تسجيل الدخولPlak!Satu tamparan keras mendarat telak di pipi Rendi begitu pintu kamar utama mansion tertutup rapat. Bukan dari Kakek, melainkan dari Ibu Rahayu yang napasnya sudah memburu naik turun dengan wajah merah padam karena menahan malu dan amarah sejak di halaman tadi."Kamu itu bodoh atau gimana, Ren?!" pekik Ibu Rahayu dengan suara tertahan, takut lengkingannya menembus dinding hingga terdengar ke ruang tengah tempat Kakek berada. "Mama sudah bilang, manfaatkan perut si Bintang itu buat menguras harta Kakek! Bukannya malah beli mobil balap ceper begitu! Sekarang kalau Kakek benar-benar memblokir sisa fasilitas kita, mau makan apa kita, hah?!"Rendi memegangi pipinya yang terasa panas dan berdenyut. Sudut bibirnya menyunggingkan senyuman miring yang penuh rasa tidak puas. Ia menatap ibunya dengan tatapan menuntut."Kenapa sekarang Mama malah menamparku?" sentak Rendi dengan nada tidak terima. "Bukannya tadi di luar Mama juga ikut memuji pilihan mobilku di depan Kakek? Mama juga senan
Halaman mansion utama Pratama mendadak sedingin es. Pertanyaan sarkas Kakek Pratama baru saja menghantam ulu hati Rendi, membuatnya tidak bisa bernapas selama beberapa detik. "K-Kakek. Ini bukan buat balapan, Kek," jawab Rendi terbata-bata.Sepasang matanya melirik liar ke arah pintu masuk mansion, berharap Ibu Rahayu atau Shinta keluar untuk membantunya merangkai kebohongan. "Rendi cuma mikir kalau mobil ini punya nilai investasi yang tinggi, Kek. Jadi..." "Investasi?" Angkasa memotong kalimat itu dengan nada santai, hampir terdengar malas. Pria itu bersandar pada pilar beton halaman sembari melipat kedua tangan di dada."Investasi menggunakan uang yang Kakek khususkan untuk kenyamanan ibu hamil? Sejak kapan seorang suami memprioritaskan nilai jual kembali sebuah kendaraan ketimbang keselamatan anak dan istrinya sendiri, Ren?"Sialan! Rendi mengumpat habis-habisan dalam hati, menatap Angkasa dengan kilat mata penuh dendam. Kakak tirinya itu benar-benar tahu di mana harus menanca
Rendi tidak pernah merasa sebahagia ini seumur hidupnya. Selama bertahun-tahun, dia hanya mampu mengendarai mobil sedan biasa yang kelasnya jauh di bawah standar sosial keluarga besar Pratama. Setiap kali bersanding dengan Angkasa yang selalu mengendarai kendaraan berspesifikasi tinggi, harga diri Rendi rasanya seperti diinjak-injak.Namun sore ini, semuanya berubah. Rendi berdiri di depan sebuah showroom mobil mewah, memandangi supercar keluaran terbaru yang baru saja dia tebus menggunakan uang transferan dari Kakek. Bukan sekadar mobil mewah, Rendi sengaja memilih tipe yang spesifikasi dan harganya berada di atas mobil sport hitam milik Angkasa.Rendi tersenyum jemawa sembari mengelus setir kemudi yang masih berbau toko tersebut. ‘Aura CEO pasti terpancar ketika aku mengendarai mobil ini, sedangkan Mas Angkasa? pasti kalah jauh mengingat Mobil sportnya yang sok keren itu cuma hadiah gratisan dari klien asing!’ batin Rendi bersorak angkuh, sengaja melupakan fakta bahwa uang tunai i
Malam itu Angkasa mengendap-ngendap masuk ke dalam kamar Bintang. Klik Begitu pintu terkunci, pandangannya langsung menyapu kamar tidur yang hanya diterangi oleh lampu tidur temaram di sudut nakas. Di atas ranjang itu, berbaring sesosok wanita dengan memeluk bantal guling dengan posisi meringkuk. ‘Sialan! Mau memeluk istri sendiri saja aku harus sekreatif agen intelijen,’ Angkasa merutuk dalam hati, menyunggingkan senyuman miring yang satir. ‘Kalau si brengsek Rendi itu tahu kalau wanita yang dia klaim sebagai istri adalah istriku, mungkin dia bakal langsung kena serangan jantung.’ Angkasa melangkah tanpa suara, melepaskan jam tangan mahalnya lalu meletakkannya di atas meja. Di bawah temaram lampu, siluet Bintang begitu menggoda. Daster tipis yang dia kenakan mencetak lekuk pinggulnya yang semakin matang. "Benar-benar membuat gila." gumam Angkasa. Aroma minyak telon bayi bercampur parfum vanila alami yang menguar dari tubuh Bintang langsung menusuk indra penciuman Angkasa,
Angkasa telah mengatur segalanya dengan sangat rapi melalui Jerry. Asisten setianya itu mengirimkan salah satu anak buahnya untuk menjemput Monic secara langsung menggunakan mobil, menyusun skenario palsu seolah-olah Rendi yang memberikan perintah tersebut karena sangat merindukannya. Tujuan utama Angkasa melakukan ini sebenarnya sangat sederhana, namun krusial bagi hatinya: dia sama sekali tidak sudi dan tidak akan membiarkan Rendi tidur bersama Bintang malam ini. Angkasa ingin mengalihkan seluruh perhatian dan gairah Rendi kepada wanita lain agar istrinya aman dari sentuhan pria brengsek itu. Malam harinya, aroma daging panggang yang diselimuti bumbu gurih menyeruak ke udara halaman vila, bercampur dengan tawa renyah Kakek Pratama yang tampak sangat menikmati liburan keluarga tersebut. Namun, di tengah keceriaan itu, ponsel Rendi yang diletakkan di atas meja bergetar hebat. Sebuah pesan dari nomor Monic masuk, menyatakan bahwa dia sudah berada di depan gerbang utama vila. Jant
Kepanikan yang mendalam membuat kekuatan Bintang mendadak meningkat.Takut kalau Rendi akan bertindak lebih jauh, dengan sadar Bintang mendorong dada bidang Rendi hingga pria itu kehilangan keseimbangan dan terjungkal ke belakang di atas ranjang."Bintang apa yang kamu lakukan!" teriaknya. "Maaf Mas, aku tidak sengaja." Elaknya. Sebelum Rendi bangkit, Bintang berjalan ke arah pintu. "Aku mau keluar, Mas! Di dalam kamar agak pengap, aku butuh udara segar!" seru Bintang dengan napas yang memburu, lalu secepat kilat memutar knop pintu dan bergegas melangkah keluar sebelum Rendi memaksanya lagi. Bintang berjalan cepat dengan setengah berlari menuju ruang tengah, tempat di mana Angkasa dan Kakek Pratama sedang duduk berbincang.Begitu melihat sosok Bintang yang datang dengan wajah yang sedikit pucat dan raut panik yang kentara, rahang Angkasa seketika mengeras. Matanya berkilat tajam, langsung tahu ada yang tidak beres."Kamu kenapa, Sa—eh, Bintang?" tanya Angkasa, hampir saja kelep
“Ren kenapa Bintang malah mual, jangan-jangan benih yang ada di rahim Bintang bukan benihmu…” Bisik Angkasa. Mendengar bisikan sang Kakak Rendi justru tertawa keras, menganggapnya sebagai lelucon paling konyol. "Hahaha! Mas Angkasa bisa saja, mana mungkin itu benih orang lain, Mas. Aku sendiri y
Rendi merendahkan tubuhnya, bersiap untuk menunduk dan melongok ke bawah kolong meja kerja Angkasa.Di bawah sana, Bintang sudah pucat pasi. Keringat dingin bercucuran di pelipisnya. Dalam kepanikan yang memuncak, kedua tangannya bergerak refleks memegangi celana bahan yang dikenakan Angkasa, mence
Keesokan harinya, suasana di ruang tengah kediaman Pratama kembali dipenuhi oleh kepura-puraan yang kental.Rendi duduk dengan wajah lelah yang dibuat-buat, sesekali menguap untuk meyakinkan semua orang bahwa dia baru saja menghabiskan malam dengan bekerja keras demi proyek kantor.Sementara itu, M
Melihat Rendi dan Monik yang membeku seperti patung, Shinta yang berdiri di samping Bintang seketika ikut panik setengah mati. Jantungnya mencelos. Di dalam otaknya, Shinta mengumpat habis-habisan kelakuan bodoh kakak kandungnya itu.'Sialan! Ke mana otakmu, Rendi?! Bisa-bisanya kamu membawa wanit







