Compartilhar

Bab 5

Autor: Mommysa
last update Data de publicação: 2026-11-03 16:57:55

Dea membuka matanya lebar-lebar. Badannya masih lemas. Dahi dikompres air hangat.

Langit kamar sudah terang, Bi Inem ada di dekatnya sambil mengganti kompres di dahinya.

“Bi Inem, sekarang jam berapa?”

“Sudah jam delapan pagi.”

“Lho, aku telat dong ke kampus.”

“Hari ini Mbak Dea izin ndak masuk ke kampus. Tuan Baskara sudah menelpon dosen dan katanya hari ini cuma ada kuliah umum, itu pesan Tuan.”

Dea merasakan tubuhnya masih sangat panas. Ia demam semalaman. Namun, ia tak mengingat apa pun kecuali Baskara mengantarnya ke kamar tidur saat di kamar mandi. Selebihnya, ia tak sadarkan diri.

“Makan bubur dulu, Mbak, Bi Inem bantu duduk.” Inem perlahan membenarkan tubuh Dea bersandar di dipan kasur, lalu menyuapinya dengan penuh kasih sayang.

“Makasih Bi Inem sudah mau merawatku,” ucap Dea tersenyum hangat sambil memperhatikan wanita itu lamat-lamat.

“Mbak Dea itu sudah Bi Inem anggap sebagai anak sendiri. Jangan merasa sungkan kayak gitu.”

Dea mengangguk. “Om Baskara mana, Bi?”

“Sudah berangkat kerja. Oh iya, Mbak. Pesan Tuan, kalau di rumah jangan pakai pakaian yang pendek dan ketat,” bisik Bi Inem sambil mengernyitkan dahi keriput.

“Lho, kenapa, Bi? Kan ini pakaianku sehari-sehari, emang salah?” Dea melirik tubuhnya sendiri yang hanya mengenakan celana pendek dan kaos tipis.

Bi Inem menyentuh bahu Dea. “Dulu kan kita cuma berdua saja, Mbak. Sekarang Tuan Baskara sudah pulang, ia tentu tak terbiasa melihat pakaian Mbak Dea yang seperti ini. Maklum saja, Tuan Baskara pria dewasa, Mbak Dea juga sudah dewasa. Jadi, harus saling jaga.”

Perkataan bijak Bi Inem tak ada niat menyinggung Dea. Ia paham maksud Bi Inem mengatakan demikian.

“Ya udah, mulai besok aku akan belanja baju panjang.”

“Ndak mulai sekarang aja, Mbak? Bi Inem bisa belikan.”

“Aku mau sendiri, Bi. Kakiku masih sakit. Aku nggak leluasa belanja online, enakan hunting langsung dan pilih mode dan ukuran yang pas.”

“Ya udah, Bibi lanjut kerja, ya. Mbak kalau ada apa-apa telpon Bibi aja. Sebentar lagi fisioterapi akan berkunjung dan bantu terapi kakinya Mbak biar cepet sembuh.”

“Iya, Bi. Makasih banyak.”

Bi Inem tersenyum tulus. Ia pun perlahan menutup pintu kamar Dea rapat-rapat.

——

Baskara menatap jendela pintu besar yang pemandangannya gedung pencakar langit. Pikirannya tertuju pada kejadian semalam. Perlahan, ia menyesap aroma pekat kopi yang agak pahit di bibir tebalnya.

Masih membekas ciuman semalam dan terbayang-bayang.

Rahang Baskara mengeras. Hampir saja cangkir keramik kopinya terjatuh.

“Permisi, Pak Baskara. Hari ini ada rapat dengan pemegang saham.”

Sekretaris pribadinya bicara agak gugup melihat wajah gelap bosnya, sambil mengetuk pintu dan berdiri di ambang pintu.

“Oke, sebentar lagi saya akan ke sana.”

Rapat akan segera dimulai. Baskara melangkah penuh wibawa. Seluruh karyawan menatapnya dengan tatapan penuh hormat. Ia tak peduli, selepas pulang dari luar negeri, ia yang mengambil alih perusahaan ini setelah mendiang ayahnya wafat.

Ponsel Baskara terus bergetar di saku celana. Ia melirik nama pemanggil di layar ponselnya, Chika. Tetapi, bukan diangkat, melainkan ia mematikan ponsel itu dan kembali menyimpannya di saku celana.

——

Dea perlahan latihan jalan dibantu terapis yang profesional.

“Susah bagus, jalanmu semakin membaik.”

“Makasih Mas Daren, sudah membantuku, aku bisa pelan-pelan jalan.” Dea senang sekali mendapatkan terapis yang bersahabat dan ramah.

“Ya, aku bisa menekuk lutut, lagi.”

“Bagus sekali! Ayo latihan sekali lagi!” Daren pun menyemangati Dea.

Dea kini perlahan berdiri tanpa bantuan tongkat. Ia agak sedikit takut-takut kalau sampai terjatuh. Tetapi, Daren mengawasinya dengan jarak dekat, ini membuat kecemasaan berkurang.

Diam-diam, Baskara memperhatikan Dea dari jarak kejauhan. Ia mengerutkan dahi melihat gadis itu berada di taman, sambil sesekali dipegang oleh terapis pria itu.

— —

“Mas Daren, hari ini mau makan apa? Ayo kita makan bareng, sebagai ucapan terima kasihku.” Dea menawarkan ini sangat tulus.

Daren terkekeh pelan. “Nggak usah repot-repot, Dea. Aku bekerja sesuai tugas saja, bukan malah merepotkan kamu memesankan makanan segala.”

Suara deheman bariton Baskara mengagetkan Dea dan Daren.

Dea yang duduk di sofa ruang tamu mendadak melirik ke arah deheman itu. “Om sudah pulang?”

Baskara yang sudah dari tadi memperhatikan Dea cukup membuang muka saja. Ia hanya mengambil sebotol air dingin di kulkas. Lalu dengan santainya kembali naik tangga.

“Sebaiknya aku pulang, Dea. Besok kita ketemu lagi, ya,” ucap Daren.

Dea mengangguk saja. “Iya, hati-hadi di jalan, Mas Daren.”

Daren tersenyum singkat. Pria berseragam rapi serba biru itu pun berpamitan pulang.

— —

Selama tidak masuk kuliah, Dea mendapatkan banyak pesan dari temannya. Terutama Iren yang begitu mencemaskannya.

Siang ini, mereka mendadak sudah ada di depan pintu.

“Iren? Lho, bukannya kamu ngirim pesan besok datang? Kok mendadak sudah di depan rumah?”

“Hahaha… ini sih Vino maksa pengen jenguk sekarang juga.”

Dea mengernyit. “Vino?”

“Taraaa, kejutaan!” Mendadak Vino muncul dari balik tembok dengan senyum lebar.

Dea hanya tersenyum tipis. Meski tingkah Vino kadang tidak ditebak, tapi mereka adalah teman yang baik.

Langkah Dea yang agak terseok-seok mengajak Iren dan Vino untuk duduk di kursi ruang tamu.

“Mau minum apa?”

“Nggak usah repot-repot, kita sudah bawakan minuman dan makanan khusus untuk Rapunzelku,” goda Vino sambil membuka ranselnya yang isinya full makanan dan minuman.

“Tadi Vino orang yang paling heboh waktu tahu kamu sakit, Dea. Dia langsung telepon aku cuma buat memastikan hari ini jadi pergi, padahal aku sudah bilang besok saja!”

Dea tersenyum menatap Iren dan Vino secara bergantian. “Duh, aku nggak tau lagi gimana balas kebaikan kalian berdua.”

“Dea cukup jadi pacarku aja. Gimana?” Vino kali ini menatap serius.

Iren menutup mulutnya dengan wajah berbinar. “Langsung ditembak, nih? Terima dong, Dea.”

Dea mengerjapkan matanya. Ini sangat mendadak sekali. Kalau dilihat-lihat, Vino itu ganteng, hanya saja sikapnya yang suka berlebihan agak menyebalkan.

“Emang harus kujawab sekarang?”

Sebelum melanjutkan obrolan, terdengar suara bariton agak parau dari sisi ruangan yang lain.

Di depan tangga, Baskara berdiri tegap sambil memegang botol minuman yang kosong.

Dea serba salah, berpikir mungkin keberisikan mereka mengganggu Baskara. Ia lupa kalau sudah ada orang lain di rumah ini selain dia dan para ART. Ia pun langsung meminta maaf.

“Maaf, Om. Kami mengganggu tidur siangmu.”

“Eh, itu Om yang pernah kamu ceritakan ke aku, kan?” Iren menyenggol bahu Dea, berbisik pelan.

“Oh, ini Om kamu, Dea? Ah, kalau begitu aku langsung meminta restunya saja, ya!” ucap Vino semangat.

Dea menarik tangan Vino. “Jangan macam-macam!”

Sikap Baksara mendadak dingin, pria itu sama sekali tak menyapa dirinya dan teman-teman. Dea jadi berpikir, selama ini ia memang hidup ditampung oleh pria ini. Apakah Baskara tidak sudi melihat Dea membawa temannya ke rumah tanpa izinnya?

——

Beberapa hari kemudian, Dea bertekad akan pergi ke kampus lagi. Meski kakinya masih sedikit kaku, ia sudah bisa berdiri sendiri tanpa bantuan siapa pun.

“Dea, naik mobil saya sekarang, saya antar ke kampus.” Baskara mencegah Dea sebelum ia melewatinya.

“Nggak usah, Om. Vino sudah di jalan, nggak enak kalau nanti dia ke sini, aku nggak ada di rumah.”

“Vino?”

“Iya, temanku kemarin.”

Raut wajah Baskara berubah menjadi lebih tegas. “Kamu jangan dekat-dekat dengan laki-laki. Tugasmu itu kuliah dan tamat, bukan sibuk pacaran.”

Dea menatapnya bingung. “Tapi, dia bukan pacarku, dia temanku, Om.”

Sejak hari di mana Dea membawa teman di rumah, entah kenapa rasanya Baskara mulai protektif dan mulai menggunakan kuasanya untuk mengontrol Dea.

Baskara pun dengan sengaja mengantar-jemput Dea. “Ini bentuk tanggung jawab saya, ayo naik mobil sekarang.”

“Nggak bisa, Om. Aku udah janjian sama Vino.”

“Dea. Kau mendengar saya?” Nada suara Baskara sedikit mengancam. “Atau…”

“Atau apa?” Dea yang pada dasarnya tidak suka diatur pun menantang balik.

Wajah Baskara berubah dingin. Kali ini, batas kesabaran Baskara diuji dengan Dea. Tubuh Baskara semakin mendekat, Dea mundur beberapa langkah dan tak sadar tubuh gadis itu membentur bodi mobil.

“Masuk mobil sekarang. Atau seluruh fasilitas yang diberikan saya stop saat ini juga.” Suara Baskara penuh tekanan.

Jantung Dea berdebar hebat. Ia tak mampu mengalihkan jarak yang begitu rapat. Napas Baskara terasa menerpa wajahnya.

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Om Baskara, Aku Mau Menikahimu!   Bab 8

    Baskara menatap serius kedua anak muda yang tampak canggung melihat kehadirannya. Dea menggaruk kepalanya tak gatal dan melepaskan sabuk pengaman.“Vin, aku langsung masuk, ya.”Vino mengangguk cepat dan tampak raut wajah penuh kecewa. “Oke, chat aku kalau ada apa-apa, Rapunzel.”Dea mengatur napasnya kala keluar dari mobil itu. Ia melirik pamannya yang tak ada kata-kata sepatah pun, tetapi tatapan pria dingin dan mengintimidasi jauh lebih menyeramkan.Kali ini bukan sekuriti ataupun sopir yang membukakan gerbang. Baskara sendiri. Ini yang membuat dada Dea terasa kembang kempis, apalagi baru pagi tadi pria itu menekankan jangan dekat-dekat dengan Vino.“Maaf, aku pulang kesorean, Om. Pak Sobri tadi chat kalau mobil ban mendadak kempes di jalan, jadi Vino yang mengantarku pulang.”Baskara diam saja. Di balik diamnya pria ini, Dea waspada kalau amarah pamannya akan meledak. Ia sudah wanti-wanti dan mengatur telinganya mendengarkan si mulut lantam bicara.Baskara mendorong gerbang rumah

  • Om Baskara, Aku Mau Menikahimu!   Bab 7

    “Ah, iya! Bos sekarang memang tampan maksimal, tapi galak banget, duh! Aku takut banget buat janji dengannya!”Tiba-tiba di sela para karyawan yang merumpi muncul wanita berpakaian glamor berwarna senada merah jambu dan kacamata hitam tebal berhenti di antara kubikel.“Kamu siapa, ya?” tanya wanita bername tag Stevani menghentikan langkah wanita itu.“Oh, iya… aku belum sempat mengenalkan diriku. Namaku Chika, calon istrinya Baskara.” Chika melepaskan kacamatanya dan disimpan dalam tas bermerk.“Ma-maaf Bu Chika, untuk bertemu Pak Baskara harus buat janji dulu,” ucap Stevani agak hati-hati.“Apa? Kamu panggil aku dengan sebutan ‘Ibu’? Bahkan perawatan kulit pun masih mahalan aku, lho. Oh, namamu Stevani, ya? Aku laporkan ke calon suamiku untuk memecat karyawan rendahan sepertimu!”Kericuhan pun terjadi. Para karyawan berdatangan dan mencoba melerai. Kebisingan ini sampai di telinga Baskara. Pria itu pun beranjak dari duduknya dan melangkah ke sumber suara.Derap langkah gagah dan be

  • Om Baskara, Aku Mau Menikahimu!   Bab 6

    Dea duduk bersebelahan sama Baskara. Pria dingin dan terkesan tak mempunyai perasaan fokus menatap layar laptop dipangku.Drrrttt…Dea meraba ponselnya. Ah, ia baru ingat kalau nada dering mereka sama.“Om, ponsel bunyi, tuh!” Baskara sama sekali tak mengindahkan Dea. Pria itu mengernyitkan dahi dan tangan kekar mengetik cepat. “Om…”Pria maskulin berahang tegas menoleh ke arahnya. Sedikit menggertakkan rahang. “Diam, Dea. Saya sedang ada meeting.”Dea menghela napas panjang. Ia pun mengambil headset di saku celananya. Mencoba memejamkan mata, entah mengapa setiap berkendara ia selalu ingin tidur dan berharap cepat sampai.Baru saja memejamkan mata.“Ahhh..!!!” Dea berteriak kencang, dadanya kembang kempis, matanya melirik ke kiri dan kanan.Sopir pribadi Baskara mengerem mendadak. “Maaf, Mbak Dea dan Tuan Baskara. Tadi ada lubang.”Dea meraup wajahnya. Mendadak keringat dingin mengucur pelipisnya. “Dea, bersandar saja di bahu saya.”Sedangkan Baskara langsung menutup layar cukup

  • Om Baskara, Aku Mau Menikahimu!   Bab 5

    Dea membuka matanya lebar-lebar. Badannya masih lemas. Dahi dikompres air hangat.Langit kamar sudah terang, Bi Inem ada di dekatnya sambil mengganti kompres di dahinya.“Bi Inem, sekarang jam berapa?”“Sudah jam delapan pagi.”“Lho, aku telat dong ke kampus.”“Hari ini Mbak Dea izin ndak masuk ke kampus. Tuan Baskara sudah menelpon dosen dan katanya hari ini cuma ada kuliah umum, itu pesan Tuan.”Dea merasakan tubuhnya masih sangat panas. Ia demam semalaman. Namun, ia tak mengingat apa pun kecuali Baskara mengantarnya ke kamar tidur saat di kamar mandi. Selebihnya, ia tak sadarkan diri.“Makan bubur dulu, Mbak, Bi Inem bantu duduk.” Inem perlahan membenarkan tubuh Dea bersandar di dipan kasur, lalu menyuapinya dengan penuh kasih sayang.“Makasih Bi Inem sudah mau merawatku,” ucap Dea tersenyum hangat sambil memperhatikan wanita itu lamat-lamat.“Mbak Dea itu sudah Bi Inem anggap sebagai anak sendiri. Jangan merasa sungkan kayak gitu.”Dea mengangguk. “Om Baskara mana, Bi?”“Sudah ber

  • Om Baskara, Aku Mau Menikahimu!   Bab 4

    Baskara tanpa basa-basi lagi langsung mendikte cara berpakaian Dea. Sedangkan Dea reflek melihat dirinya sendiri dan menganggap semua biasa saja.“Apa yang salah Om? Aku udah biasa pakai baju kayak gini di rumah. Benar kan, Bi Inem?”Bi Inem di antara keduanya serba salah. Perempuan paruh baya itu menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia lupa kalau Baskara pernah memberi tahu perihal berpakaian Dea, ia belum menyampaikan aturan itu.“A-anu, Mbak Dea, ayo segera mandi! Bi Inem bantu cek kadar airnya ya, takutnya sudah dingin.”Bi Inem serba salah. Ia takut diomelin Baskara, langsung saja menarik pergelangan tangan Dea, sambil memberi bantuan saat jalan menuju kamar.“Bi Inem, sementara kamar Dea jangan di lantai dua dulu, kakinya masih sakit,” suara Baskara terdengar lagi saat ia beranjak dari meja makan dan segera pergi meninggalkan Dea dan Bi Inem.“Baik, Tuan.”—— Dea sedikit meringis saat mengangkat kakinya masuk ke dalam bathub. “Aduh… Ngilu banget!”Perlahan rasa ngilu di lututnya

  • Om Baskara, Aku Mau Menikahimu!   Bab 3

    “Kamu telat lagi, Baskara! Kamu niat nikah sama aku nggak, sih?”Wanita itu melipat kedua tangannya di dada, menatap Baskara dengan wajah bersungut-sungut.Baskara hanya mendesah pelan sambil mengusap kepalanya. “Chika, ini sudah fitting baju yang kelima kali. Sampel yang kemarin juga sudah ada belasan. Semuanya sudah bagus.”“Bagus buat kamu, belum tentu pas buat aku!” bentak Chika makin menjadi. “Harusnya kamu mendampingi aku dari tadi, bukannya malah datang terlambat! Kalau kamu masih acuh begini, mending pernikahan kita batalin aja sekalian!”Baskara menatap Chika datar tanpa ada raut panik sedikit pun di matanya.“Oke. Kalau itu mau kamu, kita batalkan saja.”Chika mendadak bungkam. Matanya membelalak, sama sekali tidak menyangka ancaman gertakannya justru ditanggapi dingin tanpa ragu.Rasa gengsi dan amarahnya seketika luntur, berganti cemas. Senyum manis langsung diukirnya saat ia mendekat dan melingkarkan kedua tangannya dengan lembut di leher Baskara.“Sayang... aku kan cuma

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status