Se connecterKeheningan di vila itu terasa jauh lebih menyiksa daripada kemarahan Gavin semalam. Aruna terbaring kaku, menatap tetesan infus yang jatuh dengan ritme yang monoton—seperti waktu yang perlahan merenggut sisa-sisa harapannya.Ceklek.Pintu terbuka. Gavin masuk dengan pakaian yang sudah berganti, rapi dan dingin seperti biasa. Namun, lingkaran hitam di bawah matanya menunjukkan bahwa pria itu tidak tidur sejak mereka kembali dari kantor lama Ayah. Di tangannya, ia membawa nampan berisi bubur dan segelas susu hangat."Makan," perintahnya singkat. Ia meletakkan nampan itu di meja nakas, lalu duduk di tepi ranjang.Aruna memalingkan wajah ke arah jendela. "Aku tidak lapar.""Dokter bilang kamu harus makan jika ingin janin itu selamat. Atau kamu ingin aku menyuapimu dengan cara yang tidak menyenangkan?" Gavin mencengkeram dagu Aruna, memaksanya menoleh.Tatapan mereka beradu. Aruna melihat ada badai di mata Gavin—keraguan yang mulai menggerogoti keyakinannya setelah mendengar nama 'Sari' se
Suara gesekan kain dan napas berat Gavin memenuhi ruangan kantor yang pengap itu. Di atas meja kayu yang pernah menjadi saksi bisu kejayaan ayahnya, Aruna merasa dunianya benar-benar runtuh. Bukan karena rasa perih di tubuhnya, melainkan karena kenyataan bahwa setiap ciuman dan sentuhan Gavin selama ini adalah racun yang sengaja disuntikkan untuk membunuhnya perlahan."Kenapa..." Aruna terisak, suaranya nyaris hilang di balik dada bidang Gavin. "Kalau kamu membenciku, kenapa kamu membiarkan aku mencuri kunci ini? Kenapa kamu membiarkan aku datang ke sini?"Gavin menghentikan gerakannya. Ia menarik rambut Aruna perlahan, memaksa wanita itu menatap matanya yang berkilat gelap di bawah cahaya bulan. "Vila itu adalah wilayahku, Aruna. Tidak ada semut pun yang keluar tanpa seizinku. Aku sengaja membiarkan supirku lengah. Aku ingin kamu menemukan bukti ini."Aruna terbelalak. "Kamu sengaja?""Aku ingin kamu tahu kebenarannya tepat saat kamu merasa paling mencintaiku. Itu adalah puncak dari
Gavin masih sibuk dengan asistennya, memberikan instruksi tegas mengenai pengamanan pemakaman Maya esok hari. Aruna memanfaatkan momen itu untuk mendekati supir pribadi mereka, Pak Dadang, yang berdiri di samping pintu mobil yang terbuka."Pak Dadang, boleh saya minta tolong? Dompet saya sepertinya tertinggal di laci depan mobil," ucap Aruna dengan nada setenang mungkin."Oh, biar saya ambilkan, Non Aruna," jawab Pak Dadang sigap."Tidak usah, Pak. Saya sekalian mau ambil tisu di sana. Bapak tolong belikan saya air mineral di kantin rumah sakit ya? Perut saya tiba-tiba tidak enak."Pak Dadang mengangguk patuh dan segera melangkah pergi. Begitu pria itu menjauh, Aruna segera menyambar kunci mobil yang masih menggantung di lubang starter. Dengan tangan gemetar, ia menarik gantungan mawar hitam itu kuat-kuat hingga terlepas dari ringnya, lalu menyembunyikannya di dalam genggaman tangannya.Ia segera mengembalikan kunci mobil ke posisi semula tepat saat Gavin menoleh ke arahnya."Aruna? S
Laras senjata itu terasa dingin di telapak tangan Aruna, namun panas di hatinya jauh lebih membakar. Ia tidak sedang berdiri di depan seorang bos mafia, melainkan di depan pria yang telah berbagi ranjang dengannya, pria yang napasnya pernah menyatu dengan napasnya."Aruna, turunkan itu. Kamu sedang mengandung, guncangan emosi ini tidak baik untuk bayi kita," suara Gavin terdengar rendah, mencoba masuk ke dalam celah kewarasan Aruna."Bayi kita?" Aruna tertawa pedih, air matanya jatuh membasahi gaun merahnya yang terbuka. "Bayi ini adalah saksi bisu betapa pintarnya kamu bersandiwara. Kamu bukan pelindungku, Gavin. Kamu adalah penjara yang aku puja."Bram, sang pemilik ruangan, hanya menyesap cerutunya sambil menikmati drama di depannya. "Gavin, sepertinya koleksimu punya taring. Menarik sekali.""Keluar, Bram! Sekarang!" bentak Gavin tanpa melepaskan pandangannya dari Aruna.Begitu pintu tertutup, keheningan menyergap. Hanya ada deru napas mereka berdua. Gavin melangkah maju, perlahan
"Berlututlah, Aruna. Memohonlah padaku jika kamu ingin ibumu tetap bernapas pagi ini." Suara Gavin terdengar begitu lembut, namun setiap katanya mengandung racun yang melumpuhkan.Aruna menatap kaki Gavin yang terbungkus celana kain mahal. Air matanya jatuh, membasahi lantai. "Tolong... jangan biarkan Ibu pergi... aku mohon, Gavin.""Aku tidak bisa mendengarmu dari bawah sana, Sayang," Gavin mengusap rambut Aruna, lalu menjambaknya sedikit agar wajah wanita itu mendongak. "Katakan dengan jelas. Siapa yang memegang nyawamu dan ibumu sekarang?""Kamu... kamu yang memegangnya," bisik Aruna dengan suara parau."Bagus." Gavin menarik Aruna berdiri, namun tidak membiarkannya menjauh. Ia justru memeluk pinggang Aruna, menariknya hingga tidak ada celah di antara mereka. "Sekarang, tunjukkan padaku betapa berartinya nyawa ibumu bagimu. Layani aku di sini, di depan jendela ini, agar matahari pagi tahu siapa pemilikmu yang sebenarnya."Aruna memejamkan mata. Rasa malu dan putus asa berperang di
Klik.Suara pemantik api itu terdengar nyaring di tengah sunyinya halaman vila, beradu dengan suara tembakan yang memekakkan telinga. Aruna menjerit histeris saat melihat percikan api menyambar pakaian Maya yang sudah basah oleh bensin. Namun, peluru dari senjata Paman Hardi tidak mengenai Maya; timah panas itu justru menghantam bahu salah satu penjaga Gavin yang mencoba maju."Maya! Tidak! Buang pemantiknya!" Aruna merontak hebat, mencoba berlari menuju adiknya, namun lengan kekar Gavin mengunci pinggangnya dari belakang dengan kekuatan yang menyakitkan."Lepaskan aku, Gavin! Dia akan terbakar!""Jangan bodoh, Aruna! Kamu mendekat, kamu ikut mati!" Gavin membentak tepat di telinganya, napasnya yang panas memburu di leher Aruna yang berkeringat.Di depan mereka, Maya tertawa dalam tangis. Api mulai menjilat ujung bajunya. "Kakak harus bebas... jangan jadi seperti aku yang hanya sampah!"Wussh!Api berkobar besar dalam sekejap. Tubuh Maya menjadi pilar api yang mengerikan di bawah caha







