat gojek, Bu.”

“Lalu Zio makan siangnya gimana?” Dara semakin bingung.

“Katering dari sekolah, Bu.”

Dara baru saja akan kembali ke dapur. Ia harus  memutar otaknya karena sudah terlanjur janji akan membuatkan Zio bekal. Langkah kakinya terhenti di ambang ruang tengah.

Di atas karpet ruang tamu, Ryuga duduk bersila. Sepatu olahraganya sudah terletak rapi di tempatnya. Dia tengah memangku tas sekolah milk Zio.

Dara mengernyitkan dahinya. “Ngapain dia?” batinnya heran.

Pria berbadan tegap itu membuka kotak pensilnya, mengetahui dua pensil mulai tumpul Ryuga merautnya. Lalu mengecek buku catatan yang berisi evaluasi belajarnya dari guru.

Dara memperhatikan semuanya, ada rasa takjub yang pelan-pelan ia terima dengan jujur. Ia tahu beberapa saat lalu, Mbak Fitri juga mengecek tas Zio, tetapi dia hanya mengambil tas bekal dan botol minumnya saja.

Selesai dengan tas, Ryuga mengangkat kepalanya sedikit. “Zio,” panggilnya.

“Iya, Ayah!”

Anak laki-laki itu berlarian kecil dari dalam kamar menghampiri Ayahnya.

“Semalam ada PR?”

“Udah.” Zio mengangguk mantap.

Ryuga menaikan satu alisnya. “Yakin?”

“Iya, Ayah. Sudah.”

Zio membuktikan ucapannya dengan mengeluarkan kembali bukunya dan memperlihatkan deretan coretan pensil yang acak-acakan pada lembar terakhir buku tulisnya.

“Ayah nggak pernah percaya, sih!” gerutu Zio. Bibirnya mengerucut.

Ryuga menutup kembali buku tugas itu lalu mengusap puncak kepala putranya. “Karena kamu pernah bohong,” ujarnya, membuat Zio meringis salah tingkah.

Di balik dinding pembatas ruang tengah, Dara ikut tersenyum melihat interaksi mereka berdua. Ia tak menduga, ayah dan anak itu memiliki dunia yang hangat seperti itu.

Bahkan Ryuga yang selalu arogan padanya memiliki sisi lembut dan perhatian yang tidak semua Ayah punya.

Dara lanjut ke dapur, mendadak otaknya blank. Ia hanya mondar mandir di sana. Untuk sekedar menanak nasi pun tidak ada beras yang ia temukan. Terakhir ia mengecek lemari kabinet paling atas yang belum diperiksanya.

Dara berjinjit-jinjit untuk melongok isi di dalam kabinet, ternyata cukup tinggi. Dara berdecak. Perasaan Mbak Fitri  juga tidak tinggi-tinggi amat, kenapa harus ada lemari kabinet setinggi itu?

“Hah?! Mie instan?” Dara melotot begitu melihat isi di dalam lemari.

Belum selesai keterkejutannya, suara Ryuga mengagetkannya dari belakang. Entah sejak kapan pria itu berdiri di sana, mungkin sudah menonton kelakuan Dara sejak tadi.

“Makanya tidak usah menjanjikan sesuatu kalau kamu sendiri belum yakin bisa memberinya,” ujar Ryuga.

Dara mematung. Bola matanya berhenti tepat pada sosok tegap suaminya yang kini tampak jauh lebih segar. Rambut cepak dengan belahan di sebelah kanannya juga terlihat sudah rapi.

Dara lantas memejamkan matanya erat-erat. Sebelumnya ia sudah memperkirakan hal ini. Menikah dengan Ryuga yang seorang Komandan itu berarti dia harus siap untuk terlibat dengan segala tentang militer setiap hari.

Termasuk melihatnya berpakaian seragam lengkap seperti sekarang. Seragam loreng dan  lambang-lambang kehormatan yang tersemat di dada lelaki itu, berhasil menyeretnya kembali pada memori tentang seseorang yang selalu berjanji akan pulang… lalu berakhir menghilang tanpa kabar.

Dara benci itu. Lebih dari itu, kini Dara bahkan merasakan tangannya refleks mengepal begitu erat dan napasnya mulai terasa sesak.

Sebisa mungkin Dara menahannya sendiri. Ia tidak bisa terus menerus membiarkan dirinya dikendalikan oleh perasaan menyiksa itu. Perlahan Dara harus melawannya.

“Aku yakin bisa buatin Zio bekal, kok. Kamu aja yang nggak sediain bahannya. Dapur isinya pajangan doang!” Dara menunjuk lemari kabinet di sampingnya. “Liat! Malah kamu stok mie instan sebanyak itu. Semua orang juga tahu, itu makanan nggak sehat.”

“Aku mau belanja bahan makanan. Mau bikin bekal buat Zio!” lanjut Dara, menggebu-gebu. Menutupi rasa tidak nyaman dalam dirinya.

Dara menoleh kesal saat lengannya dicekal, ia tak berniat menunggu jawaban Ryuga jadi selesai berujar segera membalikkan badannya. Akan kesiangan nanti kalau harus berdebat dulu dengan suaminya. Tetapi, Ryuga lebih gesit dalam menahan langkahnya.

“Belanja nanti diantar Yudha, ajudan Saya.”

“Nggak perlu ajudan, aku bisa sendiri,” tukas Dara.

“Kamu lupa, kamu siapa sekarang?” Ryuga menyahut dengan tenang, sama sekali tidak terusik dengan nada sengit Dara. “Buatkan kopi,” lanjut Ryuga.

Dara menatap dengan alis menukik. “Kenapa harus aku?”

“Kenapa harus orang lain?” Ryuga balik bertanya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Obsesi Dingin Sang Komandan   Bab 126 Marah Jadi Rindu

    ...Bab 126***Dealova meletakkan cup kopi ice caramel macchiato yang ketiga di atas meja. Dari balik kaca mata photocromic-nya ia mengamati wajah sahabatnya dengan seksama.Dalam satu jam mereka duduk di cooffeshop, Dara sudah menghabiskan hampir tiga cup kopi. Awalnya, Dealova mengira mengajak Dara keluar dan ngopi bisa membantu menghilangkan frustasinya. Sekarang, ia mulai curiga justru telah melakukan sebuah kesalahan.“Udah, ya! Nggak boleh nambah lagi,” peringat Dealova, saat Dara menyeruput kopinya cukup panjang hingga menyisakan hampir setengahnya.“Nanti aku yang digantung sama Komandan Ryuga kalau kamu jadi sakit.”Dara mengangkat bahu. “Aku baik-baik aja, De. Cuma kopi bukan alkohol.”Dealova menepuk pipi Dara, menyadarkan dari kegilaannya. “Heh! Ngagk ada yang baik-baik aja saat seseorang menghabiskan 3 cup ice coffe dalam waktu kurang dari sejam.”Ternyata marah juga membuat Dara merindukan seseorang. Terbiasa tiap malam tidur dalam pelukannya, semalam tadi ia tidur se

  • Obsesi Dingin Sang Komandan   Bab 125 Semudah Itu

    ...Bab 125Setidaknya itu lah yang Dara pikirkan.Setelah membuat Dara terluka karena merasa tidak dipercaya dan terus-terusan disalahkan, sekarang Ryuga hanya mengirim satu pesan seakan semuanya bisa dibicarakan semudah itu.Dara meletakkan ponselnya kembali dengan layar menghadap ke bawah.“Dari komandan?” Dealova berusaha melongok.“Dia mau jemput katanya.”“Terus?”“De…” Dara menangkupkan kedua tangannya di depan dada. “Aku di sini dulu, ya? Yudha nggak mungkin datengin kamu siang-siang gini, kan?”Dealova berdecak. “Iyaa, aman.”Di sudut lain markas batalyon, Ryuga terduduk menatap ponselnya di atas meja. Entah sudah berapa kali ia melirik pada benda pipih itu, yang tak kunjung memberinya kabar.Tidak ada satu pun yang berani menyapa Komandannya, pagi ini. Sampai Yudha akhirnya mendekat. “Biarin aja, kakak ipar aman di tempat Dealova.”“Bagaimana hasil penyusuran Dhika?” tanya Ryuga, tak merespon ucapan Yudha.Dhika menyusul di belakang Yudha. “Siap. Kami sudah mendapat bebera

  • Obsesi Dingin Sang Komandan   Bab 124 Sudah Marahnya?

    ...Bab 124Sesak dalam dada Dara bukan main rasanya. Ternyata sebatas itu kepercayaan Ryuga padanya. Sampai-sampai rasa curiga priia itu sendiri membuat Dara merasa menjadi wanita yang tidak punya pendirian.Dirga memang masa lalunya, tetapi kejadian semalam tidak ada sangkut pautnya dengan itu. Semuanya murni kebetulan. Kalau boleh memilih, dara juga tidak mau mengalaminya.Dara mempercepat langkah. Berharap Ryuga tak mengejarnya.Ryuga masih berdiri bergeming dari tempatnya. Ia hanya mengawasi kemana arah istrinya akan pergi. Benar apa yang Dara ucapkan, dirinya terlalu fokus khawatir akan keselamatannya sampai lupa mengerti bagaimana perasaannya malam tadi ketika dicegat seorang pria tak dikenal lalu dipukul sampai pingsan.Di depan toilet rumah sakit, Dara berhenti. Ia berjalan menghampiri wastafel. Memutar keran lalu membasuh mukanya. Dara menangis, ia bahkan tak sadar kapan air matanya turun.“Ternyata perasaan aku segitu kecilnya buat kamu, Mas. Sampai nggak bisa bikin kamu

  • Obsesi Dingin Sang Komandan   Bab 123 Bukan Lagi Orang Yang Sama

    ...Bab 123Dara mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan yang terdengar seperti ungkapan ketidakpercayaan itu.“Iya, Dirga yang menolong aku dari pria jahat yang mencegat dan pukul aku sampai pingsan.”“Kalau memang dia nolong kamu kenapa nggak dibawa ke rumah sakit aja? Kenapa harus ke appartemen pribadinya?”Lama-lama Dara merasa seperti tengah diinterogasi atas sebuah kesalahan yang tak pernah dia lakukan. Ryuga bukan sedang bertanya, nada bicaranya lebih ke menuduh, bagi Dara.“Katanya jalanan di sana semalam cukup kacau karena ada penggerbekan oleh polisi. Dia cuma reflek aja bawa aku ke appartemen. Sumpah dia nggak sentuh aku, Mas. Aku juga udah diperiksa Dokter semalam,” jelas Dara tanpa diminta.Ryuga menghela napas berat. Ia ingin mendebat tentang ponsel Dara yang mati semalaman, tentang alasan Dirga yang kurang masuk akal. Tetapi, melihat wajah pucat istrinya membuat kata-kata itu tertelan kembali dan ia simpan lagi untuk sementara.“Kita mampir ke rumah sakit dulu, sia

  • Obsesi Dingin Sang Komandan   Bab 122 Kelakuan Mantan

    ... Bab 122Dirga mencuri pandang dari balik meja bar dapur.Dara masih terpaku pada layar ponselnya. Jari-jarinya bergerak cepat scroll layar ponselnya. Sesekali, ia tampak menggigit bibir bawahnya, jelas tengah diliputi rasa bersalah.Senyum miring terbit di sudut bibir Dirga. Lalu, mengeluarkan ponselnya mengetikkan sesuatu.“Lihat! Gue bisa selalu ada buat dia. Ada di mana lo semalam?”Pesan itu Dirga kirimkan pada nomor Ryuga, bersama dengan foto yang ia ambil diam-diam. Yaitu, foto Dara tengah duduk di tepian ranjang sambil memainkan ponselnya.Masih mengenakan pakaian yang sama seperti semalam, tampak lelah dan sedikit berantakan karena memang baru bangun tidur.Dirga tidak hanya sekedar membuktikan bahwa Dara tengah bersamanya sekarang. Lebih dari itu, senyum Dirga mengembang penuh kemenangan karena berhasil selangkah lebih maju untuk menjaga Dara dari pada Ryuga.“Aku harus pulang sekarang.”Dirga mengangkat wajahnya, ponselnya segera ia masukan kembali ke saku.“Iya, bol

  • Obsesi Dingin Sang Komandan   Bab 121 Bermalam Dengan Dirga

    ...Bab 121Di tengah kesadarannya yang mulai mengabur, suara geraman itu masih sempat Dara dengan sayup-sayup.Pria yang menghadang Dara sigap melepas cengkeramannya pada setang motor Dara. “Dia melihat kita.”“Biar gue yang urus, kalian bawa motornya. Pastikan nggak ada yang liat,” tegas Dirga, sembari menopang tubuh Dara agar tak jatuh dari motornya.“Sorry, sayang.” Dirga berucap lirih.Ia mengangkat tubuh Dara dengan hati-hati, lalu membawanya menuju mobil yang terparkir tersembunyi di halaman rumah warga. Dirga tak bisa membiarkan perempuan itu tetap berada di jalan, terlebih ketika situasi di sana jelas bahaya untuknya.Orang-orangnya masih berkeliaran di sekitar. Mereka harus merubah strategi karena terjadi penggerebekan. Dan, salah satu dari anak buahnya sudah tertangkap.Dirga tidak peduli, jika setelah sadar nanti Dara akan mencecarnya dengan banyak pertanyaan. Dari kecerdasannya tidak mungkin Dara langsung percaya Dirga berada di lokasi secara kebetulan.Appartemen prib

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status