Share

Masa Lalu

Author: PwanChaa
last update publish date: 2026-07-29 21:27:24

Bambang berdiri di depan pintu kamarnya, seperti biasanya ia pulang larut malam. Ia menatap pintu kamarnya cukup lama. Kamar itu sudah ia tempati selama dua tahu, meski awalnya terasa dingin, kini sudah mulai hangat. Entah karena ia sudah merasa familiar dengan situasi kamar ini atau karena Diana, Bianca, dan Celine yang mulai memberi kehangatan untuknya.

Kreeekk…

Bambang membuka pintu, mengamati kamarnya yang gelap, ia melangkah masuk dan menghidupkan lampu kamarnya. Seketika seluruh ruangan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Obsesi Nyonya dan Nona Rumah   Pasrah!

    Bambang menoleh ke sumber suara yang ia kenali, Herman. Dia berdiri di sana tegak dengan wajahnya sebelum kecelakaan.“Tuan Herman?” gumam Bambang, Herman hanya tersenyum dan menghampiri Bambang dengan berlari-lari kecil.“Sudah berapa lama kamu di sini?” tanya Herman yang langsung merangkul Bambang dan menepuk pundaknya. Bambang hanya menatap Herman seolah tak percaya ia bisa melihat Herman bisa berjalan.“Kenapa? ada yang salah denganku?” Bambang menggeleng mendengar pertanyaan Herman, ia tidak tahu apa yang harus ia katakan atau lakukan sekarang kecuali mengikuti kata-kata Herman.“Kamu ternyata sudah sedewasa ini Bambang, aku benar-benar kira kamu tidak akan bisa bertahan hidup selama ini,” ucap Herman.Wajah Bambang dingin, rambutnya mengibas karena terkena angin, tetapi hatinya gelisah, matanya yang masih melihat penampakan Herman ditambah perkataannya barusan membuat Bambang makin bingung.“Kenapa? Kenapa? Kenapa

  • Obsesi Nyonya dan Nona Rumah   Sakit!

    Suara tekukuran burung perkutut yang bertengker di balkon kamar Bambang. Mata Bambang terbuka dengan beratnya. Kepalanya terasa sangat berat, sangat berat sekali. Tangannya memegang kepalanya, dahinya terasa panas. Ia ternyata terkena demam.Kepala Bambang semakin berat, bahkan terasa melayang-layang, “Aku harus minum obat,” ujarnya.Bambang berjalan dengan tangan yang dijulurkan, menyeleksi tembok-tembok di depannya. “Arghhh… Mana sih kotak obatnya!” erang Bambang. Tanpa sengaja kakinya tersandung oleh kabel yang berada di lantai kamarnya.Braaaakkk!Bambang terjatuh, suara hantamannya terdengar hingga ke dapur di mana Bianca sedang memasak untuk sarapan. Ia yang tengah terlamun disadarkan oleh suara hantaman di kamar Bambang.“Mas! Mas!” teriak Bianca, ia mendobrak kamar Bambang dan melihat Bambang sudah tersungkur kesakitan di bawah sana.“Kamu gak papa, Mas?” tanya Bianca panik, ia memapah tubuh Bambang, menidurkannya di atas

  • Obsesi Nyonya dan Nona Rumah   Dokter Tuan

    Bambang berjalan ke ruang perawatan Herman seperti biasa karena ada dokter yang hendak mengecek kesehatan Herman.“Bagaimana dokter Gilang, kondisi Tuan Herman?” tanya Bambang sembari memakaikan baju ke tubuh Herman yang tadinya dibuka setelah diperiksa.Dokter yang berperawakan seusia dengan Herman, mengecek datanya. Ia menaikkan kacamatanya, membenarkan posisinya yang sudah melorot. “Aku tidak menjamin kondisinya akan semakin baik, aku akan bicara sebagai manusia saja sekarang. Melihat kondisinya yang seperti ini. Masih bisa bernafas dengan alat bantu saja sudah mukjizat,” jawab Gilang. Matanya bergerak dari ujung kepala hingga ujung kaki Herman.Bambang mengiyakan pernyataan Gilang, tapi bukan itu masalahnya Bambang menanyakan kondisi Herman. Bambang hanya ingin memastikan kondisi Herman yang seperti ini pasti sangat menyiksa untuknya. Jiwanya pasti terjebak selama itu dalam keadaan koma membuatnya benar-benar tersiksa.“Memang pantas,” gumam Bambang dengan menangggalkan senyuman

  • Obsesi Nyonya dan Nona Rumah   Tangis Nona

    Mobil Bianca melaju dengan kecepatan yang tinggi. Ia menekan keras pedal gasnya dengan dalam dengan seluruh emosi yang bertumpuk di kepala dan hatinya. Ia menyetir dengan setengah ugal-ugalan membuat mobil-mobil lain mengklakson mobil Bianca.Bianca yang sudah frustasi, ia memukul-mukul setir mobilnya berkali-kali, “Diana sialan! Diana sialan!” Matanya menatap tajam jalan yang gelap. Hanya disinari oleh lampu jalan yang kekuning-kuningan.Cittttt….Mobil Bianca mengerem sempurna di parkiran rumahnya. Ia lalu melangkah dengan langkah cepat dan berat masuk ke dalam rumah, langsung berjalan masuk dan naik ke lantai dua. Bianca tidak melihat siapapun di sana karena sepertinya sedang sibuk di kamar masing-masing.Brak!Pintu kamar Diana ditendang paksa oleh Bianca, Diana yang sedang menyisir rambutnya di meja riasnya berdiri dan menoleh ke arah Bianca yang sedang tersengal-sengal menahan rasa marah dan kesalnya kepada Diana.“Sayang… kamu kenapa?” tanya Diana dengan senyuman khasnya, Bianc

  • Obsesi Nyonya dan Nona Rumah   Menjebol milik Noma (2) 🔥

    “Abis ini enak dong, sakitnya bentar doang kok,” jawab Bambang, ia bahkan membalikkan tubuh Celine, membuatnya merasakan jepitan Celine yang semakin menjepitnya. Memijat keperkasaannya.Celine yang awalnya tersiksa mulai bisa menikmati permainan Bambang, “Ah… Ah.. Om, disitu Om enak…”Bambang menarik dagu Celine, mencumbunya panas, menikmati setiap sudut bibirnya. Tangannya pun bergerak bebas memijat seluruh badan Celine yang menurutnya menarik.“Enak kan… Udah Om bilangin, sekarang kamu siap-siap ya..”Celine kebingungan dengan kata-kata Bambang sebeluma akhirnya ia menyadari gerakan Bambang sebelumnya belum ada apa-apanya, ia mendapat dorongan yang jauh lebih dalam dan nikmat membuat dia serasa melayang ke angka.“Om Bambang.. Om Bambang…”Ia meremas apapun yang ia pegang hingga akhirnya, ia merasakan kedutan tanda ia akan mencapai klimaks. Tidak hanya milik Celine, tetapi Bambang pun mulai bersiap mengeluarkan cairannya.“Ahhhh..”Mereka berdua mengerang bersamaan, melepaskan gaira

  • Obsesi Nyonya dan Nona Rumah   Menjebol milik Nona 🔥

    Diana duduk di ruang perawatan Herman sembari menatap wajah suaminya, ia hanya mematung dengan senyumannya yang aneh. Tidak ada perasaan lagi antara dia dan Herman.Tap…Tap…Suara langkah kaki yang mulai menaiki lantai dua dan decitan pintu ruangan yang terbuka membuat Diana menoleh ke arah sumber suara, Celine berdiri di sana dengan wajah yang tampak masih memerah dan berkeringat.‘Pasti Mas Bambang sudah menghukum bocah ini,’ pikir Diana, ia menatap Celine dengan memberikan senyuman terbaik, menunggu ucapan dan kata-kata yang sangat ingin dia dengar dari Celine, seseorang yang selalu ia takuti di rumah ini.Celine melangkahkan kakinya dengan langkah pelan-pelan, ia bahkan menyangga perut dan pinggangnya, “Tante Diana, a-aku minta maaf.” Celine mengucapkannya dengan menunduk, keringat menetes deras dari dahinya.Diana hanya tersenyum seperti seorang malaikat, “Tentu saja aku akan memaafkan anakku, tapi dengan satu syarat…” Diana menyentuh dagu Celine yang terasa panas, membuat Celin

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status