LOGINSetelah keluar dari kantor Adhitama Group, Alesha langsung menuju kampus. Ia tidak ingin terlalu lama memikirkan pertemuannya dengan Kaivan. Baginya, menjaga jarak adalah pilihan terbaik, meski sebenarnya hatinya masih terasa berat. Sesampainya di kampus, Alesha kembali menjalani rutinitasnya seperti biasa. Ia masuk ke ruang dosen, memeriksa beberapa dokumen, menghadiri rapat, lalu mengajar sesuai jadwal.Di depan para mahasiswa, Alesha tetap terlihat tenang dan profesional. Ia menjelaskan materi seperti biasanya, menjawab pertanyaan, dan sesekali memberikan tugas kepada mahasiswa. Tidak ada yang tahu bahwa di balik sikap tenangnya, pikirannya masih tertinggal di ruang kerja Kaivan. Tatapan pria itu, suara yang terdengar penuh kerinduan, dan kalimatnya yang terputus sebelum Alesha pergi terus terbayang di kepalanya."Aku tidak boleh memikirkan Kaivan lagi," gum
Kaivan berdiri mematung mendengar nama itu disebutkan, jantungnya berdebar begitu kencang hingga terasa hampir melompat keluar dari dadanya sendiri. Setelah enam bulan penuh pencarian yang sia-sia, sosok yang begitu ia rindukan itu kini benar-benar berdiri tidak jauh dari ruang kerjanya."Alesha? Suruh dia masuk, Sita," ucap Kaivan cepat, suaranya terdengar begitu bersemangat, tangannya buru-buru merapikan kemeja yang ia kenakan meski sebenarnya penampilannya sudah cukup rapi sejak pagi tadi.Sita mengangguk dan segera keluar, tidak sampai satu menit kemudian pintu ruang kerja itu kembali terbuka, menampilkan sosok Alesha yang berdiri dengan sebuah kotak kecil berbalut kain beludru di tangannya, wajahnya terlihat begitu tenang meski sorot matanya menyimpan sesuatu yang sulit diartikan."Alesha," ucap Kaivan pelan, s
Lavienna segera menghampiri anaknya, menahan bahu Kaivan yang sudah setengah bangkit dari ranjang dengan tenaga yang masih begitu terbatas, wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang begitu besar melihat tekad anaknya yang begitu terburu-buru itu."Kaivan, tenang dulu, Nak. Kondisimu masih belum sepenuhnya pulih, kamu baru saja pulang dari rumah sakit hari ini," ucap Lavienna cemas, tangannya mencoba menahan tubuh Kaivan yang masih terlihat begitu lemah untuk memaksakan diri bergerak seperti itu.Kaivan menggeleng keras kepala, matanya menatap ibunya dengan tatapan penuh keteguhan meski tubuhnya sendiri jelas belum siap untuk melakukan aktivitas seberat yang ia inginkan saat itu."Aku tidak peduli, Ma. Aku harus menemuinya sekarang, aku sudah menunggu terlalu lama," ucap Kaivan keras kepala, mencoba kembali bangkit mesk
Kaivan menatap layar ponselnya yang menampilkan sebuah pesan singkat dari Vanessa, matanya membaca setiap kata dengan dahi yang semakin berkerut, wajahnya berubah pucat seiring dengan makna kalimat itu perlahan meresap ke dalam pikirannya.Pesan itu berbunyi: "Apa kamu memutuskanku karena Alesha yang selama ini menemanimu di rumah sakit, Kai?"Kaivan terdiam mematung menatap layar itu, tangannya yang tadi masih gemetar menahan amarah kini gemetar karena alasan yang begitu berbeda, pikirannya langsung dipenuhi kebingungan yang begitu besar mengingat jawaban yang ia terima dari ibunya beberapa waktu lalu."Ma," ucap Kaivan pelan, suaranya terdengar begitu berat, matanya menatap lurus ke arah Lavienna yang duduk tidak jauh darinya dengan raut wajah yang seketika berubah tegang begitu mendengar nada bicara anaknya itu.
Kaivan menatap layar ponselnya yang terus bergetar dengan nama Vanessa terpampang jelas, wajahnya seketika berubah dingin dan penuh kebencian. Tangannya yang tadi masih gemetar menahan emosi kini mengepal semakin erat, tidak sanggup lagi menyentuh benda itu meski hanya untuk menolak panggilan."Ma, tolong angkat saja. Aku tidak mau bicara dengannya lagi," ucap Kaivan pelan, suaranya bergetar menahan amarah yang begitu besar, menyerahkan ponselnya kepada Lavienna yang segera menerimanya dengan tatapan penuh kemarahan yang sama besarnya.Lavienna menatap layar ponsel itu sejenak sebelum akhirnya menekan tombol hijau, mengaktifkan mode pengeras suara agar Adrian dan Kaivan bisa mendengar langsung percakapan yang akan terjadi selanjutnya."Halo, dengan siapa ini?" tanya Lavienna dengan nada dingin dan sinis, meski jelas ia sudah tahu betul siapa yang menghubungi ponsel anaknya itu.Suara Vanessa terdengar sedikit terkejut di seberang telepon, jelas tidak menduga akan mendapati suara Lavie
Lavienna berdiri mematung mendengar pertanyaan Kaivan, hatinya bergejolak hebat antara keinginan untuk jujur dan janji yang sudah ia buat pada Alesha. Ia menatap wajah anaknya yang begitu penuh harap, dadanya terasa begitu sesak menahan kebohongan yang harus ia ucapkan demi menghormati permintaan gadis yang begitu berjasa bagi keluarganya itu."Tidak, Nak. Alesha tidak pernah datang ke rumah sakit selama kamu koma," ucap Lavienna akhirnya, suaranya berusaha terdengar setenang mungkin meski hatinya sendiri terasa begitu perih mengucapkan kebohongan itu di hadapan anaknya sendiri.Kaivan menatap ibunya lama, dahinya berkerut seolah ada sesuatu yang begitu janggal dari jawaban yang baru saja ia dengar, namun ia tidak bisa membantah lebih jauh mengingat dirinya sendiri memang tidak sadarkan diri selama delapan bulan terakhir ini."Aneh, padahal ingatan terakhirku begitu jelas soal dia yang menolongku keluar dari mobil," gumam Kaivan pelan, matanya menerawang jauh mencoba mengingat kembali







