MasukDebu masih menggantung di udara di depan gerbang villa Moretti. Truk yang menabrak pagar batu itu berhenti miring dengan bagian depan penyok parah. Asap keluar dari mesin yang masih panas. Namun tidak ada yang memperhatikan truk itu lagi. Semua perhatian tertuju pada Daniel. Ia berdiri di depan pengemudi truk yang kini terduduk di tanah dengan wajah pucat dan tangan gemetar. Beberapa penjaga villa mengelilingi mereka. Namun tidak ada satu pun yang berani menyentuh pria itu sebelum Daniel selesai. Daniel masih memegang kerah baju pria itu. Tatapannya dingin. “Elena hampir mati” katanya pelan. Nada suaranya sangat tenang. Justru terlalu tenang. Pria itu gemetar. “A-aku tidak tahu apa yang terjadi! Remnya...” Daniel langsung memotongnya. “Berhenti berbohong.” Ia menarik pria itu berdiri dan mendorongnya ke badan truk. “Siapa yang menyuruhmu?” Pria itu hampir menangis. “Aku hanya sopir! Mereka membayarku untuk mengantar truk ini!” Daniel memicingkan mata. “Mereka?” Pria
Pagi di Tuscany datang perlahan. Kabut tipis menggantung di antara barisan kebun anggur yang mengelilingi villa Moretti. Matahari belum sepenuhnya muncul, hanya cahaya pucat yang mulai menyentuh dinding batu tua rumah besar itu. Semua terlihat tenang. Namun di balik ketenangan itu, sesuatu sedang bergerak. Di sebuah mobil gelap yang parkir jauh di bawah bukit, dua pria sedang mengamati villa melalui teropong. Salah satunya adalah Marco Keller. Di kursi belakang duduk Matteo Moretti. Tatapannya dingin saat melihat villa yang berdiri megah di atas bukit. “Jadi di sana mereka tinggal sekarang?” tanya Matteo pelan. Marco mengangguk. “Daniel Charter meningkatkan keamanan sejak kemarin.” Matteo tersenyum. “Dia tidak bodoh.” Marco menunggu perintah. Matteo mengambil sebuah foto dari dalam map di tangannya. Foto itu adalah Elena yang sedang bermain di taman villa bersama B
Malam kembali menyelimuti villa Moretti. Angin musim semi berhembus melewati kebun anggur yang luas. Lampu taman memantulkan cahaya hangat di halaman batu tua villa. Namun di dalam rumah, kelelahan terlihat jelas di wajah Daniel. Beberapa malam terakhir ia hampir tidak tidur. Masalah keluarga Moretti, bayangan Matteo Moretti, ancaman yang mungkin datang kapan saja dan semuanya berputar di kepalanya tanpa henti. Ia berdiri di balkon kamar mereka, memandang bukit Tuscany yang gelap. Pikirannya masih berada di restoran Florence bersama Alessandro Rinaldi. Tentang warisan. Tentang Matteo. Tentang kemungkinan bahaya yang mungkin mendekat ke Elena dan Nadia. Di dalam kamar, Nadia memperhatikan suaminya dari tempat tidur. Ia sudah lama mengenal Daniel. Ia tahu ketika pria itu mencoba terlihat tenang. Dan ia juga tahu ketika Daniel menyimpan terlalu banyak beban sendirian. Nadia bangkit perla
Malam di Florence terasa sedikit lebih dingin meskipun musim semi telah datang. Lampu-lampu kota memantul di permukaan sungai Arno, menciptakan kilauan yang indah namun terasa jauh dari ketenangan. Di meja restoran itu, dua pria masih duduk berhadapan. Daniel Charter dan Alessandro Rinaldi. Pertemuan yang awalnya terlihat seperti percakapan tentang Elena kini berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih besar. Daniel menatap Alessandro dengan tajam. “Kamu mengatakan ini tentang keluarga Moretti?” Alessandro memutar gelas anggurnya perlahan. “Ya.” Daniel tidak suka permainan teka-teki. “Kalau begitu jelaskan.” Alessandro menatap Daniel beberapa detik sebelum akhirnya berbicara. “Kamu tahu siapa Lorenzo Moretti sebenarnya?” Daniel mengerutkan kening. “Dia paman Viola.” Alessandro tersenyum tipis. “Itu hanya bagian kecil dari ceritanya.” Daniel tetap diam. Alessandro melanjutkan dengan suara tenang. “Keluarga Moretti dulu bukan hanya keluarga pembuat anggur.” Daniel menunggu
Malam turun perlahan di Tuscany. Langit berwarna ungu gelap dengan bintang-bintang mulai bermunculan di atas kebun anggur yang luas. Di balkon villa Moretti, Daniel berdiri sambil memegang kartu kecil yang diberikan Alessandro Rinaldi sore tadi. Sebuah alamat restoran di Florence. Dan kalimat yang terus berputar di pikirannya. “Kita perlu berbicara sebagai dua orang ayah.” Daniel menghela napas pelan. Baginya hanya ada satu ayah bagi Elena. Dan itu adalah dirinya. Di kamar mereka, Nadia sedang duduk di tempat tidur sambil mengusap perutnya yang mulai terasa tegang. Daniel masuk ke kamar. Nadia langsung menatapnya. “Kamu akan datang untuk menemuinya?” tanya Nadia. Daniel tidak menjawab langsung. Ia duduk di samping Nadia. “Aku harus datang dan bicara padanya.” Nadia memahami. “Karena Elena.” Daniel mengangguk. “Jika aku tidak datang, dia pasti akan mencari cara lain.” “Dia terlihat seperti pria yang sangat yakin pada dirinya sendiri” kata Nadia sambil menggenggam tan
Pagi di Tuscany terasa sangat tenang. Langit biru bersih tanpa awan. Matahari musim semi menyinari kebun anggur di sekitar villa Moretti dengan cahaya hangat. Namun bagi Daniel, ketenangan itu terasa seperti diam sebelum badai. Ia berdiri di balkon villa dengan secangkir kopi di tangan. Tatapannya tidak benar-benar menikmati pemandangan. Ia sedang mengamati. Beberapa penjaga berjalan di area taman. Kamera keamanan telah diperiksa dua kali sejak semalam. Namun insting Daniel masih mengatakan sesuatu. Rinaldi belum bergerak. Dan itu justru membuatnya semakin waspada. Di ruang makan, Elena sedang sarapan bersama Nadia. Gadis kecil itu terlihat sangat bersemangat pagi itu. “Mama Nadia, hari ini aku ingin menggambar kebun anggur!” Nadia tertawa kecil. “Kamu benar-benar suka Tuscany.” Elena mengangguk cepat. “Sangat suka! Bruno juga suka.” B
Beberapa hari sebelum perjalanan mereka kembali ke Italia, Nadia berdiri di tengah ruang tamu apartemen Daniel di Hamburg dengan wajah serius. Di atas meja terdapat beberapa kotak kecil, buku dan sebuah boneka beruang yang baru saja ia beli. Namun tak satu pun terasa benar. Daniel yang duduk di
Pagi itu datang terlalu cepat bagi Nadia. Langit Ubud masih berwarna abu-abu kebiruan ketika ia membuka jendela kamar. Udara pagi terasa lembap dan tenang, seperti Bali yang masih setengah tertidur. Hari ini mereka akan pergi. Setelah beberapa minggu tinggal di Ubud, saatnya Nadia dan Daniel men
Hari itu Hamburg diselimuti cahaya yang lembut, bukan terang yang menyilaukan, melainkan terang yang mengajak orang untuk berjalan pelan. Nadia terbangun dengan perasaan yang sulit ia beri nama, bukan sedih, bukan gelisah, melainkan kesadaran bahwa setiap detik hari ini ingin ia simpan secara utuh.
Berlin menyambut Nadia dengan udara yang lebih dingin dan ritme yang berbeda. Kota itu tidak berusaha ramah, ia apa adanya dan penuh sudut yang menantang. Dari jendela taksi, Nadia melihat bangunan-bangunan tua berdampingan dengan dinding penuh grafiti. Ada keindahan yang tidak rapi, dan untuk alas







