ログインDayana langsung tersentak, dia hendak pergi keluar, namun seseorang menahan tangannya. "Jika ada yang harus pergi dari ruangan ini. Itu bukan kamu, Aya," ujar Abimana dengan lembut dan tatapan penuh cinta. Lalu tatapan penuh cinta itu lenyap dan berubah dingin saat menatap Renata, "Tapi, pelacur itu yang harus pergi!" sambungnya. Dia bukan hanya menggenggam tangan Dayana tapi juga memeluk pinggangnya dengan posesif.
Renata mengerjabkan matanya yang terasa panas, "Pelacur?" gumamnya dengan suara tercekat. "Yah! Pelacur! Jika bukan karena perjodohan Kakekku. Kamu kira aku sudi menikahi wanita kotor sepertimu!" sarkas Abimana dengan tatapan remeh. Renata tertawa sinis, sikap lemah lembut memang tidak cocok untuknya. Wanita itu mengambil ponselnya lalu memotret dua mahluk sialan itu. "Kamu lihat foto ini, suamiku tercinta!" ujarnya dengan sudut bibir terangkat. Abi mengangkat sebelah alisnya. Sedangkan Dayana, dia diam-diam tersenyum tipis. Renata bersedekap angkuh, "Sekarang suruh pelacur kecilmu itu keluar atau Ayah mertua dan Nenekmu akan melihat cucunya sedang berpelukan dengan mantan pacarnya," ancamnya. Dayana Hansen, gadis berusia 23 tahun mantan pacar Abimana. Abimana langsung melepaskan pelukannya dan wajahnya menggelap, "Kamu!" eramnya berjalan mendekat ke arah Renata. Renata langsung menyembunyikan ponselnya dan tertawa, "Eits! Jangan bergerak atau pesannya akan terkirim tanpa aku sadari!" Abimana berkata dengan gigi berkertak, "Coba saja! Aku pasti akan mematahkan tanganmu!" Renata membulatkan matanya, "Suamiku ... aku mohon ... jangan sakiti aku!" ujar Renata dengan mata berkaca-kaca sambil menyatukan kedua tangannya. Dayana tersenyum melihat Renata ketakutan dan memohon. Dalam hati dia bersorak melihat adegan yang sedang berlangsung. Tapi berbeda dengan Abimana yang memutar bola matanya dengan jengah. Wanita itu selalu berpura-pura. Benar saja dugaan Abimana. Renata seketika tertawa terbahak-bahak, dia menangis tapi bukan karena takut atau sedih tapi karena tertawa. Abimana membelai rambut Dayana dan berkata dengan lembut, "Kamu pulang dulu ya, Aya. Aku akan menyelesaikan masalah ini dengan pelacur itu." Dayana mengangguk, dia mengerlingkan matanya. Gadis itu terlihat murung dan takut. Namun saat pintu tertutup, Dayana tersenyum dengan lebar dan merasa puas. Tawa Renata berhenti, dia melempar Dokumen yang dia bawa dengan tatapan dingin. Abimana melirik ke arah dokumen tersebut, lalu berkata dengan dingin, "Jadi kamu datang kesini dengan penampilan seperti gembel dan berpura-pura mengantar dokumen?" Dahi Renata mengerut samar, "Aku datang kesini karena Ibu menyuruhku mengantar Dokumen itu untukmu. Susah payah aku kesini dengan niat baik, tapi yang aku dapatkan malah memergoki suamiku berselingkuh!" cibirnya. Abimana terlihat acuh, dia duduk di kursi kebesarannya lalu mengambil berkas itu dan menandatanganinya, "Ibu memang tidak sabar!" ujarnya dengan sinis. Renata tidak peduli, tugasnya sudah selesai jadi saatnya dia pulang. "Tugasku sudah selesai jadi aku pulang dulu!" Renata membalik badannya dan hendak pergi. "Tanda tangan dulu, baru kamu pergi!" suara Abimana kembali mengalun. Langkah Renata berhenti, dia langsung menoleh dengan wajah bingung, "Aku tandatangan, untuk apa?" "Tentu agar kita bisa bercerai!" jawab Abimana dengan santai. Wajah Renata memucat, suasana ruangan itu menjadi sangat dingin. "Bercerai?" gumamnya. Dia tidak pernah menyangka Abimana akan menceraikannya. Dia tahu Abimana tidak mencintainya dan bahkan membencinya. Tapi Renata terlanjur mencintai pria itu. Dia juga punya harapan bahwa suatu saat nanti bisa meluluhkan hati suaminya. Setidaknya dia sudah menjalankan tugasnya selama ini. Tapi kenyataannya sangat pahit. "Kamu yakin, Abi?" tanya Renata dengan tatapan sedih. Renata harap Abimana sedang bercanda. "Tentu, kamu kira aku bahagia menikah dengan wanita liar dan kotor sepertimu!" sarkas Abimana. Renata terdiam dengan bulu mata terkulai ke bawah, ini bukan pertama kalinya Abimana menghinanya. Tapi rasanya kali ini berbeda. Renata merasa seperti menelan racun yang membuat dadanya terasa terbakar saat Abimana menghinanya. Hinaan kali ini mungkin puncak dari rasa muak Abimana terhadap dirinya. Wanita kotor, pelacur, wanita liar, binal dan masih banyak lagi panggilan kasar yang penuh hinaan yang Abimana lontarkan padanya. Renata hanya wanita biasa, dia mungkin akan tahan jika orang lain menindasnya. Tapi jika suaminya sendiri yang menghina dan menindasnya. Apa Renata tidak boleh merasa sakit? Tentu bolehkan! Renata mengangkat bulu matanya, "Aku bukan pelacur ataupun wanita binal, Tuan Abimana Levi Mahendra!" Renata memekik dengan linangan air mata. Abimana berdecis sinis dengan sorot mata meremehkan, "Kamu kira aku akan tersentuh dengan air mata buayamu itu! Tidak sama sekali! Wanita tidak benar sepertimu tidak layak di cintai dan menjadi istri siapapun!" Deg! Renata berdiri dengan tangan terkepal, air matanya jatuh satu persatu dengan deras. Hatinya sangat sakit, seperti ada ribuan anak panah yang menyerang jantungnya. Nafasnya tercekat dan bahunya bergetar. Abimana bangkit dan berjalan mendekati Renata lalu mengapit dagu wanita berusia 28 tahun itu. "Sekarang aku ingin tanya padamu, jalang! Ada berapa banyak, pria yang menikmati tubuhmu yang seksi ini?" tanya Abimana dengan tatapan mencemooh. "Yang kamu ingat saja, coba sebutkan namanya!" lanjutnya sambil menghepas wajah Renata dengan jijik. Pria itu bahkan mengambil tissu untuk mengelap tangannya.Ting! Sebuah pesan yang mengandung ancaman kembali masuk. [Bakar saja kalau berani!]Melihat pesan Abimana yang semena-mena membuat darah Renata mendidih, dia segera membalas. [Aku nggak takut!]"Huh! Dia pikir aku takut apa!" Demi ketenangan hidup barunya, Renata memblokir nomor Abimana. Dia pun melempar ponselnya ke ranjang. Dia bersandar dan memejamkan matanya sambil mengatur nafasnya. Lalu tiba-tiba dia teringat sesuatu. Renata belum melihat berita tentang dirinya di media sosial. Dia pun bangkit dan kembali memungut ponselnya. Dia merebahkan diri di ranjang dan membuka akun media sosialnya.Halaman pertama yang muncul di layar adalah foto ciumannya dengan Abimana. Renata bermonolog, "Ternyata ada orang yang tidak takut mati!" Dia pun membuka kolom komentar. Saat membaca komentar netizen satu persatu, Renata hampir muntah darah karena semua netizen mengutuknya. "Dasar wanita murahan!" "Semoga semua pelakor masuk neraka!" Semua hujatan media sosial tertuju padanya, tapi t
Bela pun hanya mengangguk. Tidak lama kemudian, supir Bela datang. Di saat perjalanan pulang, Bela duduk bersandar di kursi sambil melamun. Dia ingat, saat itu Bela mengajak kedua sahabatnya untuk menjenguk Moris di rumah sakit. Dia bertemu Dayana yang duduk di sisi ranjang, penampilannya berantakan, wajahnya pucat dengan lingkar hitam di bawah matanya. Penampilannya terlihat rapuh dan menyedihkan. Di saat itulah Dayana menceritakan kepedihannya dan memutar balikan fakta. Dia bahkan menunjukan foto Renata dan Abimana sedang berciuman di pinggir pantai. Dan bilang bahwa Ayahnya kecelakaan karena tahu bahwa putrinya dikhianati oleh tunangannya.Itu sebabnya Bela mengajak kedua sahabatnya untuk memberi pelajaran kepada Renata.Di sisi lain.Renata sudah sampai di depan halaman rumah Angel. Angel sudah menunggunya dengan cemas. Saat Mobilnya berhenti, Anger langsung lari menghampirinya."Ren! Gawat!" Di dalam mobil Renata hanya mendengkus saat melihat Angel berteriak heboh. Angel bahka
"Nat... kamu masih punya salinannya?" tanya Renata. Nathan mengerutkan kening, "Kamu yakin?" Renata mengangguk, "Tentu!" Nathan memandangi wajah Renata yang tampak lelah, lalu pergi ke mobilnya. Beberapa saat kemudian, Nathan datang dengan selembar kertas. Dia menyerahkan kertas itu. "Ini." Renata menerimanya. "Terima kasih." Saat melihat kertas itu hatinya terasa dingin. Pernikahannya dengan Abimana berakhir di atas selembar kertas. Wanita itu menyerahkan kertas itu kepada Bela. Bela mendengkus lalu menerima kertas itu dengan kesal. Saat membaca kertas itu, perlahan wajahnya memucat. Dia bahkan sampai membacanya berkali-kali. Lidahnya yang tajam perlahan menjadi kelu, "Ini?" Lena dan Kaila mendekat karena merasa penasaran. Kedua gadis itu membacanya dan mereka juga tercengang. Di dalam kertas itu tertulis bahwa Abimana dan Renata sudah menikah selama tiga tahun. Keputusan perceraian mereka juga baru satu minggu. Bisa jadi, foto ciuman mereka terjadi saat masih menjadi s
Nathan menarik tangan Renata ke sampingnya lalu berbisik, "Ada kamera." Sorot mata Renata menggelap, tapi beberapa detik kemudian langsung berbinar. Dia bahkan menyibak rambutnya dengan anggun. "Aku tahu." Dahi Nathan mengerut. Kalau Renata tahu, Ini berarti sangat gawat. Tanpa pikir panjang, Nathan menarik lengan gadis itu dan ingin menyeretnya pergi. "Kalau sudah tahu, ngapain tetap di sini? Ayo pergi!" Renata mendengus dan melotot horor. Dengan suara tertahan dia berkata, "Aku nggak takut!" Nathan menghela nafas dengan berat. Dan berusaha untuk memberi nasehat. "Kamu memang jagoan! Tapi kamu juga sudah terlalu tua untuk berkelahi di depan umum! Alangkah baiknya kalau kamu belajar bersikap tenang." Renata tertawa geli karena merasa Nathan begitu polos. Renata kan bukan anak kecil lagi. Walaupun dia suka bersikap impulsif, bukan berarti dia akan menghajar ketiga gadis muda itu. Nasehat pria itu masuk ke telinga kiri dan keluar ke telinga kanan. Gadis itu mena
Kepala Renata, sedikit miring. Wanita itu tertegun saat cairan kental dan amis mengalir menyusuri sisi wajahnya. Dia tidak sedang ulang tahun. Kenapa ada yang melemparinya telur?Renata mengangkat tangannya dan mengambil cangkang telur di kepalanya. Matanya memerah dan sudut bibirnya terangkat. Dia sudah seperti naga yang siap menyemburkan api. Dan ada seseorang berteriak."Apa-apaan kalian! Berani sekali membuat onar di tempatku!" Orang yang marah itu adalah Nathan. Dia berteriak pada tiga gadis yang berdiri di depan restorannya.Tiga gadis itu tersentak dan hanya berdiri kaku.Sedangkan Renata, dia tercengang. Baru kali ini, dia melihat Nathan marah-marah. Pria selembut kelopak bunga mawar saja bisa marah, apalagi Renata yang punya kesabaran setipis kulit bawang."Apa kalian tidak tahu sopan santun? Kenapa kalian bersikap kampungan seperti ini?" Nathan, pria itu mengomel sambil berkacak pinggang. Dia tidak sepertinya biasanya.Wajah ketiganya memerah karena malu saat Nathan 'san
Reino mengikuti Abimana dengan tenang, tapi pikirannya tidak. Dia masih memikirkan keputusan bosnya yang melepaskan tiga orang itu pergi begitu saja. Reino pun membuka mulutnya karena penasaran. "Kenapa Bos melepaskan mereka begitu saja?"Abimana tidak menjawab, pria itu tetap berjalan dengan santai. Reino mengernyit.Mungkin bosnya nggak dengar atau nggak mau jawab. Reino yang nggak sayang nyawa pun mulai berceloteh lagi."Padahal jika Tuan sekali saja kasih perintah, video itu akan lenyap dari dunia ini termasuk orang yang bernama Nathan." Abimana berhenti di depan pintu ruang kerja. Pria itu berbalik, sorot matanya sedingin es. Reino tersenyum kaku.Niatnya ingin mencairkan suasana, tapi yang ada malah semakin menjadi beku."Kamu pikir aku takut? Atau aku bodoh?" Abimana bersedekap angkuh, kedua alisnya saling bertautan.Iris mata Reino melebar, "Bukan begitu!!"
Nafas Renata terasa sesak, sekeras apapun dia menahannya air matanya tetap jatuh berderai. Namun Renata adalah wanita yang keras kepala. Dia mengangkat dagunya dan kembali menantang dan berkata dengan emosional, "Kenapa Abi? Sakit ya? Marah ya? Selama hampir tiga tahun kamu selalu meminta cerai pad
Renata terus berjalan sambil mencengkram gaunnya. Dia berpura-pura tidak mendengar.Mata Abimana berubah dingin, dia langsung berjalan cepat dan menarik lengan Renata hingga mantelnya terjatuh. Wanita itu pun terhuyung dan menabrak dada bidangnya. Bulu mata Renata bergetar saat matanya bertemu deng
Abimana meletakan cangkir di meja dengan cukup keras, auranya yang dominan membuat semua orang menahan nafas. Dia berkata dengan dingin, "Aku bisa membuat Renata melepaskan kesempatan ini," ujar Abimana dengan penuh percaya diri.Mikayla mencoba menahan diri, dia tetap mempertahankan keanggunannya
Melihat kemejanya robek, Abimana tertegun. Tiba-tiba jantungnya berdebar kencang.Wajah Renata mendongak dengan pipi merona, tatapannya seperti anak kecil yang takut di marahi ibunya. Melihat ekspresi Renata yang terlihat polos dan lembut membuat pipi Abimana yang putih pun terlihat merona. Suasan







