Share

Bab 8

Author: Mommysa
last update Petsa ng paglalathala: 2026-11-05 19:18:28

Baskara menatap serius kedua anak muda yang tampak canggung melihat kehadirannya. Dea menggaruk kepalanya tak gatal dan melepaskan sabuk pengaman.

“Vin, aku langsung masuk, ya.”

Vino mengangguk cepat dan tampak raut wajah penuh kecewa. “Oke, chat aku kalau ada apa-apa, Rapunzel.”

Dea mengatur napasnya kala keluar dari mobil itu. Ia melirik pamannya yang tak ada kata-kata sepatah pun, tetapi tatapan pria dingin dan mengintimidasi jauh lebih menyeramkan.

Kali ini bukan sekuriti ataupun sopir yang membukakan gerbang. Baskara sendiri. Ini yang membuat dada Dea terasa kembang kempis, apalagi baru pagi tadi pria itu menekankan jangan dekat-dekat dengan Vino.

“Maaf, aku pulang kesorean, Om. Pak Sobri tadi chat kalau mobil ban mendadak kempes di jalan, jadi Vino yang mengantarku pulang.”

Baskara diam saja. Di balik diamnya pria ini, Dea waspada kalau amarah pamannya akan meledak. Ia sudah wanti-wanti dan mengatur telinganya mendengarkan si mulut lantam bicara.

Baskara mendorong gerbang rumah sangat cepat.

Dea yang masih mematung terus memperhatikan punggung pamannya yang lebih dulu jalan di depan.

“Mau di sini sampai pagi? Masuk!”

Dea menghela napas panjang. Ia mengekori Baskara masuk ke dalam rumah besar dengan interior mewah. Di sini, ia dibesarkan. Lalu bertemu gede dengan pamannya yang sama sekali tak ramah.

— —

“Om, belum tidur?”

Rasa canggung itu kembali muncul. Dea sedang melakukan peregangan di taman— kakinya mengayuh sepeda statis. Ia melirik pria itu melintas di dapur.

Baskara tak menoleh. Ia mengaduk secangkir minuman. Aroma pekat dan tajam terendus di penciuman Dea.

Pria itu berjalan ke arah Dea. Lalu menyodorkan segelas minuman.

“Minumlah…”

Dea menghentikan aktivitasnya. Mendadak canggung karena pria ini tampak begitu hangat dan berbeda dari sebelumnya.

Pelan-pelan ia beranjak dan duduk di kursi santai. Ia pun mengambil segelas minuman itu.

Baunya menyengat sekali. Dea merasa mual. Agak ragu-ragu menelannya.

“Hooeek…!!!”

“Milkshake dicampur protein telor ayam kampung. Bagus untuk pemulihan.”

Dea mengernyitkan dahi. “Tapi ini amis banget, Om! Aku nggak bisa minum yang kayak gini, enakan matcha.”

“Minuman rasa rumput?”

“Ihh… kambing kali, ah! Pokoknya aku nggak mau minum ini, Om!”

“Saat pemulihan tubuh membutuhkan protein yang banyak, Dea. Habiskan, sekarang!” Suara bariton Baskara penuh diktator penuh tekanan.

Dea menggeleng cepat. “Nggak mau! Aku beneran muntah lho, Om.”

“Apa perlu saya yang menyuapkan langsung ke mulutmu, Dea?”

Dea mematung sejenak. Segera ia meraup habis minuman rasa telur mentah yang rasanya bikin mual parah.

Ia menutup hidungnya, tetapi percuma saja. Mendadak seluruh isi perutnya luber di baju Baskara.

“Hooekkk..!!!”

Seketika baju Baskara bau asem dan lembab. Bekas muntahan Dea tercetak sempurna di pakaiannya yang agak ketat dan ketara otot-otot perut di balik kaos putih itu.

Dea melototkan matanya dan reflek tangannya menyentuh roti sobek bekas muntahannya. Tak sengaja ia mengelus perut Baskara yang terasa bersekat-sekat.

“Dea…!” Baskara menahan tangan gadis itu.

“Ma-maaf, Om. Aku mengotori bajumu, sini bajumu kucuci sekarang.”

Dea dengan gerakan sedikit memaksa menarik paksa kaos miliknya. Bisa-bisanya wanita ini tak menganggapnya pria dewasa kalau disentuh di bagian tertentu sesuatu di bawah perut bisa bangun.

“Hentikan, Dea!”

Baskara menarik paksa tangan Dea berada di atas kendalinya. Cukup satu hentakan, tubuh besar dan berotot mengurung gadis itu.

Seketika napas mereka saling beradu, terasa panas dan sesak. Tubuh Baskara menghimpit Dea begitu rapat dan tak berjarak.

“Om, apa yang Om lakukan?”

“Masih tanya apa yang saya lakukan?” Susah payah Baskara menelan liurnya.

“Om…” Dea menunduk menyembunyikan wajah merah seperti kepiting rebus.

Sementara itu, dagu Baskara berada tepat menyentuh rambut. Bau maskulin bercampur aroma parfum maskulin berkualitas mahal pun tercium pekat. Bukan cuma itu, aroma napas pria ini terasa menggoda— aroma mint tercium di sela-sela ketegangan.

Baskara seakan kehilangan akal sehatnya. Ia tak tahu mengapa tubuhnya bereaksi seperti ini. Tetapi, jarak yang sangat rapat ini justru mendebarkan degup jantungnya. Entah semakin tampak Dea malu-malu, adrenalin tertantang untuk menaklukkan gadis ini.

“Apa kamu terbiasa menyentuh pria, Dea?”

Deg!

Dea terkesiap. Seketika mendongak menatap Baskara dengan jarak begitu dekat.

Mata Baskara berwarna kecokelatan menatap kedua matanya yang tak berkedip. Sialnya, Dea kesulitan menarik napas, apalagi detak jantungnya begitu lancang berdebar tak karuan.

“Om… tolong jangan seperti ini!” Dea pun menyentuh dada bidang pria itu.

“Kenapa? Bukannya kamu yang memancing saya? Kamu menyentuh perut saya dan menyentuh bagian terlarang, Dea.” Suara Baskara berat dan sedikit serak, jakunnya naik turun.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Om Baskara, Aku Mau Menikahimu!   Bab 8

    Baskara menatap serius kedua anak muda yang tampak canggung melihat kehadirannya. Dea menggaruk kepalanya tak gatal dan melepaskan sabuk pengaman.“Vin, aku langsung masuk, ya.”Vino mengangguk cepat dan tampak raut wajah penuh kecewa. “Oke, chat aku kalau ada apa-apa, Rapunzel.”Dea mengatur napasnya kala keluar dari mobil itu. Ia melirik pamannya yang tak ada kata-kata sepatah pun, tetapi tatapan pria dingin dan mengintimidasi jauh lebih menyeramkan.Kali ini bukan sekuriti ataupun sopir yang membukakan gerbang. Baskara sendiri. Ini yang membuat dada Dea terasa kembang kempis, apalagi baru pagi tadi pria itu menekankan jangan dekat-dekat dengan Vino.“Maaf, aku pulang kesorean, Om. Pak Sobri tadi chat kalau mobil ban mendadak kempes di jalan, jadi Vino yang mengantarku pulang.”Baskara diam saja. Di balik diamnya pria ini, Dea waspada kalau amarah pamannya akan meledak. Ia sudah wanti-wanti dan mengatur telinganya mendengarkan si mulut lantam bicara.Baskara mendorong gerbang rumah

  • Om Baskara, Aku Mau Menikahimu!   Bab 7

    “Ah, iya! Bos sekarang memang tampan maksimal, tapi galak banget, duh! Aku takut banget buat janji dengannya!”Tiba-tiba di sela para karyawan yang merumpi muncul wanita berpakaian glamor berwarna senada merah jambu dan kacamata hitam tebal berhenti di antara kubikel.“Kamu siapa, ya?” tanya wanita bername tag Stevani menghentikan langkah wanita itu.“Oh, iya… aku belum sempat mengenalkan diriku. Namaku Chika, calon istrinya Baskara.” Chika melepaskan kacamatanya dan disimpan dalam tas bermerk.“Ma-maaf Bu Chika, untuk bertemu Pak Baskara harus buat janji dulu,” ucap Stevani agak hati-hati.“Apa? Kamu panggil aku dengan sebutan ‘Ibu’? Bahkan perawatan kulit pun masih mahalan aku, lho. Oh, namamu Stevani, ya? Aku laporkan ke calon suamiku untuk memecat karyawan rendahan sepertimu!”Kericuhan pun terjadi. Para karyawan berdatangan dan mencoba melerai. Kebisingan ini sampai di telinga Baskara. Pria itu pun beranjak dari duduknya dan melangkah ke sumber suara.Derap langkah gagah dan be

  • Om Baskara, Aku Mau Menikahimu!   Bab 6

    Dea duduk bersebelahan sama Baskara. Pria dingin dan terkesan tak mempunyai perasaan fokus menatap layar laptop dipangku.Drrrttt…Dea meraba ponselnya. Ah, ia baru ingat kalau nada dering mereka sama.“Om, ponsel bunyi, tuh!” Baskara sama sekali tak mengindahkan Dea. Pria itu mengernyitkan dahi dan tangan kekar mengetik cepat. “Om…”Pria maskulin berahang tegas menoleh ke arahnya. Sedikit menggertakkan rahang. “Diam, Dea. Saya sedang ada meeting.”Dea menghela napas panjang. Ia pun mengambil headset di saku celananya. Mencoba memejamkan mata, entah mengapa setiap berkendara ia selalu ingin tidur dan berharap cepat sampai.Baru saja memejamkan mata.“Ahhh..!!!” Dea berteriak kencang, dadanya kembang kempis, matanya melirik ke kiri dan kanan.Sopir pribadi Baskara mengerem mendadak. “Maaf, Mbak Dea dan Tuan Baskara. Tadi ada lubang.”Dea meraup wajahnya. Mendadak keringat dingin mengucur pelipisnya. “Dea, bersandar saja di bahu saya.”Sedangkan Baskara langsung menutup layar cukup

  • Om Baskara, Aku Mau Menikahimu!   Bab 5

    Dea membuka matanya lebar-lebar. Badannya masih lemas. Dahi dikompres air hangat.Langit kamar sudah terang, Bi Inem ada di dekatnya sambil mengganti kompres di dahinya.“Bi Inem, sekarang jam berapa?”“Sudah jam delapan pagi.”“Lho, aku telat dong ke kampus.”“Hari ini Mbak Dea izin ndak masuk ke kampus. Tuan Baskara sudah menelpon dosen dan katanya hari ini cuma ada kuliah umum, itu pesan Tuan.”Dea merasakan tubuhnya masih sangat panas. Ia demam semalaman. Namun, ia tak mengingat apa pun kecuali Baskara mengantarnya ke kamar tidur saat di kamar mandi. Selebihnya, ia tak sadarkan diri.“Makan bubur dulu, Mbak, Bi Inem bantu duduk.” Inem perlahan membenarkan tubuh Dea bersandar di dipan kasur, lalu menyuapinya dengan penuh kasih sayang.“Makasih Bi Inem sudah mau merawatku,” ucap Dea tersenyum hangat sambil memperhatikan wanita itu lamat-lamat.“Mbak Dea itu sudah Bi Inem anggap sebagai anak sendiri. Jangan merasa sungkan kayak gitu.”Dea mengangguk. “Om Baskara mana, Bi?”“Sudah ber

  • Om Baskara, Aku Mau Menikahimu!   Bab 4

    Baskara tanpa basa-basi lagi langsung mendikte cara berpakaian Dea. Sedangkan Dea reflek melihat dirinya sendiri dan menganggap semua biasa saja.“Apa yang salah Om? Aku udah biasa pakai baju kayak gini di rumah. Benar kan, Bi Inem?”Bi Inem di antara keduanya serba salah. Perempuan paruh baya itu menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia lupa kalau Baskara pernah memberi tahu perihal berpakaian Dea, ia belum menyampaikan aturan itu.“A-anu, Mbak Dea, ayo segera mandi! Bi Inem bantu cek kadar airnya ya, takutnya sudah dingin.”Bi Inem serba salah. Ia takut diomelin Baskara, langsung saja menarik pergelangan tangan Dea, sambil memberi bantuan saat jalan menuju kamar.“Bi Inem, sementara kamar Dea jangan di lantai dua dulu, kakinya masih sakit,” suara Baskara terdengar lagi saat ia beranjak dari meja makan dan segera pergi meninggalkan Dea dan Bi Inem.“Baik, Tuan.”—— Dea sedikit meringis saat mengangkat kakinya masuk ke dalam bathub. “Aduh… Ngilu banget!”Perlahan rasa ngilu di lututnya

  • Om Baskara, Aku Mau Menikahimu!   Bab 3

    “Kamu telat lagi, Baskara! Kamu niat nikah sama aku nggak, sih?”Wanita itu melipat kedua tangannya di dada, menatap Baskara dengan wajah bersungut-sungut.Baskara hanya mendesah pelan sambil mengusap kepalanya. “Chika, ini sudah fitting baju yang kelima kali. Sampel yang kemarin juga sudah ada belasan. Semuanya sudah bagus.”“Bagus buat kamu, belum tentu pas buat aku!” bentak Chika makin menjadi. “Harusnya kamu mendampingi aku dari tadi, bukannya malah datang terlambat! Kalau kamu masih acuh begini, mending pernikahan kita batalin aja sekalian!”Baskara menatap Chika datar tanpa ada raut panik sedikit pun di matanya.“Oke. Kalau itu mau kamu, kita batalkan saja.”Chika mendadak bungkam. Matanya membelalak, sama sekali tidak menyangka ancaman gertakannya justru ditanggapi dingin tanpa ragu.Rasa gengsi dan amarahnya seketika luntur, berganti cemas. Senyum manis langsung diukirnya saat ia mendekat dan melingkarkan kedua tangannya dengan lembut di leher Baskara.“Sayang... aku kan cuma

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status