LOGINAkash Zimraan punya segalanya—wajah tampan, kekayaan berlimpah, jabatan CEO, dan deretan wanita cantik yang rela mengantri hanya untuk sekadar dilirik. Tapi di tengah gemerlap dunia, hatinya terasa kosong. Ada suara masa lalu yang terus memanggilnya—lantunan merdu ayat suci yang dulu dibacakan sang ibu, sebelum ia pergi untuk selamanya. Di bulan Ramadhan yang suci, takdir mempertemukannya dengan Ahmed, seorang pengusaha dermawan yang memintanya membangun pesantren. Dari sanalah pertemuan itu terjadi—dengan Innara, gadis berhijab lembut yang suaranya mengaji mirip sang ibu. Untuk pertama kalinya, Akash jatuh cinta. Bukan pada rupa, tapi pada cahaya keimanan. Namun, jalan menuju perubahan tak pernah mudah. Akash harus menghadapi keluarga angkat yang menolak keputusannya, ujian keimanan yang berat, dan pria lain yang berusaha merebut hati Innara dengan cara licik. Saat semuanya nyaris hancur, hanya kesungguhan hati dan keikhlasan yang mampu menyatukan cinta dalam ridha Ilahi. Apakah cinta yang lahir dalam sujud dan air mata itu akan menemukan takdirnya? Sebuah kisah tentang hidayah, cinta, dan perjuangan menjadi hamba yang lebih baik.
View More1.
「ガー ガー」
鋭く響く声で、時に低く喉を鳴らすような音も混じる。リズムは不規則で、短く切れ目なく連なる場合もあれば、間を置いて一声だけ響くこともある。どこか金属的で、荒々しくも力強い、ただひとつわかることは。この子は多分「起きろ!」と言っている。
カラスが今日も私を起こしに来た。
「おはよう、カー子。今日もありがと」
ジリリリリリリリリ
カラスに少し遅れて目覚まし時計が鳴る。
カチ
「今日はカー子の勝ちだったねえ」
「ガー!」
コチ、コチ、コチ、コチと秒針を進める目覚まし時計がなんとなく悔しそうにしてるように見える。
あたりは夕焼けに染まり人々の一日が終わろうとする中で私の一日が始まる。私は雀荘の遅番。夜に始まり朝終わる。そんな仕事をしている女だ。女性では珍しいことだが、いないわけではない。そんな人間だってこの世界には存在しているのだと知って欲しい。
そのことを、知って欲しくて毎日少しだけ、書き物をしてる。
時は遡って、私がメンバーの真似事をし始めた頃の話から読んでくれますか? ここから先、めくるページは、そう……私の書いたちょっと不思議な自伝の物語――
◆◇◆◇
その1
第一話 私のアミューズメントパーク
私は雀荘に対してマイナスのイメージを持ってない。大人が遊ぶ娯楽施設。アミューズメントパークとかの括りだと思ってるから。だって、そでしょ? 好きな遊びをやる。そこに使用料を払う。フツーのことじゃない? なんでこれがアンダーグラウンドな括りにされてしまうのか理解できない。時代は平成ですからね?
そんな風に私と同じ思いをしてる人はこの世界のどこかにいるはずだ。と思いながらこの熱い想いを当時働いてた雀荘の店長に伝えると。
「まあ、ミズサキの言い分はわからなくもない。わからないわけでもないが、まずは高校を卒業しろ? 年齢隠して深夜の雀荘でバイトみたいな事してる女子なんてのは世界広しと言えどもさすがにミズサキ1人だけだろうからさ。
うちはテキトーだし郊外でポツンとある店だからそれも可能とは言え、とんでもないことしてるのは間違いないからな?」
「う、わかりました……。それはそうか」
この店『麻雀こじま』はド田舎の商店街の端っこ。それも少し商店街から離れた位置にある一応商店街に参加してるよというだけの店。みんなからは『離れ小島』なんて言われてる。お客さんはいつも同じだし、警察の見回りなんて来たことない。そんな離れ小島で私の雀荘生活はスタートしました。
別に、両親が亡くなったとか、海外にいるとか、そんなわけじゃないんだけど。私はここにいた。
親はたしかに健在だけど私は親と仲良くなかった。そう、私は家出少女だったんだ。
“Ganti baju dulu ya, Mas. Aku mandi sebentar,” bisik Innara dengan senyum malu-malu.Akash mengangguk. “Aku tunggu di sini. Tapi jangan terlalu lama. Aku sudah sangat menanti kamu …”***Innara keluar dari kamar mandi sekitar lima belas menit kemudian. Rambutnya kini terurai lembut, hanya disisir jari. Ia mengenakan lingerie tipis satin warna putih tulang, panjang hingga paha, dengan renda halus di bagian dada. Gaun tidur itu membentuk lekuk tubuhnya dengan indah, memperlihatkan kulit seputih susu dan bahu jenjangnya yang kini tanpa penutup.Akash menatap tanpa suara. Dada pria itu naik turun perlahan, mencoba mengatur napas yang mulai tak beraturan.“Ya Allah … kamu benar-benar bidadari,” gumamnya.“Aku nervous, Mas .…”Akash bangkit, berjalan mendekat, lalu mengusap lengan Innara dengan lembut.“Gak perlu nervous. Aku gak akan menyentuh kamu dengan kasar. Aku akan menyentuh kamu dengan cinta .…”Innara memejamkan mata sejenak saat jari Akash menyusuri garis rahangnya, turun ke leher,
Innara tersentak pelan saat tiba-tiba Akash menarik pinggangnya dan menepis jarak di antara mereka. Tubuh mereka kini nyaris tanpa sela.“Mas ... masih banyak orang di luar sana,” ucap Innara dengan nada lirih, wajahnya langsung merona. Ia mencoba mendorong dada Akash, tapi pelukan pria itu justru mengencang.“Ssst ... biarkan aku menatap istriku dulu. Sebentar saja,” balas Akash, matanya menatap lembut, namun dalam.Mata mereka saling bertaut. Tatapan yang mengunci napas dan menyulut debar jantung.“Selama seminggu ini ... apa saja yang kamu lakukan?” tanya Akash tiba-tiba, nadanya ambigu dan menggoda.Kening Innara mengernyit pelan. “Maksudnya?”Akash tersenyum miring. “Aku rasa, kamu nggak butuh waktu selama itu hanya untuk tampil secantik ini.”Innara terkekeh, lalu membalas dengan nada tak mau kalah, “Aku harus tampil cantik maksimal, Mas. Karena hari ini hari istimewa untukku.”“Benarkah?” Akash menggoda. “Seberapa istimewa?”“Sangat ... sangat istimewa. Karena hari ini aku menj
Tatapan Innara langsung tertuju pada ayahnya. Napasnya tercekat ketika menyadari betapa pucat wajah sang ayah. Panik kecil mulai merayap di hatinya."Ya Allah ... Pa, kita ke kamar, yuk," ucap Innara segera, dengan sigap memapah Ahmed dari sisi kanan sementara Akash menopang dari kiri.Langkah mereka perlahan namun pasti menuju kamar utama di lantai bawah. Para tamu yang masih tersisa di ruang tamu otomatis memperhatikan mereka dengan tatapan khawatir.“Ada apa ya?”“Pak Ahmed kenapa?”Beberapa bisik-bisik mulai terdengar. Namun Ayden, yang menyadari kepanikan mulai menyebar, langsung melangkah ke tengah ruangan dan menenangkan semua yang hadir."Tenang saja, semua. Pak Ahmed hanya kelelahan. Dari pagi belum sempat istirahat. Kita doakan saja beliau sehat selalu," ucap Ayden meyakinkan.Ucapan Ayden seolah menurunkan ketegangan. Para tamu pun mengangguk, dan beberapa dari mereka mulai berpamitan pulang dengan sopan.Di dalam kamar, Innara segera membantu ayahnya berbaring di tempat ti
"Siapa sih yang pertama kali bikin aturan itu?" tanya Akash dengan wajah masam saat mereka berdua sedang duduk santai di balkon lantai dua rumah Ahmed. Sinar matahari sore menyinari wajahnya, membuat raut kesalnya semakin terlihat jelas."Aturan apa?" tanya Innara sambil menyuapkan sesendok puding cokelat ke mulutnya. Matanya menyipit menahan silau, tapi wajahnya tetap kalem. Ia tidak langsung paham arah pertanyaan sang calon suami."Ya itu, peraturan pingitan!" sahut Akash sambil melipat tangan di dada. Ekspresi wajahnya seperti anak kecil yang tidak mendapatkan jatah mainan.Mendengar jawaban itu, Innara langsung terkikik geli. Ia sudah menduga cepat atau lambat Akash akan meluapkan unek-uneknya soal tradisi satu ini."Kan kamu sudah setuju kalau kita pakai adat dari Mama. Ya, pingitan ini bagian dari rangkaian adat pernikahan Jawa," jelas Innara, masih dengan senyum geli yang belum hilang dari wajahnya.Tradisi pingitan—sebuah kebiasaan dalam adat Jawa di mana calon pengantin wanit
Sore itu, Akash berdiri di teras rumah Ahmed dengan wajah sedikit kecewa. Niatnya datang untuk meminta maaf dan berbicara dari hati ke hati dengan Innara, tapi ternyata gadis itu sedang tidak di rumah.“Ke mana, Pa?” tanyanya begitu Ahmed menyambut di depan pintu.“Ke pesantren. Dia pergi sejak sia
“Pekerjaan kamu lebih penting dari pernikahan kita. Itu yang aku nilai, Mas,” potong Innara akhirnya, suaranya pelan tapi tajam. Matanya mulai berkaca-kaca.Innara menengadah. Ia tahu jika matanya berkedip sekarang, air matanya akan tumpah. Ia mengatur napas, menghirup udara dalam-dalam, lalu beris
“Dia ada?” tanya Innara sambil menurunkan suaranya.Laudia mengangguk. “Ada, lagi galau mikirin Mbak terus dari pagi. Langsung masuk aja. Gak sabaran nungguin, itu kelihatan banget.”Innara tersenyum, mengangguk sopan, dan mengetuk pintu kaca sebelum mendorongnya masuk.“Assalamualaikum,” sapa Inna
Setelah selesai mandi dan mengenakan pakaian tidur, Akash kembali ke tempat tidurnya sambil membawa ponsel. Ia duduk di tepi ranjang, memeriksa layar, berharap ada balasan dari pesan yang ia kirim beberapa waktu lalu. Tapi layar tetap sunyi. Tidak ada notifikasi dari Innara. Tidak ada pesan masuk.












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews