Partager

Bab 6

Auteur: Mommysa
last update Date de publication: 2026-11-05 15:59:34

Dea duduk bersebelahan sama Baskara. Pria dingin dan terkesan tak mempunyai perasaan fokus menatap layar laptop dipangku.

Drrrttt…

Dea meraba ponselnya. Ah, ia baru ingat kalau nada dering mereka sama.

“Om, ponsel bunyi, tuh!”

Baskara sama sekali tak mengindahkan Dea. Pria itu mengernyitkan dahi dan tangan kekar mengetik cepat.

“Om…”

Pria maskulin berahang tegas menoleh ke arahnya. Sedikit menggertakkan rahang. “Diam, Dea. Saya sedang ada meeting.”

Dea menghela napas panjang. Ia pun mengambil headset di saku celananya. Mencoba memejamkan mata, entah mengapa setiap berkendara ia selalu ingin tidur dan berharap cepat sampai.

Baru saja memejamkan mata.

“Ahhh..!!!” Dea berteriak kencang, dadanya kembang kempis, matanya melirik ke kiri dan kanan.

Sopir pribadi Baskara mengerem mendadak.

“Maaf, Mbak Dea dan Tuan Baskara. Tadi ada lubang.”

Dea meraup wajahnya. Mendadak keringat dingin mengucur pelipisnya.

“Dea, bersandar saja di bahu saya.”

Sedangkan Baskara langsung menutup layar cukup satu hentakan saja. Ia pun perlahan menyentuh bahu Dea dan meletakkan kepala gadis itu di bahu bidangnya.

Deg!

Dea terperanjat. Rasanya pasokan oksigen menipis. Perlakuan pamannya serba mendadak tak sengaja menambah debaran jantungnya yang sedang tak baik-baik saja.

“Aku nggak apa-apa, kok.” Dea mengedikkan bahu. Ia mencoba melepaskan jemari kekar melingkar di tangan.

Dea melirik tangan berotot Baskara menyentuh bahunya sangat erat. Terasa jarak ini semakin rapat. Ia tak mampu berlama-lama di posisi mendebarkan ini.

“Tidurlah, jalan lumayan macet, kau akan semakin cemas kalau bangun, Dea.”

Suara bariton yang agak serak terdengar santai dan berwibawa. Tak ada kalimat pemaksaan dari pria ini, entah mengapa Dea merasakan sangat nyaman sesaat kepalanya menyandar di bahu Baskara.

——

Beberapa menit kemudian, mobil sedan hitam terparkir di halaman kampus. Diam-diam Baskara memperhatikan gadis yang terlelap di sampingnya. Tanpa sadar… ia menyentuh kedua mata dengan bulu mata lentik, hidung kecil mungil, serta sentuhan terakhir tertahan di bibir merah merona Dea.

“Apa yang kau lakukan, Baskara?” Ia merutuki batinnya sendiri.

Pria sepertinya lancang sekali memikirkan anak sahabatnya— sesaat muncul pikiran aneh. Masih terbayang kejadian tak sengaja gadis ini mengecup bibirnya.

Dea belum ada tanda-tanda kesadaran. Tangan kekar itu menjentikkan di dahi berponi.

“Awww…!!!” rengek Dea sesaat menyadari rasa sakit di dahinya.

“Bangun! Sudah sampai.” Baskara berdehem pelan.

Dea memanyunkan bibirnya. Sedikit kesal sama kelakuan Baskara yang seenak jidat membangunkannya dengan cara menyakitkan.

“Ya udah, aku pergi dulu!”

Belum sempat Dea memijakkan kaki di tanah. Tangannya ditahan Baskara.

“Lho, kenapa Om?” Dea menarik headset dan disimpan lagi ke saku celana.

“Tas kamu ketinggalan.”

Dea menghela napas panjang. Sampai lupa kalau tasnya masih di samping tempat duduk. Agak sedikit malas ia menarik ranselnya dan kini berpindah di punggung.

“Nggak usah jemput, Om. Bye…!” Dea melambaikan tangan dan segera berjalan ke koridor.

— —

“Pagi Rapunzelku, apa tidurmu nyenyak malam ini?” Vino mendadak duduk di depannya.

Dea menguap ngantuk. Sedangkan Vino menjadi orang pertama menyapanya, ia sudah terbiasa dengan kelakuan teman satu kelasnya ini.

“Mana Iren?” Dea celingukan. “Nggak bareng dia?”

“Nggak, dia sama pacarnya. Kok kamu mendadak batalkan janji? Kan kamu bilang semalam mau kujemput, aku khawatir sama kamu.”

“Ah, panjang ceritanya, Vin. Intinya pria tua nyebelin itu yang anter aku pagi tadi.”

“Ya udah, sore ini aku yang antar kamu pulang, ya!”

Dea mengembungkan mulutnya. “Hmm… aku nggak bisa janji, Vino.” Ia mengembuskan napas berat.

Iren mendadak lari kencang dan napasnya ngos-ngosan.

“Ah, Bu Susanti datang lebih pagi! Jangan sampai kamu tidur lagi di kelas, ya, Dea!” Iren langsung saja duduk di samping Dea.

Seperti biasa, Dea selalu mengandalkan Vino dan Iren untuk berpura-pura menyembunyikan kebiasaan tidur di jam pagi. Sialnya, jam pagi mata kuliah hari ini diganti mendadak. Lagi-lagi Bu Susanti yang mengampu, mau tak mau Dea harus melek selama beberapa menit.

— —

Baskara mengernyitkan dahi ketika mendapatkan sebuah laporan kinerja yang tak sesuai inginnya. Ia melempar draft kasar berserakan di lantai.

“Perbaiki sekarang! Desain ini terlalu kuno, cari referensi modern dan klasik.”

“Baik, Pak.”

Pria dengan pakaian formal langsung mengambil lembaran kertas dengan tangan gemetar. Bos baru ini jauh lebih galak dan terkenal kejam. Mau tak mau harus adaptasi perubahan pimpinan di perusahaan ini.

“Tolong tutup pintu itu! Kasih tahu Stevani jangan ada yang masuk ke ruangan saya tanpa janji, paham Pak Santo?”

Pak Santo mengangguk singkat. Bos galak ini seolah tak peduli kalau dirinya salah satu karyawan senior yang dulu sudah biasa masuk ruang pimpinan tanpa janji.

“Maafkan saya, Pak. Datang ke ruangan tanpa janjian dulu.” Suara Pak Santo bergetar

Baskara tak menanggapi. Ia memiliki aturan sendiri dan begitu selektif untuk bertemu orang-orang.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Om Baskara, Aku Mau Menikahimu!   Bab 8

    Baskara menatap serius kedua anak muda yang tampak canggung melihat kehadirannya. Dea menggaruk kepalanya tak gatal dan melepaskan sabuk pengaman.“Vin, aku langsung masuk, ya.”Vino mengangguk cepat dan tampak raut wajah penuh kecewa. “Oke, chat aku kalau ada apa-apa, Rapunzel.”Dea mengatur napasnya kala keluar dari mobil itu. Ia melirik pamannya yang tak ada kata-kata sepatah pun, tetapi tatapan pria dingin dan mengintimidasi jauh lebih menyeramkan.Kali ini bukan sekuriti ataupun sopir yang membukakan gerbang. Baskara sendiri. Ini yang membuat dada Dea terasa kembang kempis, apalagi baru pagi tadi pria itu menekankan jangan dekat-dekat dengan Vino.“Maaf, aku pulang kesorean, Om. Pak Sobri tadi chat kalau mobil ban mendadak kempes di jalan, jadi Vino yang mengantarku pulang.”Baskara diam saja. Di balik diamnya pria ini, Dea waspada kalau amarah pamannya akan meledak. Ia sudah wanti-wanti dan mengatur telinganya mendengarkan si mulut lantam bicara.Baskara mendorong gerbang rumah

  • Om Baskara, Aku Mau Menikahimu!   Bab 7

    “Ah, iya! Bos sekarang memang tampan maksimal, tapi galak banget, duh! Aku takut banget buat janji dengannya!”Tiba-tiba di sela para karyawan yang merumpi muncul wanita berpakaian glamor berwarna senada merah jambu dan kacamata hitam tebal berhenti di antara kubikel.“Kamu siapa, ya?” tanya wanita bername tag Stevani menghentikan langkah wanita itu.“Oh, iya… aku belum sempat mengenalkan diriku. Namaku Chika, calon istrinya Baskara.” Chika melepaskan kacamatanya dan disimpan dalam tas bermerk.“Ma-maaf Bu Chika, untuk bertemu Pak Baskara harus buat janji dulu,” ucap Stevani agak hati-hati.“Apa? Kamu panggil aku dengan sebutan ‘Ibu’? Bahkan perawatan kulit pun masih mahalan aku, lho. Oh, namamu Stevani, ya? Aku laporkan ke calon suamiku untuk memecat karyawan rendahan sepertimu!”Kericuhan pun terjadi. Para karyawan berdatangan dan mencoba melerai. Kebisingan ini sampai di telinga Baskara. Pria itu pun beranjak dari duduknya dan melangkah ke sumber suara.Derap langkah gagah dan be

  • Om Baskara, Aku Mau Menikahimu!   Bab 6

    Dea duduk bersebelahan sama Baskara. Pria dingin dan terkesan tak mempunyai perasaan fokus menatap layar laptop dipangku.Drrrttt…Dea meraba ponselnya. Ah, ia baru ingat kalau nada dering mereka sama.“Om, ponsel bunyi, tuh!” Baskara sama sekali tak mengindahkan Dea. Pria itu mengernyitkan dahi dan tangan kekar mengetik cepat. “Om…”Pria maskulin berahang tegas menoleh ke arahnya. Sedikit menggertakkan rahang. “Diam, Dea. Saya sedang ada meeting.”Dea menghela napas panjang. Ia pun mengambil headset di saku celananya. Mencoba memejamkan mata, entah mengapa setiap berkendara ia selalu ingin tidur dan berharap cepat sampai.Baru saja memejamkan mata.“Ahhh..!!!” Dea berteriak kencang, dadanya kembang kempis, matanya melirik ke kiri dan kanan.Sopir pribadi Baskara mengerem mendadak. “Maaf, Mbak Dea dan Tuan Baskara. Tadi ada lubang.”Dea meraup wajahnya. Mendadak keringat dingin mengucur pelipisnya. “Dea, bersandar saja di bahu saya.”Sedangkan Baskara langsung menutup layar cukup

  • Om Baskara, Aku Mau Menikahimu!   Bab 5

    Dea membuka matanya lebar-lebar. Badannya masih lemas. Dahi dikompres air hangat.Langit kamar sudah terang, Bi Inem ada di dekatnya sambil mengganti kompres di dahinya.“Bi Inem, sekarang jam berapa?”“Sudah jam delapan pagi.”“Lho, aku telat dong ke kampus.”“Hari ini Mbak Dea izin ndak masuk ke kampus. Tuan Baskara sudah menelpon dosen dan katanya hari ini cuma ada kuliah umum, itu pesan Tuan.”Dea merasakan tubuhnya masih sangat panas. Ia demam semalaman. Namun, ia tak mengingat apa pun kecuali Baskara mengantarnya ke kamar tidur saat di kamar mandi. Selebihnya, ia tak sadarkan diri.“Makan bubur dulu, Mbak, Bi Inem bantu duduk.” Inem perlahan membenarkan tubuh Dea bersandar di dipan kasur, lalu menyuapinya dengan penuh kasih sayang.“Makasih Bi Inem sudah mau merawatku,” ucap Dea tersenyum hangat sambil memperhatikan wanita itu lamat-lamat.“Mbak Dea itu sudah Bi Inem anggap sebagai anak sendiri. Jangan merasa sungkan kayak gitu.”Dea mengangguk. “Om Baskara mana, Bi?”“Sudah ber

  • Om Baskara, Aku Mau Menikahimu!   Bab 4

    Baskara tanpa basa-basi lagi langsung mendikte cara berpakaian Dea. Sedangkan Dea reflek melihat dirinya sendiri dan menganggap semua biasa saja.“Apa yang salah Om? Aku udah biasa pakai baju kayak gini di rumah. Benar kan, Bi Inem?”Bi Inem di antara keduanya serba salah. Perempuan paruh baya itu menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia lupa kalau Baskara pernah memberi tahu perihal berpakaian Dea, ia belum menyampaikan aturan itu.“A-anu, Mbak Dea, ayo segera mandi! Bi Inem bantu cek kadar airnya ya, takutnya sudah dingin.”Bi Inem serba salah. Ia takut diomelin Baskara, langsung saja menarik pergelangan tangan Dea, sambil memberi bantuan saat jalan menuju kamar.“Bi Inem, sementara kamar Dea jangan di lantai dua dulu, kakinya masih sakit,” suara Baskara terdengar lagi saat ia beranjak dari meja makan dan segera pergi meninggalkan Dea dan Bi Inem.“Baik, Tuan.”—— Dea sedikit meringis saat mengangkat kakinya masuk ke dalam bathub. “Aduh… Ngilu banget!”Perlahan rasa ngilu di lututnya

  • Om Baskara, Aku Mau Menikahimu!   Bab 3

    “Kamu telat lagi, Baskara! Kamu niat nikah sama aku nggak, sih?”Wanita itu melipat kedua tangannya di dada, menatap Baskara dengan wajah bersungut-sungut.Baskara hanya mendesah pelan sambil mengusap kepalanya. “Chika, ini sudah fitting baju yang kelima kali. Sampel yang kemarin juga sudah ada belasan. Semuanya sudah bagus.”“Bagus buat kamu, belum tentu pas buat aku!” bentak Chika makin menjadi. “Harusnya kamu mendampingi aku dari tadi, bukannya malah datang terlambat! Kalau kamu masih acuh begini, mending pernikahan kita batalin aja sekalian!”Baskara menatap Chika datar tanpa ada raut panik sedikit pun di matanya.“Oke. Kalau itu mau kamu, kita batalkan saja.”Chika mendadak bungkam. Matanya membelalak, sama sekali tidak menyangka ancaman gertakannya justru ditanggapi dingin tanpa ragu.Rasa gengsi dan amarahnya seketika luntur, berganti cemas. Senyum manis langsung diukirnya saat ia mendekat dan melingkarkan kedua tangannya dengan lembut di leher Baskara.“Sayang... aku kan cuma

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status