LOGIN.
.
.
“Ada apa?” suara dingin Ryuga menyentak kesadaran Dara.
Mengerjap beberapa kali, Dara baru menjawabnya. “Ah, iya. Aku mau bicara sesuatu.”
Tangan Ryuga yang semula menahan pintu terlepas, ia bergeser pelan membuka hampir setengah pintu kamarnya. Secara tidak langsung mengizinkan Dara untuk masuk ke ruang kerjanya.
“Di dalam?” tanya Dara, taky akin.
Ryuga tidak menunjukan ekspresi apa-apa. Dan, Dara kelimpungan takut lelaki itu menangkap maksud lain dari ucapannya.
“Mm, bukan apa-apa. Maksud aku, apa boleh aku masuk?” ujar Dara, canggung dan menyesali Keputusan gilanya.
Lagi-lagi Ryuga tak bereaksi apa pun yang berarti. Dia mengedikkan kepalanya ke samping, menunjukan kalau sepertinya tidak masalah jika dirinya masuk ke dalam.
Ryuga menutup pintu saat istrinya sudah masuk sepenuhnya ke dalam, menatap punggung kecil itu dari belakang.
Mata Dara menyisir keseluruhan sudut ruang kerja Ryuga yang minim pencahayaan. Tidak tahu bagaimana pria itu bekerja dalam ruangan temaram seperti itu.
Sama seperti bagian lain dalam rumah itu, sangat bersih dan rapi. Hanya ada satu meja kerja berisi komputer dan dua kursi kayu di sisi-sisinya.
“Mau bicara apa?” tanya Ryuga. Agaknya pria itu masih dalam mood yang buruk setelah kejadian tadi siang.
Dara spontan berbalik, terlalu mengagumi ruang kerja itu hampir lupa dengan tujuan utamanya.
“Iya, jadi gini.” Dara menatap suaminya sejenak sebelum melanjutkan. “Sebelumnya aku minta maaf kalau terkesan lancang. Tapi, tindakan Pak Ryuga tadi sangat melukai Zio.”
Ryuga melipat tangannya di dada, menanti kelanjutan ucapan Dara.
“Oke, Zio memang anak Pak Ryuga tapi …,”
“Harus berapa kali saya ingatkan, Dara?!” tukas Ryuga, tajam.
Dara hampir mendelik kesal, karena ucapannya dipotong saat ia sudah mengumpulkan seribu keberaniannya untuk berbicara. Namun, didetik berikutnya dia menyesal karena baru ingat apa maksud Ryuga menukasnya tajam tadi.
“Iya, maaf. Lagipula aku nggak tahu harus panggil gimana,” lirih Dara.
“Terserah,” jawab Ryuga, tak memberikan solusi apa pun atas masalah yang ia lempar pada Dara.
Dara mendengus, kasar. “Aku panggil, Mas Ryu. Gimana? Kalau masih nggak mau juga, silakan cari sendiri panggilannya apa, aku males mikir lagi,” ujarnya, kesal.
Lama-lama kesabaran Dara yang lebih tipis dari tisu itu bisa terkikis habis untuk menghadapi suaminya.
Kali ini Ryuga tidak protes dan tidak juga mengiyakan. Jadi, Dara simpulkan kalau dia setuju dengan panggilan tersebut.
“Sekarang kita lanjut.” Dara duduk di salah satu kursi di dekatnya.
“Maksud aku, sebenernya aku nggak masalah kalau Mas Ryu emang ngelarang Zio buat panggil aku, Ibu. Tapi, kamu sendiri yang bilang kalau Zio butuh sosok Ibu agar berhenti mendapat bully dari teman-temannya di sekolah. Jadi, jangan buat Zio berpikir seolah aku ini orang asing di antara kalian.”
Ryuga memiringkan kepalanya lalu melangkah mendekati Dara. “Jangan melewati batasmu, Dara,” ujarnya penuh penekanan.
“Huh! Baiklah. Tapi, Mas Ryu sekarang sudah memposisikan aku sebagai ibunya Zio. Jadi, biarkan aku juga masuk dalam kehidupan Zio.” Dara menyuarakan isi kepalanya.
“Ibu sambung,” ralat Ryuga, lagi.
“Iya, iya. Ibu sambung.” Dara mengangguk-angguk.
Sepasang bola mata Ryuga, menyorot dingin. Semakin dalam menyelami manik hitam sang istri.
Sementara Dara hanya bisa meneguk ludah gugup. Demi apa pun, pesona Ryuga tidak main-main. Tampan, galak, berkharisma sekaligus menyeramkan.
Ryuga mencondongkan tubuhnya, cukup dekat hingga tepat berada di samping telinga Dara. Suara beratnya membuat Dara refleks menahan napas.
“Sudah? Mengomelnya?” bisik Ryuga.
Dara membuang wajahnya ke samping.
“A-apa?” sahutnya tergagap.
Sial! Merasakan embusan napas hangat Ryuga dalam radar sedekat itu membuat saraf-saraf dalam tubuh Dara menegang.
Tak berhenti di sana, Ryuga menyelipkan rambut yang menutupi telinga Dara. “Jangan banyak menuntut, Dara. Tugas kamu hanya menggantikan peran mendiang istri saya. Bukan mengambil alih peran sesungguhnya.”
Dengan sisa kewarasan yang tersisa, Dara meletakkan tangannya di dada Ryuga lalu mendorongnya kuat-kuat agar menjauh. Setelahnya Dara mendengkus keras. Lantas meninggalkan ruangan tersebut.
“Terus gunanya dia nikahin aku, apa? Buat jadi pajangan, gitu?” gerutu Dara, jengkel.
***
Sejak semalam, Dara menghindari interaksi dengan suaminya. Sekecil apa pun itu. Bahkan ketika tidur, Dara rela tidak memakai bantalnya demi untuk menjadi pembatas di tengah ranjang mereka.
Pukul 06:00 Ryuga baru pulang dari lari paginya, ketika Dara terbangun. Tubuhnya menggeliat malas ketika akhirnya kembali dari alam bawah sadarnya.
Dara beranjak dari kamarnya menuju dapur. Meski skill memasaknya pas-pasan, dia bermaksud untuk membuat sarapan. Selayaknya istri pada umumnya.
Sampai di ruang tengah, langkah Dara terhenti. Matanya yang menunduk menangkap sepasang sepatu olahraga menghadang jalannya. Kepala Dara menengadah, memberikan tatapan dingin.
“Bisa tolong minggir? … Mas,” ujar Dara, memberi penekanan pada panggilannya.
Ryuga tak bergeming. Tubuh yang menjulang dan bahu kokoh itu bahkan sanggup menenggelamkan tubuh Dara dalam sekali hentak. Namun, rasa jengkel di dada Dara menepis rasa takut dalam dirinya.
Kaos oblong yang longgar dan celana pendek yang membalut tubuh Dara, menjadi fokus utama Ryuga. Bola matanya bergerak menyusuri tiap jengkal tubuh Dara. Dari ujung kaki, pinggul hingga naik ke dada dan berhenti pada wajah bangun tidurnya yang jutek itu.
... Bab 49“Mas?!” Dara spontan memegangi lengan Ryuga lebih erat.“Nggak apa-apa.”Dara menatap wajah suaminya lebih seksama. Pria itu terdiam dengan napas berembus berat. Dara hendak menarik tangannya kembali, tapi sesuatu membuat gerakannya membeku. Ada tetesan darah segar yang jatuh ke lantai.Matanya perlahan naik mengikuti arah tangan Ryuga. Tetesan darah itu merembes dari sela jemari pria itu.“Mas, tangan kamu???” seru Dara, makin panik.Seorang perawat perempuan menyibak salah satu tirai IGD, mempersilahkan Ryuga untuk masuk. “Mari Komandan.”“Suster, tolong,” kata Dara. Ia memapah Ryuga untuk duduk di atas brankar.Dara berdiri di sebelahnya, baru ketika suster meminta izin untuk membuka baju Ryuga, Dara hampir mencegahnya. Namun, urung. Dara tahu tindakannya mungkin berlebihan.Di tengah menahan rasa nyeri yang mendera hampir di seluruh bagian tubuhnya, Ryuga mengangkat tangannya pelan. “Biar istri saya,” katanya.Dara terkesiap, tidak menyangka dengan respon Ryuga. “E
... Bab 48Lima belas menit Dara berpacu dengan kepanikan di balik kemudi mobilnya. Tangannya mencengkeram setir erat-erat sementara sepanjang jalan mulutnya tak berhenti berkomat-kamit merapalkan doa. Memohon agar apa yang ia khawatirkan tidak pernah terjadi.Begitu mendarat mulus di area parkir rumah sakit, Dara segera turun dan berlari mencari ruang ICU. Dealova memberinya pesan untuk menunggu di depan ruang ICU. Entah kenapa Dara merasa berjalan dari parkiran menuju ruang ICU terasa begitu lama. Jarak yang ditempuh sepertinya sangat jauh, sampai berlari pun Dara tak kunjung sampai.Aroma antiseptic menyambut Dara di depan resepsionis yang juga bersebelahan dengan ICU. Di sana tatapan mata Dara menangkap sesosok tubuh tegap yang amat ia kenali. Sosok pria itu tengah terduduk lemas dengan pandangan nanarnya bersama satu orang rekan prajurit lain di sampingnya.Tubuh yang biasanya terlihat sangat tegap itu kini membungkuk lemah, pakaiannya bersimbah darah dan wajahnya tampak sayu
...Bab 47“Apa isi pikiran kita sama?” tebak Vera, pelan. Tatapannya menyiratkan kecemasan yang sama saat menunjuk layar ponsel.Dara mengangguk-angguk pelan. “Iya, Ve.”Beberapa kemungkinan buruk muncul begitu jelas di kepala Dara. Hanya sesaat. Dara menghempaskan semua pikiran liar itu jauh-jauh. Ia meletakkan kembali ponsel Vera ke meja.“Oke, kata kamu yang bisa kita lakuin cuma berdoa. Dan itu, sudah pasti. Sekarang, dari pada overthinking tidak jelas gimana kalau kita belanja? Ini jadwalku belanja bulanan,” usul Dara. tersenyum meyakinkan.Dia bisa gila kalau terus-terusan di rumah dan membiarakan kepalanya penuh oleh segala dugaan-dugaan buruk yang belum tentu terjadi.“Usul kamu boleh juga.” Vera tertawa kecil.Dara ikut tertawa, hanya saja tawa itu tak pernah benar-benar sampai ke matanya.Satu jam kemudian kedua wanita itu berjalan beriringan di lorong super market, mulai dari bagian groceri, fashion dan food court. Semuanya di jelajahi sampai akhirnya langkah kaki mere
...Bab 46Dara menyimpan rasa khawatirnya, ia memang ingin tahu sekali tetapi Dara juga sadar sesuatu. Dara sebenarnya ingin mengejar dan bertanya sekali lagi. Namun, ia mengurungkan niatnya.Ryuga pernah mengatakan bahwa tidak semua tugas bisa ia ceritakan, terutama jika berkaitan dengan misi khusus dalam satuannya. Ada beberapa tugas yang diemban secara rahasia oleh mereka. Jadi Dara hanya perlu tahu kalau suaminya pergi bertugas, itu saja.Tidak berselang lama setelah Ryuga meninggalkan rumah, Dara mendengar suara deru dari baling-baling helikopter yang meninggalkan landasan di ujung batalyon. Pikiran Dara seketika itu juga terkoneksi ke sana.Dara mengurungkan niatnya untuk mandi, badannya sudah lengket sangat tidak nyaman usai demam semalam. Rasa penasaran dari suara deru helikopter tadi menarik kakinya melangkah keluar menuju teras.Rupanya tetangga sebelah juga sedang berdiri di terasnya.“Pagi Bu Ryuga,” sapa tetangga sebelah. Ramah, seraya tersenyum manis.Dara mengerjap,
...Bab 44Melihat Riwayat obat yang sudah pernah dikonsumsi Dara, Ryuga jadi tidak yakin kalau dia akan memberinya obat sembarangan di apotek.“Nggak, Mas …”Begitu Ryuga kembali mendekat dan Dara melihat apa yang pria itu pegang, ia buru-buru menyambar botol obat tersebut dari genggaman suaminya.“I-ini udah lama banget. Aku … aku udah nggak minum itu, kok,” terang Dara gugup dan sedikit berbohong.Tangannya dengan gemetar menyembunyikan botol obat tersebut di bawah selimut. Habis sudah! Aibnya satu persatu terus terbongkar di hadapan Ryuga.“Jangan main-main sama kesehatan kamu, Dara.”Ryuga kali ini tidak lagi menggubris omongan Dara. Ia mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi seseorang.“Dara, saya nggak tahu kapan kamu terakhir kali minum obat itu? Tapi, saya nggak mau ambil resiko kalau harus kasih kamu obat sembarangan dari apotek. Jadi sebaiknya biar dokter yang periksa saja.”Dara panik setengah mati. Jantungnya yang semula sudah tenang kini kembali berdebar tak karuan.
...Bab 45Selesai makan, Ryuga menyimpan kembali mangkuk Dara ke atas nampan. Dia duduk menghadap istrinya. Memberikan tatapan lurus, menuntut kejelasan.“Kenapa nggak langsung pulang kemarin?”Dara menelan ludahnya. Mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya yang sudah terkikis sejak semalam.“Oke, aku ceritain semuanya. Tapi Mas Ryu janji jangan marah, ya?”“Hm.”“Janji, Mas?”Ryuga mengangguk-angguk. “Iya, saya janji.”Dara menarik napas panjang-panjang sebelum mulai bercerita.“Jadi gini, aku memang udah niat mau tutup toko lebih awal kemarin. Aku capek banget Mas, ngerjain buket bunga sampai dua puluh empat itu. Ya, walaupun bukan buket yang besar-besar tetap aja aku ngerjain itu dua hari full sampai lembur, untung juga ada Dealova bantuin.” Dara menjeda untuk meminum teh hangatnya.“Terus, begitu urusan buket kelar udah dikirim semua aku inget ada janji mau ketemu calon pelanggan. Dia minta kita ketemu di coffeshop. Kita ngobrol cukup lama sampe akhirnya deal, hampir sejam







