Se connecter“Kamu telat lagi, Baskara! Kamu niat nikah sama aku nggak, sih?”
Wanita itu melipat kedua tangannya di dada, menatap Baskara dengan wajah bersungut-sungut. Baskara hanya mendesah pelan sambil mengusap kepalanya. “Chika, ini sudah fitting baju yang kelima kali. Sampel yang kemarin juga sudah ada belasan. Semuanya sudah bagus.” “Bagus buat kamu, belum tentu pas buat aku!” bentak Chika makin menjadi. “Harusnya kamu mendampingi aku dari tadi, bukannya malah datang terlambat! Kalau kamu masih acuh begini, mending pernikahan kita batalin aja sekalian!” Baskara menatap Chika datar tanpa ada raut panik sedikit pun di matanya. “Oke. Kalau itu mau kamu, kita batalkan saja.” Chika mendadak bungkam. Matanya membelalak, sama sekali tidak menyangka ancaman gertakannya justru ditanggapi dingin tanpa ragu. Rasa gengsi dan amarahnya seketika luntur, berganti cemas. Senyum manis langsung diukirnya saat ia mendekat dan melingkarkan kedua tangannya dengan lembut di leher Baskara. “Sayang... aku kan cuma bercanda. Jangan dipikirin ke hati, ya?” bisiknya manja, lalu menyandarkan kepalanya dan memeluk Baskara erat-erat. Dengan gerakan menggoda, Chika melingkarkan lengannya ke leher calon suaminya. Wajah mereka tinggal beberapa senti lagi, sedikit lagi dan Chika bisa mencium pria itu. Brak! Sesuatu terdengar membentu pintu dengan kuat. Dea baru saja membuka pintu lebar-lebar dengan waut wajah ngeri. Suasana pun mendadak canggung. Baskara mendorong tubuh Chika hingga kini bergeser di sampingnya. “Ka-kalian siapa? Kenapa ada di rumah ini?” Dea pun menunjuk mereka dengan gemetar, baru saja menyaksikan adegan dewasa! Pipinya mendadak memerah. Ia sering menyaksikan adegan romantis di film, tapi tidak di dunia nyata. Pria itu adalah Baskara, dan perempuan satunya … kemungkinan itu adalah pacarnya. Tapi, yang anehnya lagi, ini kan rumahnya! Kenapa dua orang asing itu di sini? “Ah, Sayang. Apa ini keponakan angkat yang sering kamu ceritakan padaku? Lancang sekali dia masuk ke rumahmu tanpa mengetuk pintu,” cibir Chika dengan nada ketus dan sinis. Dea mendelik matanya lebar-lebar ketika mendengar kata ‘keponakan angkat’. Ia memang bisa dibilang keponakan angkat, karena sudah jadi hak asuh sahabat mendiang ayahnya. Ia pun penasaran sejak dulu, belum pernah melihat sosok pamannya selama dua puluh tahun. Jadi … Baskara adalah pamannya itu? Sontak Dea membuka matanya lebar-lebar. Ternyata bukan cuma namanya yang mirip, karena Dea pikir pasti ada banyak laki-laki bernama Baskara. Ternyata, pria yang tak sengaja mengulang kembali trauma kecelakaan siang ini adalah pamannya. “Ja-jadi…” Kalimat Dea menggantung. “Om adalah Om-ku selama ini?” “Jadi kamu … Dea,” gumam Baskara dengan kening berkerut. Tatapannya turun ke kaki Dea yang masih terlihat pincang. Chika memecahkan keheningan dengan tertawa menggelegar. “Ah, kalian sudah saling kenal? Bukannya kamu bilang nggak pernah ketemu sama ponakan, Sayang? Kok dia mengenalmu?” Baskara menghela napas panjang lalu menepis tangan Chika. “Sudahlah. Dea, kembali ke kamar kamu, istirahat yang cukup. Chika, kamu bisa pulang sekarang, kita bahas masalah fitting besok.” Selesai mengucapkan itu, Baskara pergi begitu saja. Chika pun buru-buru menyusulnya sambil berusaha merayunya dengan manja. Sedangkan Dea hanya bisa menatap mereka menjauh. Aneh, Dea merasa sedikit kecewa. Tadinya, Dea belum tahu kalau Baskara adalah omnya. Sekarang sudah tahu, Dea harus bisa melupakan perasaan kagumnya pada pria itu. Lagian mana mungkin Baskara menyukai anak dari mendiang sahabatnya? Ia bertanggung jawab menghidupi Dea karena kejadian puluhan tahun silam. Dea mengingat cerita dari Bi Inem, beberapa tahun lalu sebelum akhirnya ini terjadi. Orang tua Dea adalah sahabat sekaligus rekan kerja Baskara. Di perjalanan dinas itu, orang tua Dea sekalian membawa Dea dan Bi Inem untuk liburan di luar kota. Namun, sebuah tabrakan beruntun membuat sopir membanting setir ke pinggir jalan tol. Naasnya, kecepetan mobil tak mampu melakukan penghentian mendadak. Saat kecelakaan terjadi, Bi Inem memangku Dea dan duduk di kursi paling belakang dengan cedera lumayan serius. Beruntungnya, pelukan Bi Inem berhasil menyelamatkan Dea. Mereka hanya mengalami kondisi luka-luka. Sedangkan Baskara posisi duduk paling depan mengalami cedera serius. Sementara itu, sopir kepercayaannya dan kedua orang tua Dea … meninggal dunia. Mengingat itu, lagi-lagi trauma Dea kambuh. Tangannya sedikit tremor, tetapi karena di rumah, jadi cepat teratasi. Napasnya terasa cepat, ia perlahan menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkan angin pelan-pelan. Kakinya yang awalnya sedikit lemas sudah lebih bisa berjalan pelan kembali. —— Rumah hangat yang selama ini hanya ada Dea dan Bi Inem mendadak menjadi sedikit menegangkan karena kepulangan Baskara dari luar negeri. Saat makan, pria itu duduk di meja makan berhadapan dengan Dea. Sangat santai Baskara mengunyah makanan tanpa peduli Dea terus memperhatikan pamannya yang seperti tak menganggapnya ada. “Mbak Dea, pemanas air lagi rusak, jadi Bi Inem masak manual air hangatnya.” Dea mengerjapkan matanya. Lamunannya terpecah dan melirik Bi Inem. “Eh, makasih Bi Inem. Aku mandi dulu, ya!” Syukurnya, Bi Inem mampu memahaminya. Jadi, Dea tak punya alasan lain untuk menghindari suasana canggung. “Tunggu.” Suara bariton itu menghentikan langkah kaki Dea yang sedikit terseret. Ia pun menoleh sejenak dan menatap Baskara yang sedang mengelap tangan. “Ya, Om, ada apa?” Agak canggung Dea untuk pertama kali satu atap sama pria itu adalah pamannya. “Apa kakimu masih sakit?” “Sudah lebih baikan, cuma bengkak saja, tapi aku bisa jalan sendiri kok.” “Makananmu belum habis, Dea. Habiskan dulu.” Dea meneguk ludahnya susah payah saat namanya disebut. “Eh, lagi diet, Om. Badanku sudah naik lima kilo bulan ini, jadi mau diet dulu.” Baskara melirik Dea dari atas sampai bawah. Mata pria memandang gadis itu seperti sedang menginspeksinya dengan tajam. Saat itu, Dea sedang mengenakan kaos tipis berwarna putih yang tak sengaja membuat pakaian dalamnya terlihat karena menerawang. Sedangkan bawahannya menggunakan celana pendek di atas lulut menampilkan kaki jenjang yang mulus. “Apa kamu terbiasa menggunakan pakaian kurang bahan seperti ini?”Baskara menatap serius kedua anak muda yang tampak canggung melihat kehadirannya. Dea menggaruk kepalanya tak gatal dan melepaskan sabuk pengaman.“Vin, aku langsung masuk, ya.”Vino mengangguk cepat dan tampak raut wajah penuh kecewa. “Oke, chat aku kalau ada apa-apa, Rapunzel.”Dea mengatur napasnya kala keluar dari mobil itu. Ia melirik pamannya yang tak ada kata-kata sepatah pun, tetapi tatapan pria dingin dan mengintimidasi jauh lebih menyeramkan.Kali ini bukan sekuriti ataupun sopir yang membukakan gerbang. Baskara sendiri. Ini yang membuat dada Dea terasa kembang kempis, apalagi baru pagi tadi pria itu menekankan jangan dekat-dekat dengan Vino.“Maaf, aku pulang kesorean, Om. Pak Sobri tadi chat kalau mobil ban mendadak kempes di jalan, jadi Vino yang mengantarku pulang.”Baskara diam saja. Di balik diamnya pria ini, Dea waspada kalau amarah pamannya akan meledak. Ia sudah wanti-wanti dan mengatur telinganya mendengarkan si mulut lantam bicara.Baskara mendorong gerbang rumah
“Ah, iya! Bos sekarang memang tampan maksimal, tapi galak banget, duh! Aku takut banget buat janji dengannya!”Tiba-tiba di sela para karyawan yang merumpi muncul wanita berpakaian glamor berwarna senada merah jambu dan kacamata hitam tebal berhenti di antara kubikel.“Kamu siapa, ya?” tanya wanita bername tag Stevani menghentikan langkah wanita itu.“Oh, iya… aku belum sempat mengenalkan diriku. Namaku Chika, calon istrinya Baskara.” Chika melepaskan kacamatanya dan disimpan dalam tas bermerk.“Ma-maaf Bu Chika, untuk bertemu Pak Baskara harus buat janji dulu,” ucap Stevani agak hati-hati.“Apa? Kamu panggil aku dengan sebutan ‘Ibu’? Bahkan perawatan kulit pun masih mahalan aku, lho. Oh, namamu Stevani, ya? Aku laporkan ke calon suamiku untuk memecat karyawan rendahan sepertimu!”Kericuhan pun terjadi. Para karyawan berdatangan dan mencoba melerai. Kebisingan ini sampai di telinga Baskara. Pria itu pun beranjak dari duduknya dan melangkah ke sumber suara.Derap langkah gagah dan be
Dea duduk bersebelahan sama Baskara. Pria dingin dan terkesan tak mempunyai perasaan fokus menatap layar laptop dipangku.Drrrttt…Dea meraba ponselnya. Ah, ia baru ingat kalau nada dering mereka sama.“Om, ponsel bunyi, tuh!” Baskara sama sekali tak mengindahkan Dea. Pria itu mengernyitkan dahi dan tangan kekar mengetik cepat. “Om…”Pria maskulin berahang tegas menoleh ke arahnya. Sedikit menggertakkan rahang. “Diam, Dea. Saya sedang ada meeting.”Dea menghela napas panjang. Ia pun mengambil headset di saku celananya. Mencoba memejamkan mata, entah mengapa setiap berkendara ia selalu ingin tidur dan berharap cepat sampai.Baru saja memejamkan mata.“Ahhh..!!!” Dea berteriak kencang, dadanya kembang kempis, matanya melirik ke kiri dan kanan.Sopir pribadi Baskara mengerem mendadak. “Maaf, Mbak Dea dan Tuan Baskara. Tadi ada lubang.”Dea meraup wajahnya. Mendadak keringat dingin mengucur pelipisnya. “Dea, bersandar saja di bahu saya.”Sedangkan Baskara langsung menutup layar cukup
Dea membuka matanya lebar-lebar. Badannya masih lemas. Dahi dikompres air hangat.Langit kamar sudah terang, Bi Inem ada di dekatnya sambil mengganti kompres di dahinya.“Bi Inem, sekarang jam berapa?”“Sudah jam delapan pagi.”“Lho, aku telat dong ke kampus.”“Hari ini Mbak Dea izin ndak masuk ke kampus. Tuan Baskara sudah menelpon dosen dan katanya hari ini cuma ada kuliah umum, itu pesan Tuan.”Dea merasakan tubuhnya masih sangat panas. Ia demam semalaman. Namun, ia tak mengingat apa pun kecuali Baskara mengantarnya ke kamar tidur saat di kamar mandi. Selebihnya, ia tak sadarkan diri.“Makan bubur dulu, Mbak, Bi Inem bantu duduk.” Inem perlahan membenarkan tubuh Dea bersandar di dipan kasur, lalu menyuapinya dengan penuh kasih sayang.“Makasih Bi Inem sudah mau merawatku,” ucap Dea tersenyum hangat sambil memperhatikan wanita itu lamat-lamat.“Mbak Dea itu sudah Bi Inem anggap sebagai anak sendiri. Jangan merasa sungkan kayak gitu.”Dea mengangguk. “Om Baskara mana, Bi?”“Sudah ber
Baskara tanpa basa-basi lagi langsung mendikte cara berpakaian Dea. Sedangkan Dea reflek melihat dirinya sendiri dan menganggap semua biasa saja.“Apa yang salah Om? Aku udah biasa pakai baju kayak gini di rumah. Benar kan, Bi Inem?”Bi Inem di antara keduanya serba salah. Perempuan paruh baya itu menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia lupa kalau Baskara pernah memberi tahu perihal berpakaian Dea, ia belum menyampaikan aturan itu.“A-anu, Mbak Dea, ayo segera mandi! Bi Inem bantu cek kadar airnya ya, takutnya sudah dingin.”Bi Inem serba salah. Ia takut diomelin Baskara, langsung saja menarik pergelangan tangan Dea, sambil memberi bantuan saat jalan menuju kamar.“Bi Inem, sementara kamar Dea jangan di lantai dua dulu, kakinya masih sakit,” suara Baskara terdengar lagi saat ia beranjak dari meja makan dan segera pergi meninggalkan Dea dan Bi Inem.“Baik, Tuan.”—— Dea sedikit meringis saat mengangkat kakinya masuk ke dalam bathub. “Aduh… Ngilu banget!”Perlahan rasa ngilu di lututnya
“Kamu telat lagi, Baskara! Kamu niat nikah sama aku nggak, sih?”Wanita itu melipat kedua tangannya di dada, menatap Baskara dengan wajah bersungut-sungut.Baskara hanya mendesah pelan sambil mengusap kepalanya. “Chika, ini sudah fitting baju yang kelima kali. Sampel yang kemarin juga sudah ada belasan. Semuanya sudah bagus.”“Bagus buat kamu, belum tentu pas buat aku!” bentak Chika makin menjadi. “Harusnya kamu mendampingi aku dari tadi, bukannya malah datang terlambat! Kalau kamu masih acuh begini, mending pernikahan kita batalin aja sekalian!”Baskara menatap Chika datar tanpa ada raut panik sedikit pun di matanya.“Oke. Kalau itu mau kamu, kita batalkan saja.”Chika mendadak bungkam. Matanya membelalak, sama sekali tidak menyangka ancaman gertakannya justru ditanggapi dingin tanpa ragu.Rasa gengsi dan amarahnya seketika luntur, berganti cemas. Senyum manis langsung diukirnya saat ia mendekat dan melingkarkan kedua tangannya dengan lembut di leher Baskara.“Sayang... aku kan cuma







