LOGIN.
.
.
Bab 6
Tidak mau repot-repot merengek pada Ryuga untuk minggir, Dara hampir membalikkan badannya. Mengalah, menunggu lelaki itu beranjak dari tempatnya berdiri.
“Bunda sama Ayah lagi apa?” celetuk Zio.
Mbak Fitri sedang menggandeng Zio, datang dari arah kamar mandi.
“Bunda?” kening Ryuga mengerut dalam. Mengalihkan pandang pada Zio penuh tanda tanya.
Anak itu lantas menjawab dengan santai. “Iya, Bunda. Zio sekarang boleh kan, panggil Bunda.”
Rahang Ryuga mengeras. Sorot matanya beralih kepada Dara, seolah tengah memperingatinya.
“Eum, Zio mau sarapan apa?” sela Dara cepat-cepat. Ia tidak mau membiarkan kejadian yang sama terjadi lagi, seperti saat Ryuga murka tentang panggilan untuknya hari itu.
“Susu sama sereal. Tapi Zio mau bawa bekal,” sahut Zio, riang.
Dara sengaja menggeser tubuhnya untuk menghalangi pandangan Ryuga dari Zio. “Oke, Bunda buatin bekal yang enak buat Zio.”
Ryuga mengembuskan napas pelan. Bibirnya mengatup kembali, tidak jadi menegur. Namun, jelas ia masih belum setuju dengan pangilan baru itu.
“Sekarang Zio ganti baju dulu, Bunda siapin bekalnya,” suruh Dara dengan senyum manis yang tersungging begitu lebar.
Mbak Fitri ikut tersenyum melihat interaksi Zio yang makin banyak bicara dan tertawa sejak kehadiran Dara di rumah itu.
Setelah kepergian Zio dan Mbak Fitri, Dara membuang jauh senyum manisnya berganti dengan raut kesal lagi.
Meninggalkan Ryuga, Dara menilik isi kulkas dan mendengus setelahnya. “Ini kulkas atau lapangan bola? Kosong melompong gini,” cibirnya.
Kulkas di depan Dara hanya berisi beberapa pack susu kotak, sereal, air mineral dan telur.
“Mbak, di kulkas nggak ada bahan makanan. Aku bisa beli di mana, yaa?” tanya Dara, menghampiri Mbak Fitri di kamar Zio.
“Iyaa, Bu. Saya memang jarang sekali masak di sini. Bapak biasanya selalu beli makan di kantin atau beli online lewat gojek, Bu.”
“Lalu Zio makan siangnya gimana?” Dara semakin bingung.
“Katering dari sekolah, Bu.”
Dara baru saja akan kembali ke dapur. Ia harus memutar otaknya karena sudah terlanjur janji akan membuatkan Zio bekal. Langkah kakinya terhenti di ambang ruang tengah.
Di atas karpet ruang tamu, Ryuga duduk bersila. Sepatu olahraganya sudah terletak rapi di tempatnya. Dia tengah memangku tas sekolah milk Zio.
Dara mengernyitkan dahinya. “Ngapain dia?” batinnya heran.
Pria berbadan tegap itu membuka kotak pensilnya, mengetahui dua pensil mulai tumpul Ryuga merautnya. Lalu mengecek buku catatan yang berisi evaluasi belajarnya dari guru.
Dara memperhatikan semuanya, ada rasa takjub yang pelan-pelan ia terima dengan jujur. Ia tahu beberapa saat lalu, Mbak Fitri juga mengecek tas Zio, tetapi dia hanya mengambil tas bekal dan botol minumnya saja.
Selesai dengan tas, Ryuga mengangkat kepalanya sedikit. “Zio,” panggilnya.
“Iya, Ayah!”
Anak laki-laki itu berlarian kecil dari dalam kamar menghampiri Ayahnya.
“Semalam ada PR?”
“Udah.” Zio mengangguk mantap.
Ryuga menaikan satu alisnya. “Yakin?”
“Iya, Ayah. Sudah.”
Zio membuktikan ucapannya dengan mengeluarkan kembali bukunya dan memperlihatkan deretan coretan pensil yang acak-acakan pada lembar terakhir buku tulisnya.
“Ayah nggak pernah percaya, sih!” gerutu Zio. Bibirnya mengerucut.
Ryuga menutup kembali buku tugas itu lalu mengusap puncak kepala putranya. “Karena kamu pernah bohong,” ujarnya, membuat Zio meringis salah tingkah.
Di balik dinding pembatas ruang tengah, Dara ikut tersenyum melihat interaksi mereka berdua. Ia tak menduga, ayah dan anak itu memiliki dunia yang hangat seperti itu.
Bahkan Ryuga yang selalu arogan padanya memiliki sisi lembut dan perhatian yang tidak semua Ayah punya.
Dara lanjut ke dapur, mendadak otaknya blank. Ia hanya mondar mandir di sana. Untuk sekedar menanak nasi pun tidak ada beras yang ia temukan. Terakhir ia mengecek lemari kabinet paling atas yang belum diperiksanya.
Dara berjinjit-jinjit untuk melongok isi di dalam kabinet, ternyata cukup tinggi. Dara berdecak. Perasaan Mbak Fitri juga tidak tinggi-tinggi amat, kenapa harus ada lemari kabinet setinggi itu?
“Hah?! Mie instan?” Dara melotot begitu melihat isi di dalam lemari.
Belum selesai keterkejutannya, suara Ryuga mengagetkannya dari belakang. Entah sejak kapan pria itu berdiri di sana, mungkin sudah menonton kelakuan Dara sejak tadi.
“Makanya tidak usah menjanjikan sesuatu kalau kamu sendiri belum yakin bisa memberinya,” ujar Ryuga.
Dara mematung. Bola matanya berhenti tepat pada sosok tegap suaminya yang kini tampak jauh lebih segar. Rambut cepak dengan belahan di sebelah kanannya juga terlihat sudah rapi.
Dara lantas memejamkan matanya erat-erat. Sebelumnya ia sudah memperkirakan hal ini. Menikah dengan Ryuga yang seorang Komandan itu berarti dia harus siap untuk terlibat dengan segala tentang militer setiap hari.
Termasuk melihatnya berpakaian seragam lengkap seperti sekarang. Seragam loreng dan lambang-lambang kehormatan yang tersemat di dada lelaki itu, berhasil menyeretnya kembali pada memori tentang seseorang yang selalu berjanji akan pulang… lalu berakhir menghilang tanpa kabar.
Dara benci itu. Lebih dari itu, kini Dara bahkan merasakan tangannya refleks mengepal begitu erat dan napasnya mulai terasa sesak.
Sebisa mungkin Dara menahannya sendiri. Ia tidak bisa terus menerus membiarkan dirinya dikendalikan oleh perasaan menyiksa itu. Perlahan Dara harus melawannya.
“Aku yakin bisa buatin Zio bekal, kok. Kamu aja yang nggak sediain bahannya. Dapur isinya pajangan doang!” Dara menunjuk lemari kabinet di sampingnya. “Liat! Malah kamu stok mie instan sebanyak itu. Semua orang juga tahu, itu makanan nggak sehat.”
“Aku mau belanja bahan makanan. Mau bikin bekal buat Zio!” lanjut Dara, menggebu-gebu. Menutupi rasa tidak nyaman dalam dirinya.
Dara menoleh kesal saat lengannya dicekal, ia tak berniat menunggu jawaban Ryuga jadi selesai berujar segera membalikkan badannya. Akan kesiangan nanti kalau harus berdebat dulu dengan suaminya. Tetapi, Ryuga lebih gesit dalam menahan langkahnya.
“Belanja nanti diantar Yudha, ajudan Saya.”
“Nggak perlu ajudan, aku bisa sendiri,” tukas Dara.
“Kamu lupa, kamu siapa sekarang?” Ryuga menyahut dengan tenang, sama sekali tidak terusik dengan nada sengit Dara. “Buatkan kopi,” lanjut Ryuga.
Dara menatap dengan alis menukik. “Kenapa harus aku?”
“Kenapa harus orang lain?” Ryuga balik bertanya.
...Bab 158***Ryuga mati-matian menahan desakan air matanya. Di hadapannya, Dara masih saja memejamkan mata setelah mendapat perawatan di rumah sakit. Luka di lehernya mendapat tiga jahitan sementara kedua pergelangan tangan dan kakinya juga sudah diobati.Secara fisik tidak ada luka yang serius. Dokter mengatakan kondisi Dara hanya karena pengaruh obat bius dosis tinggi yang membuatnya lama tidak sadar-sadar.Ryuga terus menggenggam jemari Dara, berusaha membangunkannya dengan usapan-usapan hangat dan panggilan lembutnya.Ceklek!Pintu ruangan terbuka perlaahan, Yudha melangkah masuk. “Ndan, ada dua jejak DNA berbeda yang menempel pada barang bukti yang tertinggal di dua lokasi kakak ipar diserang.”Ryuga mendongak. “Maksudmu?”“Jadi, awalnya Cakra memang sempat menghajar pria yang mencegat kakak ipar di area pintu belakang. Ini rekaman CCTV yang berhasil Dhika pulihkan.”Ryuga memperhatikan baik-baik, dua pria mengincar nyawa istrinya dalam semalam. Dadanya bergemuruh hebar, ia
...Bab 157Suara siulan terdengar dari bibir pria yang membius Dara, sembari pria itu mengikat kedua tangan Dara ke sisi kiri dan kanan ranjang, tidak lupa kakinya juga.Bibirnya tak berhenti menyunggingkan senyum lebar memandangi tubuh wanita yang masih belum sadarkan diri di atas ranjangnya.Tangannya sekarang bergerak menggunting pakaian yang menutupi tubuh Dara hingga menyisakan pakaian dalamnya saja.“Tubuhmu benar-benar bagus, Nyonya Ryuga,” gumamnya.Menunduk, mengendus-endus bagian dada Dara hingga tiba-tiba kepalanya terasa dihantam sesuatu.“Ya ampun, sayang nanti rahangmu sakit. Jangan begitu, kita main halus saja,” ujar Pria tadi, baru saja Dara tersadar dan langsung menghantamkan dagu pada kepalanya.Kepala Dara pening bukan main, efek biusnya masih ada meski ia sudah setengah sadar.“Stop!” Dara meronta pada kedua kaki dan tangannya yang terikat kuat, matanya menatap nyalang pada sosok yang tak terlalu asing baginya.Dara menatap nyalang begitu ingatannya menemukan si
...Bab 156“Oh! Eum… hai?” sapa Dara, canggung. Kini Dara sungguhan seorang penguntit yang baru saja ketahuan. “Kamu dateng juga?” tanya Dara terbata-bata.“Iya, aku mewakili perusahaan.” Driga menatap perempuan di depannya lekat-lekat. Kamu sendiri…?”“Aku?” Dara menunjuk dirinya sendiri lalu tertawa kecil menutupi kegugupan. “Aku… nemenin Dealova. Tapi tadi, dia ngilang nggak tahu kemana terus aku kayaknya nyasar, deh! Kebetulan sekali ada kamu.”Dirga membukakan pintu di belakangnya, mempersilahkan Dara keluar lebih dulu.“Mau aku antar sampai depan?” tawar Dirga.“Nggak usah, ini pintu keluar, kan? Aku nunggu Dealova aja.” Dara tersenyum sekilas dan mengangguk melewati pria itu.Semakin cepat Dara berjalan, rasa penasaran dalam benaknya tak kunjung hilang. Teringat dengan alat penyadap di telinganya kemarin, lalu gerak-gerik Dirga sejak tadi, Dara makin tak bisa mengabaikan keberadaan Dirga di sana.Sebelum sampai ke pintu depan, Dara mengambil keputusan yang mungkin akan dises
...Bab 155Ryuga mengamati keramaian dari balkon lantai dua, memindai setiap celah dan wajah untuk menemukan sosok yang menjadi alasan utama kedatangannya malam itu.“Setelah masuk dunia bisnis, kini Komandan Ryuga makin impresif saja. Bagaimana kabar proyek di selatan perbatasan?” tanya seorang pria paruh baya, sembari membawakan segelas wine ke hadapan Ryuga.Ryuga menerima gelas tersebut tanpa berniat meminumya. “Terima kasih, semuanya masih aman terkendali.”Suara Yudha mendadak terdengar melalui earpiece yang tersembunyi di telinganya.“Ndan, ada masalah.”Ryuga menegang. “Hm?”“Kakak ipar ada di lantai bawah. Bersama Dealova.”Gelas di tangan Ryuga berhenti di depan bibirnya. Sepasang mata elangnya menyapu ruangan di lantai bawah tanpa ada bagian yang terlewat satu inch pun dari jangakaun pandangnya.Acara Xander grup terus berlanjut, untuk saat ini Ryuga belum menemukan keberadaan istrinya. Kebetulan Dara dan Dealova sedang asyik berpindah-pindah tempat untuk mencicipi aneka
...Bab 154Tak ingin mengganggu tidur istrinya, Ryuga bergerak sepelan mungkin turun dari ranjang dan keluar dari kamar tanpa menyalakan lampu. Yudha sudah menunggunya di halaman.Dari celah jendela kamar, Dara melihat suaminya berjalan menuju mobil yang terparkir di halaman. Namun, sebelum sempat ia masuk, seseorang turun dari kendaraan lain di belakangnya.Seorang perempuan berseragam rapi juga. Ia tersenyum singkat, memberi hormat pada Ryuga. Ryuga membalasnya dengan anggukan, lalu mereka bertiga masuk ke dalam mobil yang sama.Dara menatap kendaraan itu sampai menghilang di tikungan. Jemarinya sudah menggenggam ponsel ingin menghubungi Vera lagi, panggilan dari Dealova masuk lebih dulu.“Apa, De?” sahut Dara, malas.Biasanya ketika Dealova menelpon malam-malam begini dia hanya akan mengajaknya keluar untuk makan. Karena tahu, Yudha dan Ryuga sedang tugas bersama.“Dar, mau party nggak?”“Nggak! Party sendiri aja sana. Aku lagi nggak mood.”“Kenapa? Ribut lagi? Nggak cape kenapa
...Bab 153Tidur Dara terusik oleh silau cahaya matahari yang menembus lewat jendela kamarnya. Ia memaksakan diri membuka matanya yang berat. Tubuhnya sigap berbalik saat merasakan dingin di salah satu sisinya.Ryuga tidak ada di sana.Dara melirik jam dinding, jarum jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Pantas saja Ryuga sudah tidak ada, dia pasti sudah berangkat ke markas.Ahh! Dara telalu lelah sampai tak bisa bangun pagi.Tubuh Dara terasa remuk, perutnya keroncongan, ia pun bergegas mengenakan piyama lalu menyeret langkahnya menuruni tangga. Sampai di depan kulkas Dara menemukan kertas memo yang tertempel di pintu.‘Saya bikinin nasi goreng sama udang asam manis. Maaf, tadi pagi Letkol Desta minta saya berangkat lebih awal. Love you, Dara.’“Manis sekali,” gumam Dara, mengulas senyum lebar.Ia pun lantas membuka tudung saji di atas meja. Harum aroma lezat seketika menyeruak hidungnya. Dalam waktu kurang dari sepuluh menit semua masakan Ryuga tandas tak tersisa.Sembari m







