Share

9. Malam Ini

last update publish date: 2026-04-30 20:35:49

"Nghhh... Leon! pelan sedikit..." rintih Ivanna sembari meremas rambut Leon, kepalanya mendongak dengan urat leher yang menegang.

"Kau ingat bagaimana Matteo dulu hanya berani bermain-main di luar? Saling memuaskan seperti remaja pengecut?"

Ivanna tersentak. Ingatannya melayang pada momen-momen hambar bersama Matteo—bercumbu telanjang namun tanpa keberanian untuk melangkah lebih jauh. Hanya oral, hanya gesekan yang menyisakan rasa haus yang tak pernah tuntas.

<
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Obsesi Gila Leon   14. Allegra Kena Fitnah

    Ivanna melangkah mantap memasuki ruangannya bersama Sonia, manajer keuangan sekaligus salah satu orang kepercayaannya. Di tangannya, paper bag bermerek itu tampak begitu mencolok. Di sudut ruangan lain, Simona yang sedang berpura-pura sibuk dengan dokumennya, melirik tipis dengan sorot mata penuh iri. "Pasti dari Leon. Aku tahu pria itu baru saja datang saat aku menuju lobi lift tadi," batin Simona. Ia berusaha tetap fokus pada layar komputer, padahal isi kepalanya sudah berisik dengan berbagai rencana jahat. "Akan kugeledah isinya begitu kita sampai di rumah nanti. Jangan harap kau bisa pamer di depanku, Ivanna." Sonia yang menyadari ketegangan itu, hanya melirik sekilas ke arah Simona sebelum menutup pintu ruang kerja Ivanna dengan rapat. "Ini data audit yang kau minta, Iv. Semuanya sudah bersih dari campur tangan divisi pengadaan," bisik Sonia sambil menyerahkan sebuah map. Ivanna meletakkan pemberian Leon di atas

  • Obsesi Gila Leon   13. Teror Pertama

    Simona melangkah cepat menuju mejanya, sengaja kembali lebih awal untuk meredam rasa malunya setelah diusir Leon. Namun, langkahnya terhenti saat melihat sebuah amplop cokelat terselip di bawah keyboard."Apa ini? Ada amplop terselip," gumamnya heran. Ia segera membukanya dan seketika matanya terbelalak kaget.Di dalamnya terlampir foto dirinya dan Matteo sedang bermesraan di Ibiza satu tahun lalu. Simona merasakan merinding."Ini foto hasil jepretan orang lain dari jauh, tapi yang ini? Ini jelas foto dari ponselku sendiri! Bagaimana bisa? Ponselku tak pernah hilang, jangan-jangan dataku diretas?" ucapnya dengan suara bergetar panik.Ia membolak-balik foto-foto itu dengan tangan gemetar. Jantungnya berpacu hebat, menyadari bahwa seseorang telah berhasil menembus privasinya dan kini memegang kendali atas rahasia gelapnya. Simona menoleh ke sekeliling ruangan dengan waspada, merasa seolah ada ribuan mata yang sedang mengintai dari balik tembok

  • Obsesi Gila Leon   12. Sedang Dekat

    Itu adalah divisi paling "basah" di perusahaan, posisi strategis yang biasanya membutuhkan pengalaman bertahun-tahun. Simona tersenyum penuh kemenangan, melirik Ivanna yang berdiri tenang di barisan depan dengan tangan bersedekap. "Terima kasih, Ayah. Saya berjanji akan merombak seluruh sistem pengadaan kita agar lebih... menguntungkan," ucap Simona dengan matanya menatap tajam pada Ivanna. Ivanna hanya membalas dengan senyum tipis. Ia tahu betul, di balik jabatan mentereng itu, Simona justru baru saja masuk ke dalam kandang singa yang sudah dipasang jebakan olehnya. Ivanna bertepuk tangan pelan, memecah kesunyian dengan nada meremehkan. "Selamat, Simona. Semoga kau bisa menjaga tanganmu agar tetap bersih saat mengelola uang perusahaan." **** Istirahat siang, Simona dan Matteo bertemu di sebuah kafe langganan mereka. "Jadi dana investasi sudah cair dari Leon? Bisa

  • Obsesi Gila Leon   11. Benalu Mulai Bekerja

    Ivanna masuk ke rumahnya, namun lagi-lagi Simona tampak menunggu dengan raut tak suka."Wow, yang sudah punya pacar baru dua hari. Pulang terlambat terus ya?" sindir Simona."Oh, kau? Besok jangan sampai terlambat. Dan soal aku dan Leon, kenapa tidak? Dia kan pebisnis dengan financial freedom, uang tiap detik masuk di saham-sahamnya. Tidak seperti Matteo yang sibuk lembur dengan kepala nyut-nyutan karena sibuk cari investor," ucap Ivanna santai sambil menyibakkan rambutnya, memamerkan bekas merah di lehernya, kibasan rambutnya tercium wangi dan tubuh Ivanna samar-samar beraroma maskulin dari parfum Leon. Simona melotot tajam, menatap nanar pada bekas merah di leher Ivanna yang sengaja dipamerkan itu. "Grrrhh... Sialan kau, Ivanna!" geram Simona karena emosi."Kurang ajar! Dia sengaja memamerkan cupang di depanku? Hanya karena dia mendapatkan Leon yang lebih kaya, dia merendahkan Matteo—pria yang setengah mati ia kejar dulu? Lihat s

  • Obsesi Gila Leon   10. Pengakuan Leon

    Ia mengecup sudut bibir Ivanna dengan posesif. "Minumlah. Setelah itu tidurlah, karena besok pagi kau harus tetap terlihat cantik saat menyaksikan adikmu mulai menggali kuburannya sendiri.""Tunggu, ada yang ingin kutanyakan padamu," ucap Ivanna sambil menyentuh bahu kokoh Leon, menahan pria itu agar tidak beranjak."Soal apa?""Darimana kau tahu jika aku dan Matteo hanya sebatas saling memuaskan tanpa penetrasi? Sampai sejauh mana kau tahu tentang hidupku?" tanya Ivanna, dilanda rasa penasaran yang mulai mengusik logikanya.Ivanna menatap tajam, mencari celah di mata pria yang baru saja memujanya di atas ranjang itu. Ia merasa telanjang dalam arti yang sebenarnya—bukan hanya secara fisik, tapi juga secara privasi. Bagaimana mungkin detail sekecil itu bisa diketahui oleh orang luar, sehebat apa pun jaringan informasinya?Leon tertawa rendah terdengar begitu meremehkan. Ia kembali merebahkan diri di samping Ivanna, menyandarkan k

  • Obsesi Gila Leon   9. Malam Ini

    "Nghhh... Leon! pelan sedikit..." rintih Ivanna sembari meremas rambut Leon, kepalanya mendongak dengan urat leher yang menegang."Kau ingat bagaimana Matteo dulu hanya berani bermain-main di luar? Saling memuaskan seperti remaja pengecut?"Ivanna tersentak. Ingatannya melayang pada momen-momen hambar bersama Matteo—bercumbu telanjang namun tanpa keberanian untuk melangkah lebih jauh. Hanya oral, hanya gesekan yang menyisakan rasa haus yang tak pernah tuntas."Sssshhh... Leon, jangan sebut... namanya sekarang!""Aku ingin kau membandingkannya, Sayang," potong Leon, dengan lebih dalam sambil memberikan entakan kuat dari bawah."Matteo hanya memberimu janji, tapi aku... aku memberimu kenyataan. Aku masuk ke dalam dirimu, memilikimu sepenuhnya, sambil menghisap bagian yang sangat kau sukai ini."Ivanna merasakan sensasi yang meledak-ledak."Ah! Kau... kau gila! Tapi ini... aghh... jauh lebih baik. Lebih... dalam,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status