Partager

Bab 4

Auteur: Mommysa
last update Date de publication: 2026-11-03 16:57:28

Baskara tanpa basa-basi lagi langsung mendikte cara berpakaian Dea. Sedangkan Dea reflek melihat dirinya sendiri dan menganggap semua biasa saja.

“Apa yang salah Om? Aku udah biasa pakai baju kayak gini di rumah. Benar kan, Bi Inem?”

Bi Inem di antara keduanya serba salah. Perempuan paruh baya itu menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia lupa kalau Baskara pernah memberi tahu perihal berpakaian Dea, ia belum menyampaikan aturan itu.

“A-anu, Mbak Dea, ayo segera mandi! Bi Inem bantu cek kadar airnya ya, takutnya sudah dingin.”

Bi Inem serba salah. Ia takut diomelin Baskara, langsung saja menarik pergelangan tangan Dea, sambil memberi bantuan saat jalan menuju kamar.

“Bi Inem, sementara kamar Dea jangan di lantai dua dulu, kakinya masih sakit,” suara Baskara terdengar lagi saat ia beranjak dari meja makan dan segera pergi meninggalkan Dea dan Bi Inem.

“Baik, Tuan.”

——

Dea sedikit meringis saat mengangkat kakinya masuk ke dalam bathub. “Aduh… Ngilu banget!”

Perlahan rasa ngilu di lututnya terasa agak nyaman saat berendam di air hangat.

Berendam cukup lama, Dea kesulitan sekali berdiri tegak. Ini sangat licin, tumpuan kakinya belum terlalu kuat untuk menopang badan.

“Bi Inem, tolong aku! Kakiku masih sulit berdiri!” teriak Dea sekuat tenaga sambil berupaya bangkit.

Namun, rasanya mustahil sekali kalau ada yang mendengar teriakannya. Kamar mandi ada di dalam kamar, dan rumah ini juga cukup besar.

“Bi Inem!!” Dea berteriak kencang ketika kakinya mendadak lemas, ia tetap kesulitan keluar bathub.

Brak!

Mendadak pintu kamar mandi terbuka lebar.

Dea pun lega, mengira Bi Inem sudah datang, dan buru-buru berseru. “Bi Inem, bantu aku!”

“Bi Inem sedang bekerja di dapur. Saya akan membantumu.”

Suara Baskara terdengar dari pintu, dan Dea pun kaget menyaksikan pria itu sudah melangkah ke arahnya.

Dea terperanjat dan reflek menyilangkan kedua tangan di dada. “Jangan mengintip! Aku bisa keluar sendiri! Pergi dari sini!”

Padahal jantung Dea berdegup kencang, tapi pria di hadapannya tampak biasa saja. Dea tetap berhati-hati dan mencoba mundur saat Baskara sudah bergerak ke depannya.

Baskara menarik handuk putih dan dilemparkan ke Dea. “Pakai handuk, saya akan menggendongmu.”

Setelah itu, Baskara memunggunginya. Dea lega sedikit, dburu-buru ia balut tubuhnya menggunakan handuk.

“Sudah, Om.”

Dea mau tak mau harus menerima bantuan itu. Kulitnya sudah keriput, bibirnya pun sudah memucat, tandanya tubuhnya berendam terlalu lama dan menggigil parah.

Pria itu pun berbalik badan. Tak banyak bicara, Baskara pun langsung menggendong Dea yang basah kuyup, mengangkatnya dari dalam air. Perlahan, langkah besarnya membawa gadis itu menuju kamar.

“Di mana pakaianmu? Saya bantu ambil.”

Dea menarik tangan Baskara. “Eng-nggak usah, Om. Aku bisa mengambil dan memakainya sendiri. Aku bisa jalan.”

Baskara pun melirik Dea sekilas. Dea sangat kacau kali ini. Rambutnya yang basah perlahan mengalirkan setetes air yang turun ke leher, lalu perlahan menjalar dan menyelip ke balik balutan handuk yang basah.

Pria itu langsung memalingkan pandangannya. Sebagai pria dewasa, tentu merasa harus menghindari ponakannya yang bukan anak dua tahun lagi. Di usia dua puluh tahun, Dea sudah tumbuh menjadi wanita dewasa.

“Saya tidur di ruang tamu. Panggil saja kalau butuh bantuan.”

Baskara tak ingin berlama-lama di sini. Setelah membaringkan Dea ke kasur, ia mengambil beberapa potong pakaian dari lemari dan menaruhnya di kasur agar bisa Dea pakai dengan mudah. Ia pun segera melangkah keluar dan menutup pintu kamar.

— —

Tubuh kekar Baskara perlahan rebahan di sofa ruang tamu. Jarak ruang tamu dan kamar tamu di lantai satu cukup dekat. Ia khawatir jika Dea butuh sesuatu dan tidak bisa jalan karena kakinya.

Namun, Baskara kesulitan tidur malam ini karena perasaan gelisah mendadak merusak pikirannya.

Rasa bersalah pun menghantuinya. Setiap ia ingin memejamkan mata, kejadian puluhan tahun silam kembali terulang lagi. Sebelumnya, ia tidur nyenyak selama di luar negeri, tapi tidak kali ini. Ia kembali bertemu Dea untuk pertama kali setelah insiden lampau.

Sesaat Baskara mencoba memejamkan matanya, suara nyaring gadis itu kembali membuka matanya. Langkah kakinya bergerak cepat menuju kamar tamu.

Dea mengigau, antara sadar dan tak sadar sekujur tubuhnya berkeringat dingin. Dea yang hampir setiap malam mengigau dan menggigil.

“Jangan…” Dea mengernyit dalam tidurnya dan tanpa sadar air matanya jatuh.

Baskara langsung mendekat. Ketika melihat kondisi Dea semakin meracau, ia pun langsung merengkuh pinggul gadis itu. Pelukan di atas kasur dibalas Dea sangat erat. Energi ketakutan dan panas tubuh Dea menyerap di tubuh bidang Baskara.

Rasanya hangat sekali. Dea semakin mempererat pelukannya. Seolah pertahanannya runtuh, sesenggukan itu mendadak pecah menjadi tangisan.

“Dea, tubuhmu panas sekali,” gumam pria itu, sebelah tangannya menyentuh dahi Dea dan tangan satunya membelai rambut panjang Dea yang sedikit lembab.

“Ma… Pa… Jangan tinggalkan aku...” racau Dea, matanya masih terpejam rapat.

Baskara semakin merapatkan dekapannya. Ia tahu gadis ini pasti memimpikan orang tuanya, trauma yang tak akan hilang seumur hidup harus ditanggung sendirian. Gadis ini menolak untuk melepaskan diri, malah semakin erat.

“Saya ada di sini, tenanglah. Saya ambilkan obat dulu.”

Dea menggeleng lemah. Gadis ini sesenggukan di pelukannya. Napas Dea terasa panas. Perlahan Baskara bergeser sedikit untuk mengambil air minum di meja samping kasur.

Saat meregangkan dekapannya sambil meraih segelas air putih, kepala Dea mendongak secara tiba-tiba.

Gerakan kepala Dea terlalu cepat. Tanpa sengaja dan tak bisa dielakkan, bibir gadis yang terasa panas dan kering bergesek langsung menubruk bibir Baskara.

Cup!

Baskara mematung. Jakunnya naik turun dan napasnya mendadak tercegat. Seolah semuanya berubah, yang tadinya dipenuhi tangisan dan rasa takut menjadi situasi yang membingungkan.

Dea, di titik kesadarannya menurun dalam pengaruh mengigau dan rasa panas di tubuhnya, pandangannya yang kabur, bisa melihat wajah pria itu samar-samar dan aroma tubuhnya di penciumannya.

Dea pun memajukan wajahnya lagi, hendak mencium pria itu kembali. Napas Dea semakin memburu, Baskara merasakan ada yang salah.

“Dea!” seru Baskara sebelum Dea sempat melakukannya. Ia menekan paksa bahu Dea, gadis itu masih memejamkan mata.

Baskara terdiam sejenak. Sesaat, ia menatap gadis itu kembali berbaring tanpa perlawanan.

“Apa yang kamu pikirkan?!” Baskara merutuk. “Tunggu sebentar! Saya ambilkan obat pereda panas.”

Perlahan ia melepaskan lengannya dari tubuh Dea. Langkah kaki Baskara menuju kotak P3K.

Kali ini, bukan cuma Dea yang panas karena demam. Tubuh Baskara pun mendadak berkeringat dingin.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Om Baskara, Aku Mau Menikahimu!   Bab 8

    Baskara menatap serius kedua anak muda yang tampak canggung melihat kehadirannya. Dea menggaruk kepalanya tak gatal dan melepaskan sabuk pengaman.“Vin, aku langsung masuk, ya.”Vino mengangguk cepat dan tampak raut wajah penuh kecewa. “Oke, chat aku kalau ada apa-apa, Rapunzel.”Dea mengatur napasnya kala keluar dari mobil itu. Ia melirik pamannya yang tak ada kata-kata sepatah pun, tetapi tatapan pria dingin dan mengintimidasi jauh lebih menyeramkan.Kali ini bukan sekuriti ataupun sopir yang membukakan gerbang. Baskara sendiri. Ini yang membuat dada Dea terasa kembang kempis, apalagi baru pagi tadi pria itu menekankan jangan dekat-dekat dengan Vino.“Maaf, aku pulang kesorean, Om. Pak Sobri tadi chat kalau mobil ban mendadak kempes di jalan, jadi Vino yang mengantarku pulang.”Baskara diam saja. Di balik diamnya pria ini, Dea waspada kalau amarah pamannya akan meledak. Ia sudah wanti-wanti dan mengatur telinganya mendengarkan si mulut lantam bicara.Baskara mendorong gerbang rumah

  • Om Baskara, Aku Mau Menikahimu!   Bab 7

    “Ah, iya! Bos sekarang memang tampan maksimal, tapi galak banget, duh! Aku takut banget buat janji dengannya!”Tiba-tiba di sela para karyawan yang merumpi muncul wanita berpakaian glamor berwarna senada merah jambu dan kacamata hitam tebal berhenti di antara kubikel.“Kamu siapa, ya?” tanya wanita bername tag Stevani menghentikan langkah wanita itu.“Oh, iya… aku belum sempat mengenalkan diriku. Namaku Chika, calon istrinya Baskara.” Chika melepaskan kacamatanya dan disimpan dalam tas bermerk.“Ma-maaf Bu Chika, untuk bertemu Pak Baskara harus buat janji dulu,” ucap Stevani agak hati-hati.“Apa? Kamu panggil aku dengan sebutan ‘Ibu’? Bahkan perawatan kulit pun masih mahalan aku, lho. Oh, namamu Stevani, ya? Aku laporkan ke calon suamiku untuk memecat karyawan rendahan sepertimu!”Kericuhan pun terjadi. Para karyawan berdatangan dan mencoba melerai. Kebisingan ini sampai di telinga Baskara. Pria itu pun beranjak dari duduknya dan melangkah ke sumber suara.Derap langkah gagah dan be

  • Om Baskara, Aku Mau Menikahimu!   Bab 6

    Dea duduk bersebelahan sama Baskara. Pria dingin dan terkesan tak mempunyai perasaan fokus menatap layar laptop dipangku.Drrrttt…Dea meraba ponselnya. Ah, ia baru ingat kalau nada dering mereka sama.“Om, ponsel bunyi, tuh!” Baskara sama sekali tak mengindahkan Dea. Pria itu mengernyitkan dahi dan tangan kekar mengetik cepat. “Om…”Pria maskulin berahang tegas menoleh ke arahnya. Sedikit menggertakkan rahang. “Diam, Dea. Saya sedang ada meeting.”Dea menghela napas panjang. Ia pun mengambil headset di saku celananya. Mencoba memejamkan mata, entah mengapa setiap berkendara ia selalu ingin tidur dan berharap cepat sampai.Baru saja memejamkan mata.“Ahhh..!!!” Dea berteriak kencang, dadanya kembang kempis, matanya melirik ke kiri dan kanan.Sopir pribadi Baskara mengerem mendadak. “Maaf, Mbak Dea dan Tuan Baskara. Tadi ada lubang.”Dea meraup wajahnya. Mendadak keringat dingin mengucur pelipisnya. “Dea, bersandar saja di bahu saya.”Sedangkan Baskara langsung menutup layar cukup

  • Om Baskara, Aku Mau Menikahimu!   Bab 5

    Dea membuka matanya lebar-lebar. Badannya masih lemas. Dahi dikompres air hangat.Langit kamar sudah terang, Bi Inem ada di dekatnya sambil mengganti kompres di dahinya.“Bi Inem, sekarang jam berapa?”“Sudah jam delapan pagi.”“Lho, aku telat dong ke kampus.”“Hari ini Mbak Dea izin ndak masuk ke kampus. Tuan Baskara sudah menelpon dosen dan katanya hari ini cuma ada kuliah umum, itu pesan Tuan.”Dea merasakan tubuhnya masih sangat panas. Ia demam semalaman. Namun, ia tak mengingat apa pun kecuali Baskara mengantarnya ke kamar tidur saat di kamar mandi. Selebihnya, ia tak sadarkan diri.“Makan bubur dulu, Mbak, Bi Inem bantu duduk.” Inem perlahan membenarkan tubuh Dea bersandar di dipan kasur, lalu menyuapinya dengan penuh kasih sayang.“Makasih Bi Inem sudah mau merawatku,” ucap Dea tersenyum hangat sambil memperhatikan wanita itu lamat-lamat.“Mbak Dea itu sudah Bi Inem anggap sebagai anak sendiri. Jangan merasa sungkan kayak gitu.”Dea mengangguk. “Om Baskara mana, Bi?”“Sudah ber

  • Om Baskara, Aku Mau Menikahimu!   Bab 4

    Baskara tanpa basa-basi lagi langsung mendikte cara berpakaian Dea. Sedangkan Dea reflek melihat dirinya sendiri dan menganggap semua biasa saja.“Apa yang salah Om? Aku udah biasa pakai baju kayak gini di rumah. Benar kan, Bi Inem?”Bi Inem di antara keduanya serba salah. Perempuan paruh baya itu menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia lupa kalau Baskara pernah memberi tahu perihal berpakaian Dea, ia belum menyampaikan aturan itu.“A-anu, Mbak Dea, ayo segera mandi! Bi Inem bantu cek kadar airnya ya, takutnya sudah dingin.”Bi Inem serba salah. Ia takut diomelin Baskara, langsung saja menarik pergelangan tangan Dea, sambil memberi bantuan saat jalan menuju kamar.“Bi Inem, sementara kamar Dea jangan di lantai dua dulu, kakinya masih sakit,” suara Baskara terdengar lagi saat ia beranjak dari meja makan dan segera pergi meninggalkan Dea dan Bi Inem.“Baik, Tuan.”—— Dea sedikit meringis saat mengangkat kakinya masuk ke dalam bathub. “Aduh… Ngilu banget!”Perlahan rasa ngilu di lututnya

  • Om Baskara, Aku Mau Menikahimu!   Bab 3

    “Kamu telat lagi, Baskara! Kamu niat nikah sama aku nggak, sih?”Wanita itu melipat kedua tangannya di dada, menatap Baskara dengan wajah bersungut-sungut.Baskara hanya mendesah pelan sambil mengusap kepalanya. “Chika, ini sudah fitting baju yang kelima kali. Sampel yang kemarin juga sudah ada belasan. Semuanya sudah bagus.”“Bagus buat kamu, belum tentu pas buat aku!” bentak Chika makin menjadi. “Harusnya kamu mendampingi aku dari tadi, bukannya malah datang terlambat! Kalau kamu masih acuh begini, mending pernikahan kita batalin aja sekalian!”Baskara menatap Chika datar tanpa ada raut panik sedikit pun di matanya.“Oke. Kalau itu mau kamu, kita batalkan saja.”Chika mendadak bungkam. Matanya membelalak, sama sekali tidak menyangka ancaman gertakannya justru ditanggapi dingin tanpa ragu.Rasa gengsi dan amarahnya seketika luntur, berganti cemas. Senyum manis langsung diukirnya saat ia mendekat dan melingkarkan kedua tangannya dengan lembut di leher Baskara.“Sayang... aku kan cuma

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status