LOGINKevin menaikkan alis sebelahnya dengan santai saat Nolan melangkah keluar dari mobil, wajahnya merah padam oleh amarah yang sulit disembunyikan. Tatapan tajam Nolan seolah membakar udara di antara mereka. "Bukankah sejak dulu aku sudah peringatkan kau untuk menjauh dari Alina!!" suaranya menggelegar, penuh dendam dan frustrasi yang terpendam lama.Kevin hanya membalas dengan senyum kecut, tanpa sedikit pun menunjukkan rasa takut. "Kau sudah selingkuhi Alina, dan sekarang aku sudah jadi selingkuhan Alina," ucapnya pelan tapi menusuk, matanya menatap tajam seperti menantang. Ada nada sinis yang sulit disembunyikan di balik kalimat itu, seolah ia menikmati posisi yang sekarang dimilikinya.Nolan terpaku, tubuhnya membeku sejenak, sulit mempercayai kenyataan yang baru saja didengarnya. Bagaimana mungkin Kevin, pria lajang dan terkaya di kota Selatan malah dengan santainya mengklaim sebagai selingkuhan istrinya? Rasa malu dan marah bercampur menjadi satu, membuat dada Nolan sesak."Baga
Nolan langsung menceritakan semua yang terjadi semalam dengan rinci kepada istrinya. "Kamu setuju begitu saja, bagaimana pun juga, Risma itu adikmu satu-satunya ... " Ujar Alina dengan nada keberatan. Walaupun selama ini Risma sering menunjukkan secara terang-terangan, kalau dia tidak menyukai dirinya. Tapi ntah kenapa, Alina sama sekali tidak bisa membenci Risma? Apalagi, waktu kecil ia pernah tenggelam di danau waktu liburan keluarga. Ia merasa gadis kecil yang menyelamatkan dirinya adalah Risma, tapi sulit baginya untuk memastikan. Karena waktu itu, banyak air yang masuk ke dalam tubuhnya. Membuat pandangannya kabur, bahkan akhirnya ia pingsan. Setelah bangun, tidak ada siapapun yang menjaganya di rumah sakit. Saat bertanya pada keluarga suaminya, mereka semua dengan kompak menjawab, tidak ada yang tahu keberadaan penyelamatnya. Nolan bingung, saat mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Alina, walaupun di luar ia terlihat begitu menyayangi adiknya dan hubungan keduanya na
Alina tahu, suaminya akan memeluknya. Ia yang melihat, keraguan dari kedua bola mata suaminya, langsung paham. "Sayang, aku mandi dulu ya. Aku sedang menstruasi, nggak tahu kenapa, bau badanku akhir-akhir ini berbeda." Ujar Alina dengan nada lembut. Ia terpaksa berbohong. Alina tahu, bau apa gang yang sekarang tercium di hidung suaminya. Hati Nolan menghangat, melihat senyuman istrinya, kecurigaannya pun memudar. "Baiklah, kamu mandi dulu!!" Ujar Nolan seraya mengusap kepala Alina, cuman ia merasa aneh dengan rambut istrinya yang terasa sedikit kaku dan ... Ia merasa rambut istrinya seperti terkena cairan pria. Nolan sebenarnya ingin menanyakan tentang jendela kamar yang dibiarkan terbuka semalaman, tapi ia mengurungkan niatnya. Di dunia ini, tidak ada seorang pun manusia yang terima kalau tuduh melakukan sesuatu hal yang tidak di lakukan. Takutnya, kalau sampai Alina tersinggung karena tuduhannya. Bagaimana pun juga, hubungannya dengan Alina baru saja membaik. Ia
Alina mendengar suara suaminya yang memanggil namanya. "Kenapa kamu nggak pergi dari sini?!" Kata Alina dengan nada panik, karena sekarang ini posisinya Kaiden malah memeluknya. Ia bangkit dari ranjang untuk mengganti piyamanya. Semua kancing piyama yang sebelumnya dia gunakan terlepas, gara-gara tarikan kasar Kaiden. "Aku masih mau satu ronde lagi, sepertinya kita harus bermain didepan Nolan." Kata Kaiden dengan senyuman licik. Alina menatap tajam ke arah Kaiden, kalau buka karena Kaiden yang sekarang ini memegang kartu ASnya. Ia mungkin memilih untuk memukul Kaiden. Tapi ... Hmmm. Alina menghembuskan napas kasar, matanya menyipit menatap wajah Kaiden yang begitu dekat dengannya. Setiap kali kemarahannya memuncak, Kaiden justru semakin bermain-main, seolah menikmati pertarungan kecil yang membuatnya semakin penasaran. Tubuh Alina bergetar menahan emosi yang naik turun, namun ia tahu melawan terus hanya akan memperpanjang permainan ini.Dengan langkah pelan, ia mendekat, lalu
Risma terdiam, wajahnya sangat panik. Awalnya Vino berniat untuk menunggu, sampai Risma merasa siap, tidak berniat untuk memaksanya. Tapi setelah mendapatkan pesan dari Rita tentang seorang pria di kampus yang terus mengejar Risma, rasa cemburu pun membakar Vino. Apalagi, Rita menjelaskan kalau pria itu teman masa kecil Risma. Bagaimana pun juga Risma sekarang itu istrinya, tidak ada salahnya dirinya meminta kewajiban Risma sebagai seorang istri sekarang. "Kenapa panik? Jangan-jangan kamu udah nggak segel!!" Kata Vino, ia sengaja memancing kata-kata agar istrinya terpancing. Mengingat watak Risma yang keras, dan sangat sulit di kendalikan, ditambah gadis itu sangat menyukai adrenalin. Jadi Vino tahu bagaimana cara memancing gadis itu. Wajah Risma memerah, ucapan Vino barusan terdengar biasa, tapi sebenarnya memiliki makna yang kasar, seakan Vino meragukan harga dirinya. Jadi wajah Risma memerah bukan hanya karena malu, tapi juga marah. Bahkan kedua tangan Risma juga terkepal.
"Kamu!!" Teriak Risma dengan kedua bola mata yang membulat tajam. "Sungguh, ini respon alami pria. Kalau nggak begini, kamu malah harus meragukan kejantananku." Ujar Vino panik mencari pembenaran. Ntah kenapa, Risma malah merasa kesal dan malu sendiri dengan milik Vino yang terlihat menonjol. "Keluar!!! Dasar nggak tahu malu!!" Teriak Risma, tapi wajahnya bukanya terlihat marah, malah terlihat malu. "Kamu yakin nyuruh aku keluar!! Oke aku bakal keluar ... " Ujar Vino seraya melangkah ke arah pintu kamarnya.Tiba-tiba ia berjalan kembali. "Aku lupa ini kamarku, kamu yang harusnya keluar ... ""Biarlah kamu keluar dengan baju terbuka seperti ini!!"Vino tersenyum miring, ia tahu Risma berwatak keras dan selalu mempertahankan harga dirinya. Ia mendorong kursi roda Risma ke arah pintu. Sementara Risma sendiri kedua bola matanya melotot tajam, ia tahu ucapan Vino barusan bukan main-main. Vino beneran akan mengeluarkannya dari dalam kamar. Sekuat tenaga Risma menggerakkan tangannya,







