Share

Bab 7

Penulis: Mommysa
last update Tanggal publikasi: 2026-11-05 16:45:30

“Ah, iya! Bos sekarang memang tampan maksimal, tapi galak banget, duh! Aku takut banget buat janji dengannya!”

Tiba-tiba di sela para karyawan yang merumpi muncul wanita berpakaian glamor berwarna senada merah jambu dan kacamata hitam tebal berhenti di antara kubikel.

“Kamu siapa, ya?” tanya wanita bername tag Stevani menghentikan langkah wanita itu.

“Oh, iya… aku belum sempat mengenalkan diriku. Namaku Chika, calon istrinya Baskara.” Chika melepaskan kacamatanya dan disimpan dalam tas bermerk.

“Ma-maaf Bu Chika, untuk bertemu Pak Baskara harus buat janji dulu,” ucap Stevani agak hati-hati.

“Apa? Kamu panggil aku dengan sebutan ‘Ibu’? Bahkan perawatan kulit pun masih mahalan aku, lho. Oh, namamu Stevani, ya? Aku laporkan ke calon suamiku untuk memecat karyawan rendahan sepertimu!”

Kericuhan pun terjadi.

Para karyawan berdatangan dan mencoba melerai. Kebisingan ini sampai di telinga Baskara.

Pria itu pun beranjak dari duduknya dan melangkah ke sumber suara.

Derap langkah gagah dan berkarismatik mendadak suasana menjadi dingin. Orang-orang yang awalnya kepo pun minggir ke samping dengan sadarnya menyadari kehadiran Baskara berjalan di antara kerumunan manusia.

“Ada apa ini?”

Mendadak sunyi.

Tinggal Chika dan Stevani saling adu mulut dan tak ada yang mau mengalah satu sama lain.

“Sayang, karyawanmu bernama Stevani ini pecat saja!”

“Ma-maaf, Pak. Aku cuma menjalankan perintah kalau mau bertemu Bapak harus buat janji dulu. Tapi, wanita ini ingin menerobos masuk.”

Baskara menatap serius Chika dan Stevani bergantian. Di lain sisi, ini adalah perusahaan dan sikap profesional dijunjung tinggi. Ia berprinsip tak mau membawa persoalan pribadi di tempat kerja.

“Kamu pulang saja, Chika. Saya akan mengabarimu. Saya tak menyukai keributan di kantor ini, tolong Stevani bereskan semua.”

“Baskara! Aku ini calon istrimu, kok kamu lebih pilih karyawan rendahan ini, sih?”

Chika naik pitam. Ia merasa tak terima sikap Baskara enggan berpihak kepadanya.

Baskara tak menanggapi. Stevani dengan sigap segera menarik tangan Chika untuk meninggalkan ruangan ini.

“Lepaskan! Aku bisa keluar sendiri!” Chika menghentak paksa dan tangan wanita itu melonggar.

— —

Sudah hampir seharian, Baskara sama sekali tak menyentuh ponselnya. Ia begitu gila kerja sampai lupa membalas pesan. Chika. Nama itu yang paling banyak mengirimkan pesan teks maupun pesan suara.

Ia melirik jam empat sore. Namun, ia lupa meminta nomor Dea dan mengabari keponakannya kalau ia tak sempat menjemput ke kampus. Mau tak mau, ia menelpon sopir pribadinya.

“Pak, tolong jemput, Dea.”

“Baik, Tuan.”

Setelah itu, Baskara kembali menghubungi tunangannya yang teleponnya tidak bisa dihubungi.

Baskara menghela napas panjang. Tiba-tiba ia kepikiran sama sikapnya siang tadi saat Chika ke kantor dan ia mengaibaikan wanitanya. Apa mungkin wanita itu mendiamkannya?

Ia pun segera berdiri. Sudah waktunya pulang, ia pikir cuma dirinya satu-satunya di kantor.

Tetapi, saat keluar… karyawannya masih di sana.

“Kalian belum pulang?”

“Eh, nunggu Bapak pulang, dulu.” Stevani angkat bicara.

“Saya tidak menggaji karyawan lewat dari jam kantor, paham? Hitungan lembur akan dibicarakan saat ada projek. Kita sedang tidak lembur.”

Karyawan satu sama lain menoleh. Mendadak Pak Santo buka suara.

“Hehehe… baik Pak, kami izin pulang, ya! Kerjaan sudah pada rapi, permisi.”

Rasa sungkan dan segan para karyawan kepada Baskara tentu membuatnya sedikit tidak nyaman. Tapi, beginilah dirinya, sangat kaku.

— —

Dea melirik jam di tangannya. Vino yang senantiasa menawarkan bantuan selalu datang tepat waktu.

“Ayo, Dea. Aku antar!”

“Ta-tapi…”

“Mau sampai kapan menunggu Om kamu? Ini sudah sore, lho!”

Tring!

Satu pesan dari sopir pribadi kalau mobil mendadak dibawa ke bengkel karena ban pecah.

“Ya udah, aku ikut kamu pulang. Iren nggak bareng?”

“Nggak, dia sama pacarnya. Yok, Rapunzelku naik ke mobil!” Vino sangat bersemangat membukakan pintu. Seketika ia berteriak girang. “Yes! Akhirnya Dea mau kuanter pulang!”

Dea pun naik ke mobil Vino dan duduk di samping kemudi sambil memasang sabuk pengaman. Temannya ini sangat baik, terutama Vino yang selalu ada untuknya. Tidak ada kecanggungan saat berdua.

Sepanjang jalan, mereka asyik bernyanyi. Lagu tahun 2026 yang booming menjadi penutup perjumpaan sore ini. Tak butuh waktu lama, mobil dibawa Vino sudah mendarat di gerbang rumahnya.

“Perihal yang kemarin, aku nggak bercanda kok.”

Deg!

Suasana pun mendadak canggung. Vino menatap serius ke arahnya.

“Kemarin? Apaan?”

“Aku beneran suka sama kamu, Dea.”

Hening seketika…

Vino memajukan tubuhnya dan merapatkan jarak. Dea tersentak kaget.

“Hmmm…”

Namun, semuanya teralihkan. Baskara sudah berdiri di gerbang dengan tatapan mengintimidasi dan tangan melingkar di dada.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Om Baskara, Aku Mau Menikahimu!   Bab 8

    Baskara menatap serius kedua anak muda yang tampak canggung melihat kehadirannya. Dea menggaruk kepalanya tak gatal dan melepaskan sabuk pengaman.“Vin, aku langsung masuk, ya.”Vino mengangguk cepat dan tampak raut wajah penuh kecewa. “Oke, chat aku kalau ada apa-apa, Rapunzel.”Dea mengatur napasnya kala keluar dari mobil itu. Ia melirik pamannya yang tak ada kata-kata sepatah pun, tetapi tatapan pria dingin dan mengintimidasi jauh lebih menyeramkan.Kali ini bukan sekuriti ataupun sopir yang membukakan gerbang. Baskara sendiri. Ini yang membuat dada Dea terasa kembang kempis, apalagi baru pagi tadi pria itu menekankan jangan dekat-dekat dengan Vino.“Maaf, aku pulang kesorean, Om. Pak Sobri tadi chat kalau mobil ban mendadak kempes di jalan, jadi Vino yang mengantarku pulang.”Baskara diam saja. Di balik diamnya pria ini, Dea waspada kalau amarah pamannya akan meledak. Ia sudah wanti-wanti dan mengatur telinganya mendengarkan si mulut lantam bicara.Baskara mendorong gerbang rumah

  • Om Baskara, Aku Mau Menikahimu!   Bab 7

    “Ah, iya! Bos sekarang memang tampan maksimal, tapi galak banget, duh! Aku takut banget buat janji dengannya!”Tiba-tiba di sela para karyawan yang merumpi muncul wanita berpakaian glamor berwarna senada merah jambu dan kacamata hitam tebal berhenti di antara kubikel.“Kamu siapa, ya?” tanya wanita bername tag Stevani menghentikan langkah wanita itu.“Oh, iya… aku belum sempat mengenalkan diriku. Namaku Chika, calon istrinya Baskara.” Chika melepaskan kacamatanya dan disimpan dalam tas bermerk.“Ma-maaf Bu Chika, untuk bertemu Pak Baskara harus buat janji dulu,” ucap Stevani agak hati-hati.“Apa? Kamu panggil aku dengan sebutan ‘Ibu’? Bahkan perawatan kulit pun masih mahalan aku, lho. Oh, namamu Stevani, ya? Aku laporkan ke calon suamiku untuk memecat karyawan rendahan sepertimu!”Kericuhan pun terjadi. Para karyawan berdatangan dan mencoba melerai. Kebisingan ini sampai di telinga Baskara. Pria itu pun beranjak dari duduknya dan melangkah ke sumber suara.Derap langkah gagah dan be

  • Om Baskara, Aku Mau Menikahimu!   Bab 6

    Dea duduk bersebelahan sama Baskara. Pria dingin dan terkesan tak mempunyai perasaan fokus menatap layar laptop dipangku.Drrrttt…Dea meraba ponselnya. Ah, ia baru ingat kalau nada dering mereka sama.“Om, ponsel bunyi, tuh!” Baskara sama sekali tak mengindahkan Dea. Pria itu mengernyitkan dahi dan tangan kekar mengetik cepat. “Om…”Pria maskulin berahang tegas menoleh ke arahnya. Sedikit menggertakkan rahang. “Diam, Dea. Saya sedang ada meeting.”Dea menghela napas panjang. Ia pun mengambil headset di saku celananya. Mencoba memejamkan mata, entah mengapa setiap berkendara ia selalu ingin tidur dan berharap cepat sampai.Baru saja memejamkan mata.“Ahhh..!!!” Dea berteriak kencang, dadanya kembang kempis, matanya melirik ke kiri dan kanan.Sopir pribadi Baskara mengerem mendadak. “Maaf, Mbak Dea dan Tuan Baskara. Tadi ada lubang.”Dea meraup wajahnya. Mendadak keringat dingin mengucur pelipisnya. “Dea, bersandar saja di bahu saya.”Sedangkan Baskara langsung menutup layar cukup

  • Om Baskara, Aku Mau Menikahimu!   Bab 5

    Dea membuka matanya lebar-lebar. Badannya masih lemas. Dahi dikompres air hangat.Langit kamar sudah terang, Bi Inem ada di dekatnya sambil mengganti kompres di dahinya.“Bi Inem, sekarang jam berapa?”“Sudah jam delapan pagi.”“Lho, aku telat dong ke kampus.”“Hari ini Mbak Dea izin ndak masuk ke kampus. Tuan Baskara sudah menelpon dosen dan katanya hari ini cuma ada kuliah umum, itu pesan Tuan.”Dea merasakan tubuhnya masih sangat panas. Ia demam semalaman. Namun, ia tak mengingat apa pun kecuali Baskara mengantarnya ke kamar tidur saat di kamar mandi. Selebihnya, ia tak sadarkan diri.“Makan bubur dulu, Mbak, Bi Inem bantu duduk.” Inem perlahan membenarkan tubuh Dea bersandar di dipan kasur, lalu menyuapinya dengan penuh kasih sayang.“Makasih Bi Inem sudah mau merawatku,” ucap Dea tersenyum hangat sambil memperhatikan wanita itu lamat-lamat.“Mbak Dea itu sudah Bi Inem anggap sebagai anak sendiri. Jangan merasa sungkan kayak gitu.”Dea mengangguk. “Om Baskara mana, Bi?”“Sudah ber

  • Om Baskara, Aku Mau Menikahimu!   Bab 4

    Baskara tanpa basa-basi lagi langsung mendikte cara berpakaian Dea. Sedangkan Dea reflek melihat dirinya sendiri dan menganggap semua biasa saja.“Apa yang salah Om? Aku udah biasa pakai baju kayak gini di rumah. Benar kan, Bi Inem?”Bi Inem di antara keduanya serba salah. Perempuan paruh baya itu menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia lupa kalau Baskara pernah memberi tahu perihal berpakaian Dea, ia belum menyampaikan aturan itu.“A-anu, Mbak Dea, ayo segera mandi! Bi Inem bantu cek kadar airnya ya, takutnya sudah dingin.”Bi Inem serba salah. Ia takut diomelin Baskara, langsung saja menarik pergelangan tangan Dea, sambil memberi bantuan saat jalan menuju kamar.“Bi Inem, sementara kamar Dea jangan di lantai dua dulu, kakinya masih sakit,” suara Baskara terdengar lagi saat ia beranjak dari meja makan dan segera pergi meninggalkan Dea dan Bi Inem.“Baik, Tuan.”—— Dea sedikit meringis saat mengangkat kakinya masuk ke dalam bathub. “Aduh… Ngilu banget!”Perlahan rasa ngilu di lututnya

  • Om Baskara, Aku Mau Menikahimu!   Bab 3

    “Kamu telat lagi, Baskara! Kamu niat nikah sama aku nggak, sih?”Wanita itu melipat kedua tangannya di dada, menatap Baskara dengan wajah bersungut-sungut.Baskara hanya mendesah pelan sambil mengusap kepalanya. “Chika, ini sudah fitting baju yang kelima kali. Sampel yang kemarin juga sudah ada belasan. Semuanya sudah bagus.”“Bagus buat kamu, belum tentu pas buat aku!” bentak Chika makin menjadi. “Harusnya kamu mendampingi aku dari tadi, bukannya malah datang terlambat! Kalau kamu masih acuh begini, mending pernikahan kita batalin aja sekalian!”Baskara menatap Chika datar tanpa ada raut panik sedikit pun di matanya.“Oke. Kalau itu mau kamu, kita batalkan saja.”Chika mendadak bungkam. Matanya membelalak, sama sekali tidak menyangka ancaman gertakannya justru ditanggapi dingin tanpa ragu.Rasa gengsi dan amarahnya seketika luntur, berganti cemas. Senyum manis langsung diukirnya saat ia mendekat dan melingkarkan kedua tangannya dengan lembut di leher Baskara.“Sayang... aku kan cuma

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status