LOGIN...Bab 98Yudha menggeleng.“Setelah semua kejadian itu, segala hal yang berkaitan dengan adik Komandan dihilangkan. Semuanya. Bahkan jejak digital pun nggak ada.”“Mbak Diandra juga?” tanya Dara, ragu.“Orang-orang luar hanya akan tahu, kalau Diandra adalah mantan istri Ryuga yang meninggal usai melahirkan. Gitu doang.”Dara kembali terdiam. Kuasa keluarga suaminya memang besar, tapi Dara tidak menyangka akan sampai seperti itu untuk menutupi skandal.“Bukannya keluarga Komandan bertindak kejam,” lanjut Yudha. “Mereka hanya tidak mau luka mendalam itu suatu saat akan terbuka lagi dan kembali menyakiti orang-orang yang bahkan tidak tahu apa-apa.”Pantas saja Dara dan Dealova tidak pernah menemukan jejak atau identitas adik kandung Ryuga, karena memang tidak ada yang tersisa untuk ditemukan.Dan, Dara teringat dulu saat menemukan foto dan cincin Diandra di laci. Ryuga sempat menjelaskan kalau hanya itu barang Diandra yang tersisa rupanya memang semua yang berkaitan dengan istrinya s
...Bab 97Terkadang ada hal-hal yang memang sebaiknya tidak pernah kita ketahui saja, agar tidak menimbulkan luka baru yang tidak penting. Dara sempat berpikir begitu tentang suaminya.Apa pun masa lalunya, Dara tidak ingin tahu. Semua orang selalu punya cerita buruk di mata orang lain. Begitu juga dengan dirinya sendiri yang bahkan mungkin menyimpan cerita jauh lebih buruk dari suaminya.“Aku nggak mau tahu sebenernya, Yud,” ujar Dara. “Tapi, aku juga takut salah paham karenanya. Aku udah sering salah paham sama dia.”“Wajar, Kak. Manusia seperti Komandan Ryuga itu memang menguras emosi. Makanya dia memilih lajang selama bertahun-tahun dulu sebelum kenal Kakak ipar. Temennya cuma senapan doang.”Yudha terkekeh dengan ucapannya sendiri.“Dia baik banget,” gumam Dara, tulus.Yudha menatap Dara serius, dari wajahnya laki-laki itu juga kali ini tidak lagi becanda.“Zio itu bukan anak kandung Komandan.”Degh!Kalimat itu membuat Dara terhenyak. Jantungnya seakan dipaksa untuk berhenti b
...Bab 96Lebih dari tiga puluh menit berlalu, pintu IGD akhirnya terbuka. Menampilkan Dokter dan Perawat keluar dari dalamnya.“Dok, gimana keadaan anak saya?” Dara menodong pertanyaannya begitu tergesa.Dokter Adrian di depannya melepas masker, lalu tersenyum hangat.“Ada dua kabar yang harus saya sampaikan. Pertama kabar baik, dan yang kedua ada kabar yang sedikit membutuhkan perhatian ekstra.”Lutut Dara lemas. Antara ingin mendengar keduanya atau memilih tak mengetahui saja hal buruknya.“Tolong jelaskan keadaan anak saya. Dia tidak sakit parah, kan?” desak Ryuga. Panik dan sedikit tidak terkontrol.Dokter Adrian pun berdehem. “ Kabar baiknya, putra bapak dan ibu sudah berhenti pendarahan, mulai stabil keadaannya. Masa kritisnya sudah lewat.”Semua orang di sana kompak mengembuskan napas lega. Ryuga memejamkan matanya sambil terus menggumamkan rasa syukur.“Tapi, masih ada kabar buruknya,” lanjut Dokter. Seluruh keluarga kembali memusatkan perhatiannya.“Diagnosis sementara me
...Bab 95Yudha melaporkan hasil penyelidikannya semalam dengan singkat. Hanya dari garis besarnya saja, Ryuga sudah bisa menyimpulkan banyak hal. Ia pun segera memberikan instruksi yang cukup rinci dan penuh perhitungan.Ryuga segera memutus panggilan, tidak ingin Dara mendengar apa pun lagi soal Dirga yang akan berpotensi membuatnya panik lagi.Sebelum makin kesiangan, mereka segera kembali ke kota. Begitu duduk di mobil Dara segera mengecek ponsel yang ia tinggalkan sejak kemarin.“Mas, ada masalah besar?”Sejak menerima telpon dari Yudha, wajah Ryuga terus menegang.“Nggak sebesar yang kamu buat,” sahut Ryuga, menoleh dengan senyum tipisnya.Di sampingnya Dara mencebik. Lalu mencubit pinggang pria itu. “Nyebelin!”“Dara, kamu bisa janji sama saya?” ryuga menatap lurus, Jemarinya mencengkeram kemudi lebih erat.“Janji apa?” Dara menyimpan ponselnya.“Saya nggak bisa memastikan Dirga benar-benar menghilang saat ini. Bagaimana pun inginnya, saya harus tetap menaati prosedur. Janji
... Bab 94“Zio apa nyariin aku, Mas?”Ryuga mengangguk, menyandarkan dagunya di atas kepala Dara.“Di rumah opanya, tadi sempat tanyain kamu.”Rasa bersalah dalam dada Dara kian membesar. Ibu macam apa yang egois meninggalkan putranya begitu saja.“Kamu lupa sudah punya keluarga? Sudah ada saya, ada Zio,” tanya Ryuga, tanpa merubah posisinya.“Aku—”“Berhenti bertindak seperti ini, Dara.”“Aku cuma—”“Apa saya belum cukup?”Ryuga menarik napas dalam. Mengembuskannya kasar, lalu melerai pelukan mereka untuk bisa menatap raut wajah istrinnya lekat.Dara membalas tatapan itu. Sepasang mata keduanya saling beradu seolah mencari arti tatapan satu sama lain. Dara hanya terlalu merasa bersalah, pada Ryuga, pada Zio juga pada dirinya sendiri yang masih saja belum bisa menguasai diri saat bersentuhan dengan hal yang berhubungan dengan Dirga.“Kamu cukup, Mas.” Dara mengulurkan tangan menyentuh rahang suaminya lembut. “Bahkan lebih dari cukup. Aku nggak butuh siapa pun lagi setelah ada kamu
. . . Bab 93Ryuga menegakkan posisi duduknya. Tatapannya menajam, terkunci lurus menanti jawaban Bu Darmi.Helaan napas panjang mengawali cerita Bu Darmi selanjutnya. Bahunya meluruh pasrah. “Bukan saya bermaksud menutupi, Mas. Semua orang punya masa lalu. Saya hanya bisa cerita kalau memang dulu ada laki-laki yang selalu menemani Mbak Dara di sini membantu kita semua. Namanya, Dirga.”Dada Ryuga berdesir hebat begitu nama adiknya yang terucap dari bibir wanita itu.Bu Darmi menjeda untuk menarik napas panjang. Seolah abru sadar bahwa ia sudah berkata terlalu banyak. “Dia tentara, mereka cukup dekat sampai pernah dengar Dirga akan menikahi Mbak Dara.”“Lalu?” Ryuga menahan napas.Bu Darmi menggeleng. “Saya nggak tahu, Mas. Waktu itu Mbak Dara sempet pergi lama dan datang lagi sendirian. Seterusnya tiap ke sini selalu sendiri. Tapi, kita semua di sini menyadari betul Mbak Dara berubah total. Kesini hanya untuk tidur seharian di dalam tenda, keluar hanya untuk makan, itu pun sehar







