LOGINBambang sampai di kantornya. Ternyata kedua perwakilan Grup Cokro dan Grup Haryo sudah berada di sana, saling beradu pandang. Bambang bersyukur tidak ada adu jotos diawal pertemuan mereka.
“Jadi, saya sudah membaca berkas pengajuan banding dari Grup Haryo, memang benar kepemilikan Perusahaan Tech.ie jatuh ke tangan Grup Haryo karena adanya Tuan Gio sebagai pewaris resmi independen dari Grup Haryo, sedangkan disini Grup Cokro tidak memiliki pewaris resmi untuk mengambil alih kepemilikan Perusahaan. Grup Cokro tetap akan mendapatkan 30% saham dari Perusahaan,” jelas Bambang. Perwakilan dari Grup Cokro, Guntur, menggebrak meja tidak terima dengan mediasi yang ditawarkan Bambang. “Aku sudah bilang! Grup kalian ini tidak memiliki pewaris perusahaan. Bagaimana kalian bisa memimpin perusahaan?! Sudah, serahkan saja pada kami!” kekeh Citro, perwakilan Grup Haryo. “Kami masih punya anak-” “Anak haram dari selingkuhan istri majikanmu! Tidak bisa lah! Harus anak yang satu darah dengan Pak Cokro yang bisa mengklaim kepemilikan perusahaan!” sela dan bentak Citro. Mereka berdua saling bergulat lidah, entah kenapa perwakilan Grup Haryo terlihat terlalu percaya diri saat berdebat dan seperti dia sudah tahu bahwa ia akan menang telak. Bambang membuka dokumen dari Grup Haryo tentang anak haram yang disebut Grup Cokro, Bambang melihat tes DNA ternyata hasilnya tidak cocok dengan DNA keluarga Haryo. “Haryo itu terlalu serakah! Selama ini kami selalu loyal kepada Grup kalian!” bentak Guntur sambil menunjuk wajah Citro membuat Citro menarik kerah Guntur sebagai tanda perlawanan. Bambang tidak panik, hal seperti ini sudah sering ia lihat sejak menjadi konsultan hukum. “Baiklah-baiklah, hari ini kita sudahi saja pertemuan ini. Jadi Grup Cokro akan mengajukan banding ke pengadilan masalah ini?” tanya Bambang. Guntur mengangguk sembari menarik berkasnya dengan kasar dan meninggalkan kantor Bambang. “Maaf Tuan Bambang, Grup Cokro memang selalu terkenal keras dan kasar. Sudah banyak karyawan yang mengeluh saat perusahaan di bawah kepemimpinan mereka. Bambang melirik Citro sebentar, “Lalu Tuan Citro, apa benar anak yang Tuan sebut tadi bukan anak Tuan Cokro?” “Benar, setelah adanya pengecekan kesamaan DNA ternyata hasilnya memang tidak cocok,” jelas Citro, Bambang mengerutkan dahinya. Dalam hati ia bertanya-tanya tentang kenapa tiba-tiba Grup Haryo meminta Cokro untuk tes DNA anak 'haram' yang sekarang sudah berusia kurang-lebih sama dengan Bambang dan kenapa mereka memiliki arsip tesnya? “Kalau begitu, saya permisi dulu,” “Ah! Tunggu Tuan Citro, ada yang mau saya tanyakan!” Bambang tanpa mengulur waktu lagi mengajak Citro untuk duduk sebentar di sudut ruangan, ada sofa dan beberapa cemilan yang membuat obrolan itu tampak lebih kasual. “Kita santai saja Tuan Citro.” Bambang menuangkan wine ke dalam gelas sloki yang ada di depan Tuan Citro. Citro tanpa ragu meminum wine itu lalu menatap Bambang, “Kamu perlu uang lebih, Tuan Bambang?” tembak Citro. Dalam dunia kerja apalagi bisnis dan hukum, suap menyuap bukanlah hal yang rahasia, ini sudah menjadi rahasia umum bahwa yang punya banyak uang dan jabatan lah yang berkuasa. “Hahaha, bukan-bukan! Dari awal bukankah Tuan Citro tahu kalau pasti akan menang? Aku hanya ingin menanyakan sesuatu,” kekeh Bambang sembari menenguk sesloki wine itu juga. Citro mengangkat alisnya, “Apa itu?” “Kecelakaan dua tahun lalu, apa truk yang menjadi penyebab kecelakaan beruntun itu dari Grup Haryo?” Bambang tenang, ia berusaha untuk membuat alurnya halus agar tidak dicurigai oleh Citro. “Ah iya! Supirnya terkena microsleep jadi dia langsung… Yah, Tuan tahu lah kelanjutannya. Kami sudah memberikan asuransi dan kompensasi kepada seluruh keluarga korban,” jawab Citro sembari menambah wine satu sloki lagi. “Ah benar, salah satu kerabat saya juga salah satu korbannya.” Citro menghentikan gerakannya, ia membeku lalu menatap tajam Bambang, “Benarkah, Tuan? Siapa namanya?” “Herman Adyaksa,” lontar Bambang, Citro semakin tercekat. Matanya menatap tajam Bambang seakan-akan mencari sesuatu yang dalam, meski Bambang sudah berusaha setenang mungkin ada rasa yang tidak nyaman. “Aku mengetahui nama itu, dia satu-satunya korban yang mengalami kelumpuhan total, bukan?” “Benar,” jawab Bambang sembari menyenderkan badannya. Citro lalu memajukan badannya, mendekatkan jarak diantara mereka lalu berbisik mengenai kondisi Herman tentang kemungkinan Herman untuk sembuh. Bambang menimpalinya dengan menggeleng, ia memberitahu kondisi Herman yang kemungkinan sadar dari komanya tipis bahkan tidak ada harapan. Entah itu adalah kondisi yang bisa disyukuri atau tidak, tetapi Bambang membaca mimik Citro menjadi lebih tenang, bahkan ia secara gamblang mengelus dadanya. Bambang sadar ada yang tidak beres dengan Grup ini. “Tuan tenang saja, uang bulanan untuk pengobatan tentu saja akan kami kirimkan sesuai tanggal kesepakatan.” Bambang mengangguk dan berpura-pura tersenyum mendengar jawaban Citro. Bambang lalu menyudahi pertemuan ini karena melihat Citro tiba-tiba ditelepon oleh pihak pimpinan Grup. ‘Kalian jelas mengetahui sesuatu hal tentang Tuan Herman,’ pikir Bambang. Bambang menyetir mobil dengan pikiran yang cukup kacau memikirkan banyak hal; rumah, pekerjaan, dan masalah kecelakaan 2 tahun lalu. Sesampainya di rumah sudah cukup larut malam, ia masuk rumah dan melihatnya sunyi, seperti biasanya. Ia hendak menuju ruang rawat Herman tapi mengundurkan niatnya. Ia masih terbayang wajah Diana yang berpaling darinya tadi pagi membuatnya masih merasa tidak enak hati. Bambang menuju kamarnya dan mandi. Ia kembali lagi merebahkan badannya di kasur menatap langit-langit kamarnya. Kamar Bambang benar-benar berada tepat di bawah kamar Diana, setiap kali ia memejamkan matanya, memorinya dengan Diana dan juga sikap Diana tadi pagi membuatnya tidak bisa memasuki alam mimpi. Ia akhirnya berjalan keluar kamarnya, mencoba mendapatkan angin segar. Rumah Herman memang cukup luas, bahkan taman rumahnya benar-benar cukup untuknya melakukan kegiatan work out ala rumahan. Ia duduk di pinggir kolam ikan, menatap satu-satu kamar anak-anak Herman. Bianca bilang bahwa ia sedang shift malam sedangkan Celine menginap di rumah temannya karena ada tugas akhir yang harus ia kerjakan. Mata Bambang terus menyisir setiap kotak di bangunan itu lalu berakhir tepat ke arah jendela Diana yang terlihat kelambu kamar dan jendelanya masih terbuka. Terlihat sebuah bayang-bayang seseorang sedang mencoba menaiki sebuah kursi dan ada seutas tali di sana. “Sial!” Bambang berlari dengan cepat ke kamar Diana, ia bahkan tidak membuka pintu dengan tangan melainkan dengan kakinya. Terlihat Diana yang mencoba menggantungkan kepalanya di seutas tali tambang. Bambang langsung menarik tubuh Diana dan mendudukkannya di kasur. Bambang mencengkeram pundak Bambang dan membelalakkan matanya seolah tidak percaya apa yang Diana lakukan. Diana histeris dia hanya menangis sesenggukkan memukul-mukul badan Bambang. “Pergi Mas! Pergi Mas, aku mau mati aja daripada hidup di sini!” berontak Diana, Bambang mencoba memeluk Diana agar tidak berontak, “Tolong dengarkan aku, Nyonya! Tolong tenang, Nyonya. Aku ada di sini!” Bambang mencoba menenangkan Diana yang malah meraung-raung keras. “Aku bukan Nyonya rumah busuk ini! Aku bukan Nyonya di tempat yang keji ini!” Diana meraung-raung seperti orang kesetanan, ia lelah, ia tidak kuat menahan semua amarahnya. Selama dua tahun ia dihina oleh kedua anak Herman, dia hanya diam. Kini emosi itu tidak terbendung, dia tidak mau mendengarkan siapapun tak terkecuali Bambang. Baginya, lebih memilih mati daripada hidup menderita seperti ini. “Baiklah Diana! Tatap aku!” Bambang memegang wajah Diana, menguncinya agar menatap matanya. Ia tidak menyebutnya Nyonya lagi membuat Diana yang berontak tersiram hatinya menjadi lebih tenang. Bambang tahu Diana mengalami depresi berkepanjangan akibat menjadi Nyonya di rumah ini. “Diana, tenanglah… Ada aku di sini…” Bambang memeluknya sedih, Diana hanya terpaku dengan keadaan ini. Tatapan Diana tampak kosong, ia tampak benar-benar kosong. “Mas Bambang..” Suara Diana dingin, parau, dan tak bernyawa, Bambang menatap Diana sekali lagi, “Iya?” “Bolehkah aku meminta satu hal darimu?” tanya Diana. Bambang tertegun, ia mengangguk pelan. Diana merangkul leher Bambang dan naik ke atas pangkuan Bambang membuat Bambang menelan ludah berharap ‘adiknya’ tidak bangun di saat yang tidak tepat ini. Diana menatap Bambang, mengelus pelan bibir Bambang lalu dengan sengaja menggesekkan ‘miliknya’ dengan ‘adik’ si Bambang yang membuat Bambang menegang. Diana kemudian berbisik pelan di telinga Bambang, “Tiduri aku, Mas…”Sudah hampir 3 hari Bambang di rumah sakit, setelah mengalami demam tinggi. Setelah Bianca meninggalkannya sendirian dan Bambang menelan obatnya. Ternyata Bambang memejamkan matanya, panasnya tidak kunjung reda malah tambah tinggi.Diana yang awalnya mau menanyakan Bambang tentang kunjungan dokter selanjutnya kepada Bambang, membuka pintu kamar Bambang dan melihat Bambang yang sudah menggigil kedingin mengigau nama seseorang.“Kakek Ron… Kakek Ron..” Diana tanpa pikir panjang langsung menelpon Bianca. Itu pertama kalinya dia menelpon anak tirinya itu.Tuuut.. tuttt..“Halo, ada apa sih?” tanya Bianca dari telepon, seperti biasa ia masih sangat judes kepada Diana.Diana tidak mengambil pusing saat ini karena dia sudah amat sangat panik dengan kondisi Bambang, “Bianca, tolong mama… Mas Bambang badannya panas banget ini loh, Mama gak tahu harus apa…” Jantung Bianca seperti tersambar petir, padahal tadi ia sudah memberikan obat penurun demam kepada Bambang, kenapa masih tak kunjung reda
Setelah itu Bambang hanya mengingat dirinya dibawa ke kantor polisi dan membuat sok 1 panti. Ia juga dihajar habis-habisan oleh ayah Rusdi. Seperti kata Rosyid sebelumnya, keluarga Rusdi itu keluarga terpandang, sebaiknya tidak pernah membuat masalah dengan Rusdi.Bambang kembali dengan tubuh babak belur, penuh dengan ancaman dan hinaan. Ia menggigil, tidak menjawab dengan semua ancaman yang dilantamkan kepadanya. Sampai di panti pun ia masih dicaci maki oleh pihak panti. Ia bahkan diancam akan dibuang jika tidak menjadi anak yang penurut lagi.Bambang pun mendapatkan skorsing dari pihak sekolah selama 1 bulan full, begitu pula dengan pihak panti yang mengurungnya di asrama dan hanya diberi makan 1X sehari. Bambang hanya bisa menahan rasa lapar dan hausnya setiap hari. Ia duduk di sudut kamarnya, menunggu siapapun mengajaknya berbicara tapi tidak ada yang berani mendekat ke arah kamarnya.Bambang merasa benar-benar terjatuh. Dia hanya anak kelas 3 SMP yang masih memasuki masa puber, k
“Kamu gila, Mbang?” Rosyid membelalakkan matanya tidak percaya dengan pilihan Bambang yang segila itu. Ia menepuk pundak Bambang sekali lagi, memastikan Bambang benar-benar yakin akan melakukan hal ekstrim seperti itu. Bambang hanya menganggukkan kepalanya tanda bahwa ia memang sudah memiliki niat. Ia bahkan dengan santai lanjut makan bekalnya tidak menghiraukan Rosyid yang menggelengkan kepalanya tidak percaya.“Seriuslah Mbang, yang kamu lawan itu si Rusdi. Kakak kelas kita yang dikenal rajanya tawuran. Orang tuanya itu polisi, Mbang. Udahlah mending gak usah ya,” pinta Rosyid dengan memohon kepada Bambang agar tidak mencari keributan dengan Rusdi.Bambang menepis Rosyid, “Kenapa? Kamu di pihak Rusdi atau aku?” Rosyid menggarukkan kepalanya, ia benar-benar bingung kali ini. Ia jelas memilih Bambang tapi ia tidak bisa menjamin nasib Bambang ke depannya jika berurusan dengan Rusdi.“Mbang, plis lah pikiran sekali lagi.”Bambang tidak merespon, ia malah menutup kotak bekalnya dan me
Kakek Ron menatap Bambang yang memohon padanya, ia lalu memegang pundak Bambang dan duduk di sebuah kursi tua yang sudah hampir ambruk. “Kenapa sebenarnya? Ini masalah percintaan atau apa?” tanya Kakek Ron, Bambang duduk di sebelah kursi yang Kakek Ron duduki. “Aku hanya ingin membuktikan bahwa diriku bukan orang yang lemah dan mudah dimanfaatkan, Kek!” ujar Bambang, ia memainkan tangannya. “Bela diri itu baik untuk dipelajari, tapi kamu hanya bisa menggunakannya untuk membela dirimu saat kamu sedang tersudut bukan untuk melawan atau membully orang yang tidak bersalah,” jelas Kakek Ron. Bambang mendangakkan kepalanya menatap Kakek Ron. “Tentu saja aku ingin membela diriku, Kek. Aku hanya ingin membuktikan bahwa diriku ini juga pantas untuk dihargai dan tidak takut meski mereka jauh lebih tua dariku.” Penjelasan itu cukup membuat Kakek Ron menganggukkan kepalanya, ia memainkan janggutnya yang panjang itu seolah sedang mempertimbangkan pemintaan Bambang. “Aku bisa saja mengajarim
Bambang dan Rosyid sama-sama terkejut, mereka bahkan tidak bisa berkata-kata.“Gila Mbang, gilaaaak!” Rosyid memukul Bambang, begitu juga dengan Bambang yang memukul balik Rosyid.“Gilaaaaakkk Syid,” ujar Bambang, meski gemetar dan jantungnya terasa seperti ditusuk jarum berulang kali tapi perbuatan Yanti benar-benar cukup berani. “Aku harus gimana, Syid?” tanya Bambang dengan suara bergetar, Rosyid menggelengkan kepalanya dengan wajah yang benar-benar kosong, ia tidak bisa memikirkan apapun.“Mending kita balik aja Syid.” Bambang menarik tangan Rosyid, ia memilih untuk mengalah daripada berjuang mempertahankan hubungan yang hanya beberapa hari.Rosyid mengangguk, mereka berbalik badan.Kreeeekk…Kaki Rosyid menginjak ranting tanaman, memecahkan keheningan yang ada membuat mereka berdua yang sedang beraktifitas di sana langsung berhenti dan cepat-cepat memakai celana.“Siapa di sana?!” teriak laki-laki itu. Ia langsung bergegas berlari ke arah sumber suara. Yanti pun mengikuti arah l
Bambang menarik bibir Yanti, memasukkan lidahnya ke dalam sana, Yanti kaget tetapi tidak menolak. Ia membalas ciuman Bambang yang membuat Bambang semakin ganas. Meski itu pertama kalinya untuk Bambang tapi ia sudah bergerak dengan sangat liar. Yanti adalah ciuman pertamanya.Malam dingin itu tidak lagi terasa dingin di tengah cumbuan panas mereka berdua. Benar kaya Rosyid, berciuman itu memang sangat enak sekal. Bahkan bibir Yanti benar-benar terasa sangat manis.“Mnmmnn…” desah Yanti yang sudah kehabisan napasnya. Mereka berdua menyelesaikan ciuman itu dengan tawaan yang sangat manis. Karena jam malam Yanti sudah dekat, mereka akhirnya memutuskan pulang. Bambang memanggil Rosyid yang sibuk bermain catur dengan temannya.“Berarti kita resmi pacaran, Mbang?” tanya Yanti, Bambang terdiam. Dengan malu-malu, ia mengangguk pelan.Mereka berdua saling melambaikan tangan ketika Rosyid berada di depan hadapan Bambang.“Dihh.. dihh.. siapa yang kemarin katanya gak mau pacaran sekarang malah p







