로그인Alesha langsung berdiri dari kursinya begitu mendengar kabar dari mamanya. Wajahnya berubah pucat, sementara tangannya yang memegang ponsel mulai terasa dingin. Tanpa membuang waktu, ia memasukkan beberapa barang ke dalam tas dan segera meninggalkan ruang dosen. Pikiran Alesha dipenuhi berbagai kemungkinan tentang kondisi papanya yang tiba-tiba pingsan.
Ia berjalan cepat menuju area parkir sambil terus mencoba mengh
Matahari mulai turun saat Kaivan mengemudi cepat ke villa keluarga tempat Alesha menyendiri. Jantungnya berdebar gelisah, teringat kata-kata perpisahan yang diucapkan Alesha tadi. Sepanjang jalan, wajah Alesha yang tampak lelah dan terluka terus muncul di pikirannya. Ia sadar: selama ini ia hanya merasa benar, mengira ia sedang memperbaiki keadaan, tanpa pernah benar-benar bertanya apa yang diinginkan Alesha. Ia pikir perlindungannya adalah bentuk kasih sayang, padahal justru itulah yang membuat Alesha makin merasa terkurung seolah hidupnya bukan miliknya sendiri.Langkah kaki Kaivan terasa berat saat ia berdiri di depan pintu rumah itu. Ia menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri sebelum mengetuk pelan. Pintu terbuka, menampilkan Alesha yang menatapnya dengan tatapan dingin dan jauh, tatapan yang seakan menempatkan dinding tinggi di antara mereka. Kaivan menelan ludah, menatapnya lekat-lekat
Sosok yang keluar dari mobil hitam itu ternyata adalah Bimo, wajahnya begitu tegang dan terengah-engah karena baru saja mengemudi dengan kecepatan tinggi untuk sampai ke tempat itu secepat mungkin. Alesha yang tadinya begitu ketakutan mengira sosok itu adalah ancaman lain dari Vanessa, kini menghela napas sedikit lega meski dadanya masih berdebar begitu kencang."Maaf mengganggu, Bu Lavienna, Bu Alesha," ucap Bimo cepat, suaranya begitu terburu-buru, matanya menatap keduanya bergantian dengan raut wajah yang begitu serius, "saya diminta Pak Kaivan untuk memastikan keselamatan Bu Alesha. Dia sangat panik sejak menerima telepon aneh tadi."Alesha mengernyitkan dahi mendengar penjelasan itu, dadanya kembali terasa begitu berat menyadari bahwa dirinya kini telah menjadi pusat kekhawatiran begitu banyak orang, sesuatu yang justru semakin membuatnya merasa begitu ter
Panggilan misterius itu terputus tiba-tiba, meninggalkan Kaivan berdiri mematung dengan ponsel masih menempel di telinganya, wajahnya begitu pucat pasi mencoba mencerna kalimat aneh yang baru saja ia dengar dari suara yang begitu ia kenali sebagai suara Alesha itu. Adrian segera mendekat, menatap anaknya dengan penuh kekhawatiran, menyadari bahwa situasi yang mereka hadapi ternyata jauh lebih rumit dari yang ia bayangkan sebelumnya.Sementara itu, di tempat lain, Lavienna yang sejak tadi duduk gelisah di rumah, memutuskan untuk mengambil langkah yang sudah lama ia pertimbangkan sejak mendengar kabar tentang kondisi Alesha yang begitu terpuruk akibat fitnah keji itu. Ia meraih kunci mobilnya, tidak ingin menunggu lebih lama lagi untuk menemui gadis yang selama ini telah begitu banyak berkorban untuk keluarganya."Aku harus menemui Alesha," gumam Lavienna pelan p
Suasana di ruang kerja Kaivan tiba-tiba tegang setelah menerima panggilan telepon yang seketika menghancurkan ketenangannya. Tanpa mempedulikan puluhan wartawan yang masih menunggu, ia berbalik dan melangkah cepat pergi dengan wajah pucat serta jantung yang berpacu kencang. Adrian segera menyusul putranya, menyadari sesuatu yang buruk baru saja terjadi. Di dalam mobil yang melaju kencang, Kaivan mencengkeram setir erat hingga urat-uratnya menonjol, menatap lurus dengan panik dan ketakutan. Alesha hilang dan firasat buruk itu terus mengingatkannya pada ancaman yang pernah dilontarkan seseorang.Sesampainya di rumah, Kaivan tidak sempat menenangkan napas sebelum Adrian mendahuluinya masuk dan menutup pintu dengan bantingan keras. Suara dentuman itu menggema di seluruh ruangan, namun Kaivan sama sekali tidak tergoyahkan. Ia berbalik hendak kembali melangkah keluar, berniat segera menyusuri setiap jalan
Kaivan baru saja mengakhiri panggilan telepon dengan Bimo ketika pintu ruang kerjanya terbuka mendadak, menampilkan Sita yang berlari kecil dengan wajah begitu panik, sesuatu yang jarang sekali ditunjukkan oleh sekretarisnya yang biasanya begitu tenang dan profesional itu."Pak Kaivan, Pak Bimo baru mengirimkan bukti lengkap soal siapa dalang di balik artikel fitnah itu," ucap Sita terengah-engah, menyerahkan sebuah tablet yang menampilkan laporan lengkap dari Bimo, membuat Kaivan segera meraihnya dengan tangan yang begitu tidak sabar.Kaivan membaca laporan itu dengan mata yang semakin tajam menyipit, menemukan rekaman percakapan telepon antara Vanessa dengan seorang pria bayaran yang mengaku telah membuat foto-foto rekayasa serta menyebarkan artikel fitnah itu ke berbagai grup media sosial, lengkap dengan bukti transfer pembayaran yang begitu jelas mengarah l
Beberapa jam sebelum kabar itu sampai ke telinga Lavienna, Alesha duduk sendirian di ruang dekan fakultas hukum, menghadapi tiga orang petinggi universitas yang duduk berjajar di hadapannya dengan wajah begitu serius. Sebuah artikel yang sudah tersebar luas di media sosial tergeletak di atas meja, dicetak rapi sebagai bukti untuk sidang dadakan yang begitu tidak terduga itu."Ibu Alesha, kami sudah menerima banyak keluhan dari orang tua mahasiswa dan beberapa rekan dosen soal berita ini," ucap salah satu petinggi universitas itu tegas, matanya menatap Alesha dengan pandangan yang begitu dingin, seolah sudah menjatuhkan vonis bahkan sebelum memberikan kesempatan bagi Alesha untuk membela diri.Alesha menatap lembar artikel itu dengan mata yang begitu tenang, meski dadanya sendiri terasa begitu sesak menahan berbagai emosi yang bergejolak hebat di dalam dirinya,







