ANMELDENLaras senjata itu terasa dingin di telapak tangan Aruna, namun panas di hatinya jauh lebih membakar. Ia tidak sedang berdiri di depan seorang bos mafia, melainkan di depan pria yang telah berbagi ranjang dengannya, pria yang napasnya pernah menyatu dengan napasnya."Aruna, turunkan itu. Kamu sedang mengandung, guncangan emosi ini tidak baik untuk bayi kita," suara Gavin terdengar rendah, mencoba masuk ke dalam celah kewarasan Aruna."Bayi kita?" Aruna tertawa pedih, air matanya jatuh membasahi gaun merahnya yang terbuka. "Bayi ini adalah saksi bisu betapa pintarnya kamu bersandiwara. Kamu bukan pelindungku, Gavin. Kamu adalah penjara yang aku puja."Bram, sang pemilik ruangan, hanya menyesap cerutunya sambil menikmati drama di depannya. "Gavin, sepertinya koleksimu punya taring. Menarik sekali.""Keluar, Bram! Sekarang!" bentak Gavin tanpa melepaskan pandangannya dari Aruna.Begitu pintu tertutup, keheningan menyergap. Hanya ada deru napas mereka berdua. Gavin melangkah maju, perlahan
"Berlututlah, Aruna. Memohonlah padaku jika kamu ingin ibumu tetap bernapas pagi ini." Suara Gavin terdengar begitu lembut, namun setiap katanya mengandung racun yang melumpuhkan.Aruna menatap kaki Gavin yang terbungkus celana kain mahal. Air matanya jatuh, membasahi lantai. "Tolong... jangan biarkan Ibu pergi... aku mohon, Gavin.""Aku tidak bisa mendengarmu dari bawah sana, Sayang," Gavin mengusap rambut Aruna, lalu menjambaknya sedikit agar wajah wanita itu mendongak. "Katakan dengan jelas. Siapa yang memegang nyawamu dan ibumu sekarang?""Kamu... kamu yang memegangnya," bisik Aruna dengan suara parau."Bagus." Gavin menarik Aruna berdiri, namun tidak membiarkannya menjauh. Ia justru memeluk pinggang Aruna, menariknya hingga tidak ada celah di antara mereka. "Sekarang, tunjukkan padaku betapa berartinya nyawa ibumu bagimu. Layani aku di sini, di depan jendela ini, agar matahari pagi tahu siapa pemilikmu yang sebenarnya."Aruna memejamkan mata. Rasa malu dan putus asa berperang di
Klik.Suara pemantik api itu terdengar nyaring di tengah sunyinya halaman vila, beradu dengan suara tembakan yang memekakkan telinga. Aruna menjerit histeris saat melihat percikan api menyambar pakaian Maya yang sudah basah oleh bensin. Namun, peluru dari senjata Paman Hardi tidak mengenai Maya; timah panas itu justru menghantam bahu salah satu penjaga Gavin yang mencoba maju."Maya! Tidak! Buang pemantiknya!" Aruna merontak hebat, mencoba berlari menuju adiknya, namun lengan kekar Gavin mengunci pinggangnya dari belakang dengan kekuatan yang menyakitkan."Lepaskan aku, Gavin! Dia akan terbakar!""Jangan bodoh, Aruna! Kamu mendekat, kamu ikut mati!" Gavin membentak tepat di telinganya, napasnya yang panas memburu di leher Aruna yang berkeringat.Di depan mereka, Maya tertawa dalam tangis. Api mulai menjilat ujung bajunya. "Kakak harus bebas... jangan jadi seperti aku yang hanya sampah!"Wussh!Api berkobar besar dalam sekejap. Tubuh Maya menjadi pilar api yang mengerikan di bawah caha
"Jadi... Paman Hardi adalah ayah kandungku?" Suara Aruna hilang ditelan angin malam yang menderu di puncak bukit itu. Tubuhnya mendadak lunglai, nyaris merosot dari konsol tengah mobil jika Gavin tidak segera menangkap pinggangnya.Gavin menatapnya dengan intensitas yang sanggup membakar kulit. "Video itu tidak berbohong, Aruna. Ahmad tahu rahasia busuk itu, dan itulah alasan Hardi melenyapkannya. Bukan hanya soal uang, tapi soal aib.""Kebohongan apa lagi ini, Gavin? Setelah semua yang kamu lakukan, kenapa aku harus percaya?" Aruna memukul dada tegap Gavin, air matanya tumpah dalam kemarahan yang meluap."Lihat mataku!" Gavin mencengkeram rahang Aruna, memaksanya berhenti memberontak. "Aku tidak butuh berbohong untuk memilikimu. Kamu sudah berada di genggamanku sejak lama. Tapi aku ingin kamu tahu bahwa pria yang kamu panggil paman itu adalah monster yang sesungguhnya.""Lalu kamu apa? Penyelamat? Kamu meniduri anak dari selingkuhan pamanmu sendiri!""Aku meniduri wanita yang aku ing
"Lalu kenapa tangan Paman gemetar sekarang?" Suara Aruna dingin, setajam sembilu, sambil menyodorkan flashdisk berkarat itu tepat di depan mata Paman Hardi.Paman Hardi mundur selangkah, matanya melirik ke arah Gavin yang sedang digiring masuk ke mobil polisi di kejauhan. "Aruna, kamu sedang terguncang. Kamu baru saja mengalami tekanan hebat dari pria iblis itu. Jangan dengarkan racun yang dia bisikkan.""Gavin memang iblis, Paman. Tapi iblis biasanya jujur tentang siapa teman-temannya di neraka," desis Aruna. Langkahnya maju, mendesak sang paman ke dinding kayu Cafe Rose yang rapuh. "Kenapa Paman begitu takut saya membuka file ini?""Berikan itu pada Paman, Aruna. Itu bukti hukum. Paman akan menyerahkannya pada pihak berwajib agar posisi Gavin semakin terjepit." Paman Hardi mencoba meraih kotak besi itu dengan gerakan yang dipaksakan tenang."Tidak sebelum saya melihat isinya sendiri." Aruna mendekap kotak itu ke dadanya. "Paman bilang Paman menyelamatkan kami dari kebangkrutan setah
"Gavin... apa yang kamu katakan?" Suara Maya nyaris tidak terdengar, pecah seperti kaca yang diinjak. "Katakan padaku itu bohong! Katakan!"Gavin tidak menjawab Maya. Matanya hanya tertuju pada Aruna, menanti keruntuhan wanita itu. "Ayo, Aruna. Jangan biarkan istrimu menunggu. Beritahu dia siapa ayah dari bayi itu."Aruna jatuh berlutut di beton yang kasar. Napasnya sesak, seolah ada tangan tak kasat mata yang mencekik lehernya. "Gavin, tolong... hentikan ini. Ibu... jangan sakiti Ibu...""Jawab aku, Kak!" Maya menjerit, suaranya menggema pilu di dinding parkiran. "Apa yang kalian lakukan di belakangku? Apa?!"Aruna mendongak, air matanya membasahi pipi. "Maya... Kakak minta maaf... Kakak benar-benar minta maaf...""Jadi itu benar?" Maya mundur selangkah, tangannya gemetar hebat. "Bayi itu... anak Gavin? Suamiku?"Gavin melangkah mendekat, mengabaikan Maya yang hancur. Ia berjongkok di depan Aruna, mencengkeram rahangnya agar wanita itu menatap video siaran langsung di ponselnya. Pria
Aruna berdiri kaku di depan cermin besar butik mewah itu. Gaun satin berwarna sampanye yang melekat di tubuhnya terasa mencekik, bukan karena ukurannya yang salah, melainkan karena tatapan Gavin yang terus menguliti bayangannya dari pantulan kaca. Di sudut lain, Maya sedang sibuk mencoba gaun penga
"Aah... Stop Gavin. Sakit.""Jangan bohong Aruna, aku tahu kamu menikmatinya."Bukannya menurunkan tempo gerakan pinggulnya, Gavin malah mempercepat. Tangan Gavin bahkan sangat aktif meremas payudara Aruna."Ah... aku membencimu Gav... ahhh...."Gavin justru tertawa rendah. Suara beratnya memenuhi
Pukul tujuh pagi tepat. Klakson sedan hitam Gavin sudah meraung di depan pagar rumah Ibu. Aruna berdiri di teras dengan dua koper besar dan tas kerja yang ia dekap erat—tas yang kini ia tahu berisi alat pelacak."Sudah siap, Aruna? Ayo, biar aku bantu bawa kopernya," Gavin keluar dari mobil, wajahn







